Share

Terror

Author: Olivia
last update publish date: 2025-10-24 22:31:31

Malam itu udara lembap, sisa hujan sore masih tercium samar di jalanan. Lampu jalan berkelap-kelip, sesekali redup karena tertiup angin. Dari jendela kontrakannya, Sevi menatap gelas teh hangat di tangannya yang mulai kehilangan uapnya.

Ia belum juga bisa memejamkan mata, meski jam dinding sudah lewat pukul sepuluh.

Pikirannya masih dipenuhi potongan kecil dari pagi tadi tawa Arlan saat mereka sarapan, cara pria itu menatapnya setiap kali ia berbicara, dan kalimat sederhana yang terus terngi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Capek

    Arlan akhirnya datang.Namun kedatangannya tidak membawa kehangatan seperti biasanya.Begitu ia melangkah masuk ke rumah Mila, suasana hangat keluarga langsung terasa, tawa kecil, percakapan ringan, aroma makanan yang masih tersisa di udara. Namun semua itu seperti terpisah darinya.Matanya langsung mencari satu orang.Sevi.Sevi berdiri di dekat meja, berbincang dengan Mila dan beberapa anggota keluarga lainnya. Wajahnya terlihat biasa saja. Bahkan… terlalu biasa.Ketika mata mereka bertemu, hanya ada satu hal yang diberikan Sevi, Senyum.Tipis.Getir.Dan setelah itu, Sevi kembali mengalihkan pandangan, melanjutkan obrolannya seolah Arlan tidak baru saja datang. Langkah Arlan terhenti sesaat. Dadanya terasa sesak. Namun ia tetap berjalan masuk.“Lan, sini!” panggil Mila dari kejauhan.Arlan memaksakan senyum kecil.“Iya.”Ia menghampiri sebentar, menyapa seperlunya, lalu akhirnya memilih duduk di sofa pojok.Diam.Tangannya saling bertaut. Matanya… tidak pernah benar-benar lepas da

  • Bos, Jangan di Sini!   Nebeng

    Sore itu, kantor mulai lengang. Beberapa karyawan sudah pulang, sebagian masih menyelesaikan pekerjaan. Di ruangannya, Sonya menatap layar komputer dengan fokus, meskipun pikirannya tidak sepenuhnya di sana.Ia melirik jam.Sudah hampir waktunya.Hari ini, Sevi tidak pulang bersama Arlan. Ia ada acara di rumah Mila. Bahkan dari siang tadi, Sevi sudah beberapa kali membicarakan soal itu dengan nada antusias.“Kayaknya bakal seru deh,” ucap Sevi waktu itu sambil merapikan tasnya.Arlan hanya mengangguk.“Iya, hati-hati.”“Aku bareng Mila sama suaminya kok. Aman.”Arlan tersenyum tipis.Namun bagi Sonya… itu adalah celah.Kesempatan.\\\“Pak, dokumen ini sudah saya revisi,” ucap Sonya, berdiri di depan meja Arlan.Arlan menerima berkas itu, membacanya cepat. “Iya, sudah oke. Kirim saja.”“Baik, Pak.”Beberapa menit kemudian, pekerjaan mereka selesai.Arlan berdiri, meraih jasnya. “Saya duluan, ya. Ada urusan.”Sonya mengangguk. “Baik, Pak.”Namun ia ikut berdiri. Mereka berjalan bersama

  • Bos, Jangan di Sini!   Mau Saingan?

    Pagi itu tidak berjalan seperti biasanya.Sevi berdiri di depan pintu apartemen dengan wajah pucat, tubuhnya masih terasa berat, dan kepalanya berdenyut sejak semalam. Demamnya belum benar-benar turun. Bahkan untuk berdiri tegak saja, ia harus menahan napas beberapa detik.Arlan yang berdiri di depannya menghela napas panjang, jelas menahan kesabaran.“Kamu nggak usah masuk hari ini,” ucap Arlan tegas. “Tinggal di apartemen. Atau ke rumah orang tua ku aja. Biar ada yang jagain.”Sevi menggeleng pelan, meskipun gerakannya terlihat lemah.“Nggak mau.”“Kenapa nggak mau?” nada Arlan mulai tegas. “Kamu sakit, Sevi.”“Masih bisa kerja kok.”“Kamu bahkan berdiri aja sempoyongan.”Sevi menatapnya, matanya sedikit berkaca-kaca, tapi tetap keras.“Aku nggak suka diam aja.”Arlan memberi pengertian. “Ini bukan soal suka atau nggak suka. Ini soal kondisi kamu, sayang.”Sevi mengalihkan pandangan.“Kalau aku di rumah, aku malah kepikiran kerjaan.”“Dan kalau kamu masuk kerja, kamu bisa pingsan di

  • Bos, Jangan di Sini!   Masa Lalu Sonya

    Mungkin bagi sebagian orang, mempercayai ramalan adalah sesuatu yang tabuh. Sesuatu yang tidak masuk akal, bahkan cenderung dianggap tidak waras. Namun bagi Sonya, itu bukan sekadar percaya, itu adalah satu-satunya cara ia bertahan tanpa harus hancur sepenuhnya.Sonya bukan orang yang suka berdebat. Ia juga bukan tipe yang akan menjelaskan dirinya panjang lebar. Sejak kecil, ia sudah belajar satu hal, tidak semua hal yang diucapkan akan berakhir baik.Orang tuanya berpisah ketika ia masih terlalu muda untuk memahami arti pengkhianatan, tetapi cukup dewasa untuk merasakan dampaknya. Ayahnya ketahuan berselingkuh. Ibunya pergi, membawa adiknya. Dan Sonya… tetap tinggal.Bukan karena ia dipilih.Tapi karena ia tidak diperebutkan.“Sonya ikut Papa aja ya. Adik masih kecil,” ucap ibunya waktu itu, sambil tersenyum tipis, seolah keputusan itu ringan.Sonya kecil hanya mengangguk.“Baik, Ma.”Tidak ada tangisan. Tidak ada protes. Ia bahkan tidak bertanya kenapa.Sejak saat itu, hidupnya ber

  • Bos, Jangan di Sini!   Makin Agresif

    Hari itu terasa berbeda bagi Arlan.Semakin ia memperhatikan, semakin jelas perbedaan sikap Sonya dibanding hari-hari sebelumnya. Jika dulu interaksi mereka murni profesional, terukur, seperlunya, tanpa celah, hari ini terasa… terlalu dekat.Terlalu personal.Tatapan Sonya berubah.Senyumnya pun berbeda.Bukan lagi sekadar sopan, tapi seperti menyimpan maksud lain yang tidak diucapkan.Beberapa kali Sonya masuk ke ruangannya bukan hanya untuk urusan kerja. Ia mulai menanyakan hal-hal ringan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.“Bapak biasanya sarapan apa?”“Weekend kemarin ke mana?”Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia tanyakan.Arlan hanya menjawab seperlunya.Singkat.Jelas.Namun tidak memberi ruang untuk berkembang.Puncaknya ketika Sonya masuk membawa secangkir kopi.“Pak, ini kopi.”Arlan langsung mengangkat tangan.“Nggak usah, Sonya. Saya biasa bikin sendiri.”Namun Sonya tersenyum.“Sekali-sekali saya yang buat, Pak.”Arlan menghela napas pelan.Nada Sonya tidak memaksa,

  • Bos, Jangan di Sini!   Batas yang Mulai Terlihat

    Malam di Puncak terasa lebih dingin dari yang mereka bayangkan.Namun di dalam kamar itu, suasana justru hangat.Arlan dan Sevi menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada pekerjaan, tidak ada orang lain yang menuntut perhatian mereka. Malam itu benar-benar terasa seperti milik mereka."Lan... Jangan masuk sekaligus," Erangan Sevi yang terdengar seperti bisikan."Ahh.. enak sayang, ketat banget..."Arlan mencoba menyesuaikan ritme agar Sevi tak kesakitan, sebab disini ia tau kalau Sevi tak akan bersuara keras untuk meredam sakitnya. Namun apa daya, di bawah sana Arlan merasa seperti terjepit, enak namun ngilu, ia berusaha keras menahan agar tidak keluar dalam."Sayang..." Kejantanannya dikeluarkan paksa agar tidak terjadi pembuahan di dalam. Ciuman manis nan basah mengakhiri kegiatan mereka, setelah lelah dan tenang kembali, Sevi berbaring di samping Arlan. Kepalanya bersandar di lengan pria itu, sementara Arlan mengelus rambutnya perlahan.Beberap

  • Bos, Jangan di Sini!   Titik Terendah

    Pagi itu, bahkan matahari pun terasa enggan naik.Awan menggantung berat, sama seperti perasaan Arlan sejak beberapa minggu terakhir. Ruang kerjanya sunyi, hanya ada tumpukan berkas, laptop yang masih menyala sejak subuh, dan kopi dingin yang bahkan tak sempat ia minum.Arlan menatap layar di depan

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Bos, Jangan di Sini!   Rapat Penuh Perasaan

    Arlan memulai presentasinya dengan napas yang tertata. Suaranya terdengar stabil, walau di dadanya banyak hal berdesakan kenangan, penyesalan, dan secercah keteguhan yang baru ia temukan beberapa waktu terakhir.“Produk ini… sebenarnya sudah kami rancang jauh sebelum semua masalah terjadi. Ini adal

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Bos, Jangan di Sini!   Yang Menenangkan

    Bau mie instan yang pekat masih memenuhi udara kontrakan itu, bercampur dengan aroma bawang goreng dan uap panas yang belum sempat menguap. Namun perhatian Sevi teralih seluruhnya ketika wajah Arlan muncul di ambang pintu dengan wajah emosi yang masih menempel kuat… dan lebam ungu besar di pipi kir

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Bos, Jangan di Sini!   Baru Dimulai

    Suatu malam, saat kantor sudah sepi, hanya beberapa komputer yang masih menyala, dan hujan turun deras di luar, Sevi berjalan ke pantry untuk mengambil air hangat. Tubuhnya sedikit lelah, tapi bukan karena stres, lebih karena banyak pekerjaan menumpuk setelah ia lama menghilang saat masa investigas

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status