Share

Bab 106

Penulis: Zee Alzera
last update Tanggal publikasi: 2026-04-28 20:00:04

Aku menjulurkan kepalaku ke bawah tepat sedekat mungkin, hingga mulutku bisa menjangkau keperkasaan Rio. Begitu masuk dan jilatan lidahku memutarinya, lengguhan dari pemuda ganteng ini, langsung membutku bergairah juga, vaginaku ikut terangsang.

"Uuhhhh emhhhh, mantap sayang!"

Diantara ketegangan itu, tangan Rio mengambil dengan cepat beberapa lembar tisu, dalam lima menit cairan pelumas alaminya keluar dan tepat mengenai tisu-tisu yang dia siapkan.

Aku menyandarkan badanku ke kursi mo
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 106

    Aku menjulurkan kepalaku ke bawah tepat sedekat mungkin, hingga mulutku bisa menjangkau keperkasaan Rio. Begitu masuk dan jilatan lidahku memutarinya, lengguhan dari pemuda ganteng ini, langsung membutku bergairah juga, vaginaku ikut terangsang. "Uuhhhh emhhhh, mantap sayang!" Diantara ketegangan itu, tangan Rio mengambil dengan cepat beberapa lembar tisu, dalam lima menit cairan pelumas alaminya keluar dan tepat mengenai tisu-tisu yang dia siapkan. Aku menyandarkan badanku ke kursi mobil sembari menghela napas panjang, kami berpandangan satu sama lain dalam bebebrapa saat, kami tertawa bersama, menertawakan kebodohan sekaligus kegilaan nafsu birahi kami. "Terima kasih sayang." ujar Rio menatapku sembari tersenyum manis. "Emhem, lapar aku Mas. Bisakah kita lanjutkan perjalananya?" "Tentu saja, tetapi tunggu." Rio merapikan dressku yang terbuka dan menariknya ke atas sehingga payudaraku kembali tertutup. Dia lantas merapikan rambutku untuk kemudian merapikan sendiri

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 105

    Rio menambah kecepatan mobil, setelah aku tidak lagi menimpali argumennya. Dalam kesunyian yaang sengaja diciptakan ini, aku kembali pada mode overthinkingku perihal sebaiknya hubunganku ini harus aku kemanakan. "Kamu mau mendengar lagu?" Rio menoleh sekilas padaku. "Humm, tidak perlu." "Baiklah, jangan sinis padaku Alba." "Hemm, aku biasa saja. Mas Rio yang baperan." "Ya ampun, setelah lama kupikirkan, ternyata berada di dekatmu, membuatku merasa menemukan ibu kedua selain ibuku." "Hah? Maksudkmu?" "Yups kamu mirip ibuku, Alba." "Astaga, kamu sedang ngomong apa sih, Mas?" "Saya bilang cara kamu bicara sama cerewetnya seperti ibu saya." "Humm, oke oke kalau gitu aku nggak ngomong. Awas aja setelah ini kamu ngajak aku ngomong." Aku mengeser tubuhku menghadap pintu mobil dan mengedarkan pandanganku ke luar jendela kaca mobil. "Eeeh, jangan ngambek, gitu dong sayang." Rio menyentuh lenganku, namun dengan satu tepisan saja, aku bisa menanggalkan tangan R

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 104

    “Baiklah, kamu memang bisa membuat saya terkesan kali ini.” Ujarku kembali menyempurnakan make-upku. Dalam pantulan cermin di depanku, Rio sudah siap dengan agenda makan malam kami, meski kami belum lama saling berdebat, bertingkah tidak jelas, namun kerandoman ini selalu diciptakan diantara kami. Entah dari pihak Rio, maupun di pihakku. Rio mengecek arlojinya sekilas, lantas kembali menatapku, “Butuh waktu berapa lama lagi sayang?”“Hum, lima menit lagi kita berangkat ya.”“Oke.” Rio berjalan menjauhi tempat di mana aku sedang duduk di depan meja rias, dia kembali duduk di sofa dan meraih ponselnya dari atas meja.Aku mengenakan lipstick berwarna rose and shine untuk menambah kesan elegan, tidak terlalu menyala juga tidak begitu kusam, standart dan tampak kehilahan segar sperti habis makan buah naga, oh tidak. Maksudku, warna itu warna kesukaanku dan cocok sekali dengan undertone wajahku. Aku berdiri dengan gaun pilihan Rio mengecek dan merapikan bajuku serta mematut-matutkan wa

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 103

    Aku masuk kamar mandi, menghela napas panjang, sebelum buang air kecil sekaligus membuang kenangan-kenangan yang diciptakan Rio selama ini. Aku tidak bohong, hubungan ini hanya akan membuatku semakin terluka, bukan jenis hubungan sehat dan layak dipertahankan. Lalu bagaimana sekarang, aku harus bisa meyakinkan Rio agar dia kembali pada kehidupan normalnya sebagai manusia dan tetap menolak ajakan gila, untuk menikah dengannya, meski ucapan pemuda ganteng itu benar-benar membuatku tersadar, tidak ada yang bisa mengendalikan hal-hal di luar kendali, aku tidak menyangkal kebenaran bahwa aku dan Affal mungkin tidak akan bisa bertemu lagi, apalagi menikah. Affal kriteriaku, sementara aku bukanlah kriterianya, aku mencintainya dengan setulus hati, dia tidak demikian, lantas mengapa aku memilih untuk tidak menikah dengan siapapun selain pria psikopat yang tidak peduli soal tangung jawab itu. Jawabannya, bukanlah perihal cintaku yang sudah habis, tetapi aku menutup luka-lukaku sendiri

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 102

    Tidak sulit membuat ego laki-laki dan harga dirinya hancur, cukup selalu beri makan egonya, enakin mainanya dan turuti kemauannya. Bagaimana perihal hancurnya, terletak pada saat dia kehilangan dirimu dan tidak bisa menemukanmu lagi entah mencari keberadaanmu, atau berusaha mencarimu di dalam jiwa-jiwa wanita lainnya, mungkin jika itu ada. Aku melepaskannya saat Rio sudah ingin mencapai puncaknya, begitu mau keluar dia lari ke kamar mandi dan menumpahkan cairan pelumas alami itu di sana. Aku tertawa kecil penuh kemenangan. Itu balasan stimpal atas komentar-komentarnya terhadapku tadi. Aku berdiri kembali duduk di tepi ranjang dengan menyilangkan kedua kakiku dan merengangkan kedua tanganku di sisi kanan dan kiri badanku. Rio keluar dari kamar mandi, tampaknya dia hanya mencuci kontolnya. "Sayang, puas ya sudah ngerjain saya habis-habisan?" "Sini Mas, kenyotin susu montokku." Rio tidak berkutik, diam seribu bahasa. Dia berlutut di depanku, sembari menatap bergili

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 101

    "Jangan Alba, maksudnya saya tidak mau." Aku terdiam, kututup mulutku dan menyaksikan sisa cairan Rio tumpah di tempat pertamanya tadi. Setelah itu dalam tempo lembat kulihat dia mengambil tisu basah dan kembali membersihkan badanku. "Selesai sayangku." ujar Rio duduk bersila di samping tubuhku yang masih terbaring rileks di atas ranjang. "Jam berapa sekarang Mas?" tanyaku menatapnya yang kemudian mengambil ponselnya di atas nakas. "Oh jam empat sore." "Apa? Kita tidur lama sekali berarti, kurang lebih lima jam?" "Emhem, lapar sayang?" Aku mengusap perutku, "Hehe, lapar sih Mas, mau makan di luar aja?" "Hemm, baiklah. Kalau begitu, kita siap-siap dulu." "Udah ada tempatnya?" "Ada sayang, wait." Rio membuka ponselnya dan mencari informasi terkait tempat makan tujuan kami, aku bangun dari rebahku dan duduk di sampingnya, dia lantas menunjukkannya padaku. "Raswara Coffee And Eatery." "Yups, itu tempat yang lagi viral, beberapa kali kulihat fyp di sosmed."

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status