LOGINTempo gerakan kedua tangan Rio makin cepat seiring kenikmatan yang kurasakan atas sensasi gila ini di tubuhku, dalam waktu lima menit, lingerie bagian bawahku basah oleh cairan pelumas alami dari dalam vaginaku. Napasku terenggah-enggah saat Rio mengakhiri sesi foreplay ini. Tubuhku lunglai seketika, dada besar nan bidang milik pemuda ganteng ini, mendekapku erat. Aku jatuh pada pelukan Rio tanpa syarat dan lega selega-leganya, atas permainan manis ini. Rio merebahkan badanku di atas sofa, mengecup bibirku lagi lantas duduk bersandar di pungung sofa. "Mau gantian Mas?" Rio menggeleng, "Tidak sayang." "Kenapa?" "Tadi udah berdiri saat kamu hilang akal sehat, lihat sekarang." Rio menunjuk penisnya yang tampak sudah kembali normal, tidak menonjol. "Hemm apa tidak gerah, tadi?" Rio menggeleng, "Saya bisa kendalikan, sayang." "Mau di masakin apa Mas Rio?" "Biar aku masakin, kamu rebahan aja, atau mau mandi air hangat?" "Mau dimandiin sama Mas Rio." "Hemm
"Tidak pernah, tetapi sekarang lagi mikirin soal reaksinya." "Oke, bagaimana jika kamu jadi Affal?" "Tampak santai saja, tetapi mungkin ada amarah yang dia pendam, tentu di relungnya terbersit ingin menghentikan langkahku, namun tidak bisa, aku sudah menyatakan kebenaran pada kekasih barunya lengkap dengan kronologinya. Affal hanya bisa membersihkan memori-memori soal kami dan mencegah memori-memori baru masuk dalam kehidupannya sekarang, dia mungkin saja hidup dengan masa lalu kami, tetapi lebih memilih menyimpannya rapat-rapat hingga orang lain mengira kami tidak pernah saling mengenal satu sama lain." "Saya rasa itu tidak benar, Alba. Saya kira Affal memang sengaja melupakanmu, sekalipun kamu mengungkap reaksinya akan datar-datar saja, kalau bahasa kita ya sudah mau diapakan, ini di luar kendaliku. Sifat kekanak-kanakan Affal dengan memblokir semua akses yang terhubung kepadamu itu murni dari karakternya sehingga kamu tidak perlu berpikir terlalu dalam, dia baik-baik saja.
"Baiklah, saya mengerti tujuan baik kamu, tetapi apakah semua berjalan sesuai dengan harapanmu?" Aku menggeleng kuat-kuat, sebagai isyarat aku gagal lagi berbuat kejam pada Affal. Rio mengusap pelan bahuku, mengedarkan energi ketenangan dari belah tanggannya untuk langkahku yang sudah putus asa. "Aku tidak cocok jadi orang jahat, Mas Rio. Sekalipun, aku mencobanya, gagal pula rencanaku merusak hubungan Affal dengan Adelfia." "Kamu punya nilai tingkat tinggi untuk harga kebaikan dan cinta tulusmu, Alba. Jika kamu beranggapan soal saya lebih sabar itu memang benar dan kamu punya hati yang baik pun pada setiap orang yang menyakitimu, kamu cenderung diam dan mengalah, itu sebabnya Affal tidak bisa memberikan porsi cinta yang sama, dia sendiri tak punya daya sebesar dan seluas hatimu." "Emhem, Mas Rio kasihan padaku?" "Saya memang kasihan padamu, karena kamu memberikan ketulusan cintamu pada orang yang salah, Alba. Jiwamu, ragamu, hatimu seharusnya bisa mendapatkan nilai lebih ba
Aku menatap ranum wajah Rio yang juga menatapku, suasana hening sesaat membuat jeda kami bermakna, "Adelfia menyapaku lewat direct message di akun keduaku. Dia tahu akunku tengah menyusuri semua isi akun instagramnya." "Lalu, bagaimana, apa karena itu kamu jadi punya kesempatan berbicara padanya?" Belah tangan Rio membelai rambut panjangku yang masih sebahu ini, namun tatapannya begitu intens, tatapan memuja itu lagi. "Emhem, Adelfia cukup pemberani karakternya to the point tidak mau mendengar penjelasan yang menurutnya berbelit-belit. Aku mengenalkan diriku dengan identitas sebenarnya, setelah itu kujelaskan maksudku kenapa memantau akun instagramnya." Rio mendekatkan wajahnya ke wajahku sehingga jarak kami hanya sejengkal tangan mungilku, menyusuri wajahku lebih dekat membentuk segitiga berantai menatapku lembut di mata kiri, kanan dan turun ke bibirku dalam beberapa menit mode ini membuatku menangkap aura menggoda dari pemuda ganteng di depanku. "Mau ciuman dulu?" tany
"Kami tidak bertengkar sih Mas, tetapi anggapanku soal kecemasan Adelfia padaku, beruntut pada dia akhirnya memblokir akun instagramku, sehingga kami tidak lagi bisa berkomunikasi, terutama dia tidak lagi bisa melihat storyku." Diluar prediksi, Rio tertawa terbahak mendengar penjelasanku yang mungkin menurutnya sangat lucu, atau sebenarnya dia mengejekku karena rencanaku tidak bertahan lama. "Analisaku soal reaksi Adelfia, kurang lebih benar. Dia lebih memilih diam-diam pergi darimu, entah menyisahkan kekesalan atau kekecewaan." "Hemm, Mas Rio tertawa karena berpikir demikian?" "Iya Alba, ini justru lebih baik. Kalian jadi cukup dewasa menghadapi masalah, lagi pula kamu tidak mau merebut dan bahkan merusak hubungan yang dipilih Affal, bukan?" "Emhem, itu benar Mas, aku tidak dapat membohongi hatiku, meski aku dalam kondisi yang tidak baik-baik saja karena ditinggalkan Affal, aku tidak mau menyakitinya. Kulepaskan saja dia, biar bebas menjalani pilihan hidup." "Baiklah,
Aku menekurkan kepalaku sedikit ke bawah, mataku menatap cangkir kopi yang sudah kosong, "Aku memang sebodoh itu, Mas Rio. Aku minta maaf." "Ini bukan soal kamu meminta maaf pada saya, Alba. Ini perihal dirimu sendiri harus berbenah, kedepannya. Jika Affal jelas-jelas tidak lagi memberimu ruang untuk mengubunginya, memblokir semua aksesnya denganmu, sudah bisa dipastikan Affal benar-benar tidak peduli lagi padamu. Ingatkan dirimu baik-baik, dia menyakitimu, dia tidak membutuhkan peranmu dalam hidupnya, jangan membuka lagi komunikasi dan berharap dia mungkin akan berubah. Tidak Alba, kami laki-laki, kami mahluk hidup paling realistis. Jika kami sudah memilih menutup buku, kami tidak akan membuka buku kami lagi. Kamu mengerti, apa yang saya katakan?" Aku menelan ludahku, mengangukan kepalaku kuat-kuat sebagai tanda aku memahami penuturan orang yang selama ini tak pernah kusangka akan memberi ketegasan padaku, bukan hanya menjadi pendengar yang baik, Rio menghamburkan badannya kepad







