LOGINAndini tak sadarkan diri.
Dia mendadak pingsan. Alasan yang membuat Andini pingsan bukan karena dia sedang sakit seperti yang dikatakan oleh Radit dan Tiara. Melainkan sejak pagi dia sama sekali memang belum makan, bukankah seharian ini dia dikurung oleh ibunya? Perutnya yang kosong membuatnya lemas. Hal ini lah yang menjadi salah satu penyebab pingsannya Andini. Selain itu faktor dari beban pikiran dan tekanan yang terus menerus dihadapinya semua ini membuat tubuhnya kian terasa lemah. Lagi-lagi takdir kehidupan kembali menguji hatinya, disaat Andini sudah bertekad ingin mendapatkan kebebasan, disaat yang bersamaan juga dia harus kembali menghadapi situasi yang tidak menguntungkan untuk dirinya. Bagaimana tidak, dengan pingsannya Andini seperti ini, tentu saja Radit dan Tiara yang mendapatkan keuntungan. Tanpa perlu keduanya bersusah payah lagi untuk menjelaskan, dengan sendirinya semua alibi yang diberikan oleh Radit dan Tiara, seolah-olah menjadi benar adanya. “Andini .…” panggil Ken cepat, ketika tubuh Andini tiba-tiba limbung. Refleks, pria itu langsung menangkapnya sebelum sempat tubuh semampai itu jatuh menyentuh lantai. “Andin!” Radit dan Tiara serentak ikut berteriak, meski nada mereka terdengar lebih mengarah kepada panik karena situasi, bukan karena benar-benar khawatir pada keadaan Andini. Wajah Andini pucat pasi, bibirnya juga sedikit membiru. “Andini, bangun.” Ken menepuk pelan pipi Andini, berharap Andini bisa sadar akan tetapi mata Andini tetap terpejam. “Dia pingsan,” ujar Ken dengan suara tegas. “Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang.” Kini tubuh Andini sudah berada dalam gendongan Ken. Saat mendengar penuturan itu, dengan gerak cepat tangan Radit ingin mengambil alih tubuh Andini. “Pak Ken, biar saya saja yang membawanya kerumah sakit. Saya suaminya, biar saya yang urus.” ucap Radit cepat. Setidaknya dengan permintaan ini, Radit bisa menemukan celah untuk menghindar dari kecurigaan dan pertanyaan Ken lebih dalam lagi. Sementara Ken, dia masih menatap Radit dengan ekspresi tak percaya. Tapi akhirnya, perlahan dia menyerahkan Andini ke pelukan Radit. Tatapannya turun pada wajah Andini yang tak sadarkan diri, lalu kembali pada Radit. “Lain kali, jaga istrimu baik-baik, jika dia sedang nggak enak badan jangan dipaksakan untuk ikut menghadiri pesta.” katanya tajam. Radit hanya mengangguk. Akan tetapi sebelum tubuhnya berbalik, Ken kembali berkata, “Ben, pastikan Bu Andini selamat sampai kerumah sakit.” Seketika Tiara menyentuh lengan Radit, memberikan isyarat pada Radit untuk segera menolak. “Pak Ken, terima kasih sebelumnya. Saya rasa anda nggak perlu repot-repot. Sepertinya saya bisa meminta bantuan kakak ipar untuk ….” Ken menatap Radit tajam, “Dia tamu di pesta ini. Aku ingin semua tamu Angkasa Khile Corp mendapatkan pelayanan terbaik.” tuturnya tegas tak ingin dibantah. Melihat tatapan tajam Kenzo, Tiara kembali memberikan isyarat pada Radit, dengan menarik pelan ujung lengan jas Radit. “Ya sudah, terima saja tawaran itu, jangan sampai membuatnya marah terlebih lagi curiga.” seolah kata ini yang ingin diucapkan oleh Tiara, akan tetapi semuanya hanya tertahan ditengorokan. “Baiklah pak, terimakasih atas bantuannya. Maaf merepotkan.” ucap Radit sedikit gugup. “Ben, segera hubungi staf hotel dan pihak rumah sakit terdekat, pastikan jika tidak ada satupun wartawan yang bisa meliput kejadian ini.” Ben mengangguk patuh lalu bergegas menjalankan perintah. “Kalian, tunggu di sini saja.” Selesai berkata Ken langsung memutar tubuhnya. Begitu Kenzo dan Bendi menghilang di balik lorong hotel yang temaram, baik Tiara ataupun Radit keduanya langsung menarik napas lega. Hufss “Ternyata kita masih beruntung Radit, kalau tadi Pak Ken sampai curiga, bisa habis karir kita berdua.” bisiknya pelan takut jika sampai ucapannya kedengaran orang lain. “Ya, kamu benar sayang.” katanya pelan, suaranya nyaris seperti desis ular. Radit menatap Andini yang pingsan dalam pelukannya, lalu berpindah menatap ponsel Andini yang hancur di lantai. “Sayang, buruan kamu bereskan serpihan dari ponsel Andini yang terjatuh itu. Jangan sampai barang bukti itu ditemukan oleh orang lain.” perintah Radit. Dengan gerak cepat Tiara langsung memasukan ponsel itu ke dalam tasnya. “Dasar ya kamu itu Andin, belum mati saja tingkah kamu selalu menyusahkan orang disekitarmu.” omel pelan Tiara yang terlihat kesal. “Sabar sayang, setelah tujuan kita berhasil, secepat mungkin kita akan singkirkan parasit ini beserta keluarganya dari kehidupan kita.” tutur Radit. Mata keduanya terlihat berkilat tajam, sambil kedua bibir mereka menyunggingkan senyum penuh misteri. Akan tetapi mereka tidak tahu, jika di balik tirai kaca berlapis kristal yang memisahkan lorong itu di dalam ruang khusus nya, ada sepasang mata tajam sedang memperhatikan mereka. Tatapan itu milik seorang pria berwajah teduh, berjas hitam pekat, dengan ekspresi yang nyaris tanpa emosi.Naren masih duduk di sisi ranjang Andini. Perempuan yang selama ini menjadi rumah bagi jiwanya kini terbaring pucat, nafasnya pelan namun teratur.Monitor jantung di samping ranjang berbunyi ritmis, seperti pengingat bahwa hidup masih bertahan untuk saat ini.Naren mengusap punggung tangan Andini perlahan.“Maaf,” bisiknya lagi, lebih lirih dari sebelumnya. “Semua ini seharusnya nggak pernah menyentuhmu dan anak kita.”Matanya memejam sesaat. Di kepalanya, wajah Widia muncul tanpa diundang. Senyum tenang yang selalu menyimpan niat. Perempuan yang bertahun-tahun disebut sebagai pelindung keluarga, padahal sejatinya adalah algojo paling berbahaya.Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan. Panggilan masuk dari nomor milik Kenzo, sahabat sekaligus tangan kanannya“Bos,” suara Kenzo terdengar tegang, “Saya ingin menginformasikan bahwa ada permintaan resmi dari lembaga psikologi untuk memeriksa kondisi mental Jessica.”Naren langsung berdiri.“Apa maksud mereka?”“Permintaan itu dat
Dimanapun adanya, rumah sakit tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu saja ada suara langkah tergesa, mesin yang berdetak tanpa emosi, dan doa-doa yang hanya berani diucapkan dalam hati. Naren terlihat sedang duduk kaku di kursi lorong lantai tiga, menatap pintu ruang observasi yang sejak satu jam lalu seolah menelan Andini. Lampu indikator di atas pintu masih menyala merah. Menandakan jika keadaan belum aman. Tangannya saling menggenggam, kuat, seolah jika dilepas sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Jas mahal yang biasanya melekat rapi di tubuhnya kini terlihat kusut. Sedangkan dasi yang biasanya tergantung rapi kini sudah dilepas entah sejak kapan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naren Khile merasa tidak berdaya. “Pak Naren.” Dia menoleh cepat. Dokter spesialis kandungan yang menangani Andini kini berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya terlihat profesional, tapi sorot matanya memancarkan kejujuran yang terlalu jujur. “Kondisi istri Anda, saat i
Suara mesin monitor medis berdetak pelan di ruang ICU, ritmenya stabil tapi terasa kejam bagi telinga Naren. Setiap bunyi bip seperti pengingat bahwa satu detik saja keterlambatan bisa merenggut segalanya.Andini terbaring di atas ranjang putih dengan tubuh yang tampak terlalu kecil untuk semua selang dan kabel yang menempel padanya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan kedua matanya terpejam rapat seolah berusaha menahan rasa sakit bahkan dalam tidur.Tangan kanannya terhubung dengan infus.Tangan kirinya kosong.Naren berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan itu dengan kedua telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya gemetar. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia tidak mencoba terlihat kuat.“Maaf,” bisiknya.Suaranya hampir tenggelam oleh dengung alat medis.Maaf karena terlalu percaya bahwa semua bisa dihadapi dengan kepala dingin.Maaf karena berpikir bahwa kebenaran cukup dicari, bukan diperjuangkan.Maaf karena membiarkan orang-orang yang dia cintai menjadi tameng
Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, seperti mata-mata yang mengawasi setiap sudut kota.Di ruang rawat inapnya Jessica duduk di sofa dengan selimut tipis melingkari tubuhnya. Lampu ruang tamu sengaja diredupkan. Televisi menyala tanpa suara, menampilkan berita malam yang terus mengulang namanya bahkan foto wajahnya.Kenzo berdiri di dekat jendela, ponsel menempel di telinga sejak sepuluh menit lalu.“Iya,” katanya pendek.Jeda.“Nggak, dia nggak keluar sejak sore.”Jeda lagi. “Baik. Terima kasih.”Kenzo mematikan panggilan dan menoleh ke arah Jessica.“Mereka mulai bergerak,” katanya tenang, tapi rahangnya mengeras. “Dua orang asing yang dianggap mencurigakan terlihat mondar-mandir di lorong rumah sakit sejak satu jam lalu.”Jessica tidak terlihat terkejut.“Aku sudah menduga,” jawabnya pelan. “Musuh kita bukan tipe yang menunggu sampai pagi.”Kenzo mendekat. “Kita bisa pindah rumah sakit untuk sementara.” Kenzo kembali mengulangi ucapannya.Jessica menggeleng. “Itu yang mereka
Nama Jessica Parker kembali memenuhi layar-layar digital kota Kurta. Bukan dengan simpati. Bukan dengan empati.Melainkan dengan tudingan yang dibungkus rapi oleh kata-kata bernada netral.“Korban Diduga Alami Trauma Berat, Kesaksiannya Tidak Konsisten.”“Sidang Ditunda, Publik Pertanyakan Kredibilitas Korban.”“Ahli Psikologi mengatakan jika Korban Bisa Terdistorsi.”Jessica membaca semua itu dari layar ponselnya tanpa berkedip. Tangannya mendadak jadi dingin. Dadanya seketika terasa sesak. Tapi bukan karena sedih. Karena marah.Dia duduk di kursi dekat jendela ruang rawat inap rumah sakit. Di luar, matahari bersinar terang, terlalu terang untuk suasana batinnya yang gelap. Burung-burung terbang bebas, dunia terus berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.Seperti tubuhnya tidak pernah dilanggar.Seperti hidupnya tidak pernah diremukkan.“Mereka benar-benar berani,” gumam Jessica pelan.Bukan Jefry yang dia benci.Bukan pula sidang yang kacau itu.Yang dia benci adalah cara mere
Cafe Jasmine, Pukul DelapanPagi di kota Kurta selalu dimulai dengan kesibukan yang teratur. Kendaraan berlalu-lalang, orang-orang berjalan dengan tujuan, dan kafe-kafe mulai membuka tirai kaca mereka satu per satu. Akan tetapi, di sudut jalan kecil dekat taman kota, Cafe Jasmine berdiri seperti ruang waktu yang terpisah dari hiruk-pikuk itu.Jam dinding menunjukkan pukul delapan tepat ketika Naren mendorong pintu kaca kafe tersebut.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan.Aroma kopi pahit dan bunga melati yang menjadi ciri khas tempat itu menyambut indera penciumannya. Cafe Jasmine tidak ramai. Hanya ada tiga meja yang terisi, dua diantaranya oleh pasangan lansia yang tampak menikmati pagi dengan sunyi, dan satu lagi oleh seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang duduk membelakangi jendela.Naren berhenti melangkah. Itu pasti dia.Pria itu mengenakan kemeja abu-abu sederhana, tanpa jas, tanpa atribut mencolok. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Punggungnya sedikit membun







