Startseite / Romansa / Jangan Gitu Dong, Boss! / 5| Pemeran Utama Rasa Figuran

Teilen

5| Pemeran Utama Rasa Figuran

last update Veröffentlichungsdatum: 26.10.2026 07:02:43

Ini bukan mimpi, kan?

Aku memang berniat membalas perbuatan Nataryuni dan Hendri dengan meniduri Rangga. Namun rencanaku tak sampai sejauh ini hingga menikah dengannya.

Pertunangan Rangga dengan Nataryuni adalah utang budi sekaligus transaksi bisnis yang mengikat. Mengganti pasangannya sama dengan mengganti nilai kontrak.

“Pak Arifin ... Nak Rangga, apa ada kesalahan? Yang bertunangan dengan Nak Rangga adalah Nataryuni, bukan Ayunda.” Ayahku tersenyum canggung.

“Masa Om Rudi tidak tahu kalau saya dan Ayunda sudah tidur bersama. Bahkan Nataryuni melihat langsung dan menyiarkannya secara LIVE.” Rangga melirik ponsel Nataryuni yang terpasang di tripod. “Seperti yang dia lakukan sekarang.”

Baik keluargaku maupun keluarga Rangga sama-sama tercengang dengan ucapan Rangga. Bisa-bisanya dia mengucapkan itu dengan tidak tahu malu.

[Rangga pamer ke semua orang kalau dia sudah tidur denganmu. Dia sangat bangga saat mengatakannya.]

[Wah gila sih. Rangga memang tidak tahu malu. Tapi kalau tidak begitu, dia akan dipaksa menikah dengan Nataryuni dan tidak pernah bisa mendapatkan Ayunda.]

[Apa pun dilakukan demi menikah dengan Ayunda. Ah jadi iri.]

Ha? Rangga sungguh melakukan itu hanya demi menikahiku?

Ini sulit untuk dipercaya, pasalnya dia selalu memandangku sebelah mata. Kalau bertemu denganku saja, dia selalu berpaling ke arah lain. Seolah aku adalah kotoran yang tak layak untuk dipandang.

“Pak Rudi, karena apa yang dilakukan oleh anak-anak kita sudah disaksikan oleh jutaan orang dan sampai viral, maka kita perlu menukar calon pengantin wanita,” ujar Om Arifin.

Ayahku meremas jemarinya. Biasanya akan melakukan itu jika sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat penting. Cukup lama dia melakukannya, hingga Om Arifin memberikan sebuah jawaban.

Sementara itu, Nataryuni yang duduk di samping Rangga hanya bisa menundukkan badan. Ia tidak berani menatap Rangga dan keluarganya, kecuali Tante Rose.

Adik tiriku itu meminta bantuan kepada ibunya dan wanita itu pun bertindak cepat. Dia menarik-narik lengan baju ayah.

“Mas, jangan diam saja. Masa kamu mau sih anak kita dipermalukan seperti ini,” bisiknya.

“Sebagai kompensasi atas pertukaran pengantin ini, kami akan memberikan proyek PT Bumi Sentosa Agung selama dua tahun dengan nominal tujuh puluh dolar.” Om Arifin menyodorkan sebuah dokumen ke hadapan ayah.

Ayah mengabaikan istrinya dan memilih membuka dokumen dari Om Arifin. Dia membacanya dengan saksama. Ketika sampai di halaman akhir, ayahku langsung menandatanganinya tanpa bertanya lebih.

“Saya kira keputusan ini cukup bijak. Mari kita lakukan.” Ayahku menjabat tangan Om Arifin.

[Akhirnya hubungan Rangga dan Ayunda mendapat restu orang tua.]

[Sebentar lagi mereka akan menikah. Yeay!

“Kak Rangga ... kamu tega banget ... apa salahku sama kamu?”

Setelah keluarga Rangga pulang, Nataryuni menangis di kamarnya sepanjang malam. Suaranya keras sekali hingga satu rumah tak bisa tidur dibuatnya.

“Kak Rangga ... kenapa kamu lakukan ini padaku.” Nataryuni menepuk-nepuk dadanya.

“Sudah ya, Sayang. Ikhlaskan kalau Nak Rangga bukan jodohmu,” bujuk Indita—ibu tiriku.

Nataryuni tak menghiraukan kehadiran ibunya dan terus meraung. Aku yang melihatnya sungguh tak tahan. Ingin sekali kusumpal mulut itu dengan roti baguette biar tidak berisik.

[Dia bukan sedih karena gagal jadi istrinya Rangga, tapi karena saat lamaran berlangsung, dia sedang melakukan LIVE.]

[Nataryuni malu banget karena pertunangannya dibatalkan secara sepihak.]

[Makanya dia sekarang LIVE lagi buat jual kesedihan.]

“Mas, lakukan sesuatu dong. Masa kamu tega membiarkan anak kita jadi seperti ini.” Indita menarik-narik lengan baju ayahku.

“Iya ... iya,” ucap ayahku.

“Sayang sudah ya jangan sedih lagi. Papi sudah pesankan tiket liburan ke Eropa supaya kamu bisa istirahat. Kamu bisa membeli apa pun yang kamu mau. Tas, sepatu, baju branded, semuanya. Bebas. Ini kartunya.” Ayah memberikan kartu hitam miliknya.

Apa yang dilakukan ayahku terhadap Nataryuni sungguh bertolak belakang dengan apa yang  dia lakukan untukku.

Jika aku menangis, ayah akan memarahiku. Mengatakan bahwa sebagai anak pertama aku harus memberi contoh yang baik.

Namun jika Nataryuni yang menangis, ayah akan menenangkannya sekuat tenaga. Dia memberi barang-barang bagus dan mahal. Seperti yang dia lakukan sekarang.

Aku yang muak melihat drama ini kemudian mengambil kunci mobil. Sayangnya ketika hendak menuju garasi, ayah memergokiku.

“Mau ke mana kamu malam-malam begini?” teriaknya.

“Mencari ketenangan,” ucapku acuh tak acuh.

Biasanya ayahku juga tidak peduli aku ke mana. Kenapa kali ini dia terlihat begitu emosi?

“Kamu tahu kan, kalau adikmu sedang sedih! Kenapa kamu malah ingin jalan-jalan?” pekiknya.

Tiap kali Nataryuni menangis, ayah akan mencari kambing hitam untuk disalahkan.  Siapa pun yang ada di hadapannya akan menjadi korban. Dan sialnya, korban kali ini adalah aku.

“Dia itu lagi sedih karena gagal menikah dengan Nak Rangga. Ini kamu malah mau jalan-jalan. Itu namanya menari di atas penderitaan orang lain, tahu tidak?” Rahang ayahku mengeras.

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi media sosial. Kuperlihatkan kepada ayah bagaimana Nataryuni mencari keuntungan dari acara siaran langsungnya.

“Menari di atas penderitaan orang lain? Papi lihat? Nataryuni menari di atas penderitaannya sendiri. Acara LIVE-nya banyak yang menonton dan dia dapat banyak gift,” ucapku.

“Jadi kamu iri karena dia mendapatkan uang dari kesedihannya? Iya?!” Ayahku memekik.

Cukup. Aku sudah tak tahan.

“Apa Papi menyalahkanku sekarang? Papi lupa ya, yang membuat Nataryuni nangis kan Papi sendiri.” Suaraku bergetar.

“Kalau Papi tidak menyetujui kontrak dari Om Arifin dan mengganti calon pengantin Rangga, semua masalah ini tidak akan terjadi—”

PLAK!

Dua kali. Hari ini sudah dua kali ayah menamparku. Tidak terhitung di hari yang lain.

“Kamu perlu diberi hukuman karena membantah omongan Papi terus.” Ayahku merebut kunci mobil dan tas yang kubawa. Dia mengambil dompet dan mengeluarkan kartu kreditku.

“Mulai malam ini, semua fasilitas yang kamu pegang, Papi cabut!” ucapnya.

“Tapi itu kan dibayar dari uang deviden perusahaan Mami.” Aku melompat berusaha merebut kartu itu dari tangan ayah, namun tak berhasil.

“Tidak lagi. Karena Papi  akan mengalihkan saham punyamu kepada Nataryuni sebagai kompensasi pertukaran pengantin,” desis ayahku.

[Kasihan sekali Ayunda. Dia pemeran utama tapi diperlakukan seperti figuran.]

[Iya, mana besok dia bakal didemo di depan kantornya.]

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Jangan Gitu Dong, Boss!   5| Pemeran Utama Rasa Figuran

    Ini bukan mimpi, kan?Aku memang berniat membalas perbuatan Nataryuni dan Hendri dengan meniduri Rangga. Namun rencanaku tak sampai sejauh ini hingga menikah dengannya.Pertunangan Rangga dengan Nataryuni adalah utang budi sekaligus transaksi bisnis yang mengikat. Mengganti pasangannya sama dengan mengganti nilai kontrak.“Pak Arifin ... Nak Rangga, apa ada kesalahan? Yang bertunangan dengan Nak Rangga adalah Nataryuni, bukan Ayunda.” Ayahku tersenyum canggung.“Masa Om Rudi tidak tahu kalau saya dan Ayunda sudah tidur bersama. Bahkan Nataryuni melihat langsung dan menyiarkannya secara LIVE.” Rangga melirik ponsel Nataryuni yang terpasang di tripod. “Seperti yang dia lakukan sekarang.”Baik keluargaku maupun keluarga Rangga sama-sama tercengang dengan ucapan Rangga. Bisa-bisanya dia mengucapkan itu dengan tidak tahu malu.[Rangga pamer ke semua orang kalau dia sudah tidur denganmu. Dia sangat bangga saat mengatakannya.][Wah gila sih. Rangga memang tidak tahu malu. Tapi kalau tidak beg

  • Jangan Gitu Dong, Boss!   4| Padahal Aku juga Anaknya

    [Ayahmu sudah tahu kalau kamu dan Rangga tidur bersama. Nataryuni yang memberi tahunya.]“Kenapa semalam kamu tidak pulang? Hm?” Ayah mendelik kepadaku.Hebat sekali pertanyaan beliau. Seolah menginginkan sebuah jawaban, padahal tidak membutuhkannya. Terbukti dari cambuk di tangannya yang siap diayunkan kapan saja.“Tumben Papi tanya begitu. Biasanya mau aku hidup atau mati, Papi tidak peduli,” balasku.Saat aku melenggang ke dalam rumah, Nataryuni dan ibu tiri terus mengawasiku. Mereka seperti burung nasar yang menunggu mayatku tergeletak tak berdaya, lalu memakannya.“Sudahlah Pa, kasihan Kak Ayunda. Dia perlu istirahat. Lihat saja wajahnya lesu begitu, seperti orang yang kurang tidur,” celetuk Nataryuni.[Nataryuni seperti sedang membelamu. Namun semua itu palsu. Yang dia lakukan justru menodongkan pisau ke tenggorokanmu.]“Jangan marahi Kakak lagi, ya Pa. Aku tidak tega melihatnya.” Nataryuni memeluk lengan ayah dan merebut cambuknya.“Kenapa kamu masih membelanya? Padahal dia sud

  • Jangan Gitu Dong, Boss!   3| Drama di Griya Tawang

    Nataryuni datang ke griya tawang tak sendirian. Dia bersama dengan Tante Rose—ibunya Rangga. Lebih parahnya lagi, adik tiriku itu melakukan siaran langsung di media sosialnya.[Siaran langsung Nataryuni dilihat oleh satu juta orang. Mereka menyaksikan kalian tidur bersama.]Terpergok oleh Tante Rose dan Nataryuni saja sudah memalukan. Apalagi ini, disaksikan oleh sejuta umat manusia. Mau ditaruh di mana mukaku?“Nataryuni, bisa matikan LIVE-nya?” pintaku.Alih-alih menolak atau menurutiku, Nataryuni justru memasang tampang sedih dan langsung memeluk Tante Rose. Namun ponsel di tangannya tetap diarahkan kepadaku dan Rangga dengan posisi yang mantap. Tak bergetar sedikit pun.“Tante, Kak Ayunda galak sekali. Aku jadi takut,” rengeknya.Galak dia bilang? Aku tuh bukan galak ya, tapi emosi! Tidak ada yang suka kehidupannya dikonsumsi publik, apalagi yang diperlihatkan adalah sisi yang jelek.Lagi anu-anu malah ditonton oleh sejuta orang, siapa yang tidak emosi? Buset!“Nak, kamu tenang sa

  • Jangan Gitu Dong, Boss!   2| DP Dulu Ya, Sisanya Ngutang

    “Hei anak muda! Aku duluan yang deketin dia. Kamu tidak boleh main serobot ya!” ucap si pria mata keranjang sambil memegangi asetnya.“Kalau aku bilang dia milikku, kamu bisa apa?!” Rangga melempar tatapan tajam kepada si gadun.Apa? Aku adalah miliknya Rangga? Sejak kapan? Main ngaku-ngaku saja.“Halah, paling itu cuma akal-akalan kamu saja untuk merebut si manis. Mana buktinya kalau memang dia adalah milikmu?” tantang gadun tua itu.“Bukti ya? Apa ini cukup?” Rangga mencium bibirku.Gila gila gila!Bisa-bisanya si musuh bebuyutan menciumku dan aku hanya diam saja, tanpa perlawanan sama sekali. Ini tidak seperti diriku yang biasannya.“Kalau hanya ciuman saja, semua orang bisa melakukannya,” ucap gadun itu dengan ekspresi meremehkan.Eh buset! Ciuman itu tidak bisa dilakukan semua orang ya, terutama aku dan Rangga.Ingin sekali kutempel mulut bapak-bapak itu pakai koyo cabe. Biar kalau ngomong tuh enggak asal jeplak.“Berisik!” Rangga melempar sebuah kartu nama.Setelah pria mesum it

  • Jangan Gitu Dong, Boss!   1| Musuh Bebuyutan

    [Semua harga naik, tapi dia justru buang-buang uang buat menyenangkan tunangannya.][Yah, di awal cerita memang Ayunda itu bucin dan bodoh.] [Betul. Bisa-bisanya jatuh hati pada pria konyol seperti Hendri, ck.]Aku tetap memasang senyum sembari melihat-lihat arloji di estalase depan, seakan tidak terganggu dengan komentar-komentar aneh yang memenuhi pandanganku. Padahal kenyataannya, tentu saja ini aneh dan membuatku bertanya-tanya!Ini semua bermula sejak tadi sore. Karena tertidur, aku tidak siap saat bus yang kutumpangi mengerem mendadak. Akibatnya, kepalaku terantuk sandaran kursi di depanku.Sejak saat itu, aku bisa melihat sederet komentar asing yang mengomentari semua aspek hidupku–terutama kehidupan percintaanku.Kupikir, ini pasti hanya halusinasi. Tapi berkali-kali aku memejamkan mata dan mengatur napas, saat aku membuka mata, tulisan yang melayang-layang di hadapanku masih ada.Mereka bahkan tahu ini hari jadiku dengan Hendri, tunanganku, yang ketiga!Tapi, tentunya, jik

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status