Beranda / Male Adult / Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua! / Bab 127 - Bukan Roni yang Dulu

Share

Bab 127 - Bukan Roni yang Dulu

Penulis: Frands
last update Tanggal publikasi: 2026-08-17 12:14:20

Roni melangkah keluar dari rumah Bu Sri dengan langkah ringan, senyum puas masih mengembang di bibirnya. Hasratnya yang terpuaskan membuatnya merasa penuh energi, dan ia memutuskan untuk berjalan menuju sungai—tempat favoritnya untuk merenung dan menikmati ketenangan malam.

Sesampainya di tepi sungai, ia duduk di atas batu besar, meregangkan tubuh dengan nyaman.

"Malam yang sangat memuaskan," gumamnya, senyum masih mengembang di bibir.

Ia menatap cincin di jarinya, lalu menggosoknya tiga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 128 - Revolusi Pertama

    Keesokan paginya, Roni terbangun dengan tubuh yang kembali bugar, bekas pukulan dan tendangan Pak Kades semalam di sekujur tubuhnya sudah menghilang tanpa bekas. Namun rasa amarah di hatinya masih terasa. "Pak Kades," gumamnya pelan, "hari ini adalah awal dari kehancuranmu." Roni mencuci muka, mengganti pakaiannya dengan yang lebih rapi, lalu melangkah keluar. Ia tidak berniat membiarkan Pak Kades terus mengancamnya tanpa perlawanan. Langkah pertamanya adalah mencari informasi tentang kelemahan Pak Kades. Ia berjalan menuju rumah Tika. Wanita itu tahu banyak tentang urusan Pak Kades, termasuk bisnis gelapnya. Sesampainya di rumah Tika, ia mengetuk pintu. Tika muncul dengan rambut masih basah, mengenakan kaos longgar dan celana pendek. "Ron? Pagi-pagi sudah ke sini? Ada apa?" tanya Tika, sedikit terkejut. Roni masuk, menutup pintu di belakangnya. "Aku butuh informasi tentang Pak Kades, Tika. Aku ingin menghancurkannya." Tika mengerjapkan mata, "Pak Kades? Kenapa tiba-tiba?"

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 127 - Bukan Roni yang Dulu

    Roni melangkah keluar dari rumah Bu Sri dengan langkah ringan, senyum puas masih mengembang di bibirnya. Hasratnya yang terpuaskan membuatnya merasa penuh energi, dan ia memutuskan untuk berjalan menuju sungai—tempat favoritnya untuk merenung dan menikmati ketenangan malam. Sesampainya di tepi sungai, ia duduk di atas batu besar, meregangkan tubuh dengan nyaman. "Malam yang sangat memuaskan," gumamnya, senyum masih mengembang di bibir. Ia menatap cincin di jarinya, lalu menggosoknya tiga kali. Dewi Murni muncul dengan senyum tenang. "Kau terlihat bahagia sekali kali ini, Roni," katanya. Roni tertawa kecil, "Tentu saja. Aku baru saja menunjukkan pada Pak Anwar apa artinya menjadi pria sejati. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata. Aku pikir dia setengah kagum padaku." Dewi Murni mengangguk, "Kau memang telah menunjukkan dominasimu. Kepercayaan dirimu akan membantu dalam perjalananmu ke depan." Roni menatap Dewi Murni, "Aku mulai menikmati semua ini. Wanita, kekuasaan, pengaku

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 126 - Pria Sejati

    Roni ingin berhenti, ingin menarik diri, tapi Bu Sri yang sudah tak peduli lagi terus bergerak di atasnya, erangannya semakin keras. Pak Anwar hanya duduk diam, matanya terpaku pada adegan di hadapannya—istrinya yang sedang melayani Roni di sampingnya, tanpa rasa malu, tanpa rasa bersalah. Ia tidak berkata apa-apa, tidak berteriak, tidak marah. Ia hanya tertegun, seperti orang yang bingung harus berbuat apa. Roni mencoba mendorong Bu Sri, tapi wanita itu terus bergerak, semakin liar, semakin cepat. "Bu Sri! Berhenti! Pak Anwar!" bisik Roni panik. Tapi Bu Sri tidak peduli, "Biarkan dia melihat, Ron! Aku sudah tidak peduli lagi!" Anehnya, dalam tatapan Pak Anwar tidak ada amarah, tidak ada teriakan. Hanya tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang aneh, sulit diartikan. Bu Sri yang masih bergerak di atas Roni, justru tertawa kecil. Matanya menatap suaminya dengan penuh tantangan. "Kau lihat, Pak? Aku benar-benar menikmati ini. Aku belum pernah merasakan kenik

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 125 - Menyelinap ke Kamar Bu Sri

    Hasrat yang tertahan masih membakar tubuhnya, dan ia tahu satu-satunya cara untuk menuntaskannya malam ini adalah dengan menerima tawaran Bu Sri. Dengan napas panjang, ia berjalan menyusuri kegelapan menuju rumah Bu Sri. Ia tiba di belakang rumah wanita itu, tepat di samping jendela kamar milik Bu Sri. Lampu kamar masih menyala, dan Roni bisa melihat bayangan Bu Sri sedang duduk di tepi kasur dari balik tirai yang tipis. Namun ada satu bayangan lagi terbaring di atas kasur. Roni mengerjapkan mata, mencoba melihat lebih jelas. Sosok yang terbaring itu adalah Pak Anwar, suami Bu Sri, yang tampaknya sudah tertidur pulas. Roni terdiam, berpikir dua kali. Ini terlalu berbahaya. Jika Pak Anwar terbangun, segalanya akan hancur. Tapi hasrat yang tertahan di tubuhnya masih membara, dan ia tidak bisa pergi begitu saja. Dengan hati-hati, ia mendekat ke jendela, mengetuk kaca pelan dan memanggil dengan suara nyaris berbisik, "Bu Sri... Bu Sri..." Bu Sri menoleh ke arah jendela dengan seny

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 124 - Menahan Hasrat

    Roni masih duduk di antara Ningrum dan Tika yang terlelap, tubuhnya masih bergelora dengan hasrat yang belum terpuaskan. Namun pikirannya mulai jernih, dan ia menyadari bahwa situasi ini tidak bisa terus berlanjut. Roni menatap cincin di jarinya, lalu menggosoknya tiga kali. Dalam sekejap, cahaya keemasan mulai muncul di sudut ruangan, dan Dewi Murni berdiri di hadapannya dengan senyum tenang. "Kau memanggilku, Roni," katanya dengan suara lembut. "Apa yang kau butuhkan?" Roni menatap Tika dan Ningrum yang masih terlelap, lalu kembali ke Dewi Murni. "Aku ingin kau mengembalikan mereka ke rumah masing-masing. Tanpa mereka sadar, tanpa ada yang curiga. Bisakah kau melakukannya?" Dewi Murni mengangguk, "Tentu saja, Roni. Aku bisa melakukannya." Ia melangkah mendekati Tika dan Ningrum, mengangkat tangannya dengan gerakan lembut. Cahaya keemasan menyelimuti kedua wanita itu, dan perlahan tubuh mereka mulai melayang, terbungkus dalam aura yang bersinar. "Kau pasti sudah lelah denga

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 123 - Tawaran yang Menggoda

    Roni masih terbaring di antara Ningrum dan Tika, kedua wanita itu kini terlelap dalam pelukannya setelah kelelahan. Napas mereka teratur, tubuh telanjang mereka masih saling berpelukan dengan Roni sebagai pusatnya. Matahari sore mulai meredup, menyisakan cahaya jingga yang masuk melalui celah dinding. Roni menatap langit-langit, pikirannya masih kacau. Ia tidak tahu bagaimana semua ini terjadi, dan lebih tidak tahu bagaimana ia akan menyelesaikannya. Namun sebelum ia bisa menarik napas panjang, pintu rumahnya yang tidak terkunci terbuka perlahan. Roni menoleh, dan jantungnya hampir berhenti berdetak. Bu Sri berdiri di ambang pintu, matanya membelalak melihat pemandangan di depannya—putrinya Ningrum terbaring telanjang di sisi kiri Roni, dan Tika juga telanjang di sisi kanan. Ketiganya masih dalam keadaan basah oleh keringat, dengan pakaian berserakan di lantai. Bu Sri terdiam. Matanya bergerak cepat, menatap Roni, lalu Ningrum, lalu Tika, lalu kembali ke Roni. Wajahnya berubah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status