MasukRio menatapku cukup lama, seperti mencari jejak dan tanda dalam benakku, pertanyaan sama dari Rio tentang berapa kali aku tidur bersama laki-laki lain belum terjawab, tetapi ada keyakinan mutlak bahwa dia tahu aku menyimpan banyak rahasia.
Suara alarm dari ponsel Rio terdengar nyaring, membuatku terbangun dari kantukku semalaman, kuraih ponsel itu dari atas nakas lantas mematikannya . Aku menggulingkan badan ke belakang pungung, tak kudapati Rio di atas ranjang, tetapi pandanganku terhenti kala melihat pemuda ganteng ini sudah duduk di sudut kamar membelakangi posisiku. Mendengar helaan napasku, Rio menoleh, "Selamat pagi Tuan Putri, kau tidur nyenyak sekali." Rio mendekatiku dan kini duduk di tepi ranjang. Aku menguap beberapa kali, lalu mengangkat kedua tangan, jemariku reflek membentuk bujur sangkar kecil mengerakan tanganku dari ujung kepala hingga badan Rio seolah aku sedang mencari angle kamera, "Kau rajin sekali, pagi-pagi buta sudah selesai mandi." "Tentu saja, aku bukan tipikal pemalas Alba, apakah aku tipe pria idamanmu?" Rio mengedipkan sebelah matanya bermaksud menggodaku. "Astaga, kau percaya diri sekali." Aku mengibaskan selimut yang menutupi sebagian tubuhku dan berdiri di depan Rio, "Kau mandilah, aku akan reservasi tempat makan di dekat sini, sebelum kita berangkat kerja," ujarnya sembari meraih ponsel. "Siap laksanakan!" Aku kembali mengangkat tanganku, memberi Rio hormat seperti hormat pada pembina upacara. Tempat makan pilihan Rio betulan dekat dari lokasi hotel, tidak begitu ramai pada saat aku dan Rio datang, entah karena baru buka atau orang-orang masih terlelap tidur, setelah kulirik arlojiku barulah aku tahu ini masih pukul 06.00 pagi. Rio memesan fillet mignon, scrambled eggs dan smoothie bowl, mataku sontak berbinar menatap makanan mewah itu. "Selera makanmu baik sekali, Pak Rio. Kau sering datang ke sini?" Aku bertanya sembari mencoba mengulik relasi pertemanan Rio. "Tidak Alba, hanya sesekali aku datang ke sini saat perjamuan makan dengan kenalanku." Rio menyilakanku untuk mulai makan, aku mengunyah makanan dengan tenang dengan terus berbicara, "Orang lain menyebut kawan, saudara, keluarga. Kenalanmu berarti hanya sebatas kenal?" Rio menatapku, "Yup, kenalanku di akademi crypto." Aku menganguk pelan, tidak lagi melanjutkan pembicaraan untuk menghindari rasa kepo berlebihan hingga agenda sarapan pagi bersama Rio selesai. Rio mengantarku sampai tempat parkir mobil, sebelum berpamitan, dia menyerahkan map segel berwarna abu padaku dan mengatakan untuk lebih dulu mempelajari dokumen kontrak yang sudah dia salin menjadi tulisan ketikan. Aku menerima map tersebut lantas melajukan mobilku membelah jalanan padat menuju tempat kerja. Sengaja berpisah sementara dengan Rio untuk menghindari kecurigaan orang-orang kantor. Aku tiba di kantor, tampak orang-orang berdatangan satu per satu, meski posisi meja kerjaku ada di pojok kiri paling belakang, orang-orang masih menyapaku beberapa mengajakku berjabat tangan. Dua puluh menit berlalu dan Rio masih belum datang, aku mendadak mencemaskan pemuda ganteng ini, jangan-jangan dia tersesat, tetapi mana mungkin bukankah kemarin dia tiba duluan di hotel. Aku merogoh ponsel di dalam saku baju seragamku, mencari kontak Rio dan ketemu, aku baru saja ingin memencet tombol calling, namun terdengar suara langkah seseorang dari arah pintu. Rio melambaikan tangan padaku sambil melempar senyum sebelum bersalaman dengan bapak-bapak senior di kantor. Pemandangan aneh ini jelas membuat ibu-ibu senior di kantor memandangiku, aku menundukkan kepala berpura-pura tidak melihat gerakan Rio tadi, kulihat sesaat mereka bergeming dan aku berusaha untuk fokus pada pekerjaanku hari ini. "Kau baru datang Pak Rio?" ujar Salma di depan meja kerja Rio sambil menenteng tumblr berstiker nailong. Rio tersenyum diiringi anggukan pelan, "Kau mau aku mengisi tumblrmu?" Salma tertawa kecil, ada binar di manik matanya, aku dapat menangkap dia sangat menikmati perhatian kecil Rio. "Bu Alba," Rio memanggilku, sontak aku mengalihkan pandanganku dari layar laptop "Kau mau kubuatkan kopi?" Mendengar Rio menawariku sesuatu tak jauh berbeda, raut wajah Salma mendadak kecut, dia memberiku tatapan tajam tak mengenakkan. "A-apa, baiklah." Ucapku terbata, Rio bangkit dari duduknya meraih tumblr Salma dan mengisi air dalam mesin dispenser di belakang meja kerjanya, kejadian itu berlangsung singkat dan Salma kembali duduk di tempat. Rio membuka loker di bawah meja, mengambil dua gelas unik tradisional berwarna hijau ukuran kecil dan menuang dua sendok bubuk kopi pada masing-masing gelas, dia berjalan ke dapur umum untuk meminta seduhan air panas asli dari kompor. Darpik sudah hafal benar kebiasaan Rio, tetapi kemudian pertanyaan muncul, "Pak Rio, tumben membuat dua gelas kopi yang satu untuk siapa?" "Bu Alba, dia ingin mencoba kopi buatanku." Mendengar namaku disebut Rio, kini giliran Darpik tertegun, sebab kenyataan ini janggal bagi orang-orang kantor, bagaimana bisa dua orang dingin dan cuek ini akhirnya bisa bersahabat. "Ooh begitu, maafkan aku." Darpik melanjutkan pekerjaan dapur menyisakan Rio yang kini menuang air secara perlahan lalu mengaduk kopi dengan rasa cinta. Bau aroma kopi buatan Rio menguar ke sudut ruang guru, terutama di meja kerja Alba saat ini. "Selamat menikmati kopi buatanku Bu Alba, jangan lupa nanti kasih rating yang bagus ya." Rio menatapku penuh kesenangan, senyumnya manis sekali dapat kurasakan dia tulus membagi kebiasaanya denganku, apa ini arti dari pertemanan dengan keuntungan itu. Aku menganguk saja dan mengucapkan terima kasih. Rio kembali duduk dan membuka laptop, memulai pekerjaan dengan menyelesaikan deadline rencana pembelajaran sepekan kedepan. Mata Rio baru saja fokus memperhatikan sub-sub materi untuk bahan ajarnya, namun ibu-ibu senior tak jauh dari mejaku tiba-tiba berseru, "Saya nggak dibuatkan kopi juga Mas Rio?" Rio menoleh, "Maaf Bu, stok kopinya sudah habis." "Ya ampun, bisa begitu ya?" "Mau cicipin punya saya Bu?" Tawarku dengan cepat berusaha menghormati seniorku. "Aduh, jadi ngerepotin kamu, nggak deh saya bisa beli sendiri." Mendengar kalimat terakhir yang keluar dari seniorku, dadaku sedikit nyeri, aku bermaksud baik tetapi dia kerap meremehkanku. Aku menyeruput sedikit kopi buatan Rio, alamak enak sekali rasanya, "Wuuh enak banget Pak Rio." Aku menatap Rio dengan tersenyum puas sambil mengangkat gelas unik berisi kopi tersebut. "Terima kasih Bu Alba. Jika kau mau lagi, aku akan buatkan." "Loh tadi katanya sudah habis kopinya, gimana sih Pak Rio." Sahut, seniorku yang mendengar percakapanku dengan Rio. "Ya ampun Bunda, maksud saya enggak hari ini, besok-besok kalau gitu saya buka kedai kopi di sini." Rio tertawa terbahak menatap seniorku tanpa beban, dia santai menghadapi, sementara seniorku kembali memberiku tatapan tajam penuh kebencian. Aku berusaha menghindari konflik dan mengalihkan pandang, tetapi Rio malah berdiri mendekatiku.Semburat merah merona di wajahku saat ini tentu saja tak bisa kututupi, "Pak Rio, kendalikan tingkahmu," lirihku saat kulihat beberapa orang berdiri mengamati kami berjalan beriringan dengan tetap bergandengan tangan dari depan kantor ruang pimpinan, ruang tata usaha, lapangan dan ruang guru. Rio seperti tak mendengarku berbicara, dia terus menuntunku hingga masuk ruang guru, mengabaikan semua orang tanpa takut akan dihujat warga sekolah. Begitu aku duduk di kursi, Rio menatapku, pandangan meneduhkan itu langsung otomatis menghipnotis seluruh pusat indraku menjadikan diriku tunduk tanpa perlawanan. Rio bergerak mengelilingi kursi kerjaku lalu berdiri tepat di belakangku sambil sedikit membungkukan badan menyentuh pungung kursi, dengan suara tegas namun enak didengar di telingga, Rio membuat jantungku berdebar-debar tidak karuhan, "Kita bukan anak kecil lagi Alba, jadi kurasa kita harus memberitahu kabar bahagia ini." Pandangan Rio mengedar ke segala arah, para wakil pimpinan s
"Ceritakan sosok mantan kekasihmu." Rio menatapku lekat, aku mengalihkan pandangan lantas mengambil kursi, kami duduk berhadapan sekarang dengan jarak yang cukup dekat namun nyaman kurasakan. Aku tersenyum sembari memandangi ranum wajah pemuda ganteng pujaan wanita-wanita sekantor ini yang telah mencuri perhatianku dan menikmati tubuhku dalam beberapa waktu kebelakang. "Tentu, saya akan bercerita, tapi sebelum itu saya ingin Pak Rio menjelaskan, apa yang mendasari Pak Rio ingin saya menceritakan sosok mantan." Aku memutar otak agar bisa memperlambat sensasi kepalaku yang ingin meledak karena membuka luka batinku. "Saya menyangkal dugaan terhadap kamu Alba, tetapi melihat tanda-tanda di tubuh kamu, saya tak bisa menyembunyikan fakta, mungkin itulah salah satu alasan mengapa kamu tidak menjawab pertanyaan saya sebelumnya terkait berapa kali kamu pernah tidur dengan lelaki lain." Rio terdengar menghakimiku, tetapi sebenarnya dia sudah menganalisaku sejak jauh hari sebelum be
"Syafa keponakanku kelas 8E tahun ini." Nada bicara Rio sungguhan terdengar lembut di telinga. "Loh Pak, tadi aku dapat info dari Bu Iren."Aku menatap Rio yang juga menatapku. "Bu Iren mengerjaimu." "Apa? Benarkah begitu, astaga." "Based on data Alba, jangan lupakan itu." Rio mengusap pungung tanganku perlahan lantas memberi kecupan kecil di sana, menyalurkan kehangatan sekaligus keintiman yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. "Kau memang benar, seharusnya tadi aku membuka website dan daftar nama-nama siswa terlebih dahulu, tetapi aku malah mengacak-acak dokumen di dalam lokerku." "Tapi sudah selesai bukan?" "Sudah sih, tapi capek sekali." Rio menarik tangan, menyuruhku untuk duduk di bangku yang baru saja dia duduki, tanpa perlawanan aku menurut. Dia berdiri tepat dibelakangku lantas meletakan kedua tangan di atas pundakku, kurasakan pijatan-pijatan keci dari jemari besarnya "Sebelah sini," aku menyentuh belah tangan Rio lantas mengesernya ke bahu kiriku.
Aku meniup debu yang menutupi kotak kecil itu dengan tenaga dalam dan mengetuk-ngetuknya di atas meja, aku lupa apa isi dalam kotak tersebut, mengapa juga ada di dalam lokerku, aku agak lupa karena tersembunyi di antara tumpukan dokumen-dokumen administrasi sekolah. "Kau sedang apa Bu Alba?" tanya rekan kerja sebangkuku melihat meja kami berantakan karena aku baru saja membongkar isi lokerku. Tanganku tertahan tidak jadi membuka kotak misterius, menyimpannya kembali ke dalam loker. "Maaf ya Bu, meja kita jadi berantakan." Aku berusaha membereskan dokumenku yang memakan tempat agar rekan kerja sebangkuku bisa menaruh tasnya. "Nggak papa kok Bu Alba, setelah ini saya masuk kelas, ini tadi nengok teman-teman saja di sini." Aku melempar senyum ke arahnya, lantas masih terus mencari daftar kontak wali murid kelas 8E di mana aku pernah menjadi wali kelas. "Sedang mencari apa Bu?" "Daftar kontak wali murid kelas lama Bu, kebetulan tadi wali kelas 9E minta data rapor siswa
Rio menyeret sebuah bangku di depan mejaku yang kebetulan kosong, menghadapkan ke arahku hingga posisi kami berhadapan, sementara mataku mengamati pergerakan aneh untuk kesekian kali dari pemuda ganteng ini sambil terus merasakan ritme jantungku berdebar-debar tidak menentu. "Ehm, apa kau gila, kenapa duduk di sini?" Bisikku mencoba menyadarkan bahwa ini tempat kerja dan banyak pasang mata melihat kami. Rio tersenyum menatapku, "Baiklah, kalau begitu abaikan aku, kau lanjutkan saja pekerjaanmu." Rio membuka ponsel, siap berselancar di internet. Aku malas berdebat dengan Rio saat ini, tetapi ada rasa tidak nyaman mencuat di benakku, bukan karena Rio duduk di depanku mengamati kegiatanku, melainkan masih terasa bahwa orang-orang di dalam kantor memandangiku. "Kau tidak pergi?" tanyaku setelah Rio cukup lama terdiam, dia mengalihkan pandang dari ponsel. "Untuk apa Alba? Justru aku duduk di sini untuk melindungi, agar orang-orang segan padamu. Kau masih melihat mereka memandangim
Rio menatapku cukup lama, seperti mencari jejak dan tanda dalam benakku, pertanyaan sama dari Rio tentang berapa kali aku tidur bersama laki-laki lain belum terjawab, tetapi ada keyakinan mutlak bahwa dia tahu aku menyimpan banyak rahasia. Suara alarm dari ponsel Rio terdengar nyaring, membuatku terbangun dari kantukku semalaman, kuraih ponsel itu dari atas nakas lantas mematikannya . Aku menggulingkan badan ke belakang pungung, tak kudapati Rio di atas ranjang, tetapi pandanganku terhenti kala melihat pemuda ganteng ini sudah duduk di sudut kamar membelakangi posisiku. Mendengar helaan napasku, Rio menoleh, "Selamat pagi Tuan Putri, kau tidur nyenyak sekali." Rio mendekatiku dan kini duduk di tepi ranjang. Aku menguap beberapa kali, lalu mengangkat kedua tangan, jemariku reflek membentuk bujur sangkar kecil mengerakan tanganku dari ujung kepala hingga badan Rio seolah aku sedang mencari angle kamera, "Kau rajin sekali, pagi-pagi buta sudah selesai mandi." "Tentu saja, aku







