MasukMenyimpan foto pacar si Rio untuk apa, entahlah jemariku begitu saja menekan tombol save as galeri, tindakan aneh. Hari berikutnya, aku presentasi di depan waka kurikulum, lumayan bagus komentar beliau, tidak ada saran spesifik mengenai tata ruang perpustakaan, pekerjaan dianggap tuntas.
Aku mulai menempati ruangan baru, menata dekorasi dengan bantuan staf sarana prasarana, beberapa kali kedapatan rekan kerjaku menengok tata kelola ruang tersebut, Rio juga demikian meski tak berbicara dia kerap menemukanku sibuk menata ruangan agar tampak estetik, namun dibalik kesibukan kerjaku, kemelut mengenai chat Rio belakangan membuatku terus terusik, mengapa dia mengirim foto gadis itu, apa hanya sekadar menegaskan bahwa jangan pernah mendekat, atau punya maksud tersendiri, aku terus bertanya dalam diam. Markasku sudah siap ditempati, di atas lantai berkarpet hijau muda, aku merebahkan badan sesaat, perutku mulai keroncongan sambil menatap sekilas jam dinding tersemat di dinding di atas rak buku, sudah masuk waktu makan siang, aku segera bangun dan turun ke dapur umum, begitu kakiku melenggang masuk dapur Rio duduk di tengah ruang dapur, dia menatapku dalam mode biasa saja. Aku menyapa ibu dapur, Darpik menoleh, "Silakan makan Bu Alba," Aku mengambil piring, saat mendekati meja makan, pandanganku reflek mengamati, di celah jari telunjuk dan jari tengah Rio terselip sebatang rokok baru saja tersulut, kedua tangan tersebut kini bermain di atas tuts ponsel. Aku tidak duduk di sana, hanya mengambil nasi untuk dimakan di ruang guru. Suapan pertama memang terasa enak, tetapi suapan setelah itu terasa hambar, pusat semestaku seperti otomatis mengarah pada Rio, bagaimana bisa demikian, sungguh diluar kendali. Memang bayangan ranum wajah Rio menyejukan mata siapa saja yang melihat, pemuda ganteng dengan kulit putih bersih terawat itu lengkap dengan hidung mancung dan pembawaan cool, pesona pria 25 tahun dengan gaya pemuda-pemuda keren kelahiran 90-an ini dia bawa ke tempat kerja, Rio sering melipat kemeja berlengan panjang menjadi setengah lengan hingga tiga perempat bagian, sehingga tampaklah urat-urat di pergelangan tangannya, paket visual Rio amat menarik dari ujung kepala hingga ujung kaki, juga punya bentuk tubuh berisi dengan tinggi badan proposional, lengkap sudah betapa beruntung jika perempuan di luar sana bisa menjalin hubungan spesial atau bahkan lebih dari itu. Aku terbatuk cukup keras mankala memikirka lebih dalam sosok Rio, kerongkonganku tercekat, buru-buru teman sebangkuku memberikan segelas air minum, "Kau memikirkan apa?" Aku mengibaskan tangan,"Tidak, ini pedas jadi bikin batuk." Usai makan siang, aku masih melihat Rio duduk tenang di dapur, sama sekali tidak terdistraksi, dengan banyak lalu lalang rekan kerja yang mulai mengambil makan, beberapa kali terdengar tawaran makan dari rekan kerja lain, tetapi dia menolak secara halus, celetukan mulai berdatangan,"Pak Rio, makan siangnya kopi ya?" Rio tidak bereaksi, hanya menatap sambil menganguk pelan dan kembali menekuri ponsel. Aku keluar dapur, ada sisa waktu ishoma mengingat agenda hari ini masih tersisa 3 kelas untuk diajar, aku harus tetap semangat, energiku perlahan pulih kembali setelah makan dan menganalisa sosok Rio, terbersit kesenangan sesaat di hatiku, tetapi juga kegelisahan, mengapa semua menjadi dilema panjang. Di sela aku masuk kelas, ponselku kembali memunculkan notifiskasi pesan dari grup kantor, sebuah undangan pernikahan rekan kerja terselip di sana. Kelas bersama anak-anak sekolah menengah pertama hari ini diwarnai keseruan, aku berhasil mengkondisikan kelas dengan tertib, tetapi kemudian salah satu muridku mencoba mengulik urusan pribadi di luar diriku sebagai pengajar, "Bu Alba, sudah menikah atau belum? Kenapa Bu Alba, tidak menikah? Usia Bu Alba berapa sih?" Aku menahan diri walaupun tersenyum kecut, lantas menjawab apa adanya, "Belum menemukan yang cocok nak, saya kelahiran tahun 96, berapa hayo umur saya?" Aku mencoba untuk mengalihakan topik dengan mengaktifkan mode berpikir hitung anak, "Aaah ibu, sebentar, 2025, 2024 ..... berapa bu, 28 tahun?" Aku mengangguk pertanda benar, anak itu kemudian menutup mulut dengan tangan kecilnya seolah terkejut, mungkin dalam benak si anak, aku bukan wanita yang sudah berumur, karena prediksi itu meleset, aku menghela napas kecil, lantas mendengar anak lain menangapi komentar, "Kelihatan masih muda Bu, saya kira ibu masih 22 tahun." Aku refleks tertawa, sebenarnya tidak hanya murid, banyak orang salah menduga tentang sosok diriku sebelum mengenali identitas. Dimata banyak orang, aku merupakan wanita muda berusia awal 20-an, ranum wajahku biasa cenderung manis, banyak kekurangan tampak jelas dalam diriku, aku terlahir dengan tinggi tak seberapa, 148 cm dengan hidung tidak mancung serta lekuk tubuh kurus mirip minatur, bagian paling menarikku terletak pada mata tajam, bibir mungil, kulit wajah yang putih kekuningan dan pingang ramping, meski begitu jauh sebelum hari di mana aku berprofesi sebagai guru, aku pernah menarik di mata beberapa laki-laki terutama di bawah usiaku alias berondong, karena mereka terjebak dalam observasi terbatas. Bukankah ini berarti, aku punya daya tarik lain selain dari segi tampilan visual, ketika pertanyaan si anak di kelas itu tidak terjawab penuh soal mengapa aku tidak atau belum menikah, sebenarnya aku sedang menunggu seseorang, tetapi sebelum itu terjadi semasa kuliah aku sering membaca buku-buku berbau feminisme, sehingga mengapa pertanyaan itu muncul dari anak-anak kurang lebih menggambarkan pola pikir dan budaya masyarakat terus menempatkan perempuan di sisi lain, di mana laki-laki diharapkan selalu mendominasi sebagai visioner agen perubahan terdepan membangun peradaban dengan cara menikahi perempuan padahal cara tersebut tidak seratus persen berhasil dan malah menimbulkan gejolak kemiskinan keluarga jika tidak punya kapasitas membangun rumah tangga bijaksana. Sejauh itulah pikiraku mengenai kehidupan setalah mengakhiri masa lajang. Bukan menutup ruang gerak bagi cinta kini aku memilih tidak menghibur, tidak juga dihibur, orang yang kutunggu hanya sesekali hadir, dia mencintaiku sebagai nafsu, sementara aku hidup dengan ketulusan hati, jika datang kesepakatan, kesempatan saling bertemu selalu ada, tetapi selepas sama-sama kenyang dopamine, aku lebih dulu mengenal siapa diri sendiri, aku menangis ketakutan sekaligus sedih apabila kemelekatan pada sosok orang tersebut takkan bisa dilepaskan dan berakhir malapetaka. Aku terus mengutakan diri terus berpikir positif setidaknya percaya jika cinta itu mengandung kebenaran. Diantara aku dan hubungan gelapku itu, Rio datang menghidupkan kembali hari-hari kelamku, namun tiap kali aku memikirkan Rio, otakku langsung mengenali tanda bahwa kami mustahil membangun kedekatan. Rio hendak menyalakan motor, melihatku turun tangga dari lantai dua gedung sekolah, aku dengan sengaja membuang pandangan, berniat untuk menjaga jarak, namun siapa sangka Rio bersuara keras sehingga aku menoleh, mendapati rekan kerja perempuan lain mendekati Rio, "Kau mau pulang?" Rio tersenyum, sungguh manis. Di depanku dia tak pernah setenang itu, tetapi kenapa di depan perempuan lain nyaman berlagak tebar pesona, menyebalkan. "Kau mau ikut denganku?" tawar Rio. mendengar percakapan itu, kali ini aku menatap terang-terangan Rio, merasa ada yang mengamati dari lantai dua, Rio mendongakan kepala, sepasang mata kami bersingungan, aku menatap tajam ke arahnya, mengenali seraut wajah merah padam itu, Rio buru-buru menyalakan motor bututnya. Sebentar, apa tidak salah?"Semburat merah merona di wajahku saat ini tentu saja tak bisa kututupi, "Pak Rio, kendalikan tingkahmu," lirihku saat kulihat beberapa orang berdiri mengamati kami berjalan beriringan dengan tetap bergandengan tangan dari depan kantor ruang pimpinan, ruang tata usaha, lapangan dan ruang guru. Rio seperti tak mendengarku berbicara, dia terus menuntunku hingga masuk ruang guru, mengabaikan semua orang tanpa takut akan dihujat warga sekolah. Begitu aku duduk di kursi, Rio menatapku, pandangan meneduhkan itu langsung otomatis menghipnotis seluruh pusat indraku menjadikan diriku tunduk tanpa perlawanan. Rio bergerak mengelilingi kursi kerjaku lalu berdiri tepat di belakangku sambil sedikit membungkukan badan menyentuh pungung kursi, dengan suara tegas namun enak didengar di telingga, Rio membuat jantungku berdebar-debar tidak karuhan, "Kita bukan anak kecil lagi Alba, jadi kurasa kita harus memberitahu kabar bahagia ini." Pandangan Rio mengedar ke segala arah, para wakil pimpinan s
"Ceritakan sosok mantan kekasihmu." Rio menatapku lekat, aku mengalihkan pandangan lantas mengambil kursi, kami duduk berhadapan sekarang dengan jarak yang cukup dekat namun nyaman kurasakan. Aku tersenyum sembari memandangi ranum wajah pemuda ganteng pujaan wanita-wanita sekantor ini yang telah mencuri perhatianku dan menikmati tubuhku dalam beberapa waktu kebelakang. "Tentu, saya akan bercerita, tapi sebelum itu saya ingin Pak Rio menjelaskan, apa yang mendasari Pak Rio ingin saya menceritakan sosok mantan." Aku memutar otak agar bisa memperlambat sensasi kepalaku yang ingin meledak karena membuka luka batinku. "Saya menyangkal dugaan terhadap kamu Alba, tetapi melihat tanda-tanda di tubuh kamu, saya tak bisa menyembunyikan fakta, mungkin itulah salah satu alasan mengapa kamu tidak menjawab pertanyaan saya sebelumnya terkait berapa kali kamu pernah tidur dengan lelaki lain." Rio terdengar menghakimiku, tetapi sebenarnya dia sudah menganalisaku sejak jauh hari sebelum be
"Syafa keponakanku kelas 8E tahun ini." Nada bicara Rio sungguhan terdengar lembut di telinga. "Loh Pak, tadi aku dapat info dari Bu Iren."Aku menatap Rio yang juga menatapku. "Bu Iren mengerjaimu." "Apa? Benarkah begitu, astaga." "Based on data Alba, jangan lupakan itu." Rio mengusap pungung tanganku perlahan lantas memberi kecupan kecil di sana, menyalurkan kehangatan sekaligus keintiman yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. "Kau memang benar, seharusnya tadi aku membuka website dan daftar nama-nama siswa terlebih dahulu, tetapi aku malah mengacak-acak dokumen di dalam lokerku." "Tapi sudah selesai bukan?" "Sudah sih, tapi capek sekali." Rio menarik tangan, menyuruhku untuk duduk di bangku yang baru saja dia duduki, tanpa perlawanan aku menurut. Dia berdiri tepat dibelakangku lantas meletakan kedua tangan di atas pundakku, kurasakan pijatan-pijatan keci dari jemari besarnya "Sebelah sini," aku menyentuh belah tangan Rio lantas mengesernya ke bahu kiriku.
Aku meniup debu yang menutupi kotak kecil itu dengan tenaga dalam dan mengetuk-ngetuknya di atas meja, aku lupa apa isi dalam kotak tersebut, mengapa juga ada di dalam lokerku, aku agak lupa karena tersembunyi di antara tumpukan dokumen-dokumen administrasi sekolah. "Kau sedang apa Bu Alba?" tanya rekan kerja sebangkuku melihat meja kami berantakan karena aku baru saja membongkar isi lokerku. Tanganku tertahan tidak jadi membuka kotak misterius, menyimpannya kembali ke dalam loker. "Maaf ya Bu, meja kita jadi berantakan." Aku berusaha membereskan dokumenku yang memakan tempat agar rekan kerja sebangkuku bisa menaruh tasnya. "Nggak papa kok Bu Alba, setelah ini saya masuk kelas, ini tadi nengok teman-teman saja di sini." Aku melempar senyum ke arahnya, lantas masih terus mencari daftar kontak wali murid kelas 8E di mana aku pernah menjadi wali kelas. "Sedang mencari apa Bu?" "Daftar kontak wali murid kelas lama Bu, kebetulan tadi wali kelas 9E minta data rapor siswa
Rio menyeret sebuah bangku di depan mejaku yang kebetulan kosong, menghadapkan ke arahku hingga posisi kami berhadapan, sementara mataku mengamati pergerakan aneh untuk kesekian kali dari pemuda ganteng ini sambil terus merasakan ritme jantungku berdebar-debar tidak menentu. "Ehm, apa kau gila, kenapa duduk di sini?" Bisikku mencoba menyadarkan bahwa ini tempat kerja dan banyak pasang mata melihat kami. Rio tersenyum menatapku, "Baiklah, kalau begitu abaikan aku, kau lanjutkan saja pekerjaanmu." Rio membuka ponsel, siap berselancar di internet. Aku malas berdebat dengan Rio saat ini, tetapi ada rasa tidak nyaman mencuat di benakku, bukan karena Rio duduk di depanku mengamati kegiatanku, melainkan masih terasa bahwa orang-orang di dalam kantor memandangiku. "Kau tidak pergi?" tanyaku setelah Rio cukup lama terdiam, dia mengalihkan pandang dari ponsel. "Untuk apa Alba? Justru aku duduk di sini untuk melindungi, agar orang-orang segan padamu. Kau masih melihat mereka memandangim
Rio menatapku cukup lama, seperti mencari jejak dan tanda dalam benakku, pertanyaan sama dari Rio tentang berapa kali aku tidur bersama laki-laki lain belum terjawab, tetapi ada keyakinan mutlak bahwa dia tahu aku menyimpan banyak rahasia. Suara alarm dari ponsel Rio terdengar nyaring, membuatku terbangun dari kantukku semalaman, kuraih ponsel itu dari atas nakas lantas mematikannya . Aku menggulingkan badan ke belakang pungung, tak kudapati Rio di atas ranjang, tetapi pandanganku terhenti kala melihat pemuda ganteng ini sudah duduk di sudut kamar membelakangi posisiku. Mendengar helaan napasku, Rio menoleh, "Selamat pagi Tuan Putri, kau tidur nyenyak sekali." Rio mendekatiku dan kini duduk di tepi ranjang. Aku menguap beberapa kali, lalu mengangkat kedua tangan, jemariku reflek membentuk bujur sangkar kecil mengerakan tanganku dari ujung kepala hingga badan Rio seolah aku sedang mencari angle kamera, "Kau rajin sekali, pagi-pagi buta sudah selesai mandi." "Tentu saja, aku







