LOGINBelakangan suasana kantor Fenomena belum berubah, meski ditinggal beberapa orang-orang penting. Benny enggan bertanya kenapa anak buahnya sudah jarang sekali terpantau duduk di tempat, atau direktur perusahaan tidak masuk kerja karena urusan lain. Peluang untuk menghancurkan kantor terbilang 99% berhasil, manakala ia mau memulainya kemarin-kemarin, tetapi Benny bukan orang licik, ia akan membalas dendamnya berhadapan satu lawan satu, tanpa sembunyi juga tanpa terang-terangan, sebab ia punya kaki tangan baru Kang Rizal. "Soal Bambina, apakah kau sudah tau pergerakannya?" Benny menyeruput kopi pemberian Kang Rizal. "Kudengar dia berhasil membuat para penjahat masuk penjara." "What?" Benny terkejut, sehingga cup kopi di tangannya hampir terjatuh. "Benar, kau masih ingat kegiatan liputan terakhir kita bersama Bambina? Pemuda yang sempat kami wawancara adalah salah satu tersangkanya." "Apa maksudmu?" Benny menatap tajam Kang Rizal. "Kami sempat mewawancara untuk mencari tahu apakah a
Alba mengikuti langkah Jay yang membawanya masuk unit, begitu sampai di depan pintu, ada sedikit keraguan untuk masuk. “Kau gadis pemberani, kau tidak takut padaku.” Jay membuka pintu menyilakan Alba untuk masuk. Perlahan tapi pasti akhirnya Alba melangkah masuk, “Aku orang tua, untuk apa aku takut padamu.” Jay menutup pintu membawa gadis kesayangan Rio ini untuk melewati sekat didinding “Wah, tidak kusangka kau kutu buku.” Alba menyentuh rak-rak buku berukuran besar dan terpampang tinggi melebihi setengah meter dari postur tubuhnya. “Apa kau terkejut?” “Tentu saja, Mr. Jay kau pandai membuat orang terkesan setelah mengenalmu lebih jauh.” Jay tersenyum lalu mengambil dua minuman bersoda dari dalam lemari pendingin, melihat Alba masih sibuk mengamati koleksi buku-bukunya, ia sama sekali tidak berpikir Alba sedang merencanakan startegi tertentu. “Kemarilah, lehermu akan patah jika terus mendongak seperti itu.” Alba menoleh lantas menghampiri Jay yang sudah duduk di sofa. “Bol
Alba membalikan badan, mendapati Rio menatapnya. "Apa yang harus aku lakukan? Jika terus begini, aku tidak tahu cara melepasmu." Belah tangan Alba menyusuri wajah pemuda tampan. Rio menyandarkan tangan Alba di atas pipinya,"Kau pasti bisa cepat melupakanku. Jangan menangis, apa kau tahu kau sangat jelek saat menangis? Hidungmu merah seperti tomat.” Rio menarik hidung menggemaskan Alba yang tidak seberapa mancungnya itu. “Aku akan mandi duluan.” Rio beranjak turun dari ranjang, segera bergegas masuk kamar mandi.Alba perlahan turun dari ranjang, meski tubuhnya tidak sama sekali terasa sakit, perasaanya begitu berkecamuk. Ia kembali keluar kamar dan berdiri di depan jendela, pemandangan matahari terbit di depannya sangat indah, ia takjub sendiri. Beberapa saat, sebelum akhirnya ia tidak bisa berbohong perutnya berbunyi. Narrel masuk dapur, ia berjinjit sambil berusaha membuka rak di atasnya. Barangkali, ia dapatkan mi instan atau apapun itu yang bisa mengganjal perutnya. “Aaagh, da
Rio segera beranjak membuka pintu apartemen, begitu pintu terbuka tidak ada orang, tetapi hanya sebuah karangan bunga, kening Tristan mengernyit, ia baru pertama kali dikirimi hadiah aneh.Alba yang masih duduk di atas ranjang segera mendekati Tristan. “Apa yang terjadi? Wow, kau mendapat karangan bunga?” “Aneh,” desis Rio membuka penutup plastik lalu membaca pengirimnya. Benny Aluwi. “Untuk apa Benny mengirimimu bunga krisan ini?” Narrel bertanya penasaran. Rio tidak menjawab, ia langsung membuang hadiah itu ke tempat sampah. Menarik tangan Alba untuk kemudian duduk bersama di sofa. “Kau tidak perlu tahu, lupakan soal hadiah konyol itu dan mari fokus tentang Naura.” “Baiklah.” Alba bersila di atas sofa sambil menatap lurus-lurus sepasang mata meneduhkan yang membuat detak jantungnya berdebar-debar. “Sebelum aku menceritakan detail kejadian Naura, ada sesuatu yang membuatku ganjil belakangan ini.” “Emhem, katakanlah.” “Naura mengigitku dan bekas lukanya masih ada sampai seka
“Berhentilah mengumpat bosmu, sudah tentu benar aku mengirimmu, apa pemikiranmu hanya soal kekesalan?” Tristan menambah laju kecepatan mobilnya.“Riioo! Apa kau mau membunuhku!” Teriak Alba keras-keras, yang sama sekali tidak dipedulikan Rio. Begitu menemui satu perhentian lampu merah, Rio mengendurkan laju mobilnya. Ia tertawa melihat Alba kehabisan napas.Alba tidak lagi bisa mendebat. Begitu rambu lalu lintas menghijau, Rio berbelok ke kiri, Alba tidak familiar dengan kawasan tersebut, tetapi ia memiliki firasat buruk.Raut wajah Rio berubah dingin, ia terus melanjukan mobilnya hingga menemui dua belokan, ia mengambil arah kanan jalan.“Kau tidak akan membawaku ke apartemen, kan?”“Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, bisakah kau temaniku untuk malam ini saja?” Rio melepaskan seatbelt yang masih melingkar di badan Alba, untuk kemudian megajak Alba untuk turun dari mobil.Pemandangan yang asing bagi Alba, sebab ia baru pertama kali menjejakkan kaki di apartermen semegah istana layak
Dua bulan berlalu, tanpa ada kabar apapun dari Affal, jika Alba tak menghubungi maka Affal takkan menghubungi, samar-samar terdengar dari benak Alba, seperti apa kehidupan Affal di kampus, mengapa ia sama sibuknya seperti rutinitas yang Alba lakukan setiap hari, ia memang tidak haus perhatian Affal, hanya saja hubungan ini tidak punya kejelasan sedari awal "Apa kau sibuk?" Alba mendongakan kepala mendapati rekan kerjanya menyapa. "Tidak juga, aku akan masuk kelas pukul 10 ada apa?" Alba menarik kursi lain agar temannya bisa duduk "Tidak ada, kau masih suka menulis di web novel?" Alba tersenyum,"Tidak seintens dulu," "Aku suka membaca tulisanmu di website sekolah, kau berbakat." Alba cukup risih saat orang lain memuji karya tulisnya, sebab ia tak lebih pandai dari Affal, padahal jelas Alba lulusan sarjana sastra indonesia, sementara Affal menempuh sastra arab, tetapi potensi Affal sangat terlihat saat pertama kali Alba membaca karya Affal berjudul Bidadari Turun Dari Surga,







