LOGINSetelah mengetahui perubahan pada salah satu bagian tubuhnya. Roni berusaha bersikap normal agar bagian itu tetap tersembunyi saat dari orang lain.
KRUCUK.. KRUCUK... Perut Roni kembali keroncongan mengingatkannya bahwa waktu sarapan sudah tiba. Kemarin dia hanya makan sekali dengan nasi goreng pemberian Dinda semalam. “Untung masih ada ini!” Seru Roni saat merogoh saku celananya, jari-jarinya menyentuh selembar uang kertas. Satu-satunya yang dimilikinya hanya dua puluh ribu. Upah dari Pak Raharjo kemarin karena membantu membersihkan kandang masih utuh belum terpakai. “Ya sudah,” gumam Roni sambil berdiri. “Ke warung Bu Arum saja. Lumayan bisa sarapan sekaligus ngopi.” Ia melangkah keluar dari halaman rumahnya, berjalan menyusuri jalan menuju warung Bu Arum yang terletak di pertigaan desa. Sepanjang jalan, ia berusaha tidak memikirkan kejutan yang baru saja ia temukan di celananya. “Fokus, Ron. Fokus,” bisiknya sambil menggeleng. Warung Bu Arum tampak sepi dari kejauhan. Bu Arum baru saja selesai menata meja dan kursi, membawa kendi berisi air putih dari dapur. “Eh, Roni!” sapa Bu Arum dengan nada ramah, matanya berbinar begitu melihat pemuda itu yang mendekat. “Tumben pagi-pagi ke sini? Biasanya agak siang.” Roni mengangguk, duduk di kursi pojok seperti biasa. “Lagi pengen aja, Bu.” “Oh, begitu ya.” Bu Arum meletakkan kendi di atas meja, lalu duduk di seberang Roni. Ekspresinya sedikit cemberut. “Kemarin kamu pergi begitu saja. Kopimu bahkan belum diminum. Aku sudah buatkan khusus, lho.” Roni menggaruk kepalanya, tersenyum kecut. “Maaf, Bu. Kemarin saya... ada urusan. Jadi gak bisa balik ke sini lagi.” “Urusan apa?” Bu Arum menyipitkan mata penasaran. “Ah, Cuma bantu-bantu Pak Raharjo,” jawab Roni cepat. “Terus ada kerjaan lain juga. Pokoknya sibuk sekali.” Bu Arum mendesah, tapi tetap tersenyum. “Kamu kayak pejabat aja, banyak kesibukannya.” Ia menepuk tangan Roni pelan, lalu bangkit. “Kamu mau makan? Aku masak nasi pecel.” “Boleh, Bu. Saya mau makan,” ucap Roni, lalu menambahkan, “Oh ya, Bu. Tika sudah pulang dari kota?” Bu Arum mengangguk sambil melangkah ke dapur. “Sudah, kemarin sore sampai.” Ia terkekeh. “Dia masih tidur sekarang, sih. Mau kupanggilkan?” “Ah, jangan, Bu. Nanti saja kalau dia bangun—“ Tapi sebelum Roni selesai berbicara, terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah bagian belakang. Roni menoleh, dan melihat sesosok gadis melangkah keluar dari pintu belakang warung yang ternyata adalah Tika. Tika masih mengenakan daster tipis berwarna pink dengan rambut panjang hitamnya yang acak-acakan, wajahnya sedikit mengantuk. Tingginya sekitar 150 sentimeter, bertubuh mungil dan kurus. Daster pink itu cukup ketat membentuk lekuk tubuhnya yang ramping, memperlihatkan bahu dan lekuk pinggang yang kecil. Matanya yang masih sayu berkedip-kedip menyesuaikan diri dengan cahaya pagi. Roni langsung tersenyum ramah. “Halo, Tika! Kamu masih ingat aku, kan? Dulu kita sering main di sungai waktu kecil.” Tika menatap Roni dengan tatapan kosong, lalu mengernyit. Wajahnya yang imut berubah menjadi sedikit dingin, alisnya naik dengan ekspresi skeptis. “Oh... Roni,” ucapnya dengan nada datar, hampir terdengar bosan. “Iya, aku ingat.” Roni mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan sikap dingin Tika. Biasanya gadis itu ramah dan cerewet saat masih kecil. Tapi kini, Tika hanya berdiri di ambang pintu dengan tangan bersilang di dada, menatap Roni seperti menilai sesuatu yang tidak penting. “Kamu sudah makan?” tanya Roni mencoba ramah. “Mau makan bareng?” Tika mendengus pelan, matanya bergulir. “Nggak, makasih. Aku masih kenyang.” Ia melangkah ke meja dekat jendela, duduk dengan malas, lalu mengambil ponsel dari saku daster dan mulai menggulir layar tanpa memperhatikan Roni lagi. Bu Arum muncul dari dapur dengan sepiring nasi pecel di tangannya. Ia melihat Tika, lalu tersenyum. “Tika, kenapa kamu diam saja? Ini Roni, temanmu yang dulu sering main sama kamu.” Tika tidak mengangkat kepala, hanya menjawab singkat, “Iya, Bu. Aku tahu.” Bu Arum mendesah, lalu berbisik pada Roni, “Maafkan dia, Ron. Anak ini sedang bad mood. Mungkin karena terlalu lama di kota.” Roni mengangguk, mencoba tersenyum meski sedikit kecewa dengan sikap Tika. Ia mulai menyantap nasi pecelnya, sesekali melirik ke arah Tika yang asyik dengan ponselnya. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu—bukan hanya sikapnya yang dingin, tapi juga tatapannya yang tajam saat sesekali ia melirik ke arah Roni."Lebih cepat... Ron... lepaskan semuanya..." Roni menuruti. Ia mempercepat gerakannya, memompa dengan ritme yang semakin liar. Tempat tidur berderit, dan Bu Gita mencengkeram punggung Roni, kukunya menggores kulit. Erangan dan desahan memenuhi kamar, bercampur dengan suara tubuh yang saling mengejar kepuasan. Bu Gita mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung, dan erangan panjang keluar dari bibirnya. Tapi Roni belum selesai. Ia terus bergerak, membuat Bu Gita mencapai puncak lagi, dan lagi. Wanita itu benar-benar kewalahan, tubuhnya lemas, suaranya habis. Setelah hampir satu jam, Roni akhirnya merasakan gelombang panas yang tak terbendung. Ia menekan lebih dalam, dan dalam satu hentakan terakhir, ia melepaskan semuanya ke dalam tubuh Bu Gita. Tubuhnya gemetar, napasnya tersengal, dan ia terkulai di samping wanita itu. Bu Gita berbaring diam, napasnya juga tersengal-sengal. Ia menatap Roni dengan mata yang masih sayu, lalu tersenyum tipis. "Kamu.
"Ron... kau belum tidur?"Roni baru saja hendak masuk ke dalam rumah ketika suara lembut memanggilnya dari arah pagar.Roni menoleh dan melihat Bu Gita berdiri di depan rumahnya, mengenakan daster panjang dengan selendang tipis menutupi bahunya. Rambutnya diikat longgar, dan ia tersenyum ramah. "Kamu sedang apa di teras sendirian?" Tanya Bu Gita.Roni tersenyum tipis, "Hanya... mencari udara segar, Bu. Tidak bisa tidur."Bu Gita melangkah mendekat, berhenti di pagar yang memisahkan halaman mereka. "Aku juga tidak bisa tidur. Kadang malam-malam begini pikiranku kemana-mana." Ia menatap Roni dengan tatapan penuh pengertian. "Kamu kelihatan gelisah. Ada masalah?" Lanjut tanya Bu Gita.Roni menghela napas, "Banyak, Bu. Tapi... tidak enak kalau cerita."Bu Gita tersenyum, "Kalau kau butuh teman bicara, aku mau dengerin kok. Kadang kalau ada masalah, kita hanya butuh seseorang untuk mendengarkan."Roni menatap Bu Gita lama, merasakan ketulusan di matanya. Tapi ia juga merasakan sesuatu ya
Hendra menyeka sudut bibirnya yang masih berdarah, lalu tersenyum sinis. "Pergi sana! Roni, kamu dipecat. Mulai hari ini kamu tidak bekerja di sini lagi." Roni tidak menyanggah karena dia sadar ini adalah konsekuensi tindakannya. Dia menerima keputusan itu dan melangkah pergi. Mata Hendra beralih ke Ajeng, dan senyumnya berubah menjadi lebih halus, lebih menggoda. "Tapi Ajeng... kamu tetap bekerja di sini. Kontrakmu masih berlaku. Kalau kamu keluar sekarang, kau melanggar perjanjian. Aku bisa menuntutmu." Ajeng membeku, wajahnya pucat. "Tapi... aku tidak mau bekerja di sini lagi. Kamu sudah—" "Aku tidak melakukan apa-apa," potong Hendra dengan tenang. "Kamu hanya salah paham. Aku hanya ingin bicara. Tapi suamimu yang terlalu emosional malah memukulku." Ia menyentuh kompres di pipinya. "Ini bisa jadi bukti penganiayaan. Aku bisa lapor polisi." Roni melangkah maju, tapi Ajeng menahannya. "Ron, jangan." Hendra tersenyum puas. "Dengar istrimu, Roni. Dia lebih pintar darimu." Ia men
Mereka berjalan keluar dari toko menuju motor yang terparkir. Namun sebelum mereka sempat menyalakan mesin, suara Hendra memanggil dari pintu toko."Ajeng! Roni! Tunggu sebentar."Roni menoleh, merasakan ketegangan kembali menjalari tubuhnya. Hendra berjalan mendekat dengan senyum ramah, tangannya memegang dua amplop kecil."Ini gaji kalian untuk hari ini. Saya bayar harian dulu, ya. Nanti kalau sudah seminggu, kita hitung mingguan," kata Hendra, menyerahkan amplop pada Roni dan Ajeng.Roni menerimanya dengan hati-hati, "Terima kasih, Pak."Hendra mengangguk, lalu menatap Ajeng dengan tatapan yang lagi-lagi terlalu lama. "Ajeng, besok datang lebih pagi, ya. Ada beberapa laporan yang harus dirapikan."Ajeng mengangguk sopan, "Baik, Pak."Roni menggenggam tangan Ajeng, menariknya pelan menuju motor. "Kita pulang," katanya pelan.Mereka menaiki motor dan melaju pulang. Sepanjang perjalanan, Roni tidak banyak bicara. Ajeng memeluk pinggangnya, merasakan ketegangan di tubuh suaminya."Ron
Saat jam istirahat siang, Roni keluar dari gudang dan menemui Ajeng di meja kasir. Ajeng tersenyum lebar melihatnya, "Ron! Sudah jam istirahat, ya?" Roni menggeleng, "Iya. Kamu gimana? Apa ada masalah dengan kerjanya?" Ajeng menggeleng, "Tidak ada. Pak Hendra baik, tapi..." ia berhenti sejenak, "dia terlalu sering mengajakku bicara. Aku merasa tidak nyaman." Roni merasakan amarah yang mulai membara, tapi ia menahannya. "Kalau kamu tidak nyaman, kita cari pekerjaan lain. Kamu tidak harus di sini." Ajeng meraih tangan Roni, "Tidak. Aku bisa menjaga diri. Lagipula, ini pekerjaan yang bagus. Kita juga bakal butuh uang." Roni menghela napas, "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, langsung bilang padaku." Ajeng mengangguk, "Iya" Mereka makan siang bersama di warung kecil dekat toko. "Ron, pekerjaanmu pasti berat ya?" tanya Ajeng, melihat keringat yang masih membasahi pelipis Roni. Roni tersenyum tipis, "Biasa saja. Aku sudah terbiasa kerja kasar." Ajeng mengangguk, "Semangat ya
Sesampainya di kontrakan, Roni dan Ajeng beristirahat sejenak. Ajeng menyeduh teh untuk mereka berdua, sementara Roni duduk di ruang tamu, memikirkan tentang Hendra. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang tadi ia rasakan. "Ron, kamu kenapa? Dari tadi diam saja," tanya Ajeng, duduk di sampingnya. Roni tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Hanya memikirkan kerja besok." Ajeng menatapnya dengan tatapan yang tahu, "Kamu memikirkan Pak Hendra, ya? Aku juga lihat caranya memandangku tadi." Roni terkejut, "Kamu sadar?" Ajeng mengangguk, "Aku bukan anak kecil, Ron. Aku tahu kapan pria memandangku dengan cara yang tidak pantas." Ia meraih tangan Roni, "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan tergoda kamu adalah pria perkasa yang tak tergantikan." Roni menghela napas, "Aku tahu. Aku hanya... tidak ingin ada masalah lagi." Ajeng mencium pipi Roni, "Tidak akan ada masalah. Kita fokus pada hidup kita. Besok kamu mulai bekerja di gudang. Aku akan mencari pekerjaan la







