MasukMenjelang siang, seluruh rangkaian uji rasa dan pemeriksaan kualitas susu akhirnya selesai. Sevi menutup map hasil evaluasi, lalu mengembuskan napas pelan. Hari itu tidak ditemukan masalah berarti pada batch produksi. Semua parameter masih berada dalam batas standar perusahaan. Ia merapikan beberapa lembar laporan, lalu berjalan menuju lantai tempat ruang kerja Arlan berada.Tok. Tok."Masuk."Sevi membuka pintu sambil membawa map biru di tangannya. Arlan yang sedang membaca dokumen langsung mengangkat kepala."Loh, udah selesai?"Sevi mengangguk. "Hm. Ini hasil uji rasa sama laporan batch hari ini."Arlan menerima map itu. "Makasih."Ia membukanya sekilas, membaca beberapa poin penting, lalu mengangguk puas."Aman semua?""Aman.""Bagus deh."Sevi melirik jam dinding. "Arlan.""Hm?""Aku izin pulang dulu ya."Arlan langsung tahu maksudnya. "Ke apartemen Bima?""Iya, lihat Sonya sekalian."Arlan mengangguk pelan. "Nggak ku anterin?"Sevi tersenyum kecil. "Nggak usah, kamu habis ini m
Panggilan dari Bima berakhir setelah beberapa menit. Sevi menghela napas pelan, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas."Sonya semalam kambuh lagi?" tanya Arlan yang sedang merapikan rambut di depan cermin.Sevi mengangguk. "Iya. Tapi sekarang udah agak mendingan.""Syukurlah.""Katanya sempat kesakitan lagi tengah malam."Arlan mengembuskan napas panjang. "Kasihan.""Iya ih, tapi untung ada Bima." Sevi tersenyum kecil. "Bima juga mulai peka sekarang."Arlan terkekeh. "Kelihatan banget?""Banget."Suasana yang sempat berat perlahan kembali mencair. Sevi berdiri dari tempat tidur."Yaudah.""Aku bikin sarapan dulu.""Hm.""Aku mandi.""Wokeh."Tak sampai tiga puluh menit kemudian, aroma mentega dan roti panggang mulai memenuhi apartemen. Sevi tidak memasak sesuatu yang rumit.Hanya telur dadar, roti panggang, beberapa potong buah, dan segelas susu hangat untuk Arlan, sementara dirinya memilih teh hangat."Cukup lah ya." gumamnya sambil menata piring di meja makan.Tak lama kemudian Ar
Malam semakin larut dan keheningan mulai menyelimuti apartemen Bima. Lampu ruang tamu sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu kecil di lorong yang menerangi jalan menuju kamar tamu.Bima akhirnya masuk ke kamarnya sendiri. Tubuhnya memang lelah, tetapi pikirannya masih dipenuhi berbagai hal. Wajah Sonya yang siang tadi menangis, cerita Sevi, hingga semua yang mereka temukan di Malang terus berputar di kepalanya.Entah sudah berapa lama ia memejamkan mata. Baru saja rasa kantuk mulai datang..."Ahh..."Bima membuka mata, ia mencoba mendengar lebih jelas suara rintihan tadi."...Ah..."Suara itu kembali terdengar. Walau pelan, namun cukup jelas di tengah suasana yang sunyi. Benar, itu sebuah rintihan.Bima langsung bangkit dari tempat tidur. Ia memasang telinga beberapa detik. Suara itu berasal dari kamar tamu. Tanpa berpikir panjang ia berlari keluar.Tok. Tok. Tok."Sonya... Aman kah? Ada yang sakit?"Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru rintihan yang semakin pilu."Hng..." Wajah
Lampu kamar sudah dipadamkan. Hanya lampu tidur di sudut ruangan yang masih menyala redup, memberikan semburat cahaya hangat di dalam kamar. Arlan dan Sevi sama-sama sudah berada di bawah selimut. Meski mata mulai terasa berat, keduanya masih enggan memejamkan mata.Sevi memutar tubuhnya menghadap Arlan. "Arlan Arlan...""Hm?""Aku boleh jujur nggak?"Arlan mengangguk pelan."Sejujur-jujurnya." Sevi menarik napas panjang sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Jujur... dulu aku sampai jijik sama diri sendiri gara-gara itu."Arlan langsung menoleh. "Karena ASI?""Iya.""Kenapa gitu?"Sevi mengusap ujung selimut dengan jemarinya. "Ya coba aja kamu beda dari orang sekitar. Kamu pasti ngerasa aneh, ngerasa rusak, ngerasa... kenapa harus aku."Arlan tidak menyela. Ia membiarkan Sevi mengeluarkan semua isi hatinya."Dulu aku bahkan nggak berani cerita ke siapa-siapa. Takut dianggap aneh. Takut dikasih tatapan kasihan. Padahal yang paling capek itu justru pikiranku sendiri."Arlan perlahan mengg
Perjalanan pulang terasa jauh lebih lengang dibanding biasanya. Jakarta mulai dipenuhi lampu-lampu gedung yang menyala, sementara kendaraan masih mengular di beberapa ruas jalan. Namun kali ini Arlan dan Sevi tidak terlalu banyak berbicara. Setelah beberapa hari dipenuhi penyelidikan, rapat, dan kejadian yang menguras emosi, mereka akhirnya bisa mengembuskan napas sedikit lebih lega.Sesampainya di apartemen, Arlan langsung meletakkan tas kerjanya di dekat sofa."Akhirnya rumah..." gumamnya sambil meregangkan badan.Sevi terkekeh pelan. "Baru juga beberapa hari ditinggal.""Rasanya kayak sebulan.""Lebay.""Nggak, serius ini."Sevi hanya menggeleng sambil berjalan ke dapur. "Malam ini aku masak ya."Arlan yang semula hendak menjatuhkan diri ke sofa langsung mengikuti dari belakang. "Aku bantu.""Beneran?""Iya lah.""Nanti malah bikin berantakan."Arlan mengangkat kedua tangannya. "Sumpah nggak bakal, aku nurut semua instruksi chef."Sevi tertawa kecil. "Yaudah. Ambilin bawang dulu."
Waktu berjalan tanpa terasa. Matahari yang sejak siang bersinar terang kini mulai turun perlahan di balik gedung-gedung Jakarta. Cahaya jingga masuk melalui jendela apartemen, membuat ruang tamu terasa lebih hangat.Setelah memastikan kondisi Sonya jauh lebih baik, Sevi akhirnya merapikan tasnya. "Aku pulang dulu ya."Sonya yang duduk di sofa mengangguk pelan. "...Iya.""Nanti kalau ada apa-apa, telepon aku. Jangan dipendem sendiri.""Iya."Sevi tersenyum. "Bagus."Bima ikut berdiri. "Makasih ya, Sev.""Santai aja Bim. Udah, jagain dia aja ya."Bima mengangguk pelan. "Pasti."Tak lama kemudian bel apartemen berbunyi. Ting Tong"Itu pasti Arlan." Bima berjalan membukakan pintu.Benar saja, Arlan berdiri di depan sambil masih mengenakan kemeja kerja. Dasi yang sejak pagi dipakai sudah dilepas, sementara dua kancing atas bajunya terbuka.Kelihatannya benar-benar baru selesai dari kantor."Gimana?" Sevi tersenyum. "Udah jauh lebih tenang, sayang?"Arlan mengangguk lega. "Syukur."Setelah
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga
Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.
Pagi datang lebih lambat bagi Arlan dan Sevi.Matahari sebenarnya sudah cukup tinggi ketika sinarnya menembus tirai kamar. Namun di atas ranjang itu, keduanya masih enggan bergerak. Tubuh mereka terasa lelah setelah hari yang panjang kemarin, tetapi bukan hanya karena kelelahan fisik.Mereka hanya







