Share

Bab 4

Penulis: Zee Alzera
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-17 09:47:14

Sepanjang jalan menuju ruang perpustakaan, aku menggerutu, sambil terus menepuk dada yang terasa sesak. Tanpa sadar seseorang mengikutiku dari belakang, begitu sampai lorong depan perpus tidak dikunci barulah aku mendengar suara dehem, "Rio? Kau menguntitku?"

Rio buru-buru menutup mulutku dengan satu tangan, mendorong tubuh mungilku untuk masuk ruang perpus dan menutup pintu cepat-cepat. Napasku terengah-enggah seperti mau sekarat, wajahku berhadapan begitu dekat, aku dapat merasakan helaan napas lembut Rio. Aku bukan tidak mengerti adegan selanjutnya seperti di film-film dewasa, tetapi Rio benar-benar membuat sekenario tak terduga.

"Kau berisik sekali, dengar penawaranku hanya sekali jika kau sepakat, maka kita akan bebas dari jeratan budaya masyarakat primitif." Suara Rio terdengar berat dan lembut di telingaku.

"Apa maksudmu?" Aku menatap lekat wajah pemuda ganteng itu, bersama gemuruh debar yang sulit dimengerti datang dari mana.

"Jika kau bersedia membayarku, aku akan jadi suami kontrak untukmu. Aaah, jika kau belum siap, aku akan menjadi pacar kontrakmu dulu."

"What the hell Man, kau bercanda?" Aku semakin terkejut, Rio mengatakannya jelas, senada dengan raut wajah serius.

Dalam pikiran bercampur aduk dan debar berkecamuk antara tegang atau senang ini, aku harus menjawab penawaran absurd dari pemuda ganteng dengan banyak fans di luar sana.

"Bagaimana? Bukankah ini penawaran bagus? Kau hanya perlu membayarku 5 Juta perbulan dan terima jadi. Aku tahu kau cukup mampu menghidupiku dengan gajimu di tempat ini juga bisnis suksesmu."

Aku terdiam, mengamati raut wajah meyakinkan Rio, terlalu percaya diri, tidak bisa melihat kelemahan Rio di sini, tetapi aku menepisnya, "Kau mungkin sedang terancam, apa kau terlilit banyak hutang, sayang?"

Rio tidak salah mendengar, aku memanggilnya sayang. Dia cukup peka, bahwa rencana ini mustahil jika gagal terjadi.

"Tidak, aku hanya ingin membantumu sebagai teman dengan keuntungan."

Aku mendorong tubuh Rio ke belakang hingga terduduk, mengunci pemuda itu dengan kedua tanganku yang bersandar di pungung kursi, memberi tatapan tajam mengintimidasi.

Rio merasakan sekujur tubuhnya panas, keringat dingin di pelipis mulai bercucuran. Aku menghembuskan napas perlahan menyapu wajah bersih terawat Rio, "Kau lumayan bagus, pergaulanmu cukup bebas, berapa kali kau tidur dengan wanita lain?"

Rio menelan ludah, melihat ekspresi Rio yang serba salah tingkah, aku mengeluarkan jurus andalanku untuk mengetes seberapa jauh pertahanan dirinya. Aku duduk di atas pangkuan Rio tersenyum penuh kemenangan, perlahan jemariku membuka dua kancing kemeja Rio paling atas, sambil terus mengusap lembut kedua bahunya.

"Bagaimana denganmu?"

Aku tersenyum tipis, memberi tatapan memuja pada Rio, tangan halusku mulai menyentuh dagu Rio yang bersih tanpa bulu.

"Kau mau mencobanya malam ini, sayang?"

Rio menggerakan tangannya perlahan mengelus elus pungungku.

"Sure, tapi jelaskan padaku apa kau sepakat dengan tawaranku?"

Aku menganguk mantap, lalu menjabat yakin tangan Rio , "Deal."

Rio mencari bibir mungilku, bermaksud untuk menciumnya, tetapi gagal sebab terdengar ketukan pintu dari depan perpus.

"Yakkk! Tunggu sebentar, aku bukakan pintunya." Aku beranjak dari pangkuan Rio dengan cepat berjalan ke arah pintu, begitu pintu dibuka ternyata seorang staff sarana prasarana masuk membawakan kopi untukku.

"Terima kasih, Pak Zain." Seruku antusias,

Pak Zain tersenyum sembari meletakkan kopi panas baru diseduh di atas meja kerjaku.

"Loh, ada Pak Rio rupanya." Rio tersenyum sambil pura-pura sibuk membaca buku yang tersemat di antara kedua tangannya, tidak ada kecurigaan terbersit dari staff sarana prasarana tersebut, sebab Rio gesit menutup rasa canggung.

Pintu perpus kembali tertutup suasana menjadi hening, aku mengambil secarik kertas dari loker lalu memberikan pada Rio, posisi duduk kami kini bersampingan.

"Baik, seperti katamu tadi, kita akan melakukan kerjasama, untuk itu kau tulisankan saja terlebih dahulu aturan kontrakmu di sini, aku akan berikan waktu dan baca semuanya sebelum transfer uang muka padamu."

Rio menerima secarik kertas dengan hati-hati, lantas tertawa kecil, "Kau buru-buru sekali sayang, hemmm baiklah beri aku waktu selama satu jam, aku akan menulisnya langsung di sini," Rio mengambil pulpen dari ujung saku kemejanya, mulai menulis, sementara aku masih terpaku, mengamati wajah dan dada bidang Rio, " Jangan lama-lama mengagumi ketampananku sayang, kau bisa jatuh cinta padaku nanti."

"Kau terlalu menggoda, gaya apa yang kau suka sayang?"

Rio menghentikan tulisan, menatap bibir mungilku yang merah merona, "Boleh aku menciummu?"

Aku tertawa, "Berapa centi punyakmu, bisakah kau tunjukkan padaku sekarang?"

"Waaah, kau memang pemain." Rio menggeser tempat duduknya, lantas meraih tangan kiriku untuk kemudian meletakan di depan joninya, membiarkanku mengelus-elus bagian sensitif di depan resleting celana panjang itu. Rio melanjutkan tulisan berisi kontrak dengan menahan napas agar suara erangan tak keluar dari mulut manis itu.

Aku merasakan gumpalan daging itu nikmat sungguh, merabanya perlahan hingga agak kuat dalam beberapa menit, "Panjang kurang lebih 8 centimeter dan bagus sayang," taksirku memperkirakan bentuk perkasanya Rio.

"Sudah puas?" Rio bertanya lembut sekali setenang wajahnya.

Aku menatap jam dinding, sejam lagi waktu kami pulang kerja, "Tidak, aku mau mencobanya langsung."

Aku meraih ponsel, lantas membuka aplikasi, melihat-lihat hotel mana yang cocok untuk kami gunakan bermain api malam ini. Untuk beberapa menit kami sibuk dengan urusan masing-masing hingga Rio selesai menulis dan melihatku masih sibuk dengan ponsel, Rio merebut ponselku, "Sudah sayang, biar aku yang pilih hotel, kau kemasi barangmu."

Aku terdiam untuk sesaat, Rio kembali meletakkan ponselku di meja kerja lalu melenggang keluar ruang perpustakaan, "Aku sudah memesan hotelnya, kita berangkat terpisah, kau bisa menungguku di lobby utama hotel pukul 4 sore."

Aku menghela napas dalam-dalam, darahku mendadak berdesir di atas ubun-ubun, tiba-tiba ada sensasi dingin di antara kedua lenganku sebuah pertanda antara takut dan ingin mencoba bersama Rio, entah bagaimana rasanya nanti, jelas kami sudah sepakat, meski aku belum membaca kontrak penawaran itu.

Ponsel Rio berderit saat kembali ke ruang guru, sebuah pesan dari kekasihnya mencolok manik mata, "Aku lagi ada di kafe deket tempat kerja kamu Mas, jika kau ada waktu, mari bertemu."

Rio menghela napas, ia tak sadar ada dua orang rekan kerja masih duduk di pojok ruangan, mereka menoleh karena terkejut dengan helaan napas kasar keluar dari mulut pemuda dingin ini yang jarang berbicara.

"Heii kau baik-baik saja, Nak?" seru salah satu rekan kerja senior sembari melambai ke arahnya.

"Tentu Pak, selamat siang sampai jumpa," ucap Rio meraih tas ransel, segera pergi dari tempat itu.

Aku turun dari gedung tidak sengaja berpapasan dengan Rio di lorong sekolah menuju arah sama, tempat parkir. Aku melambatkan langkah, sementara untuk menghindari kecurigaan Rio buru-buru mempercepat langkah tanpa memberi kode apapun kepadaku. Ranum wajah Rio begitu tenang, setenang hamparan samudra, sementara gemuruh badai masih menguasai bandanan jiwaku.

Rio sudah naik motor duluan, sementara aku hendak menyebrang area parkir motor menuju parkir mobil, begitu di depanku suara lembut setengah merayu masuk ke dalam telinggaku membut diriku tertegun lagi,

"Mari Bu Alba, sampai jumpa," seru Rio dibalik masker dan kacamata hitamnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 11

    Semburat merah merona di wajahku saat ini tentu saja tak bisa kututupi, "Pak Rio, kendalikan tingkahmu," lirihku saat kulihat beberapa orang berdiri mengamati kami berjalan beriringan dengan tetap bergandengan tangan dari depan kantor ruang pimpinan, ruang tata usaha, lapangan dan ruang guru. Rio seperti tak mendengarku berbicara, dia terus menuntunku hingga masuk ruang guru, mengabaikan semua orang tanpa takut akan dihujat warga sekolah. Begitu aku duduk di kursi, Rio menatapku, pandangan meneduhkan itu langsung otomatis menghipnotis seluruh pusat indraku menjadikan diriku tunduk tanpa perlawanan. Rio bergerak mengelilingi kursi kerjaku lalu berdiri tepat di belakangku sambil sedikit membungkukan badan menyentuh pungung kursi, dengan suara tegas namun enak didengar di telingga, Rio membuat jantungku berdebar-debar tidak karuhan, "Kita bukan anak kecil lagi Alba, jadi kurasa kita harus memberitahu kabar bahagia ini." Pandangan Rio mengedar ke segala arah, para wakil pimpinan s

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 10

    "Ceritakan sosok mantan kekasihmu." Rio menatapku lekat, aku mengalihkan pandangan lantas mengambil kursi, kami duduk berhadapan sekarang dengan jarak yang cukup dekat namun nyaman kurasakan. Aku tersenyum sembari memandangi ranum wajah pemuda ganteng pujaan wanita-wanita sekantor ini yang telah mencuri perhatianku dan menikmati tubuhku dalam beberapa waktu kebelakang. "Tentu, saya akan bercerita, tapi sebelum itu saya ingin Pak Rio menjelaskan, apa yang mendasari Pak Rio ingin saya menceritakan sosok mantan." Aku memutar otak agar bisa memperlambat sensasi kepalaku yang ingin meledak karena membuka luka batinku. "Saya menyangkal dugaan terhadap kamu Alba, tetapi melihat tanda-tanda di tubuh kamu, saya tak bisa menyembunyikan fakta, mungkin itulah salah satu alasan mengapa kamu tidak menjawab pertanyaan saya sebelumnya terkait berapa kali kamu pernah tidur dengan lelaki lain." Rio terdengar menghakimiku, tetapi sebenarnya dia sudah menganalisaku sejak jauh hari sebelum be

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 9

    "Syafa keponakanku kelas 8E tahun ini." Nada bicara Rio sungguhan terdengar lembut di telinga. "Loh Pak, tadi aku dapat info dari Bu Iren."Aku menatap Rio yang juga menatapku. "Bu Iren mengerjaimu." "Apa? Benarkah begitu, astaga." "Based on data Alba, jangan lupakan itu." Rio mengusap pungung tanganku perlahan lantas memberi kecupan kecil di sana, menyalurkan kehangatan sekaligus keintiman yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. "Kau memang benar, seharusnya tadi aku membuka website dan daftar nama-nama siswa terlebih dahulu, tetapi aku malah mengacak-acak dokumen di dalam lokerku." "Tapi sudah selesai bukan?" "Sudah sih, tapi capek sekali." Rio menarik tangan, menyuruhku untuk duduk di bangku yang baru saja dia duduki, tanpa perlawanan aku menurut. Dia berdiri tepat dibelakangku lantas meletakan kedua tangan di atas pundakku, kurasakan pijatan-pijatan keci dari jemari besarnya "Sebelah sini," aku menyentuh belah tangan Rio lantas mengesernya ke bahu kiriku.

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 8

    Aku meniup debu yang menutupi kotak kecil itu dengan tenaga dalam dan mengetuk-ngetuknya di atas meja, aku lupa apa isi dalam kotak tersebut, mengapa juga ada di dalam lokerku, aku agak lupa karena tersembunyi di antara tumpukan dokumen-dokumen administrasi sekolah. "Kau sedang apa Bu Alba?" tanya rekan kerja sebangkuku melihat meja kami berantakan karena aku baru saja membongkar isi lokerku. Tanganku tertahan tidak jadi membuka kotak misterius, menyimpannya kembali ke dalam loker. "Maaf ya Bu, meja kita jadi berantakan." Aku berusaha membereskan dokumenku yang memakan tempat agar rekan kerja sebangkuku bisa menaruh tasnya. "Nggak papa kok Bu Alba, setelah ini saya masuk kelas, ini tadi nengok teman-teman saja di sini." Aku melempar senyum ke arahnya, lantas masih terus mencari daftar kontak wali murid kelas 8E di mana aku pernah menjadi wali kelas. "Sedang mencari apa Bu?" "Daftar kontak wali murid kelas lama Bu, kebetulan tadi wali kelas 9E minta data rapor siswa

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 7

    Rio menyeret sebuah bangku di depan mejaku yang kebetulan kosong, menghadapkan ke arahku hingga posisi kami berhadapan, sementara mataku mengamati pergerakan aneh untuk kesekian kali dari pemuda ganteng ini sambil terus merasakan ritme jantungku berdebar-debar tidak menentu. "Ehm, apa kau gila, kenapa duduk di sini?" Bisikku mencoba menyadarkan bahwa ini tempat kerja dan banyak pasang mata melihat kami. Rio tersenyum menatapku, "Baiklah, kalau begitu abaikan aku, kau lanjutkan saja pekerjaanmu." Rio membuka ponsel, siap berselancar di internet. Aku malas berdebat dengan Rio saat ini, tetapi ada rasa tidak nyaman mencuat di benakku, bukan karena Rio duduk di depanku mengamati kegiatanku, melainkan masih terasa bahwa orang-orang di dalam kantor memandangiku. "Kau tidak pergi?" tanyaku setelah Rio cukup lama terdiam, dia mengalihkan pandang dari ponsel. "Untuk apa Alba? Justru aku duduk di sini untuk melindungi, agar orang-orang segan padamu. Kau masih melihat mereka memandangim

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 6

    Rio menatapku cukup lama, seperti mencari jejak dan tanda dalam benakku, pertanyaan sama dari Rio tentang berapa kali aku tidur bersama laki-laki lain belum terjawab, tetapi ada keyakinan mutlak bahwa dia tahu aku menyimpan banyak rahasia. Suara alarm dari ponsel Rio terdengar nyaring, membuatku terbangun dari kantukku semalaman, kuraih ponsel itu dari atas nakas lantas mematikannya . Aku menggulingkan badan ke belakang pungung, tak kudapati Rio di atas ranjang, tetapi pandanganku terhenti kala melihat pemuda ganteng ini sudah duduk di sudut kamar membelakangi posisiku. Mendengar helaan napasku, Rio menoleh, "Selamat pagi Tuan Putri, kau tidur nyenyak sekali." Rio mendekatiku dan kini duduk di tepi ranjang. Aku menguap beberapa kali, lalu mengangkat kedua tangan, jemariku reflek membentuk bujur sangkar kecil mengerakan tanganku dari ujung kepala hingga badan Rio seolah aku sedang mencari angle kamera, "Kau rajin sekali, pagi-pagi buta sudah selesai mandi." "Tentu saja, aku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status