LOGINZade melirik kemeja bagian depannya yang basah, lalu menatap Kittie dengan sebelah alis terangkat malas. “Sepertinya kau mulai menjadikan ku sebagai hobi barumu, ya.”“Apa maksudmu?” tukas Kittie cepat. Ia segera bergegas menyambar sehelai tisu dari meja, lalu mencoba menepuk-nepuk noda basah di dada kemeja Zade.“Ini sudah kali kedua kau mengotori kemejaku, Kucing Kecil,” ucap Zade tenang, sengaja membiarkan gadis itu sibuk sendiri.“Namaku KITTIE. Berhenti memanggilku begitu!” kata Kittie protes, menatap Zade sekilas dengan mata melotot sebelum kembali fokus mengeringkan kemeja itu. “Lagi pula, sumpah... yang ini juga tidak sengaja!” bela Kittie.“Sayangnya, tidak untukku,” balas Zade menyebalkan.
Zade menatap dingin wajah Aiden, lalu memilih memalingkan pandangannya seolah pemuda di hadapannya itu tak lebih dari angin lalu.“Zade, aku sedang berbicara padamu!” Aiden kehilangan kesabaran. Tangannya terulur cepat, mencengkeram pergelangan tangan Zade dengan kasar agar menghentikan langkahnya.Zade menghempas cengkeraman itu dengan sentakan tajam, lalu berbalik menatap mata Aiden tanpa gentar. “Apa maumu?” ucapnya dingin, suaranya nyaris berbisik ancaman.Aiden mendengus sinis. Tanpa ragu, ia maju selangkah dan mencengkeram kerah baju Zade hingga tubuh pemuda itu terdorong membentur dinding kayu di belakangnya. “Kau tahu aku menaruh perhatian padanya. Dan kaulah yang tadinya memintaku menjauhinya. Apa semua itu hanya siasatmu untuk memuluskan jalanmu sendiri, hah?!”Zade tertawa pahit yang terdengar begitu merendahkan. Dengan gerakan cepat, ia menepis dan menghempas tangan Aiden dari kerah bajunya, merapikan kemejanya yang kusut dengan tenang.“Hentikan imajinasi konyolmu itu,”
Ruang pertemuan panitia dipenuhi bau kayu basah sisa hujan. Kittie duduk merosot di kursi paling ujung, Setelah berdebat dengan Zade, Aiden dan Avan, untuk mengizinkan ia ikut.“Lima belas menit,” desis Zade tegas, menatap lurus ke arah Kittie. “Lebih dari itu, aku menyeretmu balik ke ranjang dengan paksa.” Di tengah ruangan, Sarah duduk di kursi kayu, seragam perawat yang kusut karena koper yang baru setengah dikemas. Reno berdiri di belakangnya seperti satpam.Tidak ada yang bicara selama hampir semenit.Avan berdiri di dekat jendela, memunggungi semua orang. Aiden bersandar di dinding sebelah Kittie dengan rahang mengeras hingga otot-otot di pipinya berkedut menahan amarah. Zade melangkah tenang ke kursi seberang Sarah, duduk dengan sebelah kaki menyilang sempurna. Jemarinya mengetuk permukaan lengan kursi, menciptakan ritme monoton yang mengintimidasi. “Jadi apa mau mu?” Tanya Zade dinginAlih-alih menjawab, Sarah mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. Sudut matanya melirik p
Napas Kittie memburu, memecah kesunyian malam di dalam kabin yang temaram. Matanya membelalak lebar, sementara dadanya naik-turun tak beraturan dihantam rasa ngeri yang merambat cepat ke ujung jemari. Tak sanggup lagi menahan teror dari suara di seberang sana, ia menyentak ponselnya mendekati bibir, lalu membentak dengan suara bergetar hebat.“Hentikan omong kosongmu! Aku tidak mau mendengarkan suara menjijikkan mu lagi!”Klik.Tanpa ragu, ibu jarinya menekan tombol merah, memutuskan sambungan secara sepihak. Hening seketika kembali merayap, “Avan?” Kittie segera mendongak. Tangannya yang dingin mencengkram lengan pemuda itu dengan panik. “Kamu... kamu benar-benar kenal suara itu?”Avan menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat, seolah ada serpihan kaca yang menyumpal di sana. Sorot matanya yang biasanya hangat kini berubah gelap—dingin, kosong, dipenuhi ketidakpercayaan yang teramat sangat.“Aku sudah sering mendengarnya,” bisik Avan lirih, nyaris tertelan o
Sejak malam mengerikan itu, Kittie dilarang keras meninggalkan tempat tidur oleh dokter kemah yang berjaga. Keningnya harus menerima tiga jahitan rapi, sementara suhu tubuhnya masih enggan stabil. “Istirahat total dua hari, tidak boleh ada tawar-menawar,” vonis sang dokter tegas sambil merapikan alat medisnya. “Kalau pusing atau mual berlanjut, evakuasi langsung ke rumah sakit kota.” “dua hari?” Kittie reflek mencoba bangkit, tapi kepalanya langsung berdenyut nyeri. “Tapi jadwalku—”“Berbaring, Nona. Atau saya perpanjang masa isolasi Anda di sini.”Kittie mendengus sebal, terpaksa kembali menjatuhkan kepalanya ke atas bantal dengan bibir mengerucut protes. Tidak lama dari itu, Clara sudah duduk di sisi ranjangnya dengan semangkuk bubur dan wajah yang sembab karena kurang tidur.“Aku hampir pingsan waktu dikabari, Kit!” Clara meniup sesendok bubur dengan tangan yang masih sedikit gemetar. “Kata Reno kamu jatuh di lereng. sendiri yang nemuin kamu di sana. Sumpah, itu adegan penyel
Aiden maju satu langkah lagi. Air hujan menetes deras dari tudung jas hujannya, tapi tatapannya tidak lepas dari dada Zade. Napasnya memburu, bersatu dengan deru angin malam yang dingin. “Jawab aku, Zade.” Suaranya rendah, bergetar menahan amarah yang hampir meledak di tenggorokan. “Kenapa Kittie ada di pelukanmu? Tanpa baju?” Zade tidak bergeming. Ia bahkan tidak repot-repot merapikan rambutnya yang basah kuyup. Ia hanya melirik adiknya sekilas dengan dingin, lalu kembali menatap lurus ke depan.“Kendalikan emosimu, Aiden.”“Jangan menyuruhku—” Aiden mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, buku-buku jarinya memutih “Kittie terkena gejala hipotermia,” potong Zade datar, suaranya mengiris tajam di antara suara hujan. “Suhu tubuhnya anjlok waktu kutemukan di lereng bawah. Kepalanya terbentur dan berdarah. Pakaiannya basah kuyup. Kalau kubiarkan, kau pikir dia akan bertahan?”Rahang Aiden bergerak kaku, mengeras hebat. Sorot matanya yang semula menyala oleh amarah perlahan goyah,b







