Masuk“Itu sekretarisnya Arlan… suka centil ke Arlan. Males banget.”Hening.Satu detik.Dua detik.Lalu..Tatapan tajam langsung mengarah ke Arlan.Mata mama mendelik. Papa ikut menoleh perlahan.Arlan yang awalnya santai langsung terdiam. Gelas air di tangannya menggantung di udara, belum sempat ia teguk.“Bukan..” ia mencoba membuka suara.Namun mama sudah lebih dulu memotong. “Arlan.” Nada suaranya berubah menjadi dingin. “Ini maksudnya apa?”Sevi hanya melipat tangan, bersandar kembali ke sofa. Wajahnya tenang, tapi matanya jelas menunggu jawaban. Arlan menelan ludah. Situasi yang tadi hangat, seketika berubah.Ia menarik napas.“Ma… Pa… ini nggak seperti yang kedengarannya kok,” ucapnya pelan.Papa menyandarkan tubuhnya ke depan, mengubah posisi duduk. Kedua tangannya bertumpu di paha, dagunya ditopang jemari.“Ya terus seperti apa?” tanyanya datar.Arlan mengusap tengkuknya.“Itu… Sonya, sekretaris aku… dia memang akhir-akhir ini agak..”“Agak apa?” potong mama.Arlan diam sejenak, m
“Mandi bareng? Sekalian mandiin bawah, hehehe.”Arlan langsung berdiri dengan semangat, seolah lupa kalau beberapa jam lalu ia masih meracau karena demam. Tanpa menunggu jawaban, ia sudah melangkah cepat ke arah kamar mandi.Sevi hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkahnya.“Kok bisa ya…” gumamnya sambil bangkit perlahan. “Orang yang tadi pagi ngeluh panas, sekarang malah semangat banget mandi bareng.”Ia menggeleng kecil, namun senyumnya tidak hilang.Tak lama kemudian, suara air terdengar dari dalam kamar mandi, diiringi sesekali suara Arlan yang memanggil.“Sev! Lama banget!”“Iya, sabar!” balas Sevi.Begitu masuk, suasana berubah menjadi lebih ringan. Candaan kecil, percikan air, dan tawa. Bukan Arlan namanya kalau tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Beberapa kali ketika ia membantu Sevi menyabuni punggungnya, tangannya bergerak kedepan dan meremas dada bulat Sevi."“Uhh, Lan... ja-jangan disitu.”Bukannya berhenti, kedua jari Arlan menjepit ujung dada Sevi yang kini ke
Di sisi lain kota, suasana jauh berbeda.Sonya berdiri di tengah lorong supermarket dengan napas tersengal. Tangannya gemetar, matanya memerah, dan dadanya naik turun tidak teratur.Ia baru saja mematikan telepon.Sepihak.Namun bukan itu yang membuatnya kehilangan kendali. Kata-kata Arlan. Nada suaranya. Dan… suara Sevi di belakangnya.“Istri saya udah siap sedia di samping.”Kalimat itu seperti terus terngiang. Menghantam. Mengulang. Tanpa henti.“Sevi sialan…!” suara Sonya tiba-tiba meledak.Beberapa orang langsung menoleh. Namun Sonya tidak peduli.“Sevi sialan… Sevi sialan…!”Ia menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali.Keras.Emosinya meluap tanpa bisa ia tahan. Seolah semua kontrol yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja.“Kenapa sih selalu dia?!”Seorang ibu menarik anaknya menjauh. Beberapa orang mulai berbisik. Satpam yang berjaga segera mendekat.“Kak… kak, tenang dulu ya,” ucapnya hati-hati.Sonya menatapnya dengan mata tajam. Namun beberapa detik kemudian, ia te
Pagi ini Sevi terbangun bukan karena alarm, atau karena cahaya matahari yang menembus tirai, melainkan karena sesuatu yang hangat menyentuh pipinya.Hangat… lama kelamaan terasa panas.Alisnya sedikit mengernyit sebelum akhirnya membuka mata perlahan.Pandangan pertamanya langsung jatuh pada wajah Arlan yang berada sangat dekat di hadapannya.“Lan…?” suaranya masih serak karena baru bangun.Namun tidak ada jawaban. Sebaliknya, Arlan justru meracau pelan.“Panas…”Sevi langsung terbangun sepenuhnya. Tangannya dengan cepat menyentuh dahi Arlan.Panas.Bahkan lebih panas dari yang ia kira.Tubuh Arlan sedikit menggigil, meskipun keringat sudah membasahi pelipisnya.Sevi segera bangkit sedikit, meraih remote AC dan mematikannya. Setelah itu, ia menarik selimut lebih rapat menutupi tubuh Arlan.Namun tiba-tiba...Arlan terbangun.Gerakannya agak kasar, napasnya berat.“Panas… tapi dingin…” gumamnya, menggeleng pelan dengan bingung.Sevi langsung kembali masuk ke dalam selimut, mendekatkan
“Sev… aku...”“Kamu pikir aku marah karena siapa yang di mobil kamu?”Sevi menggeleng pelan. “Bukan itu.”Arlan menatapnya bingung.“Terus…?”Sevi tertawa kecil. Pahit. “Aku marah karena kamu bikin aku ngerasa… harus nebak.”Hening.“Kamu nutup telepon kayak lagi nyembunyiin sesuatu.”Arlan menggeleng cepat. “Nggak, aku cuma...”“Kamu bisa bilang, Lan,” potong Sevi. “Kamu bisa bilang ‘aku lagi nganter Sonya’. Sesederhana itu loh.”Arlan terdiam.“Kamu tahu aku nggak akan marah karena itu.” Sevi menarik tangannya perlahan.Namun Arlan menahannya.“Tapi kamu pilih buat nutup telepon.” Suaranya melemah. “Itu yang bikin capek.”Arlan menunduk. Tubuhnya gemetar. “Aku… takut kamu salah paham…”Sevi menghela napas. “Dan yang kamu lakukan justru bikin aku salah paham.”Arlan terdiam lagi.Semua yang ia pikirkan sebagai ‘melindungi’… justru berubah menjadi luka kecil yang menumpuk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.Suaranya bergetar. “Aku… bodoh ya…”Sevi tidak menjawab. Arlan kembali b
Arlan akhirnya datang.Namun kedatangannya tidak membawa kehangatan seperti biasanya.Begitu ia melangkah masuk ke rumah Mila, suasana hangat keluarga langsung terasa, tawa kecil, percakapan ringan, aroma makanan yang masih tersisa di udara. Namun semua itu seperti terpisah darinya.Matanya langsung mencari satu orang.Sevi.Sevi berdiri di dekat meja, berbincang dengan Mila dan beberapa anggota keluarga lainnya. Wajahnya terlihat biasa saja. Bahkan… terlalu biasa.Ketika mata mereka bertemu, hanya ada satu hal yang diberikan Sevi, Senyum.Tipis.Getir.Dan setelah itu, Sevi kembali mengalihkan pandangan, melanjutkan obrolannya seolah Arlan tidak baru saja datang. Langkah Arlan terhenti sesaat. Dadanya terasa sesak. Namun ia tetap berjalan masuk.“Lan, sini!” panggil Mila dari kejauhan.Arlan memaksakan senyum kecil.“Iya.”Ia menghampiri sebentar, menyapa seperlunya, lalu akhirnya memilih duduk di sofa pojok.Diam.Tangannya saling bertaut. Matanya… tidak pernah benar-benar lepas da
Malam itu, kantor sudah sepi. Lampu sebagian besar ruangan padam, hanya beberapa cahaya temaram yang tersisa dari ruang kerja inti. Arlan duduk di kursinya, bahunya menunduk lesu, jemari mengetuk-ngetuk meja tanpa arah.Hari ini ia kembali gagal mendekati Sevi. Setiap kali ia mencoba mencari celah,
Pagi itu, Sevi terbangun dengan tubuh yang terasa berat. Nyeri di bagian dadanya kembali menyerang, lebih menusuk daripada biasanya. Ia meringkuk di sisi ranjang, menahan sakit yang tak kunjung reda. Air matanya sudah siap jatuh, namun sebelum benar-benar mengalir, lengan hangat melingkari tubuhnya
Weekend seharusnya jadi waktu istirahat, namun kali ini kantor meminta beberapa karyawan inti untuk masuk. Agenda utamanya adalah uji coba rasa baru susu vanilla creamy. Sebagai orang yang bertanggung jawab di bagian pengawasan kualitas, Sevi tentu tak bisa menolak. Dan Arlan, selaku bos, juga hadi
Malam itu, Arlan seperti kehilangan kendali atas dirinya. Setelah ia menyerahkan kartu kredit untuk membayar kamar hotel, semua ingatannya kabur. Seakan ada selubung hitam menutupi pikirannya. Yang tersisa hanyalah tubuhnya yang bergerak tanpa ia sadari, sementara Alya terus menuntun, terus menggod







