Share

Bab 3

Penulis: Zee Alzera
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-16 08:35:49

Benar, Rio pulang mengendarai motor butut, motor klasik bermerk shogun 125 milik si ayah, dia pakai dari pertama kali pandai mengenakan motor mulai SMP, Aku mengernyitkan dahi melihat pemandangan tersebut, antara miskin atau kaya Rio cukup unik dan terus membuatku penasaran, hanya saja ada rasa malu melihat kehebatan visual Rio yang dikagumi banyak orang ternyata punya kapasistas minimum di sisi lain.

Aku mengambil air minum di dalam mesin dispenser, lantas duduk di ruang guru, menenguk air minumku secara perlahan hingga tandas. Mengingat hidupku di masa lalu juga serba pas-pasan. Aku harus naik angkot sebanyak dua kali untuk sampai di kampus, bekerja paruh waktu agar dapat membantu biaya SPP kuliah, perjalanan itu cukup melelahkan sampai pada titik di mana tekad dan keberanianku terwujud melalui salah satu impian ibuku yakni menjadi guru.

***

Aku mengambil tas bersiap untuk pulang, tiba-tiba satu notifikasi muncul dari w******p, "Aku sedang menulis novel baru, kau mau baca?"

Aku tersenyum, akhirnya orang itu muncul. Di perjalanan, aku terus bersenandung memainkan lagu-lagu cinta kesukaan, sampai di rumah barulah membalas pesan, "Baiklah, mana?"

"Wait, nanti kasih masukan ya,"

"Oke." Beberapa menit aku menunggu, cerita buatan Affal, pemuda yang membuatku tergila-gila hingga melampaui batas. Cerita pendekar nusantara lagi, aku sempat tertegun, tetapi melihat lembar per lembar draf naskah buku baru itu rupanya Affal hebat dalam bidang ini. Jika boleh jujur, aku selalu suka cerita yang dibuat Affal, alur menarik dan plotwist, tetapi sudah paham tujuan awal pemuda itu menulis hanya untuk mencari uang jadi berasa biasa-biasa saja, sangat berbeda denganku, menulis untuk mengobati, bukan berarti pilihan berbeda ini tidak menimbulkan risiko, Affal sering mendapat pujian dari penggemar novelnya karena kepiawaian menggaet pembaca untuk terus membuka bab terkunci, sementara aku sangat jarang sekali, sehingga novelku tidak laku dipasaran web novel, Affal juga menerangkan bahwa idealis boleh tapi harus realistis, otakku tak pernah mau mencerna dengan baik sebab tujuanku bersinggungan. Akhirnya, semua berjalan dengan masing-masing. pandangan Affal mengenai diriku hanya sebatas mampu membaca dan menilai karya orang lain, semua orang bisa baca karya tapi tidak semua orang pandai menulis, tukas Affal jelas meremehkanku.

"Gimana menurut kamu?"

"Bagus, aku suka tokoh Mahesa Basundara, Sadewa Pasha, Bayu Dewandaru, Ratih Kumala hemm hanya saja aku tak mendapatkan fell di sana, semua tokohmu berasa tempelan, meski aku tahu orientasimu, tetapi menghormati tokoh yang kau ciptakan juga penting."

"Apa kau bilang? Mereka bukan manusia asli, mengapa harus menempatkan rasa hormat, ini hanya cerita fiksi."

"Bukankah kau selalu menulis dengan membuat tokoh-tokohmu ada karena based on true story, apa kau lupa siapa Ammar, Ica, Melvin, Claudia. Mereka ada karena kau mengingat banyak karakter manusia di dunia nyata, kau hanya mengubah karakter manusia asli ke dalam nama tokoh-tokoh baru dalam kemasan genre tulisan bermacam-macam, bisakah kau memahami, bahwa menulis bukan sebagai ladang untuk dirimu balas dendam, pembaca novelmu yang tak mengerti siapa dirimu sebenarnya akan mengira kau hebat karena otak menulismu, tapi tahukah kamu bahwa ketidaksengajaan semesta bisa membuat beberapa orang mengangap dirimu tidak sekeren itu, kau tidak menghormati tokohmu yang jelas salah satu pembacamu mengenali kesamaan diri dengan tokohmu."

pesanku terhenti, Affal tidak lagi membalas. Aku merasa sangat lelah, aku memejamkan mata perlahan, terlelap dalam tidur panjang.

Hari-hari berikutnya, aku tak lagi mendengar keluhan apapun dari Affal, tidak lagi bertegur sapa lewat chat, tidak ada telepon. Kami menjalani rutinitas masing-masing, mungkin Affal sakit hati, aku sudah kenyang dengan perubahan itu, jika Affal tidak butuh diriku dia akan menghilang cukup lama, bersikap cuek padaku, satu hal yang membuatku bertahan dalam hubungan tidak jelas ini, karena Affal mencuri kehormatanku sebagai perempuan suci dan aku masih berharap dia bertangung jawab atas timbulnya perasaan berlebihan padanya.

"Selamat pagi Bu, " seru salah satu rekan kerjaku.

"Selamat pagi," Aku meraih tangannya untuk bersalaman, saat pertama kali memasuki ruang guru.

Seperti biasa pandanganku mengedar ke segala arah, Rio sudah duduk di meja kerjanya dengan laptop menyala tanpa menoleh ke arahku, suaraku jelas terdengar, Rio seperti pura-pura saja tidak tahu, hingga aku menoleh jelas ke arahnya barulah Rio menatapku, dia tidak tersenyum tapi menyiratkan tanda tanya, seolah mengatakan "Ooh kau sudah datang, semangat kerja hari ini."

Hanya melihat dia masih hidup, tanpa bersuara sudah cukup buat hatiku senang, aku meraih buku catatan khusus dan mencatatat detail baju yang dikenakan Rio hari ini lengkap dengan ekspresi cara menatapnya sebagai bahan outline novelku, tetapi jantungku mendadak terhenti saat suara lembut merayu terdengar dekat di telingaku,

"Soal tempo hari, aku minta maaf." Aku mendongak mendapati Rio sudah berdiri di samping meja kerjaku, dia menyerahkan benda tak asing padaku, sebuah kartu tanda pengenalku yang jatuh pada saat bertabrakan di depan pintu.

Aku terdiam tak bisa berkata-kata, sembari mengulurkan kedua tanganku menerima benda tersebut lantas menganguk pelan begitu saja lupa tanpa berterima kasih. Rio kembali duduk, dari jauh dia masih menatapku.

Aku merogoh tas tenteng bagian depan, menemukan korek api di sana, dengan gerakan cepat mendekati meja Rio, lalu menyerahkan benda itu pada Rio. "Alba? Kenapa kau bawa korek api?" Rio bertanya setengah terkejut.

"Kau pecandu berat rokok, jadi kubelikan hadiah untukmu." Dustaku, padahal korek api itu milik ibu dapur yang kupinjam untuk membakar bekas kertas-kertas tidak berguna di perpustakaan kemarin.

Rio tertawa kecil, korek api itu polos tampak murahan tidak menarik, "Baiklah, kalau begitu terima kasih." Kami saling melempar senyum, ada kelegaan lagi dalam diri Rio, meski menyebalkan karena aku cukup gengsi untuk mengucapkan terima kasih dan memulai kembali tegur sapa dengannya.

Suasana semakin siang, bel waktu istirahat terdengar di penjuru sudut-sudut ruangan. Beberapa guru keluar kelas untuk menunggu jam berikutnya di ruang guru, sembari menyesap kopi atau sekadar berbincang bincang.

Aku masih sibuk dengan dokumen lembar kerja peserta didik untuk masuk kelas siang setelah ishoma dan kulihat dua orang rekan kerja senior baru saja masuk ruangan, mereka duduk dan saling berbicara tidak jauh dari tempatku saat ini.

"Undangan pernikahan siapa nih, oohh Pak Noval, ya ampun bukannya dia masih muda banget yaa bu, udah dapet aja jodohnya, giliran yang udah mau kepala tiga nih belum nikah-nikah astaga."

Merasa sindirian dari rekan kerja senior di ruang guru itu untukku, pura-puralah aku tak mendengar, tujanku hadir di tempat ini hanya satu, fokus bekerja.

"Iya dong bu, kan beliau ini memang praktis, tidak neko-neko, kalau si itu kan peritungan dan pemilih banget," timpal rekan kerja lainnya.

"Emang sih dia pilih-pilih ujungnya engga dapet apa-apa, ya biarin, biar lega jadi perawan tua."

Jleb!

Mendengar mereka terus berbicara, seperti ada barang berat menindih dadaku, makin lama obrolan itu, makin terasa panas telingaku, jika boleh meminta permintaan pada Tuhan, tentu saja aku ingin ditelan bumi di bawah sepatuku saat ini untuk menghindari konflik tetapi mustahil.

Rio masih duduk manis di ruang guru, sesekali mengamati drama gratis dari ibu-ibu guru kurang ajar itu, melihat pandanganku tampak tidak baik-baik saja, karena gemuruh di dadaku memberontak, Rio paham benar situasi dimana aku ingin meledakan amarah.

"Jika ada yang ingin menjadi perawan tua, maka aku juga akan menjadi perjaka tua." Mendengar Rio menyahut pembicaraan, seisi ruangan langsung hening, puluhan pasang mata menoleh dengan tatapan syok karena ungkapan tersebut keluar dari mulut si pemuda ganteng termasuk aku yang kini menutup mulut dengan tangan tidak percaya Rio mengungkapkan keinginannya, untuk sepersekian detik orang-orang bersikap dingin, Rio tertawa terdengar bangga, aku merasa aneh dengan semua ini, aku bangkit dan keluar ruangan tanpa melihat lagi rupa-rupa manusia di sana.

"Apa dia sudah gila?"Cicitku kesal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 11

    Semburat merah merona di wajahku saat ini tentu saja tak bisa kututupi, "Pak Rio, kendalikan tingkahmu," lirihku saat kulihat beberapa orang berdiri mengamati kami berjalan beriringan dengan tetap bergandengan tangan dari depan kantor ruang pimpinan, ruang tata usaha, lapangan dan ruang guru. Rio seperti tak mendengarku berbicara, dia terus menuntunku hingga masuk ruang guru, mengabaikan semua orang tanpa takut akan dihujat warga sekolah. Begitu aku duduk di kursi, Rio menatapku, pandangan meneduhkan itu langsung otomatis menghipnotis seluruh pusat indraku menjadikan diriku tunduk tanpa perlawanan. Rio bergerak mengelilingi kursi kerjaku lalu berdiri tepat di belakangku sambil sedikit membungkukan badan menyentuh pungung kursi, dengan suara tegas namun enak didengar di telingga, Rio membuat jantungku berdebar-debar tidak karuhan, "Kita bukan anak kecil lagi Alba, jadi kurasa kita harus memberitahu kabar bahagia ini." Pandangan Rio mengedar ke segala arah, para wakil pimpinan s

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 10

    "Ceritakan sosok mantan kekasihmu." Rio menatapku lekat, aku mengalihkan pandangan lantas mengambil kursi, kami duduk berhadapan sekarang dengan jarak yang cukup dekat namun nyaman kurasakan. Aku tersenyum sembari memandangi ranum wajah pemuda ganteng pujaan wanita-wanita sekantor ini yang telah mencuri perhatianku dan menikmati tubuhku dalam beberapa waktu kebelakang. "Tentu, saya akan bercerita, tapi sebelum itu saya ingin Pak Rio menjelaskan, apa yang mendasari Pak Rio ingin saya menceritakan sosok mantan." Aku memutar otak agar bisa memperlambat sensasi kepalaku yang ingin meledak karena membuka luka batinku. "Saya menyangkal dugaan terhadap kamu Alba, tetapi melihat tanda-tanda di tubuh kamu, saya tak bisa menyembunyikan fakta, mungkin itulah salah satu alasan mengapa kamu tidak menjawab pertanyaan saya sebelumnya terkait berapa kali kamu pernah tidur dengan lelaki lain." Rio terdengar menghakimiku, tetapi sebenarnya dia sudah menganalisaku sejak jauh hari sebelum be

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 9

    "Syafa keponakanku kelas 8E tahun ini." Nada bicara Rio sungguhan terdengar lembut di telinga. "Loh Pak, tadi aku dapat info dari Bu Iren."Aku menatap Rio yang juga menatapku. "Bu Iren mengerjaimu." "Apa? Benarkah begitu, astaga." "Based on data Alba, jangan lupakan itu." Rio mengusap pungung tanganku perlahan lantas memberi kecupan kecil di sana, menyalurkan kehangatan sekaligus keintiman yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. "Kau memang benar, seharusnya tadi aku membuka website dan daftar nama-nama siswa terlebih dahulu, tetapi aku malah mengacak-acak dokumen di dalam lokerku." "Tapi sudah selesai bukan?" "Sudah sih, tapi capek sekali." Rio menarik tangan, menyuruhku untuk duduk di bangku yang baru saja dia duduki, tanpa perlawanan aku menurut. Dia berdiri tepat dibelakangku lantas meletakan kedua tangan di atas pundakku, kurasakan pijatan-pijatan keci dari jemari besarnya "Sebelah sini," aku menyentuh belah tangan Rio lantas mengesernya ke bahu kiriku.

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 8

    Aku meniup debu yang menutupi kotak kecil itu dengan tenaga dalam dan mengetuk-ngetuknya di atas meja, aku lupa apa isi dalam kotak tersebut, mengapa juga ada di dalam lokerku, aku agak lupa karena tersembunyi di antara tumpukan dokumen-dokumen administrasi sekolah. "Kau sedang apa Bu Alba?" tanya rekan kerja sebangkuku melihat meja kami berantakan karena aku baru saja membongkar isi lokerku. Tanganku tertahan tidak jadi membuka kotak misterius, menyimpannya kembali ke dalam loker. "Maaf ya Bu, meja kita jadi berantakan." Aku berusaha membereskan dokumenku yang memakan tempat agar rekan kerja sebangkuku bisa menaruh tasnya. "Nggak papa kok Bu Alba, setelah ini saya masuk kelas, ini tadi nengok teman-teman saja di sini." Aku melempar senyum ke arahnya, lantas masih terus mencari daftar kontak wali murid kelas 8E di mana aku pernah menjadi wali kelas. "Sedang mencari apa Bu?" "Daftar kontak wali murid kelas lama Bu, kebetulan tadi wali kelas 9E minta data rapor siswa

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 7

    Rio menyeret sebuah bangku di depan mejaku yang kebetulan kosong, menghadapkan ke arahku hingga posisi kami berhadapan, sementara mataku mengamati pergerakan aneh untuk kesekian kali dari pemuda ganteng ini sambil terus merasakan ritme jantungku berdebar-debar tidak menentu. "Ehm, apa kau gila, kenapa duduk di sini?" Bisikku mencoba menyadarkan bahwa ini tempat kerja dan banyak pasang mata melihat kami. Rio tersenyum menatapku, "Baiklah, kalau begitu abaikan aku, kau lanjutkan saja pekerjaanmu." Rio membuka ponsel, siap berselancar di internet. Aku malas berdebat dengan Rio saat ini, tetapi ada rasa tidak nyaman mencuat di benakku, bukan karena Rio duduk di depanku mengamati kegiatanku, melainkan masih terasa bahwa orang-orang di dalam kantor memandangiku. "Kau tidak pergi?" tanyaku setelah Rio cukup lama terdiam, dia mengalihkan pandang dari ponsel. "Untuk apa Alba? Justru aku duduk di sini untuk melindungi, agar orang-orang segan padamu. Kau masih melihat mereka memandangim

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 6

    Rio menatapku cukup lama, seperti mencari jejak dan tanda dalam benakku, pertanyaan sama dari Rio tentang berapa kali aku tidur bersama laki-laki lain belum terjawab, tetapi ada keyakinan mutlak bahwa dia tahu aku menyimpan banyak rahasia. Suara alarm dari ponsel Rio terdengar nyaring, membuatku terbangun dari kantukku semalaman, kuraih ponsel itu dari atas nakas lantas mematikannya . Aku menggulingkan badan ke belakang pungung, tak kudapati Rio di atas ranjang, tetapi pandanganku terhenti kala melihat pemuda ganteng ini sudah duduk di sudut kamar membelakangi posisiku. Mendengar helaan napasku, Rio menoleh, "Selamat pagi Tuan Putri, kau tidur nyenyak sekali." Rio mendekatiku dan kini duduk di tepi ranjang. Aku menguap beberapa kali, lalu mengangkat kedua tangan, jemariku reflek membentuk bujur sangkar kecil mengerakan tanganku dari ujung kepala hingga badan Rio seolah aku sedang mencari angle kamera, "Kau rajin sekali, pagi-pagi buta sudah selesai mandi." "Tentu saja, aku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status