Mag-log in
[Semua harga naik, tapi dia justru buang-buang uang buat menyenangkan tunangannya.]
[Yah, di awal cerita memang Ayunda itu bucin dan bodoh.]
[Betul. Bisa-bisanya jatuh hati pada pria konyol seperti Hendri, ck.]
Aku tetap memasang senyum sembari melihat-lihat arloji di estalase depan, seakan tidak terganggu dengan komentar-komentar aneh yang memenuhi pandanganku.
Padahal kenyataannya, tentu saja ini aneh dan membuatku bertanya-tanya!
Ini semua bermula sejak tadi sore. Karena tertidur, aku tidak siap saat bus yang kutumpangi mengerem mendadak. Akibatnya, kepalaku terantuk sandaran kursi di depanku.
Sejak saat itu, aku bisa melihat sederet komentar asing yang mengomentari semua aspek hidupku–terutama kehidupan percintaanku.
Kupikir, ini pasti hanya halusinasi. Tapi berkali-kali aku memejamkan mata dan mengatur napas, saat aku membuka mata, tulisan yang melayang-layang di hadapanku masih ada.
Mereka bahkan tahu ini hari jadiku dengan Hendri, tunanganku, yang ketiga!
Tapi, tentunya, jika ini halusinasi, itu masuk akal. Semuanya hanya terjadi di otakku.
Pada akhirnya, aku tidak bereaksi apa pun karena khawatir orang lain akan menganggapku gila.
“Saya mau ambil yang ini, Kak,” ucapku sembari menunjuk pada salah satu arloji dengan desain serba hitam dan jarum perak yang sangat ramping. “Tolong dikemas yang rapi ya.”
“Pilihan bagus, Nona,” sahut penjaga toko seraya tersenyum ramah. Dengan cekatan, ia membuka kuncian etalase, mengeluarkan arloji tersebut menggunakan sarung tangan kain putih. “Untuk pacarnya ya?”
Aku tersenyum. “Untuk tunangan saya. Hari ini kami genap tiga tahun,” jawabku.
Ponselku di tangan berdenting sekali, tanda ada pesan masuk.
“Sayang, maaf, tiba-tiba aku harus lembur hari ini. Kamu lanjut saja makan di restoran sesuai reservasi. Hati-hati pulangnya. Kita akan rayakan lain kali.”
Senyum di wajahku perlahan memudar. Hari ini adalah hari jadi hubungan kami yang ketiga. Sebelumnya, kami sepakat merayakan tahun ini dengan makan malam di restoran hotel bintang empat. Itulah sebabnya sekarang aku mencari kado untuknya.
Namun, rencana itu batal begitu saja karena lembur?
Meski begitu, aku tidak bisa marah. Toh, sebagai kepala cabang, kewajibannya pastilah sangat besar. Dia bekerja keras juga demi masa depan kami.
“Bagaimana dengan makan malammu?” balasku melalui pesan. “Perlukah kuantar?”
“Tidak.” Responsnya cepat juga. “Kamu makan saja, Sayang. Nikmati malam ini.”
Aku menghela napas. Rasanya tidak adil jika aku menikmati masakan bintang empat itu sendirian.
Oh! Atau … aku bisa memberinya kejutan di apartemen. Begini-begini aku pandai memasak. Dan mungkin setelah ia pulang nanti, kita bisa makan malam romantis di apartemennya saja.
Ide bagus, bukan?
Setelah aku membayar arloji yang kupilih tadi, aku bergegas pergi ke area supermarket untuk membeli daging dan bahan makanan. Teks-teks melayang itu masih membayangi pandanganku, tapi aku berusaha mengabaikannya sebisaku.
Sampai saat aku tiba di depan pintu apartemen Hendri–
[Oh, bagus, ini dia! Akhirnya Ayunda akan memergoki perselingkuhan pacarnya itu, kan?]
Aku mengernyit. Perselingkuhan? Siapa?
Pacarku … Hendri? Mana mungkin!
Hendri mencintaiku. Pria itu selalu ada untukku setiap kali aku membutuhkannya. Ia bahkan beberapa kali mengorbankan waktunya untuk bisa menuruti kemauanku. Yang seperti itu, jelas tidak mungkin selingkuh.
Ah, aku benar-benar sedang halu. Bisa-bisanya aku memikirkan sesuatu yang mustahil terjadi.
Kubuka pintu apartemen Hendri perlahan sembari membawa berbagai barang belanjaan. Akan tetapi, ada yang aneh. Kenapa … lampunya sudah menyala?
“Bisa-bisanya kamu membohongi Ayunda kalau kamu masih lembur,” ucap seseorang dari arah kamar tidur. “Padahal ini peringatan hari jadi kalian, kan?”
Tubuhku mendadak terasa dingin dan kaku. Suara itu….
Kupaksakan untuk melangkah mendekat ke arah kamar dan melihat ke dalam dari celah pintu.
Melalui pantulan cermin yang ada di atas meja, aku bisa melihat seorang wanita sedang berada di atas Hendri.
Dan … aku mengenalinya.
Ia adalah Nataryuni. Adikku sendiri.
“Stt! Jangan sebut namanya lagi.” Kulihat Hendri membelai Nataryuni dengan ibu jarinya, kemudian membalik posisi mereka. “Dia tidak pantas berada di antara kita.”
Selanjutnya, mereka berdua saling memakan seperti manusia kelaparan. Membuatku ingin muntah.
Kakiku lemas seketika. Badanku merosot, bergesekkan dengan dinding kamar Hendri.
[Jangan hanya bisa menangis. Kamu karakter utamanya. Lawan!]
[Ah, paling sebal aku adegan begini. Ayo, Ayunda, jangan bodoh.]
Kutatap komentar-komentar yang melayang tepat di depan mataku.
Mudah buat kalian berkata begitu! Bukan kalian yang sedang dikhianati oleh orang yang kalian cintai!
Meski begitu, aku menguatkan hati. Kucengkeram tas di tangan sebelum kemudian mendorong pintu kamar itu hingga menjeblak terbuka.
Kedua orang tak bermoral di dalamnya langsung terkejut.
“Ayunda! Sejak kapan kamu datang? Kenapa tidak memberi kabar lebih dahulu?” seru Hendri.
Lelaki itu keluar kamar hanya mengenakan celana kolor. Sikapnya sangat santai, seolah dirinya tak melakukan apa pun. Padahal ia baru saja melakukan kesalahan yang sangat fatal dalam hubungan. Selingkuh.
“Oh, kamu terganggu?” kataku dingin. “Aku ke sini cuma mau bilang kalau kita putus. Jadi kamu bisa lanjutkan adegan menjijikkanmu barusan.”
“Ayu–Ayunda! Apa maksudmu!? Tunggu dulu!”
Aku segera pergi dari sana begitu saja tanpa mempedulikan teriakan pria kurang ajar itu.
Karena jika tidak, mungkin headline besok pagi akan dipenuhi dengan berita pembunuhan. Entah aku yang membunuh mereka, atau mereka yang membunuhku.
Untuk menghibur diriku, aku pergi ke Skybar, sebuah kelab malam yang seringkali direkomendasikan oleh sahabatku, Intan. Biasanya, aku nyaris tidak pernah mendatangi tempat-tempat seperti ini. Tapi kali ini pengecualian.
Tangisku langsung pecah di hadapan satu pitcher minuman yang kupesan.
[Ya, bolehlah menangis sekarang.]
[Kalau jadi dia, aku juga bakal menangis sih. Tunangannya itu kan sudah selingkuh sejak lama.]
[Bagaimana jadinya kalau Ayunda tahu Hendri tidur dengan adiknya itu dua kali seminggu ya?]
Membaca semua komentar itu, tangisku makin kencang saja.
Bodoh, bodoh. Memang benar mereka mengataiku bodoh tadi. Bisa-bisanya aku dibohongi!
Berusaha melenyapkan rasa sesak di dada, aku menegak minuman dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Aku menyesapnya sedikit demi sedikit hingga kesadaranku menurun secara perlahan, dan tiba-tiba ....
“Sendirian saja, sayang. Sini Om temenin, biar enggak kesepian,” sapa seorang pengunjung klub.
Meskipun otakku sedang dalam kondisi yang tidak prima, aku masih sanggup membedakan mana pria tampan dan buaya darat. Aku langsung mengusir lelaki asing tersebut dari hadapanku.
Namun tenaga yang dia miliki terlalu besar. Dorongan tanganku tak mampu membuatnya mundur. Dia bahkan tertawa terbahak-bahak saat tangan mungilku menyentuh kemejanya.
“Kalau mau servis dari Om, bilang saja. Tidak perlu sok jual mahal, padahal ujung-ujungnya mau juga.” Lelaki hidung belang itu mencengkeram tanganku dengan kuat.
Aku memberontak, berusaha melepaskan diri dari pria mesum itu. Namun sekali lagi, usahaku berbuah kegagalan. Hingga seorang pria jangkung menendang asetnya yang imut di dalam celana.
“Argh!”
“Siapa itu!? Kurang ajar!”
Aku mendongak menatap wajah pria yang baru datang itu. Sepasang mataku menyipit saat mengenali identitasnya.
“Rangg–”
[Astaga, ini diaaaa!!!]
[Pemeran utama pria datang juga! Aduh, tampannya!]
[Ini dia jodoh si Ayunda!]
Mataku sontak membola saat membaca komentar itu.
Bagaimana mungkin Rangga adalah jodohku? Justru dia itu musuhku sejak lama!
Bagi sebagian orang, Senin adalah hari paling menyebalkan nomor dua di dunia. Nomor satunya adalah harpitnas, alias hari terjepit nasional.Namun bagiku, ada yang nyebelin maksimal, melebihi dua hari itu, yakni hari saat aku bertemu dengan Hendri pasca perselingkuhannya terungkap.Andai aku bisa membungkus lelaki berengsek itu dengan plastik bubble wrap hitam, lalu mengirimnya ke kolam berisi ikan piranha, pasti sangat menyenangkan.Sayangnya hal itu hanya bisa jadi angan-angan saja. Bisa dihukum sepuluh abad kalau aku sampai melakukannya sungguhan.“Ayunda!”Hendri, si makhluk paling menyebalkan melambaikan tangannya padaku sesaat setelah aku sampai di lantai dua Pelisia Quarter Keeps. Rekan kerja yang datang satu lift denganku pun langsung mencuri pandang ke arah kami.Betapa malunya menjadi pusat perhatian semua orang. Bisa tidak sih, si Hendri ini diam?! Atau kuoles lem korea saja bibirnya biar selalu terkunci rapat?“Kenapa dua hari ini kamu tidak menghubungiku sama sekali?” Hen
[Ayahmu sudah tahu kalau kamu dan Rangga tidur bersama. Nataryuni yang memberi tahunya.]“Kenapa semalam kamu tidak pulang? Hm?” Ayah mendelik kepadaku.Hebat sekali pertanyaan beliau. Seolah menginginkan sebuah jawaban, padahal tidak membutuhkannya. Terbukti dari cambuk di tangannya yang siap diayunkan kapan saja.“Tumben Papi tanya begitu. Biasanya mau aku hidup atau mati, Papi tidak peduli,” balasku.Saat aku melenggang ke dalam rumah, Nataryuni dan ibu tiri terus mengawasiku. Mereka seperti burung nasar yang menunggu mayatku tergeletak tak berdaya, lalu memakannya.“Sudahlah Pa, kasihan Kak Ayunda. Dia perlu istirahat. Lihat saja wajahnya lesu begitu, seperti orang yang kurang tidur,” celetuk Nataryuni.[Nataryuni seperti sedang membelamu. Namun semua itu palsu. Yang dia lakukan justru menodongkan pisau ke tenggorokanmu.]“Jangan marahi Kakak lagi, ya Pa. Aku tidak tega melihatnya.” Nataryuni memeluk lengan ayah dan merebut cambuknya.“Kenapa kamu masih membelanya? Padahal dia sud
Nataryuni datang ke griya tawang tak sendirian. Dia bersama dengan Tante Rose—ibunya Rangga. Lebih parahnya lagi, adik tiriku itu melakukan siaran langsung di media sosialnya.[Siaran langsung Nataryuni dilihat oleh satu juta orang. Mereka menyaksikan kalian tidur bersama.]Terpergok oleh Tante Rose dan Nataryuni saja sudah memalukan. Apalagi ini, disaksikan oleh sejuta umat manusia. Mau ditaruh di mana mukaku?“Nataryuni, bisa matikan LIVE-nya?” pintaku.Alih-alih menolak atau menurutiku, Nataryuni justru memasang tampang sedih dan langsung memeluk Tante Rose. Namun ponsel di tangannya tetap diarahkan kepadaku dan Rangga dengan posisi yang mantap. Tak bergetar sedikit pun.“Tante, Kak Ayunda galak sekali. Aku jadi takut,” rengeknya.Galak dia bilang? Aku tuh bukan galak ya, tapi emosi! Tidak ada yang suka kehidupannya dikonsumsi publik, apalagi yang diperlihatkan adalah sisi yang jelek.Lagi anu-anu malah ditonton oleh sejuta orang, siapa yang tidak emosi? Buset!“Nak, kamu tenang sa
“Hei anak muda! Aku duluan yang deketin dia. Kamu tidak boleh main serobot ya!” ucap si pria mata keranjang sambil memegangi asetnya.“Kalau aku bilang dia milikku, kamu bisa apa?!” Rangga melempar tatapan tajam kepada si gadun.Apa? Aku adalah miliknya Rangga? Sejak kapan? Main ngaku-ngaku saja.“Halah, paling itu cuma akal-akalan kamu saja untuk merebut si manis. Mana buktinya kalau memang dia adalah milikmu?” tantang gadun tua itu.“Bukti ya? Apa ini cukup?” Rangga mencium bibirku.Gila gila gila!Bisa-bisanya si musuh bebuyutan menciumku dan aku hanya diam saja, tanpa perlawanan sama sekali. Ini tidak seperti diriku yang biasannya.“Kalau hanya ciuman saja, semua orang bisa melakukannya,” ucap gadun itu dengan ekspresi meremehkan.Eh buset! Ciuman itu tidak bisa dilakukan semua orang ya, terutama aku dan Rangga.Ingin sekali kutempel mulut bapak-bapak itu pakai koyo cabe. Biar kalau ngomong tuh enggak asal jeplak.“Berisik!” Rangga melempar sebuah kartu nama.Setelah pria mesum it
[Semua harga naik, tapi dia justru buang-buang uang buat menyenangkan tunangannya.][Yah, di awal cerita memang Ayunda itu bucin dan bodoh.] [Betul. Bisa-bisanya jatuh hati pada pria konyol seperti Hendri, ck.]Aku tetap memasang senyum sembari melihat-lihat arloji di estalase depan, seakan tidak terganggu dengan komentar-komentar aneh yang memenuhi pandanganku. Padahal kenyataannya, tentu saja ini aneh dan membuatku bertanya-tanya!Ini semua bermula sejak tadi sore. Karena tertidur, aku tidak siap saat bus yang kutumpangi mengerem mendadak. Akibatnya, kepalaku terantuk sandaran kursi di depanku.Sejak saat itu, aku bisa melihat sederet komentar asing yang mengomentari semua aspek hidupku–terutama kehidupan percintaanku.Kupikir, ini pasti hanya halusinasi. Tapi berkali-kali aku memejamkan mata dan mengatur napas, saat aku membuka mata, tulisan yang melayang-layang di hadapanku masih ada.Mereka bahkan tahu ini hari jadiku dengan Hendri, tunanganku, yang ketiga!Tapi, tentunya, jik







