แชร์

Gangguan dikala Romantis

ผู้เขียน: Olivia
last update วันที่เผยแพร่: 2025-10-21 00:08:22

Malam itu, setelah Arlan pulang dari rumah orang tuanya, udara di sekitar kontrakan Sevi terasa tenang dan hangat. Lampu di dapur menyala redup, menerangi meja kecil yang kini dipenuhi beberapa bahan masakan sederhana, bawang merah, cabai, daun bawang, dan satu ikat sawi segar. Sevi duduk di kursi, menulis daftar belanja di kertas sobekan kecil, bibirnya membentuk senyum tipis.

Ia menatap jam di dinding yang hampir menunjukkan pukul delapan malam.

“Aku pengen masak yang ringan aja besok,” gumam
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bos, Jangan di Sini!   Kembali Menelusuri

    Perjalanan menuju lokasi berlangsung lebih cepat dibanding malam sebelumnya. Siang hari membuat kawasan tersebut terlihat jauh berbeda.Tidak ada kesan menyeramkan apalagi suasana mencurigakan. Yang ada justru kehidupan pedesaan yang tenang. Hamparan hijau terlihat di beberapa sisi jalan.Truk pengangkut susu keluar masuk area peternakan. Beberapa pekerja terlihat sibuk memberi makan sapi, sebagian lainnya membersihkan kandang. Suara mesin bercampur suara hewan ternak menciptakan suasana yang terasa sangat normal.Bima memarkir mobil di pinggir jalan, lalu turun. Ia memperhatikan sekeliling.Beberapa warga duduk santai di teras rumah sambil mengobrol. Anak-anak berlarian di jalan kecil. Sedang ibu nya menjemur pakaian. Tidak ada yang terlihat aneh.Bima menghela napas, kemudian berjalan mendekati salah satu rumah."Permisi, Pak."Seorang pria paruh baya menoleh. "Iya kenapa mas?""Di sini pabrik susu ya?"Pria itu tersenyum ramah. "Inggih, iya mas. Dari dulu disini memang tempatnya p

  • Bos, Jangan di Sini!   Nggak Bisa Diem

    Malam itu Bima benar-benar memutar balik mobilnya. Rasa penasaran yang muncul setelah melihat sosok perempuan diseret menuju kawasan pabrik tidak memberinya kesempatan untuk berpikir tenang.Ia mengikuti dari jarak aman, mematikan lampu utama ketika memasuki jalan yang semakin sepi. Namun semakin dekat ia ke lokasi, semakin besar kebingungannya. Karena yang berdiri di sana bukan bangunan mencurigakan seperti yang sempat dibayangkannya.Yang ada hanyalah area peternakan sapi perah dan bangunan pengolahan susu dalam ukuran sedang. Lampu-lampu penerangan masih menyala.Beberapa pekerja malam terlihat berlalu-lalang. Suara mesin pendingin terdengar samar dari kejauhan. Dan sesekali terdengar suara sapi dari area kandang.Bima bahkan sempat turun dari mobil dan mengamati dari kejauhan selama hampir satu jam. Tidak ada teriakan atau keributan.Beberapa kendaraan keluar masuk area pabrik, tetapi semuanya tampak seperti kendaraan operasional biasa. Pada akhirnya ia hanya berdiri sambil mengga

  • Bos, Jangan di Sini!   Petunjuk

    Pagi di Malang datang dengan udara yang lebih dingin daripada biasanya. Sinar matahari mulai masuk melalui celah tirai kamar hotel ketika Arlan perlahan membuka mata. Kepalanya masih sedikit berat, meski tidak separah yang ia bayangkan semalam. Beberapa detik ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar, mencoba mengingat urutan kejadian yang terjadi sebelum tidur.Ia bertemu dengan Bima, lalu fakta bahwa Bima menemukan jejak Sonya. Dan kemungkinan yang mulai terasa semakin masuk akal sekaligus semakin mengkhawatirkan.Lalu pikirannya berhenti pada satu hal, Sevi. Arlan menoleh ke samping. Perempuan itu masih tertidur dengan posisi setengah membelakanginya, rambutnya sedikit berantakan akibat tidur semalaman.Arlan tersenyum kecil. "Lanjut aja tidurnya ya sayangku." Tak lupa kecupan manis ia bubuhkan pada Sevi.Dua jam berikutnya dihabiskan Arlan untuk bekerja. Meski berada di Jawa Timur, tanggung jawabnya di Jakarta tidak bisa berhenti begitu saja.Laptop terbuka di atas me

  • Bos, Jangan di Sini!   Bimbang

    Bima seharusnya sudah berada di penginapan satu jam yang lalu, setidaknya itu rencana awalnya. Setelah berpisah dengan Arlan dan Sevi, ia memang sempat mengarahkan mobil menuju tempat menginapnya. Namun semakin jauh ia berkendara, semakin sulit pikirannya untuk tenang.Terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu malam. Dan fakta bahwa ia kini tidak lagi bisa menyangkal perasaannya sendiri. Semua bercampur menjadi satu.Akhirnya, tanpa sadar, ia membelokkan mobil ke arah lain. Menjauh dari pusat kota dan menuju kawasan perbukitan yang beberapa kali direkomendasikan warga sekitar.Bukit Bintang, nama itu sempat ia dengar dari pemilik warung beberapa hari lalu.Tempat untuk melihat lampu kota dari ketinggian, beberapa orang datang untuk menikmati malam. Tempat untuk sekadar duduk dan berpikir. Di malam itu, mungkin memang hanya itu yang dibutuhkan Bima, tempat untuk berpikirUdara semakin dingin seiring mobilnya menanjak. Di kanan kiri jalan mulai terlihat warung-warung sederhana yang mas

  • Bos, Jangan di Sini!   Mabuk

    Perjalanan kembali ke hotel berlangsung tenang. Arlan lebih banyak diam selama di dalam mobil. Kepalanya bersandar ke sandaran kursi, sesekali memejamkan mata lalu membukanya lagi. Ia tidak benar-benar mabuk sampai kehilangan kesadaran, tetapi cukup untuk membuat pertahanannya yang biasanya kokoh menjadi sedikit longgar.Sevi yang duduk di sampingnya beberapa kali melirik. "Kamu masih sadar kan sayang?""Sadar kok.""Coba ini berapa?" Sevi memperlihatkan dua jari ke depan Arlan.Arlan membuka sebelah mata. "Kamu pikir aku mabuk berat ya?""Buat mastiin doang.""Dua."Sevi tertawa kecil. "Hehe aman."Saat mobil berhenti di depan hotel, Arlan turun lebih dulu. Langkahnya masih stabil, meski sedikit lebih lambat dari biasanya. Mereka masuk ke lobi lalu menuju lift.Begitu pintu lift tertutup, suasana mendadak sunyi. Tidak ada suara selain dengungan mesin lift. Sevi memperhatikan angka yang terus bertambah di atas pintu.Sementara Arlan berdiri di sampingnya tanpa bicara. Sampai akhirnya

  • Bos, Jangan di Sini!   Malam yang Panjang

    Setelah percakapan itu, suasana meja mereka berubah. Bukan karena ada pertengkaran, justru sebaliknya. Terlalu banyak informasi yang baru saja mereka dengar dan terlalu banyak kemungkinan yang tiba-tiba muncul dalam waktu bersamaan.Akibatnya, tidak ada satu pun yang benar-benar tahu harus berkata apa. Arlan membuka kaleng berikutnya. Sedangkan Bima mengambil botol yang baru datang.Di atas meja, jumlah minuman perlahan bertambah. Bukan hanya satu merek, melainkan beberapa yang berbeda. Sebagian dipesan karena penasaran, sebagian lagi hanya karena mereka membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikiran yang terus bekerja tanpa henti.Namun anehnya, semakin banyak yang diminum, semakin sedikit yang dibicarakan. Arlan dan Bima hanya sesekali saling melirik, lalu kembali diam. Seolah keduanya sedang memproses informasi masing-masing.Dan tanpa perlu dijelaskan, mereka tahu apa yang sedang dipikirkan satu sama lain. Sonya, nama yang menghubungkan semua benang kusut yang selama ini berdiri se

  • Bos, Jangan di Sini!   Tangisan Bersama

    Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Makin Overthinking

    Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Special Valentine

    Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-17
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status