LOGIN"Kami tidak bertengkar sih Mas, tetapi anggapanku soal kecemasan Adelfia padaku, beruntut pada dia akhirnya memblokir akun instagramku, sehingga kami tidak lagi bisa berkomunikasi, terutama dia tidak lagi bisa melihat storyku." Diluar prediksi, Rio tertawa terbahak mendengar penjelasanku yang mungkin menurutnya sangat lucu, atau sebenarnya dia mengejekku karena rencanaku tidak bertahan lama. "Analisaku soal reaksi Adelfia, kurang lebih benar. Dia lebih memilih diam-diam pergi darimu, entah menyisahkan kekesalan atau kekecewaan." "Hemm, Mas Rio tertawa karena berpikir demikian?" "Iya Alba, ini justru lebih baik. Kalian jadi cukup dewasa menghadapi masalah, lagi pula kamu tidak mau merebut dan bahkan merusak hubungan yang dipilih Affal, bukan?" "Emhem, itu benar Mas, aku tidak dapat membohongi hatiku, meski aku dalam kondisi yang tidak baik-baik saja karena ditinggalkan Affal, aku tidak mau menyakitinya. Kulepaskan saja dia, biar bebas menjalani pilihan hidup." "Baiklah,
Aku menekurkan kepalaku sedikit ke bawah, mataku menatap cangkir kopi yang sudah kosong, "Aku memang sebodoh itu, Mas Rio. Aku minta maaf." "Ini bukan soal kamu meminta maaf pada saya, Alba. Ini perihal dirimu sendiri harus berbenah, kedepannya. Jika Affal jelas-jelas tidak lagi memberimu ruang untuk mengubunginya, memblokir semua aksesnya denganmu, sudah bisa dipastikan Affal benar-benar tidak peduli lagi padamu. Ingatkan dirimu baik-baik, dia menyakitimu, dia tidak membutuhkan peranmu dalam hidupnya, jangan membuka lagi komunikasi dan berharap dia mungkin akan berubah. Tidak Alba, kami laki-laki, kami mahluk hidup paling realistis. Jika kami sudah memilih menutup buku, kami tidak akan membuka buku kami lagi. Kamu mengerti, apa yang saya katakan?" Aku menelan ludahku, mengangukan kepalaku kuat-kuat sebagai tanda aku memahami penuturan orang yang selama ini tak pernah kusangka akan memberi ketegasan padaku, bukan hanya menjadi pendengar yang baik, Rio menghamburkan badannya kepad
"Entah alasan apa yang mendasarinya sehingga hubungan mereka dipertahankan, sama sekali aku tidak tahu, namun sepertinya Affal benar-benar mencintai gadis itu, Mas Rio. "Aku mengenal pribadi Affal sudah bertahun-tahun, dia tidak akan mempublish apapun soal hubungan pribadinya jika dia tidak berkeinginan dari dirinya sendiri, meski Adelfia seandainya memohon. "Affal mengenalkan gadis ini pada keluarga terdekatnya pun pada teman-temannya, dia bangga atas semua tindakan, kesuksesan dan mimpi besar Adelfia. "Kini aku mengerti selain doa untuk Affal, apalagi yang bisa kulakukan, membalas dendam padanya mungkin saja bisa, tetapi sabubariku sama sekali tidak menginginkan untuk menyakiti hatinya, biar saja sudah dia memperlakukan diriku tidak sebaik perasaan tulusku padanya, semua juga akan berakhir." Rio menatapku, mengecup sesaat pungung tanganku, "Kamu sudah di fase merelakan, Affal sekarang?" "Emhem, mungkin demikian, tapi kurasa memang ini pilihan terbaik, jangan sampai dia
Aku menghela napasku, memberikan jeda pada ceritaku untuk bisa menetralisir energi-energi negatif dari setiap perkataanku, sementara Rio tetap dalam mode menunggu dengan kesabaran dan ketenangan super ekstra yang jadi andalannya menghadapiku, bersama cerita masa laluku, tidak ada orang paling mengerti selain pemuda ganteng pujaan ibu-ibu kantor di tempatku bekerja ini, bagaimana jika mereka tahu ternyata dia berbuat melampaui batas sebagai manusia, peran lain pemuda kesayangan ini adalah menjadi kekasih kontrakku, entah sampai kapan. "Saya rasa, kalian bertemu bukan hanya sekadar pertemuan biasa, Alba. Kalian bertemu bukan untuk saling menyembuhkan ataupun melukai, tetapi saling memberi pelajaran, jika kamu sakit hati hari ini karena perubahan-perubahan mendadak yang Affal berikan padamu, bukan tidak menutup kemungkinan dia juga merasakan hal sama, namun tidak pernah diungkapkan padamu. Sekali lagi, saya tidak mengamini tindakan kalian di masa lalu, saya dengan kamu pun juga melakuka
"Kalian pasangan gila atau bagaimana sebenarnya, terutama kamu, Alba, kenapa kamu tidak bisa menolak permintaanya. Kamu tidak memikirkan dampak terbesarnya?" Untuk pertama kalinya, aku dapat mendengar ketegasan Rio, ucapannya membuatku menatapnya lebih serius, ketidakbiasaan ini tidak boleh aku abaikan. "Maafkan aku Mas Rio." "Tidak Alba, kamu tidak perlu minta maaf, semua kejadian ini harus jadi pelajaran berharga untukmu. Saya tidak mau kali kedua terjadi padamu, pada hubungan kita." Aku menganguk pelan, kedua tangan Rio mengelus kedua bahuku. "Apa aku boleh melanjutkan ceritaku? Sebab inilah sesi akhir dari isi hati terpendamku selama ini." Rio melepaskan kedua tangannya, "Lanjutkan Alba." "Lepas dari Affal mengirim ulang skenario video permintaanya, saat itu aku sedang berada di sekolah, kubilang padanya untuk menunggu saja sore nanti akan kukirim, aku masih ada kelas pagi ini. Hingga sore hari ternyata, Affal betulan menunungguku, aku memberikan informasi tambahan
"Seratus ribu Mas Rio." Rio sontak tertawa lepas mendengar keteranganku."Ya ampun, apa benar kamu melihatnya dengan baik, Alba? Ngajak berkencan tapi cuman bawa uang cepek, Affal benar-benar pria paling aneh. Bagaimana bisa dia mengunjungimu jauh-jauh dari luar kota hanya membawa uang segitu, astaga bagaimana soal perasaanmu, maksudku apa dia tidak berpikir untuk membawakan hadiah atau sekadar surprice kecil-kecilan untukmu. Hah, benar-benar kelewatan." Aku tersenyum mendengar penjelasan Rio yang super cerewet ini berkomentar soal isi dompet Affal yang kering kerontang ya tergantung fungsinya sih, tapi kusadari, Affal benar-benar krisis, sudah kukatakan sebaiknya kita tunda dulu perihal agenda bertemu, tetapi mungkin dia lebih tahu alasan finalnya mengapa akhirnya memaksakan kehendak pada saat itu. "Aku serius Mas Rio. Affal betulan hanya membawa seratus ribu, tetapi aku sedikit terpana melihat kartu-kartunya yang berjejer rapi, mungkin dia punya aset tabungan di beberapa deret







