Mag-log inSepanjang jalan menuju ruang perpustakaan, aku menggerutu, sambil terus menepuk dada yang terasa sesak. Tanpa sadar seseorang mengikutiku dari belakang, begitu sampai lorong depan perpus tidak dikunci barulah aku mendengar suara dehem, "Rio? Kau menguntitku?"
Rio buru-buru menutup mulutku dengan satu tangan, mendorong tubuh mungilku untuk masuk ruang perpus dan menutup pintu cepat-cepat. Napasku terengah-enggah seperti mau sekarat, wajahku berhadapan begitu dekat, aku dapat merasakan helaan napas lembut Rio. Aku bukan tidak mengerti adegan selanjutnya seperti di film-film dewasa, tetapi Rio benar-benar membuat sekenario tak terduga. "Kamu berisik sekali, dengar penawaranku hanya sekali jika kamu sepakat, maka kita akan bebas dari jeratan budaya masyarakat primitif." Suara Rio terdengar berat dan lembut di telingaku. "Apa maksudmu?" Aku menatap lekat wajah pemuda ganteng itu, bersama gemuruh debar yang sulit dimengerti datang dari mana. "Jika kamu bersedia membayarku, saya akan jadi suami kontrak untuk kamu. Aaah, jika kamu belum siap, saya akan menjadi pacar kontrak kamu dulu." "What the hell man, kau bercanda?" Aku semakin terkejut, Rio mengatakannya jelas, senada dengan raut wajah serius. Dalam pikiran bercampur aduk dan debar berkecamuk antara tegang atau senang ini, aku harus menjawab penawaran absurd dari pemuda ganteng dengan banyak fans di luar sana. "Bagaimana? Bukankah ini penawaran bagus? Kamu hanya perlu membayarku 5 Juta perbulan dan terima jadi. Aku tahu kamu cukup mampu menghidupi saya dengan gajimu di tempat ini juga bisnis sukses kamu." Aku terdiam, mengamati raut wajah meyakinkan Rio, terlalu percaya diri, tidak bisa melihat kelemahan Rio di sini, tetapi aku menepisnya, "Kau mungkin sedang terancam, apa kau terlilit banyak hutang, sayang?" Rio tidak salah mendengar, aku memanggilnya sayang. Dia cukup peka, bahwa rencana ini mustahil jika gagal terjadi. "Tidak, saya hanya ingin membantumu sebagai teman dengan keuntungan." Aku mendorong tubuh Rio ke belakang hingga terduduk, mengunci pemuda itu dengan kedua tanganku yang bersandar di pungung kursi, memberi tatapan tajam mengintimidasi. Rio merasakan sekujur tubuhnya panas, keringat dingin di pelipis mulai bercucuran. Aku menghembuskan napas perlahan menyapu wajah bersih terawat Rio, "Kau lumayan bagus, pergaulanmu cukup bebas, berapa kali kau tidur dengan wanita lain?" Rio menelan ludah, melihat ekspresi Rio yang serba salah tingkah, aku mengeluarkan jurus andalanku untuk mengetes seberapa jauh pertahanan dirinya. Aku duduk di atas pangkuan Rio tersenyum penuh kemenangan, perlahan jemariku membuka dua kancing kemeja Rio paling atas, sambil terus mengusap lembut kedua bahunya. "Bagaimana denganmu?" Aku tersenyum tipis, memberi tatapan memuja pada Rio, tangan halusku mulai menyentuh dagu Rio yang bersih tanpa bulu. "Kau mau mencobanya malam ini, sayang?" Rio menggerakan tangannya perlahan mengelus elus pungungku. "Sure, tapi jelaskan padaku apa kau sepakat dengan tawaranku?" Aku menganguk mantap, lalu menjabat yakin tangan Rio , "Deal." Rio mencari bibir mungilku, bermaksud untuk menciumnya, tetapi gagal sebab terdengar ketukan pintu dari depan perpus. "Yakkk! Tunggu sebentar, aku bukakan pintunya." Aku beranjak dari pangkuan Rio dengan cepat berjalan ke arah pintu, begitu pintu terbuka ternyata seorang staff sarana prasarana masuk membawakan kopi untukku. "Terima kasih, Pak Zain." Seruku antusias, Pak Zain tersenyum sembari meletakkan kopi panas baru diseduh di atas meja kerjaku. "Loh, ada Pak Rio rupanya." Rio tersenyum sambil pura-pura sibuk membaca buku yang tersemat di antara kedua tangannya, tidak ada kecurigaan terbersit dari staff sarana prasarana tersebut, sebab Rio gesit menutup rasa canggung. Pintu perpus kembali tertutup suasana menjadi hening, aku mengambil secarik kertas dari loker lalu memberikan pada Rio, posisi duduk kami kini bersampingan. "Baik, seperti katamu tadi, kita akan melakukan kerjasama, untuk itu kau tulisankan saja terlebih dahulu aturan kontrakmu di sini, aku akan berikan waktu dan baca semuanya sebelum transfer uang muka padamu." Rio menerima secarik kertas dengan hati-hati, lantas tertawa kecil, "Kamu buru-buru sekali sayang, hemmm baiklah beri saya waktu selama satu jam, saya akan menulisnya langsung di sini," Rio mengambil pulpen dari ujung saku kemejanya, mulai menulis, sementara aku masih terpaku, mengamati wajah dan dada bidang Rio, " Jangan lama-lama mengagumi ketampanan saya sayang, kamu bisa jatuh cinta pada saya nanti." "Kau terlalu menggoda, gaya apa yang kau suka sayang?" Rio menghentikan tulisan, menatap bibir mungilku yang merah merona, "Boleh saya menciummu?" Aku tertawa, "Berapa centi punyakmu, bisakah kau tunjukkan padaku sekarang?" "Waaah, kamu memang pemain." Rio menggeser tempat duduknya, lantas meraih tangan kiriku untuk kemudian meletakan di depan joninya, membiarkanku mengelus-elus bagian sensitif di depan resleting celana panjang itu. Rio melanjutkan tulisan berisi kontrak dengan menahan napas agar suara erangan tak keluar dari mulut manis itu. Aku merasakan gumpalan daging itu nikmat sungguh, merabanya perlahan hingga agak kuat dalam beberapa menit, "Panjang kurang lebih 8 centimeter dan bagus sayang," taksirku memperkirakan bentuk perkasanya Rio. "Sudah puas?" Rio bertanya lembut sekali setenang wajahnya. Aku menatap jam dinding, sejam lagi waktu kami pulang kerja, "Tidak, aku mau mencobanya langsung." Aku meraih ponsel, lantas membuka aplikasi, melihat-lihat hotel mana yang cocok untuk kami gunakan bermain api biru malam ini. Untuk beberapa menit kami sibuk dengan urusan masing-masing hingga Rio selesai menulis dan melihatku masih sibuk dengan ponsel, Rio merebut ponselku, "Sudah sayang, biar saya yang pilih hotel, kamu kemasi barangmu." Aku terdiam untuk sesaat, Rio kembali meletakkan ponselku di meja kerja lalu melenggang keluar ruang perpustakaan, "Saya sudah memesan hotelnya, kita berangkat terpisah, kamu bisa menungguku di lobby utama hotel pukul 4 sore." Aku menghela napas dalam-dalam, darahku mendadak berdesir di atas ubun-ubun, tiba-tiba ada sensasi dingin di antara kedua lenganku sebuah pertanda antara takut dan ingin mencoba bersama Rio, entah bagaimana rasanya nanti, jelas kami sudah sepakat, meski aku belum membaca kontrak penawaran itu. Ponsel Rio berderit saat kembali ke ruang guru, sebuah pesan dari kekasihnya mencolok manik mata, "Aku lagi ada di kafe deket tempat kerja kamu Mas, jika kamu ada waktu, mari bertemu." Rio menghela napas, dia tak sadar ada dua orang rekan kerja masih duduk di pojok ruangan, mereka menoleh karena terkejut dengan helaan napas kasar keluar dari mulut pemuda dingin ini yang jarang berbicara. "Heii kau baik-baik saja, Nak?" seru salah satu rekan kerja senior sembari melambai ke arahnya. "Tentu Pak, selamat siang sampai jumpa," ucap Rio meraih tas ransel, segera pergi dari tempat itu. Aku turun dari gedung tidak sengaja berpapasan dengan Rio di lorong sekolah menuju arah sama, tempat parkir. Aku melambatkan langkah, sementara untuk menghindari kecurigaan Rio buru-buru mempercepat langkah tanpa memberi kode apapun kepadaku. Ranum wajah Rio begitu tenang, setenang hamparan samudra, sementara gemuruh badai masih menguasai bandanan jiwaku. Rio sudah naik motor duluan, sementara aku hendak menyebrang area parkir motor menuju parkir mobil, begitu di depanku suara lembut setengah merayu masuk ke dalam telinggaku membuat diriku tertegun lagi, "Mari Bu Alba, sampai jumpa," seru Rio dibalik masker dan kacamata hitamnya.Aku menjulurkan kepalaku ke bawah tepat sedekat mungkin, hingga mulutku bisa menjangkau keperkasaan Rio. Begitu masuk dan jilatan lidahku memutarinya, lengguhan dari pemuda ganteng ini, langsung membutku bergairah juga, vaginaku ikut terangsang. "Uuhhhh emhhhh, mantap sayang!" Diantara ketegangan itu, tangan Rio mengambil dengan cepat beberapa lembar tisu, dalam lima menit cairan pelumas alaminya keluar dan tepat mengenai tisu-tisu yang dia siapkan. Aku menyandarkan badanku ke kursi mobil sembari menghela napas panjang, kami berpandangan satu sama lain dalam bebebrapa saat, kami tertawa bersama, menertawakan kebodohan sekaligus kegilaan nafsu birahi kami. "Terima kasih sayang." ujar Rio menatapku sembari tersenyum manis. "Emhem, lapar aku Mas. Bisakah kita lanjutkan perjalananya?" "Tentu saja, tetapi tunggu." Rio merapikan dressku yang terbuka dan menariknya ke atas sehingga payudaraku kembali tertutup. Dia lantas merapikan rambutku untuk kemudian merapikan sendiri
Rio menambah kecepatan mobil, setelah aku tidak lagi menimpali argumennya. Dalam kesunyian yaang sengaja diciptakan ini, aku kembali pada mode overthinkingku perihal sebaiknya hubunganku ini harus aku kemanakan. "Kamu mau mendengar lagu?" Rio menoleh sekilas padaku. "Humm, tidak perlu." "Baiklah, jangan sinis padaku Alba." "Hemm, aku biasa saja. Mas Rio yang baperan." "Ya ampun, setelah lama kupikirkan, ternyata berada di dekatmu, membuatku merasa menemukan ibu kedua selain ibuku." "Hah? Maksudkmu?" "Yups kamu mirip ibuku, Alba." "Astaga, kamu sedang ngomong apa sih, Mas?" "Saya bilang cara kamu bicara sama cerewetnya seperti ibu saya." "Humm, oke oke kalau gitu aku nggak ngomong. Awas aja setelah ini kamu ngajak aku ngomong." Aku mengeser tubuhku menghadap pintu mobil dan mengedarkan pandanganku ke luar jendela kaca mobil. "Eeeh, jangan ngambek, gitu dong sayang." Rio menyentuh lenganku, namun dengan satu tepisan saja, aku bisa menanggalkan tangan R
“Baiklah, kamu memang bisa membuat saya terkesan kali ini.” Ujarku kembali menyempurnakan make-upku. Dalam pantulan cermin di depanku, Rio sudah siap dengan agenda makan malam kami, meski kami belum lama saling berdebat, bertingkah tidak jelas, namun kerandoman ini selalu diciptakan diantara kami. Entah dari pihak Rio, maupun di pihakku. Rio mengecek arlojinya sekilas, lantas kembali menatapku, “Butuh waktu berapa lama lagi sayang?”“Hum, lima menit lagi kita berangkat ya.”“Oke.” Rio berjalan menjauhi tempat di mana aku sedang duduk di depan meja rias, dia kembali duduk di sofa dan meraih ponselnya dari atas meja.Aku mengenakan lipstick berwarna rose and shine untuk menambah kesan elegan, tidak terlalu menyala juga tidak begitu kusam, standart dan tampak kehilahan segar sperti habis makan buah naga, oh tidak. Maksudku, warna itu warna kesukaanku dan cocok sekali dengan undertone wajahku. Aku berdiri dengan gaun pilihan Rio mengecek dan merapikan bajuku serta mematut-matutkan wa
Aku masuk kamar mandi, menghela napas panjang, sebelum buang air kecil sekaligus membuang kenangan-kenangan yang diciptakan Rio selama ini. Aku tidak bohong, hubungan ini hanya akan membuatku semakin terluka, bukan jenis hubungan sehat dan layak dipertahankan. Lalu bagaimana sekarang, aku harus bisa meyakinkan Rio agar dia kembali pada kehidupan normalnya sebagai manusia dan tetap menolak ajakan gila, untuk menikah dengannya, meski ucapan pemuda ganteng itu benar-benar membuatku tersadar, tidak ada yang bisa mengendalikan hal-hal di luar kendali, aku tidak menyangkal kebenaran bahwa aku dan Affal mungkin tidak akan bisa bertemu lagi, apalagi menikah. Affal kriteriaku, sementara aku bukanlah kriterianya, aku mencintainya dengan setulus hati, dia tidak demikian, lantas mengapa aku memilih untuk tidak menikah dengan siapapun selain pria psikopat yang tidak peduli soal tangung jawab itu. Jawabannya, bukanlah perihal cintaku yang sudah habis, tetapi aku menutup luka-lukaku sendiri
Tidak sulit membuat ego laki-laki dan harga dirinya hancur, cukup selalu beri makan egonya, enakin mainanya dan turuti kemauannya. Bagaimana perihal hancurnya, terletak pada saat dia kehilangan dirimu dan tidak bisa menemukanmu lagi entah mencari keberadaanmu, atau berusaha mencarimu di dalam jiwa-jiwa wanita lainnya, mungkin jika itu ada. Aku melepaskannya saat Rio sudah ingin mencapai puncaknya, begitu mau keluar dia lari ke kamar mandi dan menumpahkan cairan pelumas alami itu di sana. Aku tertawa kecil penuh kemenangan. Itu balasan stimpal atas komentar-komentarnya terhadapku tadi. Aku berdiri kembali duduk di tepi ranjang dengan menyilangkan kedua kakiku dan merengangkan kedua tanganku di sisi kanan dan kiri badanku. Rio keluar dari kamar mandi, tampaknya dia hanya mencuci kontolnya. "Sayang, puas ya sudah ngerjain saya habis-habisan?" "Sini Mas, kenyotin susu montokku." Rio tidak berkutik, diam seribu bahasa. Dia berlutut di depanku, sembari menatap bergili
"Jangan Alba, maksudnya saya tidak mau." Aku terdiam, kututup mulutku dan menyaksikan sisa cairan Rio tumpah di tempat pertamanya tadi. Setelah itu dalam tempo lembat kulihat dia mengambil tisu basah dan kembali membersihkan badanku. "Selesai sayangku." ujar Rio duduk bersila di samping tubuhku yang masih terbaring rileks di atas ranjang. "Jam berapa sekarang Mas?" tanyaku menatapnya yang kemudian mengambil ponselnya di atas nakas. "Oh jam empat sore." "Apa? Kita tidur lama sekali berarti, kurang lebih lima jam?" "Emhem, lapar sayang?" Aku mengusap perutku, "Hehe, lapar sih Mas, mau makan di luar aja?" "Hemm, baiklah. Kalau begitu, kita siap-siap dulu." "Udah ada tempatnya?" "Ada sayang, wait." Rio membuka ponselnya dan mencari informasi terkait tempat makan tujuan kami, aku bangun dari rebahku dan duduk di sampingnya, dia lantas menunjukkannya padaku. "Raswara Coffee And Eatery." "Yups, itu tempat yang lagi viral, beberapa kali kulihat fyp di sosmed."







