LOGINGabriella terlihat bangun dengan bantuannya. Seorang pria yang meski jarak masih memisahkan mereka, tetapi Samantha seolah sudah bisa mencium wangi patchouli-nya, Damien Morgan Frost.
Pria itu mengambilkan topi beanie milik Gabriella yang harusnya menutupi kepalanya yang tak lagi memiliki rambut, lalu memakaikannya. Samantha segera berlari untuk menghampirinya, mengangkat Gabriella ke gendongannya dan menundukkan kepalanya di depan Damien. “Terima kasih, Tuan Damien,” katanya. Dari belakangnya, seorang wanita tergopoh-gopoh mendekat seraya meminta maaf. “Maaf, Nona Samantha,” ucap wanita berambut sebahu itu, Sus Delia. “Saya baru dari kamar mandi dan meninggalkan Gabriella sebentar.” “Tidak apa-apa, kalau mengajak Briel keluar tolong beritahu dulu lain kali.” “Baik.” Samantha mendekap anak gadisnya semakin erat saat bertanya, “Briel baik-baik saja, Sayang?” Gabriella mengangguk, “Iya, Ma,” jawabnya saat Samantha menyeka bekas air mata di pipinya. “Tadi Briel berkejaran dengan teman dan terjatuh. Lalu ditolong oleh Paman itu.” Gadis kecilnya menoleh pada Damien, suaranya yang manis mengatakan, “Terima kasih, Paman.” Damien mengangguk dengan senyum yang nyaris tak terlihat di kedua sudut bibirnya. “Sama-sama, Tuan Putri,” jawabnya dengan sudut mata yang sekilas mengarah pada Samantha. “Paman membawakan kamu hadiah, terimalah.” Damien terlihat menyerahkan sebuah paper bag berukuran sedang yang lalu diterima Gabriella dengan senang. Saat ia mengintip ke dalam untuk melihat isinya, sepasang matanya yang cantik berbinar. “Cantik sekali bonekanya, terima kasih, Paman.” Hal itu membuat hati Samantha tak karuan. Hadiah yang tadi dibicarakan oleh anak gadisnya itu tidak didapat dari ayahnya, melainkan dari orang lain. “A-apa … yang Anda lakukan di sini?” tanya Samantha, memberanikan diri mencuri pandang pada Damien. “Menjenguk Gabriella,” jawabnya. “Semalam aku membuat janji dengan Erick. Apa dia belum datang?” “B-belum,” jawab Samantha dengan ragu, karena memang ia tidak tahu akan hal itu. “Akhirnya Papa ke sini, Ma!” celetuk Gabriella tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ucapan polos itu membuat Samantha bergerak tidak nyaman. Sebab dari sana Damien pasti tahu bahwa Erick tidak pernah datang. Mereka menoleh ke samping kanan Samantha saat mendengar suara seorang wanita yang memanggil Gabriella. “Hai, Briel. Kita bertemu lagi ….” Eliza Heidi, temannya itu datang bersama Erick, melambaikan tangan pada Gabriella dengan ramah sementara suaminya itu menundukkan kepalanya untuk menyapa Damien terlebih dahulu. Lalu alih-alih menjawab Gabriella yang lebih dari sekali memanggilnya, Erick malah menatap kesal pada Samantha. “Kenapa kamu membiarkan Tuan Damien berdiri di sini, Samantha?!” tanyanya, yang terdengar lebih seperti hardikan. Samantha hendak menjawab sebelum Eliza lebih dulu menyahut, “Jangan mulai, Erick!” tegurnya. Ia menyentuh lengan Erick yang seketika membuat pria itu diam. Bagi Samantha … ia merasa sepertinya suaminya itu lebih mendengarkan ucapan Eliza dibandingkan dirinya. “Ikut Tante, Briel,” ajak Eliza sembari menyodorkan tangannya, mengambil Gabriella dari Samantha dan menggendongnya mendekat pada Erick. Mereka terlihat seperti keluarga yang harmonis saat berjalan menuju ke ruang rawat gadis kecil itu sembari mempersilakan Damien. Di dalam ruangan tersebut, Eliza memberikan makanan yang ia bawa pada Gabriella. Saat suapan pertama dilahap anak gadisnya, Eliza menoleh pada Samantha seraya berujar, “Aku dengar dari Erick kalau anakmu sulit makan, tapi Briel lahap dengan makanan yang aku buatkan, Samantha.” “Dia pasti bosan dengan makanan rumah sakit,” jawab Samantha. “Jadi dia senang dengan makanan yang kamu bawa. Terima kasih, Eli.” “Sepertinya Eliza jauh lebih paham dengan kondisi Gabriella daripada kamu,” seloroh Erick yang duduk di sofa, seperti sebuah sindiran. “Tidak, Erick!” bantah Eliza. “Jangan bicara begitu di depan Tuan Damien. Kamu seperti sengaja membuat Samantha terlihat buruk.” Erick memandang Damien yang sedari tadi seolah hanya menjadi pengamat. Ia lalu mengenalkan Damien pada Gabriella yang tengah duduk di atas ranjang rawatnya. “Briel beruntung karena Paman sebaik itu mau menyempatkan waktunya untuk berkunjung,” ucap Erick. “Briel sudah melihat Paman itu tadi, Pa,” celotehnya. “Paman itu yang menolong saat Briel jatuh.” “Jatuh di mana?” sambar Eliza dengan cemas. “Apa kamu tidak dengan Mama, Briel?” “Dia jatuh saat aku tadi ke ruang dokter dan menitipkan Gabriella ke—” Samantha yang berusaha menjelaskan pun berhenti di tengah jalan saat suaminya menyela. “Hati-hatilah lain kali, Samantha!” peringatnya. “Aku tidak mau ada hal buruk terjadi pada anakku.” “Iya,” jawab Samantha lirih. “Kamu keluarlah! Belikan sesuatu untuk Tuan Damien. Jangan yang ada di rumah sakit, belikan di luar yang lebih enak!” “Tidak perlu, Erick,” kata Damien, menolak dengan halus. Tapi Erick bersikeras, “Tidak apa-apa, Tuan. Sudah seharusnya kami memang menjamu Anda dengan baik.” Lewat isyarat mata suaminya yang mendesak dan menekannya, Samantha akhirnya pergi meski ia keberatan. Sepanjang jalan, tanpa sadar ia menggerutu. Ia yang menjaga anaknya tetapi mengapa seolah tak ada baiknya. Bukannya ingin dipandang baik, tapi setidaknya ia ingin usahanya sedikit ... dihargai. Di luar rumah sakit, Samantha membelikan beberapa minuman dan makanan dari kafe seberang jalan untuk mereka. Mengingatkan dirinya agar hati-hati karena ada Damien, supaya ia tak membuat kesalahan seperti yang dilakukannya saat makan malam itu. ‘Sampai kapan dia terus ada di sekitar kami?’ tanya Samantha dalam hati, mengeluhkan keberadaan Damien. Ia berlarian kembali menuju ke ruang rawat Gabriella karena saat perjalanan pulang hujan mendadak mengguyur dengan derasnya. Di lorong yang sepi ia berhenti dan mengambil dalam napasnya. Sejenak, ia merasa ia bukan seperti seorang istri bagi Erick. Pembantu pun tak diperlakukan serendah ini. Dan Eliza … ‘Kenapa kedatangannya malah terasa membebani?’ Samantha melihat seseorang dari arah berlawanan, berjalan dengan tenang dan menyaksikan keadaannya yang menyedihkan. Tubuhnya yang kebasahan, bajunya yang kumal, dan rambutnya yang berantakan. Damien. Entah apa yang dilakukannya di luar, tapi Samantha merasa pria itu selalu melihatnya di saat-saat terburuk. Pria itu mendekat, menatap Samantha cukup lama sebelum baritonnya terdengar. “Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Nona untuk diam saja padahal sering diperlakukan seperti ini.” Samantha tak membalasnya, terlalu lelah setelah berlarian. Ia tak ingin memulai percakapan dengannya. Ia berniat pergi meninggalkan Damien sebelum pria itu menghalanginya. “Sekalipun tidak dihargai, tetapi Nona bekerja keras menjadi istri yang baik untuk Erick.” Meski terdengar seperti ejekan, tetapi kalimat itu memberi getaran yang aneh untuk Samantha. Ada rasa senang yang hinggap di hatinya saat mengetahui ada yang melihat usahanya. Tapi di sisi lain ... ia tak ingin Damien tahu ia memiliki hidup seperti ini. “Yang Anda katakan itu tidak benar! Erick selalu menghargai saya,” kata Samantha. “Meski kami semua menghormati Tuan Damien, tapi tolong tetap jaga batasan Anda!” “Batasan apa?” tanya Damien. Tenang, dan bahkan tak mengalami perubahan nada bicara. Tetapi anehnya membuat Samantha berdebar. “Kita pernah melakukan sesuatu yang jauh melewati batas, Nona.” Wajah Samantha seketika pias. Damien tersenyum tipis, nyaris seperti sebuah godaan kala menunduk dan hampir mensejajarkan iris biru gelapnya itu dengan manik gugup Samantha. “Saya rasa Nona Samantha masih ingat bagaimana rasanya,” ujar Damien. Suaranya yang dalam terdengar seperti bisikan. “Atau … kalau sudah lupa, perlukah saya ingatkan lagi?”Terima kasih sudah membaca akak semuanya 🤗 apakah kita sudah perlu update 2 bab setiap hari? Buat Pak Damien, diingatkan gimana ini maksudnya? 😹 Apakah Damien lebih bersikap manusiawi pada Samantha dan Gabriella daripada Erick?
Samantha menggenggam erat tangan Damien kala peluh menetes di keningnya. Rasanya tidak sesakit saat ia melahirkan kembar tiga dulu, ia yang sekarang lebih tenang. Damien tersenyum padanya dan berbisik, “Sebentar lagi kita akan bertemu dengan si kecil. Semangat, Sayangku ....” Satu dorongan lagi, begitu aba-aba yang didengarkan dari dokter wanita yang menangani persalinan Samantha. Saat suara tangisan bayi terdengar nyaring, kelegaan yang hebat memenuhi lubuk hatinya. Damien memeluknya dengan erat. Dekapan yang hangat dan kecupan yang manis. “Terima kasih, Samantha ....” bisik Damien, getar suaranya menandakan ia juga sedang menahan haru. “Bayinya laki-laki, selamat Nona Samantha dan Tuan Damien.” Seperti tahu apa yang harus dilakukan oleh para perawat untuk mengurus bayi dan juga Samantha, Damien lebih dulu meninggalkan kamar setelah berpamitan. Hanya berselang sebentar sebelum bayi mungil itu diserahkan pada Samantha yang lebih dulu berganti pakaian sehingga kini ia
Sejak minggu pertama Samantha mengatakan kehamilannya, Damien tak pernah absen untuk ikut pergi periksa. Hanya jika orang tua Samantha atau orang tuanya sendiri ingin pergi, maka Damien akan memberikan waktu untuk mereka. Siapa memangnya yang tak bahagia akan memiliki cucu lagi? Itu juga penghiburan untuk para orang tua yang acapkali masih menyimpan sisa-sisa luka dari kejadian di masa lalu—Tuan Gerard dan Nyonya Maria akan kehilangan Seraphina, Tuan Harry dan Nyonya Amy akan rasa bersalah mereka terhadap keputusan melepas Samantha menikah pada usia muda dan kehilangan Gabriella. Siang menjelang sore ini, harusnya Samantha menjemput anak-anak dari lokasi latihan panahan. Tapi saat ia keluar dari kamar, ia merasakan perutnya yang bergejolak. Samantha sudah menyadari ini sejak beberapa hari terakhir, hanya saja ... jika dihitung dari hari perkiraan lahir, ini masih dua minggu dari hari H. Tapi semakin ditahannya, rasanya semakin menjadi-jadi. Ia berjalan menuju ke ruang tamu, henda
Bärenland tak hanya memberikan kebahagiaan untuk anak-anak. Si kembar tiga Morgan, Martin dan Maureen sangat senang saat mereka bebas berlarian ke sana ke mari. Di bawah cerahnya langit malam itu, mereka naik giant wheel, di bianglala, dan belajar ice skating. Morgan yang paling mahir. Ia menuntun kedua adiknya dengan telaten, membawa Martin dan Maureen bergantian ke tengah. Saat anak sulungnya itu bebas berselancar di atas lantai es, Damien menggandeng tangan Maureen, sementara Martin digandeng oleh Reid. Gelak tawa bahagia terdengar dari tempat Samantha duduk, mengambil kenangan hari ini untuk disimpannya sebagai arsip. Bahwa saat Samantha mengatakan pada Damien tentang jenis kelamin bayi mereka yang akan laki-laki lagi, mereka masih bisa membagi waktu untuk si kembar tiga juga. Ekspresi Damien? Hm .... Bagaimana Samantha harus menggambarkannya? Sepasang mata birunya melebar saat Samantha mengatakan bayi mereka adalah laki-laki. 'Kamu dan Maureen akan punya banyak pri
Di lobi sebuah lokasi yang digunakan untuk syuting acara televisi, Samantha yang baru keluar dari lift bersama dengan Reid melihat Damien dan tiga anak kembarnya.“MOMMY!”Senantiasa bersemangat meski hari sudah menjelang petang.Si kembar tiga berlarian menghampirinya.“Sayang,” balas Samantha, membiarkan mereka bersamaan memeluknya.Rasanya sangat menyenangkan kala lelah bertemu dengan anak-anak. Semuanya menguap dalam sesaat.“Hati-hati peluk Mommy,” kata Damien dari belakang si kembar, mengingatkan mereka bahwa perut Samantha sudah membesar.“Kalian menjemput Mommy?” tanya Samantha, mengusap bergantian puncak kepala mereka.“Iya, Mommy,” jawab Morgan, disusul celotehan Martin dan Maureen.“Apakah syutingnya sudah selesai, Mommy?”“Hm ... padahal Maureen mau masuk televisi juga. Mommy saaaangat cantik di televisi.”“Benarkah? Terima kasih Sayang-sayangnya Mommy.”Samantha kemudian memandang Damien. Tautan mata itu terjadi cukup lama.Anak-anak mundur untuk memberi jalan, agar Damie
.... Di dalam klinik yang tidak terlalu luas, seorang wanita menatap langit-langitnya dengan pandangan yang kosong. Ia tak memiliki tenaga untuk bicara atau bahkan menggerakkan ujung jarinya. Rasanya hidup sudah cukup enggan untuk membuatnya tetap bisa disebut sebagai ‘manusia’. Ah ... barangkali jika ‘manusia yang tidak berguna’ mungkin masih benar adanya. Sudah berapa lama ia berada di dalam tempat ini? Klinik yang tak hanya sekali ia datangi, atau bau mawar dari luar yang terbawa hingga ke dalam melalui celah jendela itu berasal dari taman kecil yang tiap minggu rumputnya ia siangi. Satu tahun? Ataukah dua tahun? Atau bahkan lebih dari itu? Ia tak ingat kapan baginya waktu terasa berhenti. “Kamu tadi sudah makan, Eliza?” tanya sebuah suara yang membuat wanita yang terbaring di atas ranjang sempit klinik itu menggerakkan kepalanya. Tubuhnya terasa sangat lemas bahkan jika itu untuk menjawab tanya. Eliza. Wanita yang ada di dalam klinik kecil itu adalah Eliza. Klinik yan
Meski nyaris baku hantam jilid ke sekian di dalam ruang VIP Harvest Table, saat mereka keluar dari sana, kembar tiga milik Samantha kembali berbaikan.Mereka mengatakan pada Damien agar pergi ke rumah Giovanni.Mereka ingin melihat Emily, anak perempuan Giovanni dan Anna yang saat ini masih berusia sekitar tujuh bulan dan dalam fase merangkak.Setelah keguguran Anna di masa lalu, dan melewati beberapa tahun dalam pernikahan dengan Giovanni, mereka baru memiliki anak lagi belum lama ini.Seorang anak perempuan yang cantik, Emily Josephine Renaud.Karena perginya mereka mendadak dan tanpa direncanakan, Samantha meminta Damien untuk mampir lebih dulu ke sebuah baby shop untuk membelikan Emily beberapa perlengkapan bayi.Sekalian, Samantha ingin melihat-lihat pakaian untuk anak yang sedang dikandungnya nanti.Pakaian yang dipajang di toko semakin hari semakin bermacam-macam. Dan Samantha suka itu.Akhirnya, mereka memutuskan untuk membeli selimut, yang dipilihkan oleh Maureen.Dua pasang







