Share

Bab 6

Author: Zee Alzera
last update publish date: 2026-02-19 14:32:14

Rio menatapku cukup lama, seperti mencari jejak dan tanda dalam benakku, pertanyaan sama dari Rio tentang berapa kali aku tidur bersama laki-laki lain belum terjawab, tetapi ada keyakinan mutlak bahwa dia tahu aku menyimpan banyak rahasia.

Suara alarm dari ponsel Rio terdengar nyaring, membuatku terbangun dari kantukku semalaman, kuraih ponsel itu dari atas nakas lantas mematikannya .

Aku menggulingkan badan ke belakang pungung, tak kudapati Rio di atas ranjang, tetapi pandanganku terhenti kala melihat pemuda ganteng ini sudah duduk di sudut kamar membelakangi posisiku. Mendengar helaan napasku, Rio menoleh, "Selamat pagi Tuan Putri, kamu tidur nyenyak sekali." Rio mendekatiku dan kini duduk di tepi ranjang.

Aku menguap beberapa kali, lalu mengangkat kedua tangan, jemariku reflek membentuk bujur sangkar kecil mengerakan tanganku dari ujung kepala hingga badan Rio seolah aku sedang mencari angle kamera, "Kau rajin sekali, pagi-pagi buta sudah selesai mandi."

"Tentu saja, saya bukan tipikal pemalas Alba, apakah saya tipe pria idamanmu?" Rio mengedipkan sebelah matanya bermaksud menggodaku.

"Astaga, kau percaya diri sekali." Aku mengibaskan selimut yang menutupi sebagian tubuhku dan berdiri di depan Rio, "Kamu mandilah, saya akan reservasi tempat makan di dekat sini, sebelum kita berangkat kerja," ujarnya sembari meraih ponsel.

"Siap laksanakan!" Aku kembali mengangkat tanganku, memberi Rio hormat seperti hormat pada pembina upacara.

Tempat makan pilihan Rio betulan dekat dari lokasi hotel, tidak begitu ramai pada saat aku dan Rio datang, entah karena baru buka atau orang-orang masih terlelap tidur, setelah kulirik arlojiku barulah aku tahu ini masih pukul 06.00 pagi.

Rio memesan fillet mignon, scrambled eggs dan smoothie bowl, mataku sontak berbinar menatap makanan mewah itu.

"Selera makanmu baik sekali, Pak Rio. Kau sering datang ke sini?"

Aku bertanya sembari mencoba mengulik relasi pertemanan Rio.

"Tidak Alba, hanya sesekali saya datang ke sini saat perjamuan makan dengan kenalan."

Rio menyilakanku untuk mulai makan, aku mengunyah makanan dengan tenang sambil terus berbicara, "Orang lain menyebut kawan, saudara, keluarga. Kenalanmu berarti hanya sebatas kenal?"

Rio menatapku, "Yup, kenalanku di akademi crypto."

Aku menganguk pelan, tidak lagi melanjutkan pembicaraan untuk menghindari rasa kepo berlebihan hingga agenda sarapan pagi bersama Rio selesai.

Rio mengantarku sampai tempat parkir mobil, sebelum berpamitan, dia menyerahkan map segel berwarna abu padaku dan mengatakan untuk lebih dulu mempelajari dokumen kontrak yang sudah dia salin menjadi tulisan ketikan.

Aku menerima map tersebut lantas melajukan mobilku membelah jalanan padat menuju tempat kerja. Sengaja berpisah sementara dengan Rio untuk menghindari kecurigaan orang-orang kantor.

Aku tiba di kantor, tampak orang-orang berdatangan satu per satu, meski posisi meja kerjaku ada di pojok kiri paling belakang, orang-orang masih menyapaku beberapa mengajakku berjabat tangan.

Dua puluh menit berlalu dan Rio masih belum datang, aku mendadak mencemaskan pemuda ganteng ini, jangan-jangan dia tersesat, tetapi mana mungkin bukankah kemarin dia tiba duluan di hotel.

Aku merogoh ponsel di dalam saku baju seragamku, mencari kontak Rio dan ketemu, aku baru saja ingin memencet tombol calling, namun terdengar suara langkah seseorang dari arah pintu.

Rio melambaikan tangan padaku sambil melempar senyum sebelum bersalaman dengan bapak-bapak senior di kantor. Pemandangan aneh ini jelas membuat ibu-ibu senior di kantor memandangiku, aku menundukkan kepala berpura-pura tidak melihat gerakan Rio tadi, kulihat sesaat mereka bergeming dan aku berusaha untuk fokus pada pekerjaanku hari ini.

"Kau baru datang Pak Rio?" ujar Salma di depan meja kerja Rio sambil menenteng tumblr berstiker nailong.

Rio tersenyum diiringi anggukan pelan, "Kau mau aku mengisi tumblrmu?"

Salma tertawa kecil, ada binar di manik matanya, aku dapat menangkap dia sangat menikmati perhatian kecil Rio.

"Bu Alba," Rio memanggilku, sontak aku mengalihkan pandanganku dari layar laptop

"Kau mau kubuatkan kopi?" Mendengar Rio menawariku sesuatu tak jauh berbeda, raut wajah Salma mendadak kecut, dia memberiku tatapan tajam tak mengenakkan.

"A-apa, baiklah." Ucapku terbata, Rio bangkit dari duduknya meraih tumblr Salma dan mengisi air dalam mesin dispenser di belakang meja kerjanya, kejadian itu berlangsung singkat dan Salma kembali duduk di tempat.

Rio membuka loker di bawah meja, mengambil dua gelas unik tradisional berwarna hijau ukuran kecil dan menuang dua sendok bubuk kopi pada masing-masing gelas, dia berjalan ke dapur umum untuk meminta seduhan air panas asli dari kompor. Darpik sudah hafal benar kebiasaan Rio, tetapi kemudian pertanyaan muncul, "Pak Rio, tumben membuat dua gelas kopi yang satu untuk siapa?"

"Bu Alba, dia ingin mencoba kopi buatan saya."

Mendengar namaku disebut Rio, kini giliran Darpik tertegun, sebab kenyataan ini janggal bagi orang-orang kantor, bagaimana bisa dua orang dingin dan cuek ini akhirnya bisa bersahabat. "Ooh begitu, maafkan aku." Darpik melanjutkan pekerjaan dapur menyisakan Rio yang kini menuang air secara perlahan lalu mengaduk kopi dengan rasa cinta.

Bau aroma kopi buatan Rio menguar ke sudut ruang guru, terutama di meja kerjaku saat ini.

"Selamat menikmati kopi buatan saya Bu Alba, jangan lupa nanti kasih rating yang bagus ya."

Rio menatapku penuh kesenangan, senyumnya manis sekali dapat kurasakan dia tulus membagi kebiasaanya denganku, apa ini arti dari pertemanan dengan keuntungan itu.

Aku menganguk saja dan mengucapkan terima kasih. Rio kembali duduk dan membuka laptop, memulai pekerjaan dengan menyelesaikan deadline rencana pembelajaran sepekan kedepan.

Mata Rio baru saja fokus memperhatikan sub-sub materi untuk bahan ajarnya, namun ibu-ibu senior tak jauh dari mejaku tiba-tiba berseru, "Saya nggak dibuatkan kopi juga Mas Rio?"

Rio menoleh, "Maaf Bu, stok kopinya sudah habis."

"Ya ampun, bisa begitu ya?"

"Mau cicipin punya saya Bu?" Tawarku dengan cepat berusaha menghormati seniorku.

"Aduh, jadi ngerepotin kamu, nggak deh saya bisa beli sendiri."

Mendengar kalimat terakhir yang keluar dari seniorku, dadaku sedikit nyeri, aku bermaksud baik tetapi dia kerap meremehkanku.

Aku menyeruput sedikit kopi buatan Rio, alamak enak sekali rasanya, "Wuuh enak banget Pak Rio." Aku menatap Rio dengan tersenyum puas sambil mengangkat gelas unik berisi kopi tersebut.

"Terima kasih Bu Alba. Jika kamu mau lagi, saya akan buatkan."

"Loh tadi katanya sudah habis kopinya, gimana sih Pak Rio." Sahut, seniorku yang mendengar percakapanku dengan Rio.

"Ya ampun Bunda, maksud saya enggak hari ini, besok-besok kalau gitu saya buka kedai kopi di sini." Rio tertawa terbahak menatap seniorku tanpa beban, dia santai menghadapi, sementara seniorku kembali memberiku tatapan tajam penuh kebencian. Aku berusaha menghindari konflik dan mengalihkan pandang, tetapi Rio malah berdiri mendekatiku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 105

    Rio menambah kecepatan mobil, setelah aku tidak lagi menimpali argumennya. Dalam kesunyian yaang sengaja diciptakan ini, aku kembali pada mode overthinkingku perihal sebaiknya hubunganku ini harus aku kemanakan. "Kamu mau mendengar lagu?" Rio menoleh sekilas padaku. "Humm, tidak perlu." "Baiklah, jangan sinis padaku Alba." "Hemm, aku biasa saja. Mas Rio yang baperan." "Ya ampun, setelah lama kupikirkan, ternyata berada di dekatmu, membuatku merasa menemukan ibu kedua selain ibuku." "Hah? Maksudkmu?" "Yups kamu mirip ibuku, Alba." "Astaga, kamu sedang ngomong apa sih, Mas?" "Saya bilang cara kamu bicara sama cerewetnya seperti ibu saya." "Humm, oke oke kalau gitu aku nggak ngomong. Awas aja setelah ini kamu ngajak aku ngomong." Aku mengeser tubuhku menghadap pintu mobil dan mengedarkan pandanganku ke luar jendela kaca mobil. "Eeeh, jangan ngambek, gitu dong sayang." Rio menyentuh lenganku, namun dengan satu tepisan saja, aku bisa menanggalkan tangan R

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 104

    “Baiklah, kamu memang bisa membuat saya terkesan kali ini.” Ujarku kembali menyempurnakan make-upku. Dalam pantulan cermin di depanku, Rio sudah siap dengan agenda makan malam kami, meski kami belum lama saling berdebat, bertingkah tidak jelas, namun kerandoman ini selalu diciptakan diantara kami. Entah dari pihak Rio, maupun di pihakku. Rio mengecek arlojinya sekilas, lantas kembali menatapku, “Butuh waktu berapa lama lagi sayang?”“Hum, lima menit lagi kita berangkat ya.”“Oke.” Rio berjalan menjauhi tempat di mana aku sedang duduk di depan meja rias, dia kembali duduk di sofa dan meraih ponselnya dari atas meja.Aku mengenakan lipstick berwarna rose and shine untuk menambah kesan elegan, tidak terlalu menyala juga tidak begitu kusam, standart dan tampak kehilahan segar sperti habis makan buah naga, oh tidak. Maksudku, warna itu warna kesukaanku dan cocok sekali dengan undertone wajahku. Aku berdiri dengan gaun pilihan Rio mengecek dan merapikan bajuku serta mematut-matutkan wa

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 103

    Aku masuk kamar mandi, menghela napas panjang, sebelum buang air kecil sekaligus membuang kenangan-kenangan yang diciptakan Rio selama ini. Aku tidak bohong, hubungan ini hanya akan membuatku semakin terluka, bukan jenis hubungan sehat dan layak dipertahankan. Lalu bagaimana sekarang, aku harus bisa meyakinkan Rio agar dia kembali pada kehidupan normalnya sebagai manusia dan tetap menolak ajakan gila, untuk menikah dengannya, meski ucapan pemuda ganteng itu benar-benar membuatku tersadar, tidak ada yang bisa mengendalikan hal-hal di luar kendali, aku tidak menyangkal kebenaran bahwa aku dan Affal mungkin tidak akan bisa bertemu lagi, apalagi menikah. Affal kriteriaku, sementara aku bukanlah kriterianya, aku mencintainya dengan setulus hati, dia tidak demikian, lantas mengapa aku memilih untuk tidak menikah dengan siapapun selain pria psikopat yang tidak peduli soal tangung jawab itu. Jawabannya, bukanlah perihal cintaku yang sudah habis, tetapi aku menutup luka-lukaku sendiri

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 102

    Tidak sulit membuat ego laki-laki dan harga dirinya hancur, cukup selalu beri makan egonya, enakin mainanya dan turuti kemauannya. Bagaimana perihal hancurnya, terletak pada saat dia kehilangan dirimu dan tidak bisa menemukanmu lagi entah mencari keberadaanmu, atau berusaha mencarimu di dalam jiwa-jiwa wanita lainnya, mungkin jika itu ada. Aku melepaskannya saat Rio sudah ingin mencapai puncaknya, begitu mau keluar dia lari ke kamar mandi dan menumpahkan cairan pelumas alami itu di sana. Aku tertawa kecil penuh kemenangan. Itu balasan stimpal atas komentar-komentarnya terhadapku tadi. Aku berdiri kembali duduk di tepi ranjang dengan menyilangkan kedua kakiku dan merengangkan kedua tanganku di sisi kanan dan kiri badanku. Rio keluar dari kamar mandi, tampaknya dia hanya mencuci kontolnya. "Sayang, puas ya sudah ngerjain saya habis-habisan?" "Sini Mas, kenyotin susu montokku." Rio tidak berkutik, diam seribu bahasa. Dia berlutut di depanku, sembari menatap bergili

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 101

    "Jangan Alba, maksudnya saya tidak mau." Aku terdiam, kututup mulutku dan menyaksikan sisa cairan Rio tumpah di tempat pertamanya tadi. Setelah itu dalam tempo lembat kulihat dia mengambil tisu basah dan kembali membersihkan badanku. "Selesai sayangku." ujar Rio duduk bersila di samping tubuhku yang masih terbaring rileks di atas ranjang. "Jam berapa sekarang Mas?" tanyaku menatapnya yang kemudian mengambil ponselnya di atas nakas. "Oh jam empat sore." "Apa? Kita tidur lama sekali berarti, kurang lebih lima jam?" "Emhem, lapar sayang?" Aku mengusap perutku, "Hehe, lapar sih Mas, mau makan di luar aja?" "Hemm, baiklah. Kalau begitu, kita siap-siap dulu." "Udah ada tempatnya?" "Ada sayang, wait." Rio membuka ponselnya dan mencari informasi terkait tempat makan tujuan kami, aku bangun dari rebahku dan duduk di sampingnya, dia lantas menunjukkannya padaku. "Raswara Coffee And Eatery." "Yups, itu tempat yang lagi viral, beberapa kali kulihat fyp di sosmed."

  • Jangan Minta Jatuh Cinta   Bab 100

    Aku harus berubah, lebih mencintai diriku sendiri sehingga kutemukan tujuan hidupku selain daripada menyayangi orang-orang terdekatku dan kucing-kucingku selalu selamanya begitu. Jika pada akhirnya kutemukan cinta baru, aku akan lebih bisa menjaga diriku, meletakkan logika berpikirku di atas perasan kasihan, perasaan sayang dan segala jenis perasaan-perasaanku pada orang yang mencintaiku. Biar mereka mencintaiku lebih besar dan menghargai peranku sebagai wanita membawa value diri dan bukan untuk direndahkan sebagai pelampiasan nafsu. Aku gila seks, namun aku tidak pernah berniat menjual diriku pada laki-laki lain, selain orang yang kucintai baik dengan ketulusan cinta maupun kesenangan nafsu belaka. Jika suatu saat nanti Affal membaca bukuku ini, semoga dia akan memahamiku, bahwa tokoh Rio yang kuciptakan ini, adalah figur kesenjangan antara relitas dan imajinasiku perihal manusia di sekitarku termasuk adegan-adegan yang buat dalam alur cerita ini adalah bentuk representasi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status