LOGIN"Kenapa?Apa saya bikin kesalahan?"Rio menatapku dengan tatapan cemas yang entah mengapa bisa tergambar jelas di sana. Aku tertawa kecil di depannya, "Tidak ada, maksudku kenapa ekspresimu jadi begitu, sayang." "Saya rasa kamu sedang bercanda ya? Sengaja mengerjai saya dengan mengatakan kamu tidak baik-baik saja." Aku terkekeh mendengar analisanya yang tak pernah meleset, kecuali menilai hatiku. "Tuhkan ketawa lagi." Rio memberiku tatapan memuja sembari menopang belah dagunya dengan tangan kirinya. "Ganteng banget Mas Rio." Giliran aku yang membuatnya salah tingkah. "Tentu saja dan kamu satu-satunya wanita tercantik di mataku, Alba." Rio mengusap lembut pungung tanganku. "Jadi begini rasanya berkencan ala anak-anak muda manis banget kayak lagi di tengah-tengah harumnya taman bunga." "Humm, kamu enggak pernah begini?" Aku menggeleng pelan, "Belum Mas Rio." Rio tersenyum manis di depanku, "Ini pertama kalinya buatmu." "Emhem, aku tidak pernah berkencan sete
Aku menjulurkan kepalaku ke bawah tepat sedekat mungkin, hingga mulutku bisa menjangkau keperkasaan Rio. Begitu masuk dan jilatan lidahku memutarinya, lengguhan dari pemuda ganteng ini, langsung membutku bergairah juga, vaginaku ikut terangsang. "Uuhhhh emhhhh, mantap sayang!" Diantara ketegangan itu, tangan Rio mengambil dengan cepat beberapa lembar tisu, dalam lima menit cairan pelumas alaminya keluar dan tepat mengenai tisu-tisu yang dia siapkan. Aku menyandarkan badanku ke kursi mobil sembari menghela napas panjang, kami berpandangan satu sama lain dalam bebebrapa saat, kami tertawa bersama, menertawakan kebodohan sekaligus kegilaan nafsu birahi kami. "Terima kasih sayang." ujar Rio menatapku sembari tersenyum manis. "Emhem, lapar aku Mas. Bisakah kita lanjutkan perjalananya?" "Tentu saja, tetapi tunggu." Rio merapikan dressku yang terbuka dan menariknya ke atas sehingga payudaraku kembali tertutup. Dia lantas merapikan rambutku untuk kemudian merapikan sendiri
Rio menambah kecepatan mobil, setelah aku tidak lagi menimpali argumennya. Dalam kesunyian yaang sengaja diciptakan ini, aku kembali pada mode overthinkingku perihal sebaiknya hubunganku ini harus aku kemanakan. "Kamu mau mendengar lagu?" Rio menoleh sekilas padaku. "Humm, tidak perlu." "Baiklah, jangan sinis padaku Alba." "Hemm, aku biasa saja. Mas Rio yang baperan." "Ya ampun, setelah lama kupikirkan, ternyata berada di dekatmu, membuatku merasa menemukan ibu kedua selain ibuku." "Hah? Maksudkmu?" "Yups kamu mirip ibuku, Alba." "Astaga, kamu sedang ngomong apa sih, Mas?" "Saya bilang cara kamu bicara sama cerewetnya seperti ibu saya." "Humm, oke oke kalau gitu aku nggak ngomong. Awas aja setelah ini kamu ngajak aku ngomong." Aku mengeser tubuhku menghadap pintu mobil dan mengedarkan pandanganku ke luar jendela kaca mobil. "Eeeh, jangan ngambek, gitu dong sayang." Rio menyentuh lenganku, namun dengan satu tepisan saja, aku bisa menanggalkan tangan R
“Baiklah, kamu memang bisa membuat saya terkesan kali ini.” Ujarku kembali menyempurnakan make-upku. Dalam pantulan cermin di depanku, Rio sudah siap dengan agenda makan malam kami, meski kami belum lama saling berdebat, bertingkah tidak jelas, namun kerandoman ini selalu diciptakan diantara kami. Entah dari pihak Rio, maupun di pihakku. Rio mengecek arlojinya sekilas, lantas kembali menatapku, “Butuh waktu berapa lama lagi sayang?”“Hum, lima menit lagi kita berangkat ya.”“Oke.” Rio berjalan menjauhi tempat di mana aku sedang duduk di depan meja rias, dia kembali duduk di sofa dan meraih ponselnya dari atas meja.Aku mengenakan lipstick berwarna rose and shine untuk menambah kesan elegan, tidak terlalu menyala juga tidak begitu kusam, standart dan tampak kehilahan segar sperti habis makan buah naga, oh tidak. Maksudku, warna itu warna kesukaanku dan cocok sekali dengan undertone wajahku. Aku berdiri dengan gaun pilihan Rio mengecek dan merapikan bajuku serta mematut-matutkan wa
Aku masuk kamar mandi, menghela napas panjang, sebelum buang air kecil sekaligus membuang kenangan-kenangan yang diciptakan Rio selama ini. Aku tidak bohong, hubungan ini hanya akan membuatku semakin terluka, bukan jenis hubungan sehat dan layak dipertahankan. Lalu bagaimana sekarang, aku harus bisa meyakinkan Rio agar dia kembali pada kehidupan normalnya sebagai manusia dan tetap menolak ajakan gila, untuk menikah dengannya, meski ucapan pemuda ganteng itu benar-benar membuatku tersadar, tidak ada yang bisa mengendalikan hal-hal di luar kendali, aku tidak menyangkal kebenaran bahwa aku dan Affal mungkin tidak akan bisa bertemu lagi, apalagi menikah. Affal kriteriaku, sementara aku bukanlah kriterianya, aku mencintainya dengan setulus hati, dia tidak demikian, lantas mengapa aku memilih untuk tidak menikah dengan siapapun selain pria psikopat yang tidak peduli soal tangung jawab itu. Jawabannya, bukanlah perihal cintaku yang sudah habis, tetapi aku menutup luka-lukaku sendiri
Tidak sulit membuat ego laki-laki dan harga dirinya hancur, cukup selalu beri makan egonya, enakin mainanya dan turuti kemauannya. Bagaimana perihal hancurnya, terletak pada saat dia kehilangan dirimu dan tidak bisa menemukanmu lagi entah mencari keberadaanmu, atau berusaha mencarimu di dalam jiwa-jiwa wanita lainnya, mungkin jika itu ada. Aku melepaskannya saat Rio sudah ingin mencapai puncaknya, begitu mau keluar dia lari ke kamar mandi dan menumpahkan cairan pelumas alami itu di sana. Aku tertawa kecil penuh kemenangan. Itu balasan stimpal atas komentar-komentarnya terhadapku tadi. Aku berdiri kembali duduk di tepi ranjang dengan menyilangkan kedua kakiku dan merengangkan kedua tanganku di sisi kanan dan kiri badanku. Rio keluar dari kamar mandi, tampaknya dia hanya mencuci kontolnya. "Sayang, puas ya sudah ngerjain saya habis-habisan?" "Sini Mas, kenyotin susu montokku." Rio tidak berkutik, diam seribu bahasa. Dia berlutut di depanku, sembari menatap bergili







