MasukKenzo Davidson.
Dia adalah tangan kanan Angkasa Khile Corp, perusahaan nomor satu di Kurta, sekaligus pihak yang saat mengundang mereka untuk jamuan makan malam penting. Baru mendengar namanya saja, semua itu cukup membuat banyak orang menahan napas, apalagi jika sampai berhadapan secara langsung dengannya pada situasi seperti ini. Sosok dingin itu mampu mengubah arah hidup seseorang hanya dengan satu keputusan saja. Semua darah di wajah Radit seolah surut bersamaan dengan kesadarannya akan siapa sosok di depannya. Tangan Radit masih terperangkap di genggaman Kenzo. Cengkeraman itu kuat, tapi tidak kasar. Tegas, seolah memberi peringatan bahwa satu gerakan salah, maka dunia Radit akan runtuh di tempat seketika itu juga. Sorot matanya tajam, akan tetapi berwibawa, sikap dinginnya memancarkan kuasa penuh yang ikut membuat udara di ruangan itu mendadak berubah tegang seketika. “Kalau kau memang laki-laki sejati,” ucap Ken dengan nada dingin namun berwibawa, “Jangan berani-berani mengangkat tanganmu pada perempuan. Apalagi di tempat ini.” Tatapan tajam itu berpindah ke Andini yang masih mematung dengan wajah yang pucat dan tubuh yang gemetar. Andini hanya terpaku. Pandangannya bergantian antara Ken dan Radit. Ken kembali sedikit menoleh, menatap Andini sekilas. “Apa kamu baik-baik saja?” suaranya menurun, lebih lembut, tapi masih bergetar dengan sisa amarah yang tertahan. Andini hanya mengangguk pelan. Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara yang keluar. Tiara yang sejak tadi berdiri di ambang pintu tampak menahan napas. Matanya membulat penuh keterkejutan saat menyadari siapa pria itu. Dia sama sekali tidak menyangka jika pria berpengaruh itu lah yang akan muncul di detik genting seperti ini. Menyadari situasi makin genting, Tiara buru-buru melangkah maju, menenangkan diri dan menata ekspresinya. “Pa-pak Ken … maaf,” katanya terbata-bata, lalu bibirnya tersenyum kaku. “I-ini, sebenarnya hanya salah paham. Tadi itu Pak Radit, nggak bermaksud apa-apa, kok. Saat ini istri beliau sedang kurang sehat, jadi ….” Akan tetapi sebelum Tiara menyelesaikan kalimatnya, mata Ken langsung menatapnya tajam. Lalu dengan seketika itu juga, Ken menghempaskan tangan Radit yang masih berada dalam genggamannya. Dalam hatinya dia bertanya-tanya. “Kenapa Tiara bisa berada di sini? Dan kenapa dia bisa bersama Raditya Mahesa? Apa mungkin mereka saling kenal?” Ken menatap curiga. “Kurang sehat? Benarkah itu?” suaranya sinis, dingin penuh kewaspadaan. “Benar, pak. Sumpah saya berkata jujur.” ucap Tiara tegas, raut wajah tanpa ragu. “Jujur kacang ijo maksudnya pak.” batin Tiara menjawab. “Lalu Bu Tiara, mengapa kamu bisa berada disini? Bukankah seharusnya kamu berada di tengah pesta untuk menyambut tamu?” Duarrr Sontak saja pertanyaan singkat itu membuat Tiara tersentak dan seketika kehilangan kata. Tiara merasa seolah-olah saja seperti ada petir berkekuatan besar yang mendadak bergemuruh di sekelilingnya. Sebagai tangan kanan Angkasa Khile Corp, Ken tahu siapa yang seharusnya hadir malam ini. Tiara seharusnya duduk di meja eksekutif bersama divisi hukum lainnya, bukan berdiri di pojok ruangan kamar hotel bersama Radit dalam jarak sedekat itu. Tiara benar-benar bingung harus menjawab apa. Solusi terbaiknya adalah diam, daripada nantinya dia akan salah berbicara dan memperkeruh suasana. Radit yang menyadari jika saat ini mereka sedang terjebak pada situasi genting, segera menarik napas, mencoba menenangkan diri. Walau sesekali tangan kirinya masih terlihat mengusap pergelangan tangan kanannya, yang terasa sakit akibat dari cengkeraman tangan kokoh milik Ken. Radit berusaha menampilkan senyum diplomatis, senyum penuh kepalsuan yang biasanya selalu berhasil menipu siapapun yang melihatnya. “Ma-maaf, Pak Ken. Sebenarnya ini hanya salah paham,” katanya cepat. “Tadi saya hanya khawatir karena melihat wajah istri saya yang terlihat pucat, jadi saya berniat untuk memeriksa keningnya. Tapi mungkin saja, gerakan tangan saya yang panik itu telah disalah artikan oleh, Pak Ken.” “I-iya pak, betul itu. Karena khawatir melihat keadaan istri pak Radit, saya berinisiatif untuk membawa istri pak Radit beristirahat di ruangan ini.” tutur Tiara membantu Radit memberikan alibi. Sementara Andini kian terpaku dalam kebingungannya, untuk pertama kalinya, dia melihat Raditya Mahesa dan Tiara Hilton yang selama ini terkenal begitu angkuh, kini terlihat begitu gugup dan sangat ketakutan seperti ini. Mendengar penuturan keduanya, tentu saja Ken tidak langsung mempercayai begitu saja. Ken menatap Radit dan Tiara secara bergantian. Seolah ingin menelanjangi kebohongan yang terbungkus rapi di balik nada lembut dan wajah tenang yang ditampilkan keduanya itu. Ken yakin jika ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka. Dan nalurinya mengatakan, jika ini bukan sekadar kebetulan untuk menunjukkan ruangan untuk beristirahat Andini saja. Tatapan mata Ken beralih pada Andini, seolah dia ingin memastikan kebenaran itu. Sayangnya karena Andini masih merasa bingung dan syok dengan situasi yang ada, Andini tidak menyangkal dan tidak juga mengiyakan semua alibi yang diberikan oleh dua sejoli yang kini tampak panik dan ketakutan itu. Keheningan terasa menusuk. Hanya suara napas Andini yang terdengar semakin berat. Andini merasa jika tubuhnya saat ini semakin terasa ringan, kakinya seolah kian lemas dan tak mampu menopang berat dari tubuhnya sendiri. Samar-samar pandangannya mulai kabur. Suara di sekitarnya seolah semakin jauh, menghilang satu per satu.Naren masih duduk di sisi ranjang Andini. Perempuan yang selama ini menjadi rumah bagi jiwanya kini terbaring pucat, nafasnya pelan namun teratur.Monitor jantung di samping ranjang berbunyi ritmis, seperti pengingat bahwa hidup masih bertahan untuk saat ini.Naren mengusap punggung tangan Andini perlahan.“Maaf,” bisiknya lagi, lebih lirih dari sebelumnya. “Semua ini seharusnya nggak pernah menyentuhmu dan anak kita.”Matanya memejam sesaat. Di kepalanya, wajah Widia muncul tanpa diundang. Senyum tenang yang selalu menyimpan niat. Perempuan yang bertahun-tahun disebut sebagai pelindung keluarga, padahal sejatinya adalah algojo paling berbahaya.Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan. Panggilan masuk dari nomor milik Kenzo, sahabat sekaligus tangan kanannya“Bos,” suara Kenzo terdengar tegang, “Saya ingin menginformasikan bahwa ada permintaan resmi dari lembaga psikologi untuk memeriksa kondisi mental Jessica.”Naren langsung berdiri.“Apa maksud mereka?”“Permintaan itu dat
Dimanapun adanya, rumah sakit tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu saja ada suara langkah tergesa, mesin yang berdetak tanpa emosi, dan doa-doa yang hanya berani diucapkan dalam hati. Naren terlihat sedang duduk kaku di kursi lorong lantai tiga, menatap pintu ruang observasi yang sejak satu jam lalu seolah menelan Andini. Lampu indikator di atas pintu masih menyala merah. Menandakan jika keadaan belum aman. Tangannya saling menggenggam, kuat, seolah jika dilepas sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Jas mahal yang biasanya melekat rapi di tubuhnya kini terlihat kusut. Sedangkan dasi yang biasanya tergantung rapi kini sudah dilepas entah sejak kapan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naren Khile merasa tidak berdaya. “Pak Naren.” Dia menoleh cepat. Dokter spesialis kandungan yang menangani Andini kini berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya terlihat profesional, tapi sorot matanya memancarkan kejujuran yang terlalu jujur. “Kondisi istri Anda, saat i
Suara mesin monitor medis berdetak pelan di ruang ICU, ritmenya stabil tapi terasa kejam bagi telinga Naren. Setiap bunyi bip seperti pengingat bahwa satu detik saja keterlambatan bisa merenggut segalanya.Andini terbaring di atas ranjang putih dengan tubuh yang tampak terlalu kecil untuk semua selang dan kabel yang menempel padanya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan kedua matanya terpejam rapat seolah berusaha menahan rasa sakit bahkan dalam tidur.Tangan kanannya terhubung dengan infus.Tangan kirinya kosong.Naren berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan itu dengan kedua telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya gemetar. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia tidak mencoba terlihat kuat.“Maaf,” bisiknya.Suaranya hampir tenggelam oleh dengung alat medis.Maaf karena terlalu percaya bahwa semua bisa dihadapi dengan kepala dingin.Maaf karena berpikir bahwa kebenaran cukup dicari, bukan diperjuangkan.Maaf karena membiarkan orang-orang yang dia cintai menjadi tameng
Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, seperti mata-mata yang mengawasi setiap sudut kota.Di ruang rawat inapnya Jessica duduk di sofa dengan selimut tipis melingkari tubuhnya. Lampu ruang tamu sengaja diredupkan. Televisi menyala tanpa suara, menampilkan berita malam yang terus mengulang namanya bahkan foto wajahnya.Kenzo berdiri di dekat jendela, ponsel menempel di telinga sejak sepuluh menit lalu.“Iya,” katanya pendek.Jeda.“Nggak, dia nggak keluar sejak sore.”Jeda lagi. “Baik. Terima kasih.”Kenzo mematikan panggilan dan menoleh ke arah Jessica.“Mereka mulai bergerak,” katanya tenang, tapi rahangnya mengeras. “Dua orang asing yang dianggap mencurigakan terlihat mondar-mandir di lorong rumah sakit sejak satu jam lalu.”Jessica tidak terlihat terkejut.“Aku sudah menduga,” jawabnya pelan. “Musuh kita bukan tipe yang menunggu sampai pagi.”Kenzo mendekat. “Kita bisa pindah rumah sakit untuk sementara.” Kenzo kembali mengulangi ucapannya.Jessica menggeleng. “Itu yang mereka
Nama Jessica Parker kembali memenuhi layar-layar digital kota Kurta. Bukan dengan simpati. Bukan dengan empati.Melainkan dengan tudingan yang dibungkus rapi oleh kata-kata bernada netral.“Korban Diduga Alami Trauma Berat, Kesaksiannya Tidak Konsisten.”“Sidang Ditunda, Publik Pertanyakan Kredibilitas Korban.”“Ahli Psikologi mengatakan jika Korban Bisa Terdistorsi.”Jessica membaca semua itu dari layar ponselnya tanpa berkedip. Tangannya mendadak jadi dingin. Dadanya seketika terasa sesak. Tapi bukan karena sedih. Karena marah.Dia duduk di kursi dekat jendela ruang rawat inap rumah sakit. Di luar, matahari bersinar terang, terlalu terang untuk suasana batinnya yang gelap. Burung-burung terbang bebas, dunia terus berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.Seperti tubuhnya tidak pernah dilanggar.Seperti hidupnya tidak pernah diremukkan.“Mereka benar-benar berani,” gumam Jessica pelan.Bukan Jefry yang dia benci.Bukan pula sidang yang kacau itu.Yang dia benci adalah cara mere
Cafe Jasmine, Pukul DelapanPagi di kota Kurta selalu dimulai dengan kesibukan yang teratur. Kendaraan berlalu-lalang, orang-orang berjalan dengan tujuan, dan kafe-kafe mulai membuka tirai kaca mereka satu per satu. Akan tetapi, di sudut jalan kecil dekat taman kota, Cafe Jasmine berdiri seperti ruang waktu yang terpisah dari hiruk-pikuk itu.Jam dinding menunjukkan pukul delapan tepat ketika Naren mendorong pintu kaca kafe tersebut.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan.Aroma kopi pahit dan bunga melati yang menjadi ciri khas tempat itu menyambut indera penciumannya. Cafe Jasmine tidak ramai. Hanya ada tiga meja yang terisi, dua diantaranya oleh pasangan lansia yang tampak menikmati pagi dengan sunyi, dan satu lagi oleh seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang duduk membelakangi jendela.Naren berhenti melangkah. Itu pasti dia.Pria itu mengenakan kemeja abu-abu sederhana, tanpa jas, tanpa atribut mencolok. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Punggungnya sedikit membun







