Share

12. Rentetan Tanya

Author: Nenghally
last update publish date: 2026-06-01 09:00:41

Setelah sarapan mewah yang terasa sangat mengenyangkan itu selesai, Dania tidak lantas bersantai. Ia berdiri dari kursi beludrunya, lalu menghampiri Mbak Ana yang sedang merapikan beberapa peralatan makan di dekat konter dapur.

"Mbak Ana," panggil Dania sungkan. "Boleh saya minta tolong? Bisakah salah satu pelayan menyiapkan beberapa makanan sehat ke dalam wadah? Saya ingin membawanya ke rumah sakit untuk Mama dan Papa. Mereka pasti mulai mengeluh bosan jika harus menyantap makanan rumah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   39. Pengawas

    Pria itu berdiri di sana, masih mengenakan jaket olahraga tim basketnya dengan tudung yang sengaja ditarik untuk menutupi rambutnya yang acak-akan. Napas Gathan tampak sedikit memburu, seolah-olah ia baru saja berlari cepat melintasi kompleks kampus yang luas dari gedung olahraga menuju fakultas bahasa hanya untuk mencari Dania.Wajahnya terlihat luar biasa tegang, dan matanya yang tajam langsung memindai tubuh Dania dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan bahwa juniornya itu tidak kurang satu apa pun."Gathan? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Dania setengah berbisik, matanya melirik cemas ke arah mahasiswa lain yang berjalan melewati mereka di koridor. "Bukannya kamu masih ada jadwal rapat evaluasi tim dengan Pelatih?"Gathan tidak langsung menjawab. Ia melepaskan cengkeramannya di lengan Dania, tapi matanya tetap menatap tajam. Mengunci pergerakan gadis di hadapannya."Aku sudah bilang padamu semalam, Danie. Jangan pergi ke mana-mana sendirian.""Aku kan cuma pergi ke kelas k

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   38. Lingkaran Berbahaya

    Sebelum Dania sempat memikirkan jawaban untuk menyelamatkan diri dari jebakan pertanyaan Revan, sebuah hantaman keras terdengar dari arah lapangan tengah.Brakkk!Bola basket melesat dengan kecepatan tinggi, menghantam papan pembatas di dekat meja dengan suara dentuman nyaring. Bola itu mamantul liar ke lantai, memotong pembicaraan antara Revan dan Dania secara paksa.Beberapa mahasiswa di tepi lapangan bahkan sampai tersentak kaget. Gathan berjalan mendekat dengan langkah tegap dan mengintimidasi. Napasnya memburu berat, dengan keringat yang membanjiri seluruh jersi hitam tanpa lengannya.Otot-otot tubuhnya tampak berkilat di bawah lampu aula olahraga. Sorot mata elangnya berkilat penuh permusuhan dan kemarahan yang tertahan saat melihat posisi Revan terlalu dekat, condong ke arah Dania."Revan, waktu istirahatmu sudah habis lima menit yang lalu," desis Gathan. Suaranya terdengar seperti geraman rendah seorang alfa yang wilayah kekuasaannya sedang diusik secara terang-terangan. "Kemb

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   37. Protektif

    Gathan yang baru saja hendak melangkah menuju tempat tidurnya seketika menghentikan pergerakannya. Kalimat pendek dari Danie seolah-olah menjadi pukulan telak yang menyinkronkan rasa takut di dalam kepalanya dengan realitas di depan mata.Pria itu membalikkan tubuh dengan cepat. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Danie yang kini terduduk lesu di pinggiran ranjang bawah. Ia memperhatikan detail penampilan juniornya itu. Napas yang masih tersengal, keringat dingin membasahi pelipis, dan kedua tangan meremas lututnya sendiri dengan erat."Diikuti?" Gathan mengulang kata itu dengan nada yang sangat rendah, hampir menyerupai bisikan berbahaya.Ia berjalan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh tegapnya menenggelamkan sosok Danie yang rapuh. "Siapa? Sejak kapan?"Dania mendongak, sedikit terkejut dengan reaksi Gathan yang terkesan sangat intens, jauh lebih agresif daripada biasanya."A-aku tidak tahu pastinya. Sejak aku naik bus kota

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   36. Ancaman

    Di kamar 302, Gathan sedang sendirian. Buku teks kuliahnya terbuka di atas meja, tapi fokusnya sama sekali tidak berada di sana.Biasanya, jam segini Danie sudah kembali dari kegiatannya, entah itu mengeluh panjang lebar karena ototnya yang pegal akibat latihan fisik, atau ribut sendiri mondar-mandir mencari catatan kuliah yang hilang di kolong ranjang. Namun, sore hari ini kamar terasa terlalu sunyi dan hampa.Tanpa sadar, Gathan melirik ke arah ranjang bawah yang kosong melompong. Meja belajar Danie di sudut ruangan juga tampak terlalu rapi. Tidak ada tumpukan buku yang berserakan, tidak ada botol minum yang tertinggal setengah penuh, atau barang-barang kecil yang biasa membuat matanya sakit.Pria itu mendecakkan lidahnya dengan gusar, menutup buku tebal di depannya dengan sentakan kasar."Berisik sekali kalau ada di kamar, tapi ternyata jauh lebih mengganggu kalau tidak ada," bisik Gathan dengan nada kesal yang tidak ia mengerti dari mana asalnya.Gathan mencoba mengabaikan perasaa

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   35. Merasa Diikuti

    Dania berhasil berganti menjadi Danie dengan aman. Ia bahkan sempat merasa lega karena pertemuannya dengan Revan tadi hanyalah kebetulan yang menyebalkan. Untung saja ia bergerak cepat untuk menghindar sebelum pria bertanya macam-macam atau mencurigai sesuatu yang lebih jauh.Di dalam bilik toilet umum pom bensin yang letaknya beberapa blok dari rumahnya, seluruh atribut feminin itu kembali disimpan rapat ke dalam tas ransel abu-abunya. Wig panjangnya dilepas, digantikan topi hitam dan kacamata yang menjadi tameng andalannya selama ini. Bebat kain kasa kembali melilit dadanya dengan ketat, mengembalikan sosok Danie yang kikuk dan tampak ringkih.Karena ingin menghemat uang jajannya yang semakin menipis untuk ongkos taksi, ia memutuskan untuk naik bus kota menuju kampus. Sudah lama sekali ia tidak menaiki transportasi umum di jam-jam nanggung seperti ini. Suasana di dalam bus tidak terlalu padat, menyisakan deretan kursi kosong di bagian tengah dan belakang.Dania memilih duduk di deka

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   34. Benang Kusut

    Perjalanan dari supermarket menuju rumah terasa begitu panjang karena pikiran Dania yang berkecamuk. Namun, begitu taksi berhenti di depan pagar rumahnya yang sederhana, seluruh rasa cemas itu perlahan luruh, digantikan oleh rasa hangat yang ia rindukan.Dania melangkah masuk ke halaman rumah. Suasana sepi yang sempat menyelimuti rumah ini selama orang tuanya dirawat di rumah sakit kini telah berganti. Pintu depan terbuka lebar, dan samar-samar aroma harum bumbu dapur yang ditumis tercium hingga ke teras. Aroma masakan rumahan yang sangat ia kenali."Mama? Papa?" panggil Dania setengah berlari memasuki ruang tengah.Seorang wanita paruh baya dengan celemek kain yang masih terikat di pinggangnya keluar dari arah dapur. Wajahnya kini terlihat jauh lebih segar dan bertenaga. Begitu melihat anak perempuan satu-satunya berdiri di sana dengan rambut panjangnya, senyum sang ibu langsung merekah."Dania! Jagoan Mama sudah pulang!" seru Bu Femmy, langsung menyambut Dania ke dalam pelukan hanga

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   32. Bunyi Klakson

    Hampir seminggu telah berlalu sejak insiden menegangkan di bawah guyuran hujan. Selama beberapa hari itu, kehidupan Dania berjalan dengan ritme yang luar biasa melelahkan.Sesuai perintah mutlak Gathan, setiap subuh ia dipaksa bangun untuk melatih fisiknya. Mulai dari menambah porsi push-up hingga

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   31. Saling Sindir

    Matahari subuh kini telah naik satu jengkal, mengusir sisa-sisa kabut yang sempat menyelimuti lintasan lari. Semburat cahaya keemasan itu menerpa permukaan lapangan utama, memantulkan kilau embun di pucuk-pucuk rumput yang basah.Suara derap langkah kaki yang ramai berpadu dengan tawa riuh yang ter

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   30. Pelatih Menyebalkan

    Dania langsung berdiri tegak, buru-buru menyembunyikan lengannya yang masih gemetar ke belakang punggung. Rasa nyeri menyengat di otot trisepnya, tapi ia menolak untuk terlihat selemah itu di depan Gathan."Aku tidak mau pingsan. Aku cuma sedang latihan," bantahnya cepat dengan napas yang masih ter

  • Jangan Jatuh Cinta, Danie!   28. Benturan Ego

    Keheningan di antara Dania dan Revan tidak bertahan lama. Suara derap langkah kaki yang berat dan menghentak tiba-tiba terdengar mendekat dari arah pintu masuk perpustakaan. Dania refleks menoleh, dan jantungnya langsung mencelos saat melihat sosok Gathan yang berjalan cepat ke arah mereka dengan w

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status