공유

Pulang

작가: Olivia
last update 게시일: 2025-12-02 23:04:08

Arlan memandangi layar ponselnya sejak sore, jarinya mengetuk-ngetuk bagian belakang casing hingga kukunya memutih. Pesan yang ia kirim belum dibaca. Atau mungkin sudah dibaca, tapi tidak mendapat balasan. Ia tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah satu hal,

Sevi pergi dariku hari itu dengan wajah yang patah. Dan kesalahan itu miliknya.

Ia membuka kembali draf pesan yang sudah ia ketik ratusan kali, menghapus, mengetik ulang, menghapus lagi. Sampai akhirnya ia menekan pesan suara dan mengirim tanpa m
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Titin Dwie
up lagi thor
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Bos, Jangan di Sini!   Terganggu

    Pagi ini Sevi terbangun bukan karena alarm, atau karena cahaya matahari yang menembus tirai, melainkan karena sesuatu yang hangat menyentuh pipinya.Hangat… lama kelamaan terasa panas.Alisnya sedikit mengernyit sebelum akhirnya membuka mata perlahan.Pandangan pertamanya langsung jatuh pada wajah Arlan yang berada sangat dekat di hadapannya.“Lan…?” suaranya masih serak karena baru bangun.Namun tidak ada jawaban. Sebaliknya, Arlan justru meracau pelan.“Panas…”Sevi langsung terbangun sepenuhnya. Tangannya dengan cepat menyentuh dahi Arlan.Panas.Bahkan lebih panas dari yang ia kira.Tubuh Arlan sedikit menggigil, meskipun keringat sudah membasahi pelipisnya.Sevi segera bangkit sedikit, meraih remote AC dan mematikannya. Setelah itu, ia menarik selimut lebih rapat menutupi tubuh Arlan.Namun tiba-tiba...Arlan terbangun.Gerakannya agak kasar, napasnya berat.“Panas… tapi dingin…” gumamnya, menggeleng pelan dengan bingung.Sevi langsung kembali masuk ke dalam selimut, mendekatkan

  • Bos, Jangan di Sini!   Mau Udahan atau Lanjut?

    “Sev… aku...”“Kamu pikir aku marah karena siapa yang di mobil kamu?”Sevi menggeleng pelan. “Bukan itu.”Arlan menatapnya bingung.“Terus…?”Sevi tertawa kecil. Pahit. “Aku marah karena kamu bikin aku ngerasa… harus nebak.”Hening.“Kamu nutup telepon kayak lagi nyembunyiin sesuatu.”Arlan menggeleng cepat. “Nggak, aku cuma...”“Kamu bisa bilang, Lan,” potong Sevi. “Kamu bisa bilang ‘aku lagi nganter Sonya’. Sesederhana itu loh.”Arlan terdiam.“Kamu tahu aku nggak akan marah karena itu.” Sevi menarik tangannya perlahan.Namun Arlan menahannya.“Tapi kamu pilih buat nutup telepon.” Suaranya melemah. “Itu yang bikin capek.”Arlan menunduk. Tubuhnya gemetar. “Aku… takut kamu salah paham…”Sevi menghela napas. “Dan yang kamu lakukan justru bikin aku salah paham.”Arlan terdiam lagi.Semua yang ia pikirkan sebagai ‘melindungi’… justru berubah menjadi luka kecil yang menumpuk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.Suaranya bergetar. “Aku… bodoh ya…”Sevi tidak menjawab. Arlan kembali b

  • Bos, Jangan di Sini!   Capek

    Arlan akhirnya datang.Namun kedatangannya tidak membawa kehangatan seperti biasanya.Begitu ia melangkah masuk ke rumah Mila, suasana hangat keluarga langsung terasa, tawa kecil, percakapan ringan, aroma makanan yang masih tersisa di udara. Namun semua itu seperti terpisah darinya.Matanya langsung mencari satu orang.Sevi.Sevi berdiri di dekat meja, berbincang dengan Mila dan beberapa anggota keluarga lainnya. Wajahnya terlihat biasa saja. Bahkan… terlalu biasa.Ketika mata mereka bertemu, hanya ada satu hal yang diberikan Sevi, Senyum.Tipis.Getir.Dan setelah itu, Sevi kembali mengalihkan pandangan, melanjutkan obrolannya seolah Arlan tidak baru saja datang. Langkah Arlan terhenti sesaat. Dadanya terasa sesak. Namun ia tetap berjalan masuk.“Lan, sini!” panggil Mila dari kejauhan.Arlan memaksakan senyum kecil.“Iya.”Ia menghampiri sebentar, menyapa seperlunya, lalu akhirnya memilih duduk di sofa pojok.Diam.Tangannya saling bertaut. Matanya… tidak pernah benar-benar lepas da

  • Bos, Jangan di Sini!   Nebeng

    Sore itu, kantor mulai lengang. Beberapa karyawan sudah pulang, sebagian masih menyelesaikan pekerjaan. Di ruangannya, Sonya menatap layar komputer dengan fokus, meskipun pikirannya tidak sepenuhnya di sana.Ia melirik jam.Sudah hampir waktunya.Hari ini, Sevi tidak pulang bersama Arlan. Ia ada acara di rumah Mila. Bahkan dari siang tadi, Sevi sudah beberapa kali membicarakan soal itu dengan nada antusias.“Kayaknya bakal seru deh,” ucap Sevi waktu itu sambil merapikan tasnya.Arlan hanya mengangguk.“Iya, hati-hati.”“Aku bareng Mila sama suaminya kok. Aman.”Arlan tersenyum tipis.Namun bagi Sonya… itu adalah celah.Kesempatan.\\\“Pak, dokumen ini sudah saya revisi,” ucap Sonya, berdiri di depan meja Arlan.Arlan menerima berkas itu, membacanya cepat. “Iya, sudah oke. Kirim saja.”“Baik, Pak.”Beberapa menit kemudian, pekerjaan mereka selesai.Arlan berdiri, meraih jasnya. “Saya duluan, ya. Ada urusan.”Sonya mengangguk. “Baik, Pak.”Namun ia ikut berdiri. Mereka berjalan bersama

  • Bos, Jangan di Sini!   Mau Saingan?

    Pagi itu tidak berjalan seperti biasanya.Sevi berdiri di depan pintu apartemen dengan wajah pucat, tubuhnya masih terasa berat, dan kepalanya berdenyut sejak semalam. Demamnya belum benar-benar turun. Bahkan untuk berdiri tegak saja, ia harus menahan napas beberapa detik.Arlan yang berdiri di depannya menghela napas panjang, jelas menahan kesabaran.“Kamu nggak usah masuk hari ini,” ucap Arlan tegas. “Tinggal di apartemen. Atau ke rumah orang tua ku aja. Biar ada yang jagain.”Sevi menggeleng pelan, meskipun gerakannya terlihat lemah.“Nggak mau.”“Kenapa nggak mau?” nada Arlan mulai tegas. “Kamu sakit, Sevi.”“Masih bisa kerja kok.”“Kamu bahkan berdiri aja sempoyongan.”Sevi menatapnya, matanya sedikit berkaca-kaca, tapi tetap keras.“Aku nggak suka diam aja.”Arlan memberi pengertian. “Ini bukan soal suka atau nggak suka. Ini soal kondisi kamu, sayang.”Sevi mengalihkan pandangan.“Kalau aku di rumah, aku malah kepikiran kerjaan.”“Dan kalau kamu masuk kerja, kamu bisa pingsan di

  • Bos, Jangan di Sini!   Masa Lalu Sonya

    Mungkin bagi sebagian orang, mempercayai ramalan adalah sesuatu yang tabuh. Sesuatu yang tidak masuk akal, bahkan cenderung dianggap tidak waras. Namun bagi Sonya, itu bukan sekadar percaya, itu adalah satu-satunya cara ia bertahan tanpa harus hancur sepenuhnya.Sonya bukan orang yang suka berdebat. Ia juga bukan tipe yang akan menjelaskan dirinya panjang lebar. Sejak kecil, ia sudah belajar satu hal, tidak semua hal yang diucapkan akan berakhir baik.Orang tuanya berpisah ketika ia masih terlalu muda untuk memahami arti pengkhianatan, tetapi cukup dewasa untuk merasakan dampaknya. Ayahnya ketahuan berselingkuh. Ibunya pergi, membawa adiknya. Dan Sonya… tetap tinggal.Bukan karena ia dipilih.Tapi karena ia tidak diperebutkan.“Sonya ikut Papa aja ya. Adik masih kecil,” ucap ibunya waktu itu, sambil tersenyum tipis, seolah keputusan itu ringan.Sonya kecil hanya mengangguk.“Baik, Ma.”Tidak ada tangisan. Tidak ada protes. Ia bahkan tidak bertanya kenapa.Sejak saat itu, hidupnya ber

  • Bos, Jangan di Sini!   Tawaran

    Sudah dua hari terakhir Sevi merasa kebingungan dengan tubuhnya sendiri. Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, dan setiap pulang malam hari, ia selalu melakukan rutinitas memompa ASI—sebuah kebiasaan yang entah sejak kapan menjadi bagian dari hidupnya. Namun, kali ini berbeda. Dua hari berturut-tur

    last update최신 업데이트 : 2026-03-17
  • Bos, Jangan di Sini!   Ketergantungan

    Dalam bilik sempit itu, antara desahan yang hampir bocor dan suara langkah di luar, Sevi sadar—yang berbahaya bukan rasa sakitnya, tapi kenyataan bahwa ia menikmati sentuhan dirinya.“Kamu… ngapain?”Sevi menunduk dalam, pipinya memanas. Jemarinya yang tadi berusaha menutupi dada kini tak berdaya,

    last update최신 업데이트 : 2026-03-17
  • Bos, Jangan di Sini!   Semakin Jauh

    Malam itu, tubuh Sevi menggigil hebat. Ia terbaring di lantai kontrakan kecilnya setelah berjam-jam menahan sakit yang tidak tertahankan. Dadanya masih terasa sesak, panas menjalar hingga ke ubun-ubun. Ia berusaha bangkit, namun tubuhnya tak memberi izin.Tangannya gemetar saat mencoba meraih gulin

    last update최신 업데이트 : 2026-03-18
  • Bos, Jangan di Sini!   Antara Resign dan Rahasia

    Pagi itu, Sevi bangun dengan tubuh masih gemetar. Setiap kali menutup mata, ia bisa merasakan lagi bibir Arlan menyentuh kulitnya—terlalu nyata untuk disebut mimpi. Dada Sevi berdenyut, lembap, meninggalkan rasa hangat yang membuatnya ingin menjerit Sejak kejadian malam itu, dunia Sevi terasa runt

    last update최신 업데이트 : 2026-03-17
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status