Share

Bab 9 - Titik

Author: Aretha Wang
last update publish date: 2026-09-24 22:19:19

Zade tidak menjawab. Ia hanya merapikan lengan kemejanya yang sebenarnya sudah rapi, lalu melangkah ke arah pintu keluar.

Di depan pintu, Zade berhenti tanpa menoleh. "Kau ikut," katanya pada Kittie. Mendengar itu, Kittie berdiri, memberi hormat pada Mr. Hale, lalu berlari menyusul Zade.

Begitu mereka berjalan menyusuri koridor yang sepi, Kittie akhirnya bersuara.

"Zade, tunggu." Ia menarik lengan Zade, memaksanya berhenti.

Zade menoleh, satu alis terangkat, tatapannya turun sebentar ke tangan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   BAB 12 - Sisi yang Disembunyikan

    "Maka dia akan tahu aku selalu dapat apa yang aku mau."Belum sempat suara itu hilang di udara, kaki Kittie yang bergeser pelan menyentuh sesuatu, ranting kering dan bunyi kecil itu terdengar begitu keras di telinganya sendiri."Tunggu." Sarah langsung mendorong dada Avan menjauh sedikit, matanya melebar ke arah pintu. "Diam sebentar. Kau dengar itu, kan?""Nggak ada apa-apa." Avan tidak bergerak sedikitpun, satu tangannya masih bertahan di pinggang Sarah."Aku serius, kayak ada suara di luar—""AC gedung ini rusak dari semester lalu," potong Avan, santai. "Bunyi kayak gitu wajar, apalagi malam-malam begini.""Kau yakin?""Aku Head of Student Welfare, Sarah." Satu sudut bibirnya terangkat. "Aku hafal setiap sudut kampus ini, termasuk gedung mana yang berisik sendiri kalau malam."Sarah tertawa pelan, ketegangan di bahunya mencair, lalu kembali menariknya lebih dekat.Kittie tidak menunggu lebih lama. Ia mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi, jantungnya berdebar bukan cuma karena

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   BAB 11 - Ahli Membuat Orang Lupa

    "Aku tahu siapa dia, Kittie!" Bisikan Clara berubah jadi desisan panik, tangannya mencengkeram lengan Kittie erat-erat. "Seluruh kampus tahu siapa dia!"Avan tersenyum, jelas sudah terbiasa dengan reaksi semacam ini. "Senang berkenalan denganmu." Ia mengulurkan tangan.Clara menatap tangan itu seolah benda tersebut bercahaya. Butuh dua detik penuh sebelum ia berani menjabatnya, dan begitu menyentuh, seluruh wajahnya langsung merona merah. "C-Clara," ucapnya, suaranya naik satu oktaf. "Teman sekamar Kittie.""Aku tahu." Avan masih menggenggam tangan itu sedikit lebih lama dari yang wajar. "Kittie sering cerita soal kamu."Kittie melirik Avan tajam, menangkap kebohongan kecil itu. Avan hanya membalas dengan kedipan singkat, seolah berkata ikuti saja permainanku. Clara sendiri terlalu sibuk menahan jeritan kecil yang nyaris lolos dari mulutnya untuk menyadari pertukaran diam-diam itu."Baiklah." Avan melepaskan tangan Clara, melangkah mundur satu langkah. "Aku permisi dulu. Istirahat yan

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   Bab 10 - Mengekori Mu

    Kittie syok dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Avan secepat mungkin, merapikan bajunya yang sebenarnya tidak kusut. “Terima kasih sudah menangkapku. Aku duluan,” ucapnya buru-buru.Kittie berbalik, melangkah secepat mungkin, tapi sayangnya baru beberapa langkah, ia sudah bisa mendengar suara sepatu Avan mengikuti di belakangnya, santai.“Dua orang di taman tadi,” Avan berjalan sejajar, tangannya dimasukkan ke saku celana, “siapa mereka?”“Bukan urusanmu,” Kittie mempercepat langkah, matanya lurus ke depan.Avan tidak bersuara, hanya menatap Kittie sambil berjalan, dan itu malah membuat perasaan Kittie semakin tidak nyaman. Bel pergantian jam berbunyi nyaring dari pengeras suara. “Aku telat,” gumamnya, mempercepat langkah menjadi setengah berlari.“Kebetulan,” Avan ikut mempercepat langkahnya, “kelasku juga sama.”Kittie tidak sempat merespons. Ia sudah keburu berlari kecil menyusuri koridor panjang. Satu jam berlalu, Kittie berjalan keluar dari kelasnya, sambil masih sibuk memas

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   Bab 9 - Titik

    Zade tidak menjawab. Ia hanya merapikan lengan kemejanya yang sebenarnya sudah rapi, lalu melangkah ke arah pintu keluar.Di depan pintu, Zade berhenti tanpa menoleh. "Kau ikut," katanya pada Kittie. Mendengar itu, Kittie berdiri, memberi hormat pada Mr. Hale, lalu berlari menyusul Zade.Begitu mereka berjalan menyusuri koridor yang sepi, Kittie akhirnya bersuara."Zade, tunggu." Ia menarik lengan Zade, memaksanya berhenti.Zade menoleh, satu alis terangkat, tatapannya turun sebentar ke tangan Kittie yang masih mencengkeram lengannya sebelum Kittie sendiri sadar dan buru-buru melepaskannya."Ada apa?" tanya Zade, nadanya datar."Kau sadar ini konyol, kan?" Kittie menatapnya, nyaris tidak percaya dengan kalimatnya sendiri. "Kau yang menyeretku ke ruang ganti tadi. Kau yang buka baju di depanku tanpa peringatan. Dan sekarang, karena semua itu, aku yang berakhir jadi anggota Senat dadakan?""Itu kesempatan, bukan?" Zade menjawab singkat, seolah logikanya sudah sangat jelas bagi dirinya s

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   BAB 8 - Batas yang Ditegaskan

    Kantor Dr. Richard Hale lebih dingin dari yang Kittie duga, AC-nya diset terlalu rendah, atau mungkin hanya perasaannya saja karena keringat dingin di tengkuknya sendiri. Ia duduk kaku di kursi, sementara Zade memilih berdiri di samping jendela, punggungnya menghadap cahaya sore, membuat wajahnya sedikit tersamar bayangan. "Zade Calloway." Nada Mr.Hale membuat Kittie tanpa sadar menegakkan punggung."Kau tahu sudah berapa lama aku mengenal keluargamu?" Mr. Hale membuka, suaranya pelan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri. "Cukup lama dari yang ku ingat," jawab Zade datar, matanya melirik jam tangannya sendiri, seolah pertemuan ini cuma buang-buang waktu. "Aku masih ingat ayahmu dulu juga duduk di kursi itu." Mr. Hale menunjuk kursi yang diduduki Kittie, tanpa mengalihkan tatapan dari Zade. "Umurnya waktu itu sama sepertimu sekarang." Rahang Zade mengeras sepersekian detik. "Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini," potongnya. "Anda mau membandingkan kami.""Aku tidak bilang

  • Jangan Jatuh Cinta, Kittie!   BAB 7 Retakan Pertama

    Alih-alih menjawab, Zade justru mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Kittie mengerutkan dahi. "Apa yang kau lakukan?""Kau tumpahkan kopi ke kemejaku," jawab Zade, tanpa menoleh, jemarinya masih sibuk dengan kancing terakhir. "Aku tidak suka bau kopi menempel terlalu lama.""Terus kau harus buka baju di depanku?" suara Kittie meninggi, "Kau bisa menutup mata kalau risih." Zade melepaskan kemeja yang sudah ternoda kopi itu, membiarkannya jatuh ke lantai begitu saja.Untuk beberapa saat Kittie mematung, melihat Zade bertelanjang dada. Tidak berhenti di situ, Zade bahkan mulai melepaskan kancing celananya, seolah kehadiran Kittie di ruangan itu tidak lebih berarti dari sebuah kursi kosong."Zade!" Kittie memekik, buru-buru memalingkan wajah. "Setidaknya kasih tahu dulu kalau kau mau ganti baju!""Aku sudah bilang. Bersihkan kemejaku." Zade meraih handuk yang tergantung di salah satu loker terbuka, mengusap dada dan lengannya yang masih basah oleh sisa kopi.Tubuh Zade benar-be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status