Se connecter**
“Ap-apa yang anda katakan? Bukankah … bukankah anda bilang kesepakatan itu sudah batal?” Clara bertanya dengan raut ketakutan sembari repot menutupi tubuhnya dengan apa yang tersisa dari bajunya. Ia terisak putus asa. Kancing baju blusnya lepas semua dan hilang entah ke mana.
“Apa kau pikir aku membuang tujuh ratus ribu dollarku dengan cuma-cuma?” balas Daniel dingin. Pandangan matanya tampak seperti serpihan es.
Clara tidak mengerti mengapa Daniel terlihat semarah itu. Bukankah Clara yang baru saja tertimpa musibah, bukan dirinya?
Ah, benar. Siapa sih yang tidak marah jika mendadak kehilangan tujuh ratus dollar dalam sekejap mata?
“Saya minta maaf, Tuan Addams. Tapi … saya tidak meminta anda melakukan semua itu.”
“Jadi kau lebih senang menjual tubuhmu pada berandal tua yang bau itu?” Sang bos besar berujar dengan wajah dan suara tenang, namun siapapun tahu ada kemarahan yang mematikan dalam sorot mata hitamnya. Hal itu membuat Clara gentar.
“Tidak, Tuan Addams ….” Clara menunduk perlahan. “Saya tidak seperti itu. Saya … terpaksa melakukannya.”
“Maka lakukan denganku juga. Apapun masalahmu dengan bajingan tua itu, aku sudah menyelesaikannya untukmu.”
Clara kembali mengangkat wajah. Ia memandang lurus kepada sosok sempurna di hadapannya. Dan jujur saja, seketika Clara dilanda perasaan insecure. Daniel sesempurna itu, apakah ia pantas bahkan hanya menyentuhnya?
Namun seperti yang dikatakan sang tuan barusan, tujuh ratus ribu dollar bukan jumlah yang sedikit. Bahkan nilai itu sangat fantastis bagi manusia pas-pasan seperti Clara. Jika ia membayarnya kembali dengan bekerja sampai reinkarnasi ketiga pun entah bisa lunas atau tidak. Adakah cara lain?
Maka gadis manis itu tidak lagi berusaha menutupi tubuhnya yang terbuka. Ia diam, melangkahkan kaki kecilnya pelan ke arah Daniel, lalu berhenti di hadapan pria itu. Menghela napas kecil, ia berjinjit kemudian menempelkan bibirnya yang bergetar pada ujung bibir sang tuan yang mendadak kaku.
Clara melakukannya dengan hati perih. Ini terpaksa, ia berbisik dalam hati. Bagaimanapun aku harus membayar hutangku.
“Saya … harus apa, Tuan?” bisiknya lirih. Lirih, namun seperti memantik bara api dalam tubuh Daniel Addams yang sudah lama padam.
Pria itu tiba-tiba meraih tengkuk Clara yang sudah menjauh beberapa senti, lalu mencium bibirnya dengan lapar.
Panas, berantakan, dan brutal.
Clara mendorong dada bidang Daniel dengan kedua tangan karena merasa napasnya habis, bibirnya yang sebelumnya sudah luka karena ulah Markus terasa perih sekali. Namun Daniel segera mencekal kedua tangannya dan mencengkeramnya dengan erat.
Pria itu melangkah, memaksa Clara berjalan mundur dengan bibir masih berpagutan. Sampai di tepi ranjang, Daniel melepas ciumannya kemudian menjatuhkan tubuh si gadis. Keduanya terengah-engah seperti habis berlari maraton.
“Kau harus apa?” tanya Daniel dengan suara parau. Pandangan menusuk pria itu membuat Clara bergidik tanpa sadar.
“Kupikir kau sudah tahu. Jangan membodohiku dengan pura-pura bertanya.” Teringat bandit tua yang jelek tadi sempat menindih Clara di atas ranjang seperti ini, Daniel rasanya marah sekali.
Clara sudah pasrah menerima nasib buruknya. Sebenarnya bukan nasib buruk, melainkan konsekuensi dari perbuatannya sendiri. Ia memejamkan mata sesaat, kemudian memandang Daniel yang menunduk di atas tubuhnya, bertumpu pada kedua tangan. Rambut hitam pria itu yang biasanya selalu ditata rapi, menunjukkan integritas dirinya yang tinggi, sekarang jatuh beberapa helai menutupi dahi.
Clara tidak punya celah untuk melarikan diri.
….
Daniel merasa disengat listrik dengan voltase tinggi ketika bibir Clara yang lembut menyentuh ujung bibirnya. Pria itu sudah terlatih mengendalikan ekspresi dan kontrol emosi dalam berbisnis dan menghadapi berbagai macam kolega, sehingga wajahnya bisa tetap datar dan dingin sekalipun jiwanya sedang dihantam badai.
Tapi ketika Clara berbisik dan bertanya harus apa, akal sehat Daniel seperti padam sesaat. Ia mencium bibir mungil itu seperti tidak ada lagi hari esok.
Sesaat lupa siapa dirinya dan apa posisinya, Daniel mendorong tubuh kecil itu hingga jatuh di atas ranjang.
Daniel tidak tahu mengapa, namun dadanya bergemuruh seperti ada petir di dalamnya.
“Tu-Tuan!” Clara tersengal. Gadis itu mendorong dada Daniel sekuat tenaga dengan sepasang mata terbelalak kaget.
“Jangan menatapku seolah aku adalah penjahat. Jika kau tidak mau, aku tidak memaksa. Tapi kembalikan tujuh ratus dollar itu sekarang!”
Daniel mendesis setelah mengatakan itu. Ia tidak bermaksud berkata jahat, tapi bayangan Markus yang terkekeh menjijikkan di atas tubuh Clara tadi sungguh membuat amarahnya terpantik lagi.
“Sa-saya bukan tidak mau ….” Clara tercekat. Sepasang matanya yang bening bergetar berkaca-kaca. “Tapi … bisakah anda … melakukannya dengan pelan-pelan?”
Clara seperti kelinci kecil yang berusaha bernegosiasi dengan singa lapar yang akan menelan dirinya. Melihat Daniel yang tidak membuat pergerakan dan hanya memandang dingin, gadis itu bergerak mendekat perlahan.
“Saya akan bertanggung jawab, Tuan. Saya tidak akan lari. Tapi … tolong lakukan dengan pelan. Saya … belum pernah ….”
Gadis manis itu memalingkan pandangan. Rona merah muda menjalar memenuhi pipinya yang putih. Daniel benci mengakuinya, tapi Clara sungguh terlihat … menggemaskan.
Ia tidak tahan lagi.
Pria itu kembali mencium Clara, tapi kali ini dengan sedikit lebih lembut. Tangannya menarik lepas blus si gadis yang sudah tidak berkancing. Clara mengernyit tidak setuju, tapi ia tidak juga mencegah.
Daniel bukan pria sok suci. Ia berganti teman kencan setiap minggu dan seringkali berhubungan dengan perempuan-perempuan seksi dalam one night stand. Ia tampan, berkuasa, dan bergelimang harta. Segala rupa gadis sudah pernah mampir dalam pelukannya.
Tapi kali ini, malam ini, ketika mencium gadis yang bahkan tidak pandai berciuman ini, rasanya Daniel seperti tenggelam dalam kabut manis. Ia tahu Clara ketakutan, tapi tetap mencoba bertanggung jawab dengan membalas ciumannya.
Tekniknya buruk, tapi murni, tulus, dan manis.
Tahu-tahu saja, Daniel sudah berbaring menindihnya di atas ranjang. Keduanya melepaskan diri sejenak, pandangan gelap Daniel jatuh menembus kedalaman iris biru Clara.
Jernih dan lembut, seperti permukaan telaga di tengah hutan.
“Aku tidak akan berhenti, Clara Anderson,” tutur Daniel jujur dan penuh penekanan. “Apapun yang terjadi, sekalipun kau memohon.”
“Tidak.” Gadis itu menimpali. “Tuan Daniel bisa melakukannya sekarang.”
***
**Gerard mendorong pintu perlahan. Membuat dua orang yang berada di dalam ruangan itu serentak menoleh. Clara segera menjauhkan diri dari Daniel begitu ia tahu tunangannya --atau mantan tunangan-- sedang berdiri di sana, di ambang pintu. Clara memandang Gerard dengan tatapan memohon, dan pria itu tersenyum lembut."Clara, tidak apa-apa. Pulanglah bersama dia. Kamu boleh melakukan itu. Jangan pikirkan aku."Clara tidak bisa membendung tangisnya lagi setelah mendengar itu. Ia menggeleng, berusaha mengatakan tidak kepada Gerard. Namun sama sekali tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. "Aku baik-baik saja," lanjut Gerard. "Kamu sudah berkorban begitu banyak untukku, Clara. Kamu berjuang sendirian demi membuatku tetap hidup. Kamu ada bersamaku dalam saat-saat paling gelap dalam hidupku. Sekarang ketika ada kesempatan membuatmu bahagia, aku tidak akan melewatkannya."Daniel tanpa sadar mundur selangkah. Ia tidak menginterupsi, tidak menyela, sama sekali tidak menggunakan privilesenya
**Daniel Addams berdiri di depan bangunan apartemen sederhana di tepian kota itu. Ia memandangnya dengan gentar. Sang direktur sudah sangat sering berhadapan dengan berbagai situasi. Dari yang menyebalkan, hingga yang mengancam. Dan tak sekalipun ia pernah gugup mengadapi setiap situasi itu. Namun saat ini, hanya berdiri diam di depan bangunan dengan cat yang mulai lusuh itu, ia mengira jantungnya akan segera kolaps sebab berdetak terlalu kuat dan cepat.Sekali lagi pria itu menengok layar ponsel untuk memastikan alamat yang ditujunya benar. Sebelum kemudian mulai melangkah masuk menuju lift dan memencet tombol naik. Langkahnya bergetar, terasa berat namun juga penuh harapan. Sebentar lagi, ia akan melihat wajah gadis yang siang malam mengganggu benaknya. Membuatnya nyaris hidup seperti zombie.Di depan sebuah pintu dengan plakat nomor yang sudah agak pudar, Daniel berhenti. Menghela napas panjang, pria itu lalu menekan bel dan berdiri tegak untuk menunggu dibukakan.Detak jantungnya
**Gerard terpaku setelah mendengar kata-kata pengakuan dari Daniel. Ia mendengar dengan jelas pengakuan bos besar itu, namun tidak ingin mempercayainya.Detik-detik seperti berlalu dalam gerakan lambat di dalam ruangan lebar itu. Bahkan suara jarum jatuh pun sepertinya akan terdengar sebab kesunyian yang menyelimuti setelahnya."Apa maksudmu?" Hanya itu yang bisa Gerard katakan kemudian.Sementara Daniel yang sedang duduk di balik meja kebesarannya, masih memandang lurus tak bergerak. Mata hitamnya yang tajam meyorot datar kepada Gerard."Biaya rumah sakitmu mencapai lima ratus ribu dollar. Kau pikir apa yang bisa Clara lakukan untuk mendapatkannya? Dia sudah kehilangan semua harta yang dia punya. Satu-satunya yang bisa dia gadaikan hanya tubuhnya, dan dia menawarkan itu kepadaku.""Dan kau menerimanya begitu saja, bajingan?" Gerard membalas dingin. "Kau sengaja memanfaatkan orang yang sedang kesusahan? Apa kau tahu seberapa busuknya itu?"Daniel menggeleng. "Tidak. Dia hanya menawar
**Bagaimana Clara akan mengatakan perasaannya yang sebenarnya kepada Gerard, bahwa ia sampai detik ini belum bisa mencintainya, bagaimanapun ia berusaha? Karena sampai dua hari ke depannya, ternyata pria itu tidak pulang ke apartemen.Pada hari ketiga, Clara mulai panik dan nyaris saja melaporkan kehilangan orang ke kantor polisi. Sejak pagi ia mondari-mandir dengan gelisah di kamar apartemen. Berkali-kali mencoba menghubungi sang tunangan, namun sia-sia. Pria itu tetap tidak bisa dihubungi."Gerard pergi ke mana? Dia bahkan belum mengenal banyak orang di kota ini. Dia tidak punya teman atau kenalan. Bagaimana kalau dia tersesat? Bagaimana jika bertemu orang jahat?"Bayangan Gerard bertemu dengan Markus atau semacamnya, memenuhi benak Clara. Membuat gadis itu kian cemas. Ia sudah meminta bantuan Em juga, namun sejauh ini belum ada hasil yang signifikan."Jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Gerard, itu salahku. Aku yang bertanggung jawab dengan hal ini. Aku yang salah."Tidak tahan
**"Tidak bisa, Pak Direktur. Memangnya jika anda mendatanginya begitu saja dan tiba-tiba berkata yang tidak-tidak, dia akan percaya? Tidak akan! Clara bisa saja justru kabur menjauh alih-alih percaya.""Tentu saja dia akan percaya. Dia mencintaiku!"Em mengerutkan dahi sementara memandang sang atasan yang kelewat percaya diri itu. Walaupun nyatanya Daniel memang benar. Clara memang mencintainya, dan bukan Gerard. Em menyimpan rapat-rapat semua rahasia itu, sebab berpikir bahwa Clara dan Daniel tidak akan bersatu kedepannya. Jadi cukuplah semua jadi cerita saja."Jika kau tidak mau memberitahuku, tidak masalah. Aku akan mencarinya sendiri. Ini bukanlah hal yang sulit bagiku. Bahkan di ujung dunia sekalipun, aku akan tetap menemukan Clara." Daniel menegakkan diri. Wajahnya yang dingin dan angkuh tampak bagai pahatan patung dewa. Sepasang mata gelapnya menyorot tajam, membuat ciut dua yang lain."Tapi jangan salahkan aku jika nantinya aku akan membawa Clara pergi dengan caraku sendiri."
**"Kau!"Emmeline melonjak kaget di dalam kubikelnya saat tiba-tiba saja sang direktur sudah muncul di hadapannya dan memanggil dengan suara dalam."Ada yang bisa saya bantu, Pak Direktur?" Em mengangkat kedua alis. Ia tidak merasa sudah membuat kesalahan apapun yang mengharuskan Daniel mendatanginya seperti ini."Ke ruanganku sekarang!" Daniel memandang ke seluruh penjuru ruang kerja lantai tiga yang ramai siang itu. Ia berdecak sebelum menggeleng dan meralat ucapannya. "Tidak, ikut aku ke ruang meeting di sebelah saja sekarang. Ke ruanganku terlalu jauh."Em tidak bertanya ada apa, sebab dengan melihat gelagat sang atasan yang gelisah saja ia sudah tahu ini pasti perkara urgent. Maka gadis itu kemudian berdiri dari kursinya dan mulai mengikuti Daniel yang sudah keluar ruangan terlebih dulu. Keduanya lantas memasuki ruang meeting yang kala itu sedang sepi tak berpenghuni.Daniel berbalik dan segera bertanya tanpa basa-basi. "Clara masih tinggal denganmu sampai sekarang, kan?"Sonta







