LOGINAku meneguk kopi terakhirku sebelum menjawab pertanyaan, bagian-bagian ini sungguh berat untuk kukatakan, perasan-perasaan itu masih sangat melekat diingatanku, sekujur badanku terasa mengalirkan keringat dingin terutama di sudut pelipis dahiku dan kedua lenganku, wajahku tampak sedikit kaku, sepasang mata sayuku menghadap ke bawah sesekali, kulipat lengan tanganku sehingga hawa hangat bisa mengedar ke sisi dingin tubuhku. Mengetahui perubahan badanku dan mimik wajahku yang tak asing, Rio melebarkan kedua tangannya kepadaku seolah bersiap menerima tubuhku untuk didekap senyaman mungkin. Aku menatapnya, bola mata kami saling bertautan, "Mau dipeluk dulu, sini?!" Rio meyakinkan tindakannya sepersekian detik kubamburkan kedua lenganku di atas kedua bahu kokoh Rio, kujatuhkan separuh tubuhku ke dalam dekapannya, kupejamkan mataku sejenak dan kunimmati berpelukan dengannya saat ini dalam beberapa waktu kurasakan hawa hangat tubuh pemuda ganteng ini membuatku kembali pada mode tenang, Rio m
"Aku pulang dalam kondisi tidak baik-baik saja, diiringi angin malam dan jalanan basah setelah hujan lebat, tidak ada rasa takut dalam benakku, aku tiba di rumah dalam kondisi baik, sementara Affal aku tidak tahu apakah dia kembali ke apartemen, atau memutuskan menghabiskan waktu di kedai kopi dekat lokasi terakhir kami berjumpa. "Saat sudah siang, aku baru menghubunginya, apa dia baik-baik saja, apa dia langsung pulang ke rumahnya di kabupaten Sidoarjo, atau dia tetap di satu tempat bersama orang lain, aku bertanya penuh perhatian, berharap mendapatkan jawaban baik darinya, namun seperti yang sudah berlalu, Affal mengatakan secara singkat butuh waktu dua hari tiga malam dia pulih dari rasa sakit di sekujur bandanya akibat bercinta denganku, dia memutuskan untuk menginap di kontrakan kenalannya dan tidak langsung pulang ke kota kelahiranya." "Bagaimana denganmu Alba, kondisimu jelas tidak baik-baik saja." "Emhem, butub waktu sekitar dua minggu rasa nyeri di vaginaku sembuh total
"Affal hanya memohon bantuan padaku, berharap aku bisa membantunya, tidak ada ancaman apapun darinya, bahkan pemerasan yang kurasa akan terjadi itu tak dijadikan tameng bagi pembalasan dendam padaku." "Hemm aneh, pada hatimu dia jelas-jelas menghancurkanmu, tetapi tidak pada karirmu. Dia biarkan saja, karena mungkin dia tengah sadar kamu bukanlah musuhnya, dia hadir untuk membuat hari-harimu jadi menyebalkan." Aku mengangukan kepalaku, "Benar Mas Rio, dia memang kejam, tetapi tidak lebih kejam dari seorang pembunuh.Dua bulan setelah itu, tidak ada hujan tidak ada angin, Affal mengajakku bertemu secara spontan dia katakan ingin bertemu denganku di akhir pekan tepat di minggu kedua bulan februari 2024. Tanggal merah, perayaan imlek." "Kalian bertemu lagi, untuk keempat kalinya di real life? Waah, apa ini rencana Affal untuk memikirkan kelanjutan hubungan denganmu, Alba?" "Harus aku katakan, aku tidak mengerti jalan pikiran Affal, tetapi moment itu ternyata akhir dari perjump
"Tidak mau menjawab ya?" Rio menatapku lekat. Aku tersenyum untuk menutupi kecangunganku, "Kenapa bertanya hal itu padaku? Aku tidak mau menjawab bukan karena tidak mau menjawab Mas Rio, namun aku tidak ingin membuat kalian terluka satu sama lain, beda orang beda rasa Mas, tenanglah kamu masih baik padaku." "Jawaban apa ini membingugkan, membuat saya menerka-nerka kamu puas atau tidak dengan cara saya memperlakukan kamu di atas ranjang." "Mas Rio, lupa ya? Aku teriak-teriak keenakan tempo hari, apa itu tidak bermakna untukmu?" "Oh iya ya, lantas kenapa kamu terus menceritakan detail persetubuhanmu dengan Affal di depan saya?" "Soal itu aku masih mengingatnya dengan baik, hal paling membuatku berkesan, seolah hanya aku seorang diri yang dicintai Affal. Tidak apa-apa kan membaginya bersamamu, kamu bisa bermain berkali-kali lagi denganku semaumu setelah ceritaku selesai." Rio tertawa kecil mendengar penawaran tersirat dari pernyataaanku," Baiklah, enak banget bisa bekerj
"Kalau seandainya waktu bisa diulang, kiranya saya ingin jadi figuran dalam hubungan kalian, entah itu jadi teman Affal atau temanmu, rasanya harus ada saya, Alba, untuk menghentikan kebodohan tindakan kalian, masalahnya saya datang terlambat." "Emhem, kamu tidak datang terlambat Mas Rio, kamu hadir sesudah aku menjadi pribadi kedua, tidak masalah. Meski kamu ikut terlibat di masa lalu, belum tentu kamu bisa merubah keadaan." "Baiklah, saya paham soal itu. Setelah kamu tahu bahwa Affal punya kesibukan lain selain menjadi penulis, pebisnis dan mahasiswa , bagaimana kehidupanmu Alba?" Aku tertawa samar, "Aku menjalani rutinitasku Mas Rio, seperti biasa bangun pagi, sarapan, berangkat kerja, pulang kerja, kadang-kadang aku bisa pulang lebih awal, kadang-kadang juga pulang di akhir kalau semisal ada proyek tambahan bersama guru-guru lain, saat itu aku tidak memikirkan apapun selain pekerjaan." "Bagaimana soal Affal, apa kalian masih terus berkomunikasi di tengah kepadatan dan ke
"Benar Mas Rio, dia menciptakan buku kedua berjudul Mahesa Basundara, namun tidak semeledak karya pertamanya meski akhinya ini jadi batu loncatan Affal melebarkan karirnya di platform digital lainnya. Sementara aku beralih profesi melamar sebagai guru di sekolah inilah awal perjalananku melepaskan mimpiku sebagai penulis." "Kalian sama-sama bertumbuh ya, itu sebabnya kamu suka sisi lain dari diri Affal?" "Emhem, itu benar Mas. Aku makin sayang padanya meski aku tidak lagi menulis dan masuk ke dunia yang sama dengannya." "Kamu bilang Affal melebarkan karirnya, memangnya kemana dan kenapa itu jadi alternatifnya?" "Sekitar enam bulan setelah aku memutuskan untuk tidak menulis di platform novelme, Affal menulis di platform bernama goodnovel karena lebih menjanjikan dari segi profit maupun jenjang karir sebelum persaingannya makin ketat dia sudah masuk duluan merintis di sana sampai akhirnya Novelme bangkrut dan menutup akses pada banyak penulis, singkat cerita sebagian besar mer
"Aku masih menyimpan dokumen rahasia antara aku dan Affal. Dokumen itu beris data-data pribadi Affal." "Waah, begitu ya, lalu apa yang akan kamu lakukan dengan data-data milk Affal tersebut? Apa ini termasuk pelanggaran hukum?" "Aku tidak tahu persis apakah tindakannku ini akan melanggar hukum at
Rio beranjak dari kursi, memutar badan ke arah pintu ruang wakil pimpinan dengan wajah datar dan langkah tenang, begitu tangan kanannya hendak menarik engsel pintu dia menatap wakil pimpinan, "Anda pilih saja gayanya, saya siap kapanpun anda mau bertarung." Cklek. Rio telah menutup pintu, namu
"Syafa keponakanku kelas 8E tahun ini." Nada bicara Rio sungguhan terdengar lembut di telinga. "Loh Pak, tadi aku dapat info dari Bu Iren."Aku menatap Rio yang juga menatapku. "Bu Iren mengerjaimu." "Apa? Benarkah begitu, astaga." "Based on data Alba, jangan lupakan itu." Rio mengusap pu
Rio menyeret sebuah bangku di depan mejaku yang kebetulan kosong, menghadapkan ke arahku hingga posisi kami berhadapan, sementara mataku mengamati pergerakan aneh untuk kesekian kali dari pemuda ganteng ini sambil terus merasakan ritme jantungku berdebar-debar tidak menentu. "Ehm, apa kau gila, ke







