LOGINDiskusi di kamar hotel berlangsung lebih lama dari yang mereka perkirakan. Semakin banyak mereka membahas hasil kunjungan hari itu, semakin jelas satu kesimpulan yang muncul bahwa mereka tidak benar-benar melihat isi pabrik tersebut. Mereka hanya melihat lapisan luarnya.Maya membuka kembali catatan yang ia buat selama kunjungan."Coba pikirkan lagi. Kita masuk ke area penerimaan bahan baku, gudang utama, laboratorium, ruang produksi, sampai pengemasan.""Iya," jawab Dito."Tapi siapa saja yang menemui kita?"Bagas yang semula bersandar langsung mengangkat kepala."Karyawan lapangan."Maya mengangguk."Semuanya."Ruangan kembali hening.Arlan yang sejak tadi berdiri dekat jendela perlahan menoleh.Maya melanjutkan, "Tidak ada manajer utama. Tidak ada kepala operasional. Tidak ada penanggung jawab kualitas yang kemarin menolak audit.""Benar juga," gumam Dito."Kita bahkan tidak bertemu satu pun orang yang benar-benar punya kewenangan besar."Sevi yang duduk sambil melipat kaki ikut me
Pagi itu dimulai lebih awal dari yang direncanakan. Saat matahari bahkan belum sepenuhnya naik, Maya, Bagas, dan Dito sudah bersiap meninggalkan hotel. Mereka mengenakan pakaian biasa, berlagak seperti masih mahasiswa. Mereka juga memastikan tidak memakai identitas yang menunjukkan hubungan mereka dengan kantor pusat. Hanya tampak seperti tiga mahasiswa yang sedang melakukan penelitian.Sementara itu, di salah satu kamar hotel, Arlan dan Sevi memilih tetap tinggal. Bukan karena mereka tidak ingin turun langsung, malah justru sebaliknya.Arlan sadar dirinya terlalu dikenal. Jika ada orang di pabrik Malang yang pernah melihat foto atau menghadiri rapat perusahaan sebelumnya, kehadirannya bisa langsung menimbulkan kecurigaan. Begitu juga dengan Sevi yang posisi nya sebagai salah satu korban dari zat tersebut.Karena itu mereka membagi peran. Maya, Bagas, dan Dito menjadi mata-mata di lapangan. Arlan dan Sevi menjadi pengamat.Sebelum berangkat, Dito sempat menunjuk kancing bajunya."Uda
Perjalanan menuju Jawa Timur berlangsung jauh lebih lancar daripada yang diperkirakan Arlan. Tidak ada yang mengikuti mereka di bandara. Bahkan selama penerbangan hingga tiba di kota tujuan, semuanya berjalan normal. Terlalu normal, malah.Arlan, Maya, Bagas, Dito, dan Sevi langsung menuju hotel yang sudah dipilih jauh-jauh hari. Bukan hotel yang biasa digunakan perusahaan untuk perjalanan dinas resmi, melainkan hotel bisnis sederhana yang cukup ramai sehingga keberadaan mereka tidak menarik perhatian siapa pun.Sore hari itu mereka berkumpul di salah satu kamar untuk menyusun langkah berikutnya."Kita mulai besok pagi," ujar Maya sambil membuka laptop.Bagas mengangguk. "Hari pertama cuma observasi.""Jangan langsung mendekati pihak pabrik.""Itu udah pasti." Dito menyandarkan tubuh ke kursi."Kalau mereka memang sedang menutupi sesuatu, mereka pasti sensitif terhadap orang asing."Sevi yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut bersuara. "Artinya kita harus terlihat seperti orang ya
Pagi itu kantor pusat di Jakarta terlihat sama seperti biasanya. Karyawan keluar masuk gedung dengan ritme yang tidak berubah. Beberapa rapat tetap berlangsung sesuai jadwal. Divisi pemasaran mengirim laporan mingguan. Bagian keuangan masih sibuk dengan tumpukan dokumen yang harus diselesaikan sebelum akhir bulan. Bahkan sekretaris baru Arlan tetap menerima tamu dan panggilan seperti hari-hari biasa. Di mata siapa pun yang melihat dari luar, tidak ada yang berbeda.Tidak ada tanda-tanda bahwa sebagian orang penting dalam perusahaan sedang bersiap melakukan sesuatu yang sengaja dirahasiakan. Itulah yang memang diinginkan Arlan. Karena, semakin sedikit orang yang mengetahui rencana keberangkatan mereka, semakin baik.Di ruang kerja pribadinya, Arlan menutup laptop setelah memastikan seluruh agenda hari itu sudah didelegasikan."Kantor pusat tetap berjalan normal," ujar Maya yang berdiri di dekat meja.Arlan mengangguk. "Bagaimana dengan rapat investor besok?""Sudah dialihkan ke wakil
Bima menatap layar laptopnya sejak hampir satu jam yang lalu. Ruangan apartemen yang biasanya dipenuhi suara televisi kini hanya ditemani dengungan pendingin udara dan bunyi ketukan jarinya di atas meja. Berkas demi berkas ia buka kembali, mencocokkan informasi yang selama ini ia kumpulkan mengenai Sonya. Sudah terlalu lama pencarian itu berjalan tanpa hasil yang benar-benar berarti. Setiap kali ia merasa sudah dekat, jejak itu kembali menghilang seolah Sonya memang tidak ingin ditemukan.Namun malam ini berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya terus menatap satu titik di layar. Sebuah transaksi lama yang sangat kecil nilainya.Bahkan tidak cukup penting untuk menarik perhatian kebanyakan orang. Tetapi transaksi itu terjadi beberapa minggu setelah Sonya menghilang.Dan yang membuat Bima membeku adalah lokasi transaksi tersebut ada di Jawa Timur.“Bentar deh, jauh banget gini.”Ia langsung membuka data lain yang sebelumnya ia abaikan. Satu per satu potongan informasi mulai membentuk pola
Ruang rapat itu sengaja dipilih yang paling kecil. Bukan karena masalah yang dibahas sepele, justru sebaliknya.Arlan hanya mengundang enam orang. Orang-orang yang sudah bekerja dengannya bertahun-tahun dan terbukti bisa menjaga mulut mereka tetap tertutup saat diperlukan. Ponsel mereka diminta dimatikan. Tidak ada notulen atau rekaman. Hanya mereka bertujuh.Arlan berdiri di depan layar yang menampilkan hasil laboratorium dari dua pabrik berbeda. Satu milik mereka dan satu lagi milik pabrik susu di Malang."Kalian sudah lihat hasilnya?"Semua mengangguk."Kandungan zat yang ditemukan identik."Suasana ruangan langsung terasa berat. Rendi, sang kepala divisi kualitas, mengusap dagunya."Kalau hanya muncul di satu pabrik, saya masih bisa percaya ada kesalahan internal. Tapi ini dua pabrik berbeda. Sistem produksi beda. Supplier sebagian besar beda. Lokasi beda.""Itu yang membuat saya tidak tenang," kata Arlan.Maya membuka beberapa dokumen."Yang lebih aneh lagi, pihak Malang langsung
Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.
Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga







