공유

Terror

작가: Olivia
last update 게시일: 2025-10-24 22:31:31

Malam itu udara lembap, sisa hujan sore masih tercium samar di jalanan. Lampu jalan berkelap-kelip, sesekali redup karena tertiup angin. Dari jendela kontrakannya, Sevi menatap gelas teh hangat di tangannya yang mulai kehilangan uapnya.

Ia belum juga bisa memejamkan mata, meski jam dinding sudah lewat pukul sepuluh.

Pikirannya masih dipenuhi potongan kecil dari pagi tadi tawa Arlan saat mereka sarapan, cara pria itu menatapnya setiap kali ia berbicara, dan kalimat sederhana yang terus terngi
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Bos, Jangan di Sini!   Karena Dirinya Sendiri

    Brak!Pintu kamar mandi itu akhirnya terbuka setelah hantaman kedua dari bahu Arlan. Begitu pintu terbuka, napas Arlan langsung tercekat.“ASTAGA SEVI...”Tubuh Sevi terduduk lemas di lantai kamar mandi yang dingin. Rambutnya berantakan menempel di wajah yang sudah pucat pasi. Tangannya gemetar sambil memegangi dadanya sendiri, sementara air mata masih terus jatuh tanpa suara.Namun yang membuat Arlan hampir kehilangan akal adalah darah itu. Kemeja putih Sevi sudah ternoda merah di bagian depan. Tidak banyak sampai menggenang, namun cukup membuat kepala Arlan langsung kosong seketika.Pompa ASI tergeletak di lantai dengan bercak cairan yang membuat Arlan makin panik.“Sevi...” Suara Arlan langsung pecah.Ia buru-buru jongkok di depan Sevi sambil memegang wajah perempuan itu dengan kedua tangannya yang gemetar.“Sayang... lihat aku...”Mata Sevi perlahan menatap Arlan. Tatapan itu sudah kehilangan fokus.“Sakit...” lirihnya pelan.Dan kalimat itu seperti menghancurkan jantung Arlan. “A

  • Bos, Jangan di Sini!   Bertahan

    Sevi langsung berdiri dari lantai dapur walau tubuhnya sempoyongan. Tangannya gemetar hebat sampai beberapa kali harus berpegangan pada meja makan kecil di sampingnya agar tidak jatuh. Napasnya memburu, dadanya masih terasa nyeri dan berat.Pikirannya kacau. Yang ada di kepalanya sekarang hanya satu, takut.Ia berjalan cepat menuju lemari kecil dekat televisi, lalu membuka lacinya dengan kasar. Berbagai barang langsung berantakan keluar. Obat-obatan, charger, buku catatan, sampai beberapa pakaian kecil yang asal ia simpan di sana ikut jatuh ke lantai.“Ayo mana...” gumamnya panik.Tangannya terus mengacak isi laci sampai akhirnya ia menemukan benda yang ia cari.Pompa ASI.Jari Sevi langsung mencengkeram benda itu erat. Tanpa berpikir panjang ia buru-buru menuju kamar mandi sambil memegangi dadanya yang nyeri.Brak.Pintu kamar mandi langsung ia kunci rapat. Barulah setelah itu Sevi berani menatap dirinya sendiri di kaca. Dan detik itu juga tubuhnya melemah. Kemeja putih yang ia pak

  • Bos, Jangan di Sini!   ASI dan Darah

    Langit di luar kontrakan sudah benar-benar gelap ketika Sevi akhirnya bergerak dari sofa ruang tengahnya.Sedari siang ia hanya duduk diam di sana. TV di depannya mati, namun matanya terus menatap lurus ke layar hitam tersebut seperti orang yang sedang kehilangan arah hidup.Tidak ada suara selain rintik hujan yang kadang memukul genteng kontrakan dan bunyi kipas angin kecil di sudut ruangan.Air matanya sudah habis sejak beberapa jam lalu. Kini yang tertinggal hanya rasa kosong dan kepala yang terus dipenuhi suara-suara menyakitkan.“Kekanak-kanakan...”Kata itu terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak.Padahal semalaman ia hanya khawatir.Padahal ia cuma takut sesuatu terjadi pada Arlan.Padahal ia cuma ingin memastikan pria itu makan dengan benar.Tapi nyatanya semua rasa takut dan perhatian itu malah terdengar memalukan di mata Arlan.Sevi menghembuskan napas panjang. Tubuhnya terasa dingin karena sedari tadi duduk tanpa bergerak. Ia menunduk, menatap paper bag kosong beka

  • Bos, Jangan di Sini!   Terlalu Kekanak-kanakan?

    Pintu laboratorium terbuka cukup keras ketika Sevi masuk ke dalam ruangan itu. Beberapa kepala langsung menoleh spontan.Suasana yang tadinya dipenuhi suara mesin dan obrolan kecil mendadak hening begitu melihat wajah Sevi yang pucat dengan mata sembab.Tak ada yang berani bertanya.Semua orang di kantor sudah cukup tahu bagaimana dekatnya hubungan Sevi dan Arlan. Dan barusan… hampir satu lantai mendengar suara pertengkaran mereka di area lift.Sevi berjalan menuju mejanya tanpa berkata apa-apa. Tangannya bergerak pelan memasukkan barang-barang pribadi ke dalam tote bag cokelat miliknya, charger, dompet, tempat makan kosong dan sweater tipis yang biasa ia pakai kalau suhu lab terlalu dingin.Gerakannya lambat. Seolah tubuhnya kehilangan tenaga bahkan hanya untuk sekadar berdiri tegak.“Sev…”Salah satu rekan kerjanya memanggil pelan. Namun Sevi hanya menggeleng kecil sambil memaksakan senyum tipis.“Aku nggak apa-apa.”Padahal jelas-jelas tidak. Setelah semua barangnya masuk, Sevi lan

  • Bos, Jangan di Sini!   Jangan Cari Aku

    “Sev, tunggu! Sevi, dengerin aku dulu!”Suara Arlan menggema cukup keras di sepanjang koridor lantai utama kantor. Namun Sevi sama sekali tidak berhenti. Ia malah mempercepat langkahnya.Kakinya terasa lemas dan gemetar, tapi tetap ia paksa berjalan membelah kerumunan karyawan yang mulai melirik mereka dengan tatapan penasaran. Beberapa orang bahkan pura-pura sibuk sambil diam-diam memperhatikan situasi tersebut.Tepat sebelum pintu lift menutup sempurna, sebuah tangan besar menahannya kuat.Brak.Pintu lift kembali terbuka.Arlan langsung masuk dengan napas memburu. Wajahnya terlihat kacau, dipenuhi frustrasi dan emosi yang sejak tadi ia tahan mati-matian.“Sevi, bisa nggak sih jangan kayak gini dulu?”Nada suara Arlan meninggi tanpa sadar. Lift mulai bergerak turun perlahan. Ruangan sempit itu kini terasa makin menyesakkan bagi keduanya.“Kondisi kantor lagi kacau banget hari ini!” lanjut Arlan sambil mengusap wajahnya kasar. “Aku kerja dari semalam bukan buat main-main, Sev. Aku la

  • Bos, Jangan di Sini!   Awal Retak

    “Aku cuma mau nganterin sarapan. Kamu nggak pulang semalam dan nggak ada kabar,” ucap Sevi pelan, berusaha keras menahan getar di suaranya agar tidak terdengar seperti perempuan yang sedang meminta belas kasih perhatian.“Tapi sepertinya… kamu udah punya banyak bantuan di sini.”Kalimat itu meluncur dingin, membelah atmosfer tegang di ruang kerja Arlan yang sejak pagi dipenuhi tekanan.Arlan yang baru saja membungkuk mengambil spidol hitam di bawah papan tulis kaca langsung mematung.Di sampingnya, Sonya ikut terdiam. Tablet di tangannya masih menyala menampilkan data distribusi, sementara cangkir kopi yang baru ia letakkan di meja seolah kehilangan arti di tengah suasana yang mendadak membeku.Ruangan berpendingin udara itu tiba-tiba terasa sesak.Tatapan Sevi turun perlahan ke paper bag di tangannya. Sup ayam hangat buatannya kini terlihat begitu kecil di antara tumpukan dokumen bertuliskan Draf Distribusi Lini Susu Kemasan — Malang.“Sev…”Arlan berdeham pelan. Tenggorokannya teras

  • Bos, Jangan di Sini!   Baikan

    Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p

    last update최신 업데이트 : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Buka Suara

    Situasi itu berpotensi meledak. Namun sebelum Sevi sempat berkata lebih jauh, Arlan muncul dan langsung berdiri di depan Sevi, tubuhnya menjadi penghalang.“Ada apa?” tanya Arlan dingin. “Kamu ngapain ke sini, Miko?”Miko menunduk. Bahunya turun, seolah beban berat menekannya. “Aku… aku mau minta m

    last update최신 업데이트 : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Tanggung Jawab

    Miko berdiri lebih dulu. Ia meraih jaketnya, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Tidak ada lagi kecanggungan seperti sebelumnya, hanya sisa lelah dan perasaan yang akhirnya menemukan tempatnya masing-masing.“Aku pulang dulu,” ucapnya pelan.Sevi mengangguk. “Hati-hati di jalan.”Mila berdi

    last update최신 업데이트 : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Hubungan yang Merenggang

    Mila berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, menatap bayangannya sendiri. Mata itu tampak lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak menahan. Sejak beberapa hari terakhir, ia sengaja menjaga jarak dari Sevi. Bukan sekali dua kali Sevi menyapanya di pantry, di lorong, bah

    last update최신 업데이트 : 2026-03-31
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status