Share

Bab 6. Kenangan

Penulis: Andriani _Rieni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-23 23:42:45

Setelah kepergian Andini, Naren menuju kantornya.

Seharian ini ia tampak murung. Dari lantai tiga puluh dua, lewat jendela besar ruang kerjanya, matanya menatap kosong keluar jendela.

Dari tempatnya berdiri mobil-mobil yang bergerak di jalan raya, tampak seperti semut kecil yang sedang berbaris rapi.

Langit di luar berwarna abu-abu, warna yang sama dengan perasaannya setiap kali Naren mengingat masa dua tahun lalu.

Hari ketika dia meninggalkan Andini tanpa sempat mengucap selamat tinggal.

Selama ini kenangan itu selalu hadir disetiap mimpi, seakan saja menolak untuk pergi.

Naren masih mengingat jelas. Saat itu, dia berlari kecil menuju taman kampus, membawa sesuatu yang disembunyikan di balik jaketnya, kotak kecil berisi kalung emas, dengan liontin bermata berlian yang didesain khusus berbentuk bunga tabebuya ungu, bunga kesukaan Andini.

Waktu itu seharusnya menjadi hari bersejarah. Di mana dia akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya.

Walau perkenalannya dengan Andini cukup singkat, akan tetapi Naren yakin jika Andini adalah wanita yang tepat untuknya melabuhkan hati.

Akan tetapi, langkahnya mendadak terhenti ketika ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar membuat jantungnya menciut. “Kakek.”

Suara di seberang sana parau, nyaris tak terdengar.

“Naren ... pulanglah. Waktu Kakek nggak banyak. Aku ingin kau yang melanjutkan perusahaan keluarga.”

Kalimat itu sederhana, tapi mengandung beban sebesar gunung.

Begitu telepon ditutup, dunia seakan berhenti berputar. Sang waktu mengubah semua mimpi indahnya.

Menit itu juga, tanpa sempat menjelaskan apapun pada Andini, Naren dipaksa terbang ke luar negeri.

Dirinya bahkan tidak memiliki nomor ponsel Andini, karena selama seminggu kebersamaan mereka, tak satupun dari keduanya berpikir untuk bertukar kontak. 

Seolah keduanya merasa jika mereka akan selalu bertemu dan tak akan terpisahkan.

Cerita yang cukup singkat akan tetapi menorehkan kenangan manis dan juga pahit di hatinya yang terdalam.

Jika waktu bisa diulang, Naren ingin memilih cinta, bukan takhta. Tapi waktu tak pernah mau bernegosiasi dengan penyesalan.

Kini, dua tahun berlalu.

Andini telah menjadi milik orang lain. Tapi saat Naren kembali melihatnya, entah mengapa sorot mata yang terpancar dari tatapan Andini itu sama persis seperti Naren pertama kali bertemu dengannya, penuh luka dan senyum yang dipaksa supaya terlihat bahagia.

Naren tahu, jika orang yang sangat dicintainya itu saat ini sedang dalam dilema dia hanya berpura-pura untuk menutupi kesedihannya.

Naren menyesal.

Tentu saja dia sangat menyesal, karena telah pergi tanpa pamit dan kini membiarkan takdir mempertemukan mereka dalam keadaan sesakit ini.

Tangannya terkepal.

“Aku harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupmu selama dua tahun ini, Andini.”

Ketukan pintu pelan terdengar, membuyarkan lamunan panjang Naren.

“Masuk,” ucapnya tanpa menoleh.

Ken melangkah masuk, membawa sebuah berkas tebal dan tablet di tangannya. “Maaf mengganggu, Bos.”

Naren hanya menoleh sedikit, tatapannya masih kosong kearah luar jendela. “Kamu sudah dapat informasinya, Ken?” tanyanya datar.

Ken mengangguk. “Tentu saja sudah, bos.”

Ken menarik kursi yang persis berada di depan meja kerja Naren, lalu Ken duduk sambil tangannya meletakkan beberapa dokumen yang harus ditandatangani Naren.

“Bos, coba lihat ini.” Ken mengulir laptopnya lalu meminta Naren untuk menatap layar laptop yang dibawah olehnya.

Naren mendekat, lalu duduk persis di seberang meja berdepanan dengan tempat Ken duduk.

“Suaminya, Raditya Mahesa. Direktur utama Mahesa Group. Dia termasuk dalam jajaran pengusaha muda yang sukses, dan juga dia dikenal sebagai figur publik yang karismatik.” Ken memutar posisi laptopnya persis menghadap Naren.

“Saat ini, Radit sedang mempersiapkan diri untuk pencalonannya sebagai kepala daerah di Kurta. Tapi, ada sesuatu yang nggak banyak orang tahu tentang kehidupan pribadinya.”

Naren menyipitkan mata. “Apa itu?”

“Dia terlalu ambisius dan tempramental. Radit memiliki kendali penuh terhadap istrinya. Semua jadwal, pertemuan, bahkan pakaian yang dikenakan istrinya semuanya diatur olehnya. Rumah tangga keduanya dari luar terlihat sempurna, tapi kenyataannya berbeda.”

Ken berhenti sejenak, menatap ekspresi Naren yang mulai mengeras. “Ada juga rumor internal dari pegawai rumah tangganya. Katanya, sebagai seorang istri Andini hanya dituntut untuk patuh dan setia, walaupun ….”

“Walaupun, apa?! Katakan saja.” tutur Naren semakin penasaran.

“Walaupun, Andini tahu jika suaminya sudah menduakan cintanya.”

Naren mengepalkan tangannya di atas meja. Rahangnya mengeras.

“Dia ... masih sama seperti dulu,” gumamnya lirih. “Selalu menuruti keinginan orang lain dan patuh meski hatinya sendiri hancur.”

Ken melanjutkan, “Keluarganya juga bukan tanpa masalah. Kakaknya, Arya suka mengkonsumsi obat terlarang bahkan dikenal cukup kasar dan sering bergonta-ganti pasangan. Dia selalu memanfaatkan nama Raditya untuk menekan Andini. Dan yang lebih menyedihkan, kedua orang tuanya seakan tutup mata dengan semua penderitaan yang Andini alami itu.”

Ruangan menjadi sunyi. Naren menunduk, menatap jemarinya sendiri. Dalam hatinya, ada perasaan campur aduk antara kemarahan dan sesal.

Andini dulu pernah bilang dengan senyum yang dipaksakan bahwa dia tidak pernah merasa cukup baik untuk siapapun, bahkan untuk dirinya sendiri.

Dan sekarang, dua tahun kemudian, kata-kata itu seperti doa buruk yang menjadi kenyataan.

Mendengar semuanya, bagian terdalam dari diri Naren bergejolak dan marah. Ia ingin menghancurkan semua yang menyakiti Andini, tapi bagian lainnya sadar, jika dia bukan siapa-siapa.

“Ken,” suara Naren berat, “Aku ingin tahu lebih banyak. Kumpulkan semua informasi yang bisa kau temukan tentang kehidupan rumah tangga mereka. Tapi lakukan diam-diam dan rapi. Aku nggak mau Andini salah paham dengan semua ini.”

Ken mengangguk, “Baik, Bos.”

Akan tetapi, baru beberapa langkah Ken melangkahkan kaki ia kembali memutar tubuhnya.

“Oh iya bos, ada satu informasi penting yang hampir lupa aku sampaikan.”

“Apa itu katakan, Ken.”

“Ternyata Raditya Mahesa, juga ikut menghadiri undangan pesta makan malam Angkasa Khile Corp.”

Mendengar penuturan Ken, Naren tersenyum misterius.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Salahkan Aku Mencintainya    Bab 137. Titik Jatuh

    Naren masih duduk di sisi ranjang Andini. Perempuan yang selama ini menjadi rumah bagi jiwanya kini terbaring pucat, nafasnya pelan namun teratur.Monitor jantung di samping ranjang berbunyi ritmis, seperti pengingat bahwa hidup masih bertahan untuk saat ini.Naren mengusap punggung tangan Andini perlahan.“Maaf,” bisiknya lagi, lebih lirih dari sebelumnya. “Semua ini seharusnya nggak pernah menyentuhmu dan anak kita.”Matanya memejam sesaat. Di kepalanya, wajah Widia muncul tanpa diundang. Senyum tenang yang selalu menyimpan niat. Perempuan yang bertahun-tahun disebut sebagai pelindung keluarga, padahal sejatinya adalah algojo paling berbahaya.Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan. Panggilan masuk dari nomor milik Kenzo, sahabat sekaligus tangan kanannya“Bos,” suara Kenzo terdengar tegang, “Saya ingin menginformasikan bahwa ada permintaan resmi dari lembaga psikologi untuk memeriksa kondisi mental Jessica.”Naren langsung berdiri.“Apa maksud mereka?”“Permintaan itu dat

  • Jangan Salahkan Aku Mencintainya    Bab 136. Pelarian adalah ilusi

    Dimanapun adanya, rumah sakit tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu saja ada suara langkah tergesa, mesin yang berdetak tanpa emosi, dan doa-doa yang hanya berani diucapkan dalam hati. Naren terlihat sedang duduk kaku di kursi lorong lantai tiga, menatap pintu ruang observasi yang sejak satu jam lalu seolah menelan Andini. Lampu indikator di atas pintu masih menyala merah. Menandakan jika keadaan belum aman. Tangannya saling menggenggam, kuat, seolah jika dilepas sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Jas mahal yang biasanya melekat rapi di tubuhnya kini terlihat kusut. Sedangkan dasi yang biasanya tergantung rapi kini sudah dilepas entah sejak kapan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naren Khile merasa tidak berdaya. “Pak Naren.” Dia menoleh cepat. Dokter spesialis kandungan yang menangani Andini kini berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya terlihat profesional, tapi sorot matanya memancarkan kejujuran yang terlalu jujur. “Kondisi istri Anda, saat i

  • Jangan Salahkan Aku Mencintainya    Bab 135. Pemberontakan Karina

    Suara mesin monitor medis berdetak pelan di ruang ICU, ritmenya stabil tapi terasa kejam bagi telinga Naren. Setiap bunyi bip seperti pengingat bahwa satu detik saja keterlambatan bisa merenggut segalanya.Andini terbaring di atas ranjang putih dengan tubuh yang tampak terlalu kecil untuk semua selang dan kabel yang menempel padanya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan kedua matanya terpejam rapat seolah berusaha menahan rasa sakit bahkan dalam tidur.Tangan kanannya terhubung dengan infus.Tangan kirinya kosong.Naren berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan itu dengan kedua telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya gemetar. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia tidak mencoba terlihat kuat.“Maaf,” bisiknya.Suaranya hampir tenggelam oleh dengung alat medis.Maaf karena terlalu percaya bahwa semua bisa dihadapi dengan kepala dingin.Maaf karena berpikir bahwa kebenaran cukup dicari, bukan diperjuangkan.Maaf karena membiarkan orang-orang yang dia cintai menjadi tameng

  • Jangan Salahkan Aku Mencintainya    Bab 134. Teror

    Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, seperti mata-mata yang mengawasi setiap sudut kota.Di ruang rawat inapnya Jessica duduk di sofa dengan selimut tipis melingkari tubuhnya. Lampu ruang tamu sengaja diredupkan. Televisi menyala tanpa suara, menampilkan berita malam yang terus mengulang namanya bahkan foto wajahnya.Kenzo berdiri di dekat jendela, ponsel menempel di telinga sejak sepuluh menit lalu.“Iya,” katanya pendek.Jeda.“Nggak, dia nggak keluar sejak sore.”Jeda lagi. “Baik. Terima kasih.”Kenzo mematikan panggilan dan menoleh ke arah Jessica.“Mereka mulai bergerak,” katanya tenang, tapi rahangnya mengeras. “Dua orang asing yang dianggap mencurigakan terlihat mondar-mandir di lorong rumah sakit sejak satu jam lalu.”Jessica tidak terlihat terkejut.“Aku sudah menduga,” jawabnya pelan. “Musuh kita bukan tipe yang menunggu sampai pagi.”Kenzo mendekat. “Kita bisa pindah rumah sakit untuk sementara.” Kenzo kembali mengulangi ucapannya.Jessica menggeleng. “Itu yang mereka

  • Jangan Salahkan Aku Mencintainya    Bab 133. Widia mulai retak.

    Nama Jessica Parker kembali memenuhi layar-layar digital kota Kurta. Bukan dengan simpati. Bukan dengan empati.Melainkan dengan tudingan yang dibungkus rapi oleh kata-kata bernada netral.“Korban Diduga Alami Trauma Berat, Kesaksiannya Tidak Konsisten.”“Sidang Ditunda, Publik Pertanyakan Kredibilitas Korban.”“Ahli Psikologi mengatakan jika Korban Bisa Terdistorsi.”Jessica membaca semua itu dari layar ponselnya tanpa berkedip. Tangannya mendadak jadi dingin. Dadanya seketika terasa sesak. Tapi bukan karena sedih. Karena marah.Dia duduk di kursi dekat jendela ruang rawat inap rumah sakit. Di luar, matahari bersinar terang, terlalu terang untuk suasana batinnya yang gelap. Burung-burung terbang bebas, dunia terus berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.Seperti tubuhnya tidak pernah dilanggar.Seperti hidupnya tidak pernah diremukkan.“Mereka benar-benar berani,” gumam Jessica pelan.Bukan Jefry yang dia benci.Bukan pula sidang yang kacau itu.Yang dia benci adalah cara mere

  • Jangan Salahkan Aku Mencintainya    Bab 132. Saksi mulai berdatangan

    Cafe Jasmine, Pukul DelapanPagi di kota Kurta selalu dimulai dengan kesibukan yang teratur. Kendaraan berlalu-lalang, orang-orang berjalan dengan tujuan, dan kafe-kafe mulai membuka tirai kaca mereka satu per satu. Akan tetapi, di sudut jalan kecil dekat taman kota, Cafe Jasmine berdiri seperti ruang waktu yang terpisah dari hiruk-pikuk itu.Jam dinding menunjukkan pukul delapan tepat ketika Naren mendorong pintu kaca kafe tersebut.Bel kecil di atas pintu berdenting pelan.Aroma kopi pahit dan bunga melati yang menjadi ciri khas tempat itu menyambut indera penciumannya. Cafe Jasmine tidak ramai. Hanya ada tiga meja yang terisi, dua diantaranya oleh pasangan lansia yang tampak menikmati pagi dengan sunyi, dan satu lagi oleh seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang duduk membelakangi jendela.Naren berhenti melangkah. Itu pasti dia.Pria itu mengenakan kemeja abu-abu sederhana, tanpa jas, tanpa atribut mencolok. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Punggungnya sedikit membun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status