登入"Habiskan sarapanmu. Pak Joko sudah menunggumu di depan lobi," ucap Arka dingin sembari melirik arloji mahal di pergelangan tangan kirinya. "Dia akan mengantarmu tepat ke depan gerbang fakultas, dan menjemputmu tepat pukul dua belas siang. Jika kau terlambat satu menit saja, aku sendiri yang akan menjemputmu ke kampusmu."
Tanpa menunggu bantahan dari Kyla, Arka melangkah lebar meninggalkan ruang makan, membawa serta kehangatan yang sempat tercipta di antara mereka dan menyisakan kesunyian yang hampa bagi Kyla.
Kyla mengembuskan napas panjang yang terkahan, mendudukkan diri di kursi dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia membenci kekuasaan mutlak yang dipegang Arka atas hidupnya. Namun di sudut hatinya yang terdalam, ia tidak bisa membohongi getaran aneh yang selalu meletup di dadanya setiap kali pria matang itu memperlakukannya dengan keposesifan yang begitu ekstrem. Ia merasa diinginkan, merasa dicari, dan anehnya... merasa terlindungi dari dunia luar yang dingin.
Dua jam kemudian, mobil sedan mewah yang dikemudikan Pak Joko akhirnya membelah kemacetan kota dan berhenti tepat di depan gerbang gedung Fakultas Seni. Begitu Kyla turun dari mobil, ia bisa merasakan beberapa pasang mata mahasiswi lain menatapnya dengan berbagai spekulasi—hal yang biasa ia hadapi sejak berstatus sebagai anak asuh konglomerat terkenal sekelas Arka Mahendra.
"Kyla! Akhirnya kamu masuk juga!"
Suara familier itu membuat Kyla menoleh. Rio, teman sekelasnya yang semalam juga berada di Onyx Club, berjalan tergesa-gesa mendekatinya dengan senyuman lebar. Pria muda yang mengenakan jaket denim kasual itu tampak begitu energetik, sangat kontras dengan pembawaan Arka yang selalu kaku dan dingin.
"Hei, Rio," sapa Kyla berusaha terdengar santai, walau matanya refleks melirik ke arah mobil sedan hitam yang dikemudikan Pak Joko yang perlahan melaju pergi dari area drop-off.
"Semalam kamu tiba-tiba menghilang setelah pria paruh baya berjas itu datang," ujar Rio, nadanya terdengar sedikit khawatir saat mereka mulai berjalan menyusuri koridor kampus yang ramai. "Dia... pamanmu, kan? Dia terlihat sangat mengerikan semalam. Apa dia memarahimu karena pergi ke kelab?"
Kyla tersenyum kaku, tidak tahu harus menjawab apa. Pria paruh baya yang mengerikan itu semalam baru saja menciumnya hingga ia kehabisan napas di dalam mobil. "Dia... hanya sedikit ketat soal jam malam," dusta Kyla pelan.
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa," Rio mengembuskan napas lega. Tiba-tiba, pria muda itu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah jepit rambut kecil berbahan mutiara yang sangat Kyla kenal. "Oh ya, ini jatuh di sofa kelab semalam saat kamu ditarik keluar. Aku menyimpannya untukmu."
Jemari Rio terjulur, berniat untuk menyelipkan jepit rambut itu langsung ke sela rambut Kyla yang terurai indah di bahunya. Jarak di antara mereka terkikis, menyisakan ruang yang sangat dekat di tengah keramaian koridor luar kelas.
"Jangan, Rio," sela Kyla cepat, refleks melangkah mundur setengah tapak untuk menghindari sentuhan fisik tersebut. Gerakan tiba-tiba Kyla membuat tangan Rio membeku di udara dengan ekspresi terkejut. Sebelum suasana menjadi lebih canggung, Kyla dengan cekatan meraih jepit rambut mutiara itu langsung dari telapak tangan Rio. "Terima kasih banyak sudah menyimpankannya. Biar aku pakai sendiri saja."
Jemari Kyla sedikit gemetar saat ia meraba sisi kepalanya dan menyematkan jepit rambut tersebut secara mandiri. Rio menurunkan tangannya perlahan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari mengulas senyum canggung. "Ah, maaf. Aku tidak bermaksud tidak sopan."
"Tidak apa-apa," jawab Kyla lirih.
Namun, tepat setelah jepit rambut itu terpasang, sebuah sensasi dingin yang mendadak merayap di tengkuknya membuat Kyla meremang hebat. Jantungnya mendadak berdegup kencang dengan irama yang panik. Hawa kepemilikan yang gelap, pekat, dan menyesakkan seolah-olah berembus dari balik pilar-pilar beton koridor kampus, seakan-akan ada sepasang mata elang yang sedang menyorot tajam tepat ke arah interaksinya dengan Rio.
Kyla menoleh dengan cepat ke sekeliling halaman kampus, menyapu area parkir eksekutif hingga ke gerbang luar dengan pandangan waswas. Napasnya memburu pelan. Ia setengah berharap—atau mungkin takut—akan melihat siluet tegap Arka atau moncong mobil Range Rover hitam yang berkuasa sedang mengintai dari kejauhan.
Tetapi, tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada barisan mobil mahasiswa biasa, beberapa kelompok anak yang sedang mengobrol di dekat taman, serta hembusan angin pagi yang menerbangkan dedaunan kering.
Tentu saja tidak ada Arka di sini. Pria itu adalah konglomerat super sibuk yang saat ini pasti sedang memimpin rapat direksi penting di lantai teratas gedung Mahendra Tower, milan jauhnya dari sini. Ia tidak mungkin memiliki waktu luang hanya untuk membuntuti anak asuhnya ke kampus.
Namun, rasa diawasi itu tetap tidak mau hilang. Kyla meremas tali tasnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di tengah keramaian kampus yang riuh, ia menyadari satu hal yang mengerikan bagi batinnya: Arka tidak perlu hadir secara fisik untuk mengurungnya. Bayangan posesif pria itu telah meracuni kepalanya begitu dalam, membuatnya merasa seolah-olah sedang berjalan dengan seutas tali kekang tak kasat mata yang siap ditarik kasar kapan saja oleh sang pemilik.
"Kyla, bisa tolong jelaskan perbedaan mendasar antara teknik pencampuran warna komplementer dan analog dalam skema lukisan modern?"
Suara lantang Pak Hendra, dosen teori warna siang itu, tidak berhasil menarik Kyla dari lamunannya. Pikiran Kyla sama sekali tidak berada di dalam ruang kelas ber-AC yang dingin ini. Sejak kakinya melangkah melewati gerbang kampus pagi tadi, ingatannya terus-menerus berputar ke belakang, kembali pada malam badai di dalam kabin Range Rover yang terasa begitu sempit dan menyesakkan.
Sentuhan itu. Ciuman itu.
Kyla merasakan bibirnya mendadak mati rasa saat bayangan bibir basah Arka yang menuntut kepatuhan kembali menyengat ingatannya. Ia ingat bagaimana napas hangat pria itu yang beraroma mint memburu di atas kulit wajahnya, dan bagaimana telapak tangan Arka merayap liar di balik belahan tinggi gaun sutra hitamnya, mengusap paha mulusnya hingga ke pinggul. Sensasi panas yang menjalar semalam seolah-olah masih tertinggal di permukaan kulitnya, membakar setiap jengkal kesadarannya hingga ia merasa gila.
Bodoh! Kenapa aku malah membalas ciumannya semalam? pekik batin Kyla penuh penyesalan yang mendalam.
Itulah ketakutan terbesarnya sekarang. Di tengah amarah dan keputusasaan semalam, jemari lentik Kyla justru meremas kerah kemeja Arka dan mendongak untuk menyerahkan diri pada keliaran gairah pria itu. Arka pasti akan berpikir bahwa dirinya adalah gadis gampangan. Gadis labil berumur sembilan belas tahun yang dengan mudah bisa dicium dan disentuh sesuka hati hanya karena dia menumpang hidup di bawah atap kekuasaan pria itu. Harga dirinya yang setinggi langit kini terasa hancur berkeping-keping, hancur oleh kelemahannya sendiri di hadapan sang wali posesif.
"Jangan sentuh lehermu dengan benda itu, Kyla!" teriak Arka dengan suara yang memecah keheningan lantai lima puluh empat Mahendra Tower, bergetar hebat di udara pekat yang mendadak membeku.Pria perkasa yang biasanya sanggup menumbangkan lawan bisnis terbesar di negeri ini kini mematung di tempatnya. Kedua tangannya terangkat ke udara dengan jemari yang gemetar, matanya mengunci tajam pada pecahan kaca pot bunga yang menekan kulit halus leher Kyla. Darah merah segar mulai mengalir dari sela-sela jemari Kyla yang memegang pecahan tajam tersebut, menetes lambat membentur marmer putih yang bertabur dokumen rahasia."Seline, keluar dari sini sekarang sebelum aku membunuhmu!" desis Arka tanpa berpaling sedikit pun dari Kyla. Suaranya rendah, sarat akan kemurkaan murni yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.Seline mendengus sinis, merapikan blazer kremnya dengan gestur tenang yang memuakkan. "Kau tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini selamanya, Arka," bisiknya penuh
"Kau tidak akan pergi ke kampus hari ini, Kyla."Suara Arka memecah keheningan kamar utama saat pria itu merapikan jam tangan emasnya. Kyla yang sedang merapikan kerah kemeja putihnya mendadak membeku. Matanya yang kusam memantulkan bayangan Arka yang melangkah mendekat dari belakang, memancarkan aura dominasi yang semakin pekat seiring terbitnya matahari pagi."Om, aku ada jadwal presentasi sketsa jam sepuluh," sahut Kyla, memutar tubuhnya dengan tatapan tegar meski dadanya bergemuruh hebat. "Dosen tidak akan menoleransi ketidakhadiranku lagi setelah insiden perkemahan kemarin."Arka menghentikan langkahnya tepat di depan Kyla. Ia meraih dasi sutra hitam dari atas meja rias, menyodorkannya pada Kyla tanpa mengalihkan pandangan tajamnya. "Tugasmu bisa dikirim lewat surel. Mulai hari ini, kau akan ikut bersamaku ke Mahendra Tower. Kau bisa mengerjakan sketsamu di ruang kerja pribadiku."Kyla menerima dasi itu dengan tangan gemetar, memasangkannya ke leher Arka dengan gerakan kaku. Jara
"Mau ke galeri kampus bersama Riana, Om," sahut Kyla pelan, matanya menatap tajam pada sepasang sepatu kulit Arka yang melangkah masuk melintasi karpet tebal. "Riana baru saja mengirim pesan. Ada pameran tunggal alumni yang wajib kami amati untuk laporan tugas akhir."Arka tidak membalas ucapan itu seketika. Pria itu menyusuri kamar dengan langkah yang amat teratur, melepas jam tangan mewahnya lalu meletakkannya di atas meja rias dengan denting logam yang nyaring di tengah kesunyian. Ia berdiri tepat di belakang Kyla, membiarkan pantulan tubuh mereka berdua mendominasi bayangan cermin di hadapan mereka. Jemari Arka yang dingin meluncur perlahan ke bahu Kyla, mencengkeramnya dengan tekanan yang begitu pas—cukup kuat untuk menegaskan otoritasnya, namun cukup lembut untuk menahan gadis itu agar tidak berpaling."Pergilah," bisik Arka, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Kyla, menyapukan aura dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Tapi ingat satu hal. Sopir dan dua pengawal
Pintu kamar tertutup rapat, mengunci segala kebisingan dan ketegangan yang sempat meledak di ruang utama mansion. Kyla menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan degup jantungnya yang masih memburu.Kata-kata terakhir Arka kepada ibunya, masih terngiang jelas di telinganya. “Tidak ada satu pun orang di dunia ini, termasuk Ibu, yang punya kuasa untuk memutuskan seberapa lama dia akan tinggal di sini selain diriku.”Kalimat itu terdengar begitu mutlak, sebuah deklarasi kepemilikan yang tidak menyisakan celah bagi siapa pun untuk membantah. Di satu sisi, Kyla merasa dilindungi dengan cara yang paling kuat di dunia. Namun di sisi lain, kalimat itu juga menegaskan bahwa dirinya benar-benar telah terkunci sepenuhnya di dalam wilayah kekuasaan Arka. Ia bukan lagi sekadar anak asuh, ia adalah pusat dari badai pertarungan keluarga Mahendra.Langkah kaki yang berat dan teratur mendekati pintu kamarnya. Suara ketukan pelan terdengar sebelum ga
Suasana kampus terasa begitu asing bagi Kyla. Hari ketiga sejak insiden di puncak gunung itu, ia merasa seolah-olah jiwanya tertinggal di sana, di tempat yang kini menjadi altar pengorbanan kebebasannya. Ia berjalan menyusuri koridor Fakultas Seni dengan langkah yang berat, kepalanya sering kali menunduk, membiarkan rambut panjangnya menutupi ekspresi kosong di wajahnya.Ia pendiam. Sangat pendiam. Bahkan ketika Riana mencoba mengajaknya bercanda tentang tugas seni rupa yang menumpuk, Kyla hanya merespons dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Pikirannya melayang pada tatapan Arka yang selalu membayanginya, seolah pria itu menanamkan jejak permanen pada setiap inci kulit dan jiwanya."Ky, kamu kenapa sih? Sejak pulang dari camping lebih awal, kamu kayak orang kehilangan nyawa," Riana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas, menatap Kyla dengan raut wajah khawatir. "Kamu sakit? Atau ada masalah dengan 'Om Posesif'-mu itu lagi?"Kyla ters
Keheningan di dalam kabin Range Rover itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada badai yang menggulung di luar. Kaca mobil yang berembun menjadi satu-satunya batas antara mereka dengan dunia luar yang dingin, sementara di dalam, suhu udara seolah membeku oleh atmosfir penyesalan yang pekat.Arka tidak bergerak. Tangannya yang gemetar perlahan menarik diri, memberikan ruang bagi Kyla yang kini terduduk meringkuk dengan napas yang masih tersengal. Pria itu menyandarkan kepalanya pada kemudi, memejamkan mata dengan rahang yang masih mengeras, bukan karena amarah, melainkan karena perang batin yang luar biasa. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal, sebuah tindakan yang menghancurkan satu-satunya fondasi moral yang tersisa untuk menahan dirinya agar tidak benar-benar tenggelam dalam obsesi gelapnya sendiri.Kyla menarik jas milik Arka yang tadi sempat ia lepas, menyampirkannya kembali ke bahunya yang telanjang dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak mengeluarkan suara.







