Share

BAB 4

Author: Kupukupu
last update publish date: 2026-07-17 05:27:20

"Habiskan sarapanmu. Pak Joko sudah menunggumu di depan lobi," ucap Arka dingin sembari melirik arloji mahal di pergelangan tangan kirinya. "Dia akan mengantarmu tepat ke depan gerbang fakultas, dan menjemputmu tepat pukul dua belas siang. Jika kau terlambat satu menit saja, aku sendiri yang akan menjemputmu ke kampusmu."

Tanpa menunggu bantahan dari Kyla, Arka melangkah lebar meninggalkan ruang makan, membawa serta kehangatan yang sempat tercipta di antara mereka dan menyisakan kesunyian yang hampa bagi Kyla.

Kyla mengembuskan napas panjang yang terkahan, mendudukkan diri di kursi dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia membenci kekuasaan mutlak yang dipegang Arka atas hidupnya. Namun di sudut hatinya yang terdalam, ia tidak bisa membohongi getaran aneh yang selalu meletup di dadanya setiap kali pria matang itu memperlakukannya dengan keposesifan yang begitu ekstrem. Ia merasa diinginkan, merasa dicari, dan anehnya... merasa terlindungi dari dunia luar yang dingin.

Dua jam kemudian, mobil sedan mewah yang dikemudikan Pak Joko akhirnya membelah kemacetan kota dan berhenti tepat di depan gerbang gedung Fakultas Seni. Begitu Kyla turun dari mobil, ia bisa merasakan beberapa pasang mata mahasiswi lain menatapnya dengan berbagai spekulasi—hal yang biasa ia hadapi sejak berstatus sebagai anak asuh konglomerat terkenal sekelas Arka Mahendra.

"Kyla! Akhirnya kamu masuk juga!"

Suara familier itu membuat Kyla menoleh. Rio, teman sekelasnya yang semalam juga berada di Onyx Club, berjalan tergesa-gesa mendekatinya dengan senyuman lebar. Pria muda yang mengenakan jaket denim kasual itu tampak begitu energetik, sangat kontras dengan pembawaan Arka yang selalu kaku dan dingin.

"Hei, Rio," sapa Kyla berusaha terdengar santai, walau matanya refleks melirik ke arah mobil sedan hitam yang dikemudikan Pak Joko yang perlahan melaju pergi dari area drop-off.

"Semalam kamu tiba-tiba menghilang setelah pria paruh baya berjas itu datang," ujar Rio, nadanya terdengar sedikit khawatir saat mereka mulai berjalan menyusuri koridor kampus yang ramai. "Dia... pamanmu, kan? Dia terlihat sangat mengerikan semalam. Apa dia memarahimu karena pergi ke kelab?"

Kyla tersenyum kaku, tidak tahu harus menjawab apa. Pria paruh baya yang mengerikan itu semalam baru saja menciumnya hingga ia kehabisan napas di dalam mobil. "Dia... hanya sedikit ketat soal jam malam," dusta Kyla pelan.

"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa," Rio mengembuskan napas lega. Tiba-tiba, pria muda itu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah jepit rambut kecil berbahan mutiara yang sangat Kyla kenal. "Oh ya, ini jatuh di sofa kelab semalam saat kamu ditarik keluar. Aku menyimpannya untukmu."

Jemari Rio terjulur, berniat untuk menyelipkan jepit rambut itu langsung ke sela rambut Kyla yang terurai indah di bahunya. Jarak di antara mereka terkikis, menyisakan ruang yang sangat dekat di tengah keramaian koridor luar kelas.

"Jangan, Rio," sela Kyla cepat, refleks melangkah mundur setengah tapak untuk menghindari sentuhan fisik tersebut. Gerakan tiba-tiba Kyla membuat tangan Rio membeku di udara dengan ekspresi terkejut. Sebelum suasana menjadi lebih canggung, Kyla dengan cekatan meraih jepit rambut mutiara itu langsung dari telapak tangan Rio. "Terima kasih banyak sudah menyimpankannya. Biar aku pakai sendiri saja."

Jemari Kyla sedikit gemetar saat ia meraba sisi kepalanya dan menyematkan jepit rambut tersebut secara mandiri. Rio menurunkan tangannya perlahan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari mengulas senyum canggung. "Ah, maaf. Aku tidak bermaksud tidak sopan."

"Tidak apa-apa," jawab Kyla lirih.

Namun, tepat setelah jepit rambut itu terpasang, sebuah sensasi dingin yang mendadak merayap di tengkuknya membuat Kyla meremang hebat. Jantungnya mendadak berdegup kencang dengan irama yang panik. Hawa kepemilikan yang gelap, pekat, dan menyesakkan seolah-olah berembus dari balik pilar-pilar beton koridor kampus, seakan-akan ada sepasang mata elang yang sedang menyorot tajam tepat ke arah interaksinya dengan Rio.

Kyla menoleh dengan cepat ke sekeliling halaman kampus, menyapu area parkir eksekutif hingga ke gerbang luar dengan pandangan waswas. Napasnya memburu pelan. Ia setengah berharap—atau mungkin takut—akan melihat siluet tegap Arka atau moncong mobil Range Rover hitam yang berkuasa sedang mengintai dari kejauhan.

Tetapi, tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada barisan mobil mahasiswa biasa, beberapa kelompok anak yang sedang mengobrol di dekat taman, serta hembusan angin pagi yang menerbangkan dedaunan kering.

Tentu saja tidak ada Arka di sini. Pria itu adalah konglomerat super sibuk yang saat ini pasti sedang memimpin rapat direksi penting di lantai teratas gedung Mahendra Tower, milan jauhnya dari sini. Ia tidak mungkin memiliki waktu luang hanya untuk membuntuti anak asuhnya ke kampus.

Namun, rasa diawasi itu tetap tidak mau hilang. Kyla meremas tali tasnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di tengah keramaian kampus yang riuh, ia menyadari satu hal yang mengerikan bagi batinnya: Arka tidak perlu hadir secara fisik untuk mengurungnya. Bayangan posesif pria itu telah meracuni kepalanya begitu dalam, membuatnya merasa seolah-olah sedang berjalan dengan seutas tali kekang tak kasat mata yang siap ditarik kasar kapan saja oleh sang pemilik.

"Kyla, bisa tolong jelaskan perbedaan mendasar antara teknik pencampuran warna komplementer dan analog dalam skema lukisan modern?"

Suara lantang Pak Hendra, dosen teori warna siang itu, tidak berhasil menarik Kyla dari lamunannya. Pikiran Kyla sama sekali tidak berada di dalam ruang kelas ber-AC yang dingin ini. Sejak kakinya melangkah melewati gerbang kampus pagi tadi, ingatannya terus-menerus berputar ke belakang, kembali pada malam badai di dalam kabin Range Rover yang terasa begitu sempit dan menyesakkan.

Sentuhan itu. Ciuman itu.

Kyla merasakan bibirnya mendadak mati rasa saat bayangan bibir basah Arka yang menuntut kepatuhan kembali menyengat ingatannya. Ia ingat bagaimana napas hangat pria itu yang beraroma mint memburu di atas kulit wajahnya, dan bagaimana telapak tangan Arka merayap liar di balik belahan tinggi gaun sutra hitamnya, mengusap paha mulusnya hingga ke pinggul. Sensasi panas yang menjalar semalam seolah-olah masih tertinggal di permukaan kulitnya, membakar setiap jengkal kesadarannya hingga ia merasa gila.

Bodoh! Kenapa aku malah membalas ciumannya semalam? pekik batin Kyla penuh penyesalan yang mendalam.

Itulah ketakutan terbesarnya sekarang. Di tengah amarah dan keputusasaan semalam, jemari lentik Kyla justru meremas kerah kemeja Arka dan mendongak untuk menyerahkan diri pada keliaran gairah pria itu. Arka pasti akan berpikir bahwa dirinya adalah gadis gampangan. Gadis labil berumur sembilan belas tahun yang dengan mudah bisa dicium dan disentuh sesuka hati hanya karena dia menumpang hidup di bawah atap kekuasaan pria itu. Harga dirinya yang setinggi langit kini terasa hancur berkeping-keping, hancur oleh kelemahannya sendiri di hadapan sang wali posesif.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 6

    Minggu depan adalah acara camping tahunan departemen seni. Acara itu sangat krusial bagi nilai akademisnya. Jika ia terus membangkang atau menunjukkan sikap bermusuhan, Arka pasti tidak akan pernah mengizinkannya pergi dari mansion itu sejengkal pun. Kyla harus mengubah taktiknya. Jika kemarahan dan pemberontakan hanya membuat sangkar emasnya semakin memperketat kurungan, maka ia harus melakukan hal sebaliknya: menjadi anak asuh yang sangat penurut, manis, dan patuh selama satu minggu penuh, dimulai dari malam ini.Begitu melangkah keluar dari lobi fakultas, sedan mewah hitam yang dikemudikan Pak Joko sudah terparkir tepat di depan undakan. Kyla segera masuk ke kursi belakang tanpa suara, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak batinnya. Sepanjang perjalanan pulang membelah kemacetan kota, ia terus melatih ekspresi wajahnya di depan cermin kecil, memastikan tidak ada sisa-sisa amarah atau ketakutan yang tertinggal di wajah indahnya. Ia harus terlihat tulus di hadapan wali

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 5

    "Kyla? Anda mendengar pertanyaan saya?" Pak Hendra kembali bersuara, kali ini dengan alis berkerut tebal di balik kacamata minusnya. Tetapi, masih juga gagal mengembalikan fokus Kyla."Ah!" Kyla mengerang frustrasi tanpa sadar.Kedua tangannya bergerak cepat ke atas kepalanya, mencengkeram dan mengacak-acak rambut panjangnya yang terurai hingga menjadi kusut masai—sebuah ekspresi kepanikan batin yang tidak lagi bisa ia bendung. Tindakan impulsifnya itu seketika memicu kasak-kusuk tertahan dari beberapa mahasiswa di barisan belakang. Rio, yang duduk tidak jauh dari meja Kyla, menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang sangat kentara.Seketika itu juga, Kyla tersadar dari tindakan konyolnya. Napasnya tercekat saat menyadari seluruh isi kelas kini menatapnya seolah-olah ia baru saja kehilangan kewarasan.Kyla segera menurunkan tangannya dengan canggung, mencoba merapikan kembali helai rambutnya yang berantakan di bahu dengan jemari yang gemetar. Wajahnya yang pucat kini memerah

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 4

    "Habiskan sarapanmu. Pak Joko sudah menunggumu di depan lobi," ucap Arka dingin sembari melirik arloji mahal di pergelangan tangan kirinya. "Dia akan mengantarmu tepat ke depan gerbang fakultas, dan menjemputmu tepat pukul dua belas siang. Jika kau terlambat satu menit saja, aku sendiri yang akan menjemputmu ke kampusmu."Tanpa menunggu bantahan dari Kyla, Arka melangkah lebar meninggalkan ruang makan, membawa serta kehangatan yang sempat tercipta di antara mereka dan menyisakan kesunyian yang hampa bagi Kyla.Kyla mengembuskan napas panjang yang terkahan, mendudukkan diri di kursi dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia membenci kekuasaan mutlak yang dipegang Arka atas hidupnya. Namun di sudut hatinya yang terdalam, ia tidak bisa membohongi getaran aneh yang selalu meletup di dadanya setiap kali pria matang itu memperlakukannya dengan keposesifan yang begitu ekstrem. Ia merasa diinginkan, merasa dicari, dan anehnya... merasa terlindungi dari dunia luar yang dingin.Dua jam kemu

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 3

    "Kita perlu bicara, Kyla."Kyla menghentikan langkahnya, namun ia enggan berbalik. "Aku lelah, Om. Aku mau tidur.""Aku tidak sedang meminta persetujuanmu," ucap Arka dingin. Langkah kakinya terdengar mendekat, begitu berat dan penuh intimidasi hingga membuat punggung Kyla menegang.Kyla terpaksa berbalik, merapatkan gaun sutranya yang masih sedikit berantakan. Ia mendongak, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menatap mata pria yang kini berdiri tepat di hadapannya."Pikirkan baik-baik apa yang terjadi malam ini, Kyla," ucap Arka, suaranya sangat rendah namun memiliki gaung penekanan yang mutlak. "Semalam adalah murni kesalahan karena kebodohanmu yang memancing amarahku di kelab malam itu.""Kesalahan?" Kyla terkekeh sinis, menyembunyikan rasa sakit hati yang tiba-tiba menusuk dadanya mendengar kata dingin itu keluar dari bibir Arka. "Jika itu kesalahan, kenapa Om menyentuhku seolah Om sangat menginginkanku? Kenapa Om menciumku seperti itu?"Wajah Arka tidak menunjukkan emos

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 2

    "Dengar baik-baik, Kyla," bisik Arka, napas hangatnya yang berbau mint menerpa bibir Kyla yang gemetar. Mata pria itu menggelap penuh obsesi yang selama ini ia kunci rapat di balik topeng kewibawaannya. "Aku tidak peduli jika aku hanya wali yang ditunjuk papamu. Tapi selama kamu berada di bawah atapku, tidak akan ada satu pria pun yang boleh menatapmu seperti yang mereka lakukan malam ini. Tubuhmu, hidupmu, bahkan setiap embusan napasmu... adalah milikku.""Aku bukan milikmu! Kamu tidak punya hak atas diriku, Om!" teriak Kyla frustrasi, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Arka pada rahangnya. Bibirnya terus bergerak, melontarkan kata-kata pemberontakan yang memicu kemarahan pria itu ke titik didih. "Lepaskan aku! Aku membenci aturanmu! Aku membenci caramu menatapku seolah aku—"Suara Kyla tersumbat seketika saat Arka membungkuk cepat dan menundukkan kepalanya, meredam seluruh bantahan Kyla dengan sebuah ciuman yang kasar dan menuntut.Itu adalah tindakan impulsif yang murni bertujua

  • Jangan Sekarang, Om Posesif!   BAB 1

    "Kyla, kamu yakin tidak mau minum sedikit saja? Malam ini kita harus bersenang-senang!"Suara Riana setengah berteriak, berusaha mengalahkan dentum bas yang menggetarkan lantai dansa Onyx Club. Kyla hanya menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis di bibirnya yang dipulas lipstik merah ceri. Ia merapatkan tubuh pada sandaran sofa beludru merah di sudut area VIP, mencoba mengabaikan aroma alkohol, asap rokok, dan parfum menyengat yang bercampur di udara pengap kelab malam premium tersebut.Kyla melirik arloji kecil di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul 23.45. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan sinis yang samar. Ia sengaja membiarkan gawai di dalam tas kecilnya terus menyala, membiarkan aplikasi pelacak lokasi yang dipasang paksa oleh walinya mengirimkan sinyal koordinat tempat ini tanpa henti.Malam ini, Kyla sengaja mengenakan gaun sutra hitam berpotongan dada rendah yang mengekspos bahu bulat dan punggung mulusnya. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya yang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status