LOGIN"Kita perlu bicara, Kyla."
Kyla menghentikan langkahnya, namun ia enggan berbalik. "Aku lelah, Om. Aku mau tidur."
"Aku tidak sedang meminta persetujuanmu," ucap Arka dingin. Langkah kakinya terdengar mendekat, begitu berat dan penuh intimidasi hingga membuat punggung Kyla menegang.
Kyla terpaksa berbalik, merapatkan gaun sutranya yang masih sedikit berantakan. Ia mendongak, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menatap mata pria yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Pikirkan baik-baik apa yang terjadi malam ini, Kyla," ucap Arka, suaranya sangat rendah namun memiliki gaung penekanan yang mutlak. "Semalam adalah murni kesalahan karena kebodohanmu yang memancing amarahku di kelab malam itu."
"Kesalahan?" Kyla terkekeh sinis, menyembunyikan rasa sakit hati yang tiba-tiba menusuk dadanya mendengar kata dingin itu keluar dari bibir Arka. "Jika itu kesalahan, kenapa Om menyentuhku seolah Om sangat menginginkanku? Kenapa Om menciumku seperti itu?"
Wajah Arka tidak menunjukkan emosi sedikit pun, namun napasnya yang memberat membocorkan kebohongan yang coba ia pertahankan. "Aku hanya memberikan pelajaran pada anak asuh yang tidak tahu bagaimana cara menjaga kehormatannya. Dan agar pelajaran ini tidak perlu diulangi lagi, mulai besok semua aturan di rumah ini berubah."
"Aturan apa lagi?" desis Kyla frustrasi.
"Kamu tidak akan lagi pergi ke mana pun tanpa pengawasanku. Supir pribadi akan mengantarmu tepat ke depan gedung kelasmu dan langsung menjemputmu begitu kelas selesai. Tidak ada lagi pesta, tidak ada kelab malam, dan tidak ada teman pria yang boleh mengantarmu pulang," Arka menjabarkan dengan nada tanpa kompromi. "Jam malammu adalah pukul tujuh malam. Lebih dari itu, aku sendiri yang akan mencarimu."
"Ini gila! Om tidak bisa mengurungku seperti ini!" air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk mata Kyla. "Aku sudah sembilan belas tahun, Om! Aku bukan lagi anak kecil yang bisa Om kurung di dalam sangkar emas ini!"
"Sembilan belas tahun tidak membuatmu cukup dewasa untuk mengenali bahaya di luar sana, Kyla," sahut Arka datar. "Dan sebagai walimu, adalah tugasku untuk memastikan tidak ada laki-laki lain yang menyentuhmu."
"Kenapa? Karena Om ingin menjadi satu-satunya pria yang menyentuhku?" tanya Kyla berani, melangkah maju hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Ia menatap lurus ke dalam manik mata hitam Arka, menantang topeng kedewasaan pria itu. "Katakan padaku, Om Arka. Apakah semua larangan ini demi melindungiku, atau karena Om cemburu jika ada pria lain yang melihat tubuhku?"
Keheningan yang dingin kembali mencekam ruangan luas itu. Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, pria itu maju selangkah, memangkas jarak yang tersisa hingga tubuh mungil Kyla kembali terpojok pada pilar tangga yang dingin. Arka membungkuk perlahan, mendekatkan wajahnya ke telinga Kyla hingga gadis itu bisa merasakan embusan napas hangat yang berbau mint meremangkan bulu kuduknya.
"Pikirkan apa pun yang ingin kamu pikirkan, Kyla," bisik Arka, suaranya begitu rendah hingga terdengar seperti ancaman yang mematikan sekaligus memabukkan. "Tapi ingat ini baik-baik. Selama kamu masih berada di bawah atapku, tubuhmu, hidupmu, bahkan kebebasanmu adalah milikku sepenuhnya. Dan jika aku melihatmu melanggar satu saja aturan yang kubuat..." Arka menjeda kalimatnya, matanya meluncur turun ke bibir ranum Kyla yang masih memerah, sebelum kembali menatap matanya dengan kilat obsesi yang gelap. "...aku tidak akan segan-segan mengulangi 'kesalahan' semalam dengan cara yang jauh lebih merusak pertahananmu."
Sebelum Kyla sempat membalas, Arka telah lebih dulu menarik diri dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Kyla yang berdiri gemetar di tangga dengan detak jantung yang berdentum liar di dalam dadanya yang sesak.
"Ganti pakaianmu dengan yang lebih tertutup, atau aku yang akan merobek kain kurang bahan itu sekarang juga."
Suara bariton Arka yang dingin seketika memotong keheningan ruang makan pagi itu, bahkan sebelum pantofel mengilapnya menyentuh lantai marmer sepenuhnya. Kyla yang baru saja hendak menarik kursi makan tertegun. Ia menunduk, menatap sweter rajut berwarna putih gading berpotongan bahu terbuka (off-shoulder) yang dipadukannya dengan rok denim selutut. Bagi mahasiswi seni berusia sembilan belas tahun, pakaian itu sangat normal. Namun, di mata seorang Arka, setiap senti kulit Kyla yang terekspos adalah sebuah pelanggaran hukum.
Kyla menegakkan punggungnya, menantang sepasang manik mata hitam pekat milik walinya yang kini berjalan mendekat. Arka tampak teramat rapi dengan setelan kemeja kerja berwarna abu-abu arang dan dasi senada yang terikat sempurna di kerah lehernya. Sosoknya begitu terkontrol, seolah-olah gairah liar yang sempat melelehkan ego dinginnya di dalam Range Rover semalam hanyalah ilusi konyol yang diciptakan oleh kepala Kyla sendiri.
"Ini sweter biasa, Om," sahut Kyla, sengaja menekankan panggilan 'Om' untuk memicu kemarahan pria itu. "Tidak ada yang salah dengan pakaianku. Semua anak di kampus berpakaian seperti ini."
"Aku tidak peduli dengan apa yang dipakai anak lain di kampusmu," desis Arka. Ia berdiri tepat di hadapan Kyla, memangkas jarak hingga aroma kayu cedarwood bercampur mint yang maskulin dari tubuhnya langsung mengurung Kyla. Pria itu mengulurkan tangan, jemari besarnya yang hangat mencengkeram rajutan sweter di bahu Kyla dan menariknya ke atas dengan satu sentakan kasar, menutupi tulang selangka gadis itu yang mulus. "Tapi selama kau tinggal di bawah atapku, kau akan memakai apa yang kuizinkan. Mengerti?"
Sentuhan jari Arka yang tidak sengaja menyapu kulit bahunya mengirimkan sengatan listrik instan yang membuat bulu kuduk Kyla meremang. Ingatan tentang bagaimana telapak tangan yang sama merayap liar di balik gaun tipisnya semalam kembali berputar di kepalanya, membuat napas Kyla mendadak memburu pelan.
"Om hanya waliku, bukan pemilik tubuhku," balas Kyla dengan berani, meski suaranya sedikit bergetar di ujung kalimat. "Kenapa Om begitu terganggu? Apa Om takut pria lain di kampus akan menatapku seperti cara Om menatapku semalam?"
Seketika itu juga, suasana di ruang makan yang megah mendadak merosot hingga ke titik beku. Rahang kokoh Arka mengeras, dan otot-otot di pelipisnya berkedut menahan amarah yang mendidih di balik ketenangan palsunya. Ia membungkuk perlahan, mendekatkan wajahnya hingga Kyla bisa melihat kilat obsesi yang gelap di dalam pupil matanya yang menyipit tajam.
"Jangan pernah mencoba menguji batas kesabaranku, Kyla," bisik Arka, suaranya begitu rendah dan sarat akan ancaman yang memabukkan batin. "Atau aku akan mengurungmu di dalam kamar ini seumur hidupmu, dan memastikan tidak ada satu pasang mata pun yang bisa melihatmu selain aku."
Kyla menahan napasnya, terkunci oleh intensitas tatapan Arka yang begitu mendominasi seluruh akal sehatnya. Ia ingin membalas, ingin berteriak menolak kesewenang-wenangan ini, namun bibirnya mendadak kelu saat melihat Arka perlahan menegakkan tubuh kembali seolah tidak terjadi apa-apa.
Minggu depan adalah acara camping tahunan departemen seni. Acara itu sangat krusial bagi nilai akademisnya. Jika ia terus membangkang atau menunjukkan sikap bermusuhan, Arka pasti tidak akan pernah mengizinkannya pergi dari mansion itu sejengkal pun. Kyla harus mengubah taktiknya. Jika kemarahan dan pemberontakan hanya membuat sangkar emasnya semakin memperketat kurungan, maka ia harus melakukan hal sebaliknya: menjadi anak asuh yang sangat penurut, manis, dan patuh selama satu minggu penuh, dimulai dari malam ini.Begitu melangkah keluar dari lobi fakultas, sedan mewah hitam yang dikemudikan Pak Joko sudah terparkir tepat di depan undakan. Kyla segera masuk ke kursi belakang tanpa suara, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan gejolak batinnya. Sepanjang perjalanan pulang membelah kemacetan kota, ia terus melatih ekspresi wajahnya di depan cermin kecil, memastikan tidak ada sisa-sisa amarah atau ketakutan yang tertinggal di wajah indahnya. Ia harus terlihat tulus di hadapan wali
"Kyla? Anda mendengar pertanyaan saya?" Pak Hendra kembali bersuara, kali ini dengan alis berkerut tebal di balik kacamata minusnya. Tetapi, masih juga gagal mengembalikan fokus Kyla."Ah!" Kyla mengerang frustrasi tanpa sadar.Kedua tangannya bergerak cepat ke atas kepalanya, mencengkeram dan mengacak-acak rambut panjangnya yang terurai hingga menjadi kusut masai—sebuah ekspresi kepanikan batin yang tidak lagi bisa ia bendung. Tindakan impulsifnya itu seketika memicu kasak-kusuk tertahan dari beberapa mahasiswa di barisan belakang. Rio, yang duduk tidak jauh dari meja Kyla, menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang sangat kentara.Seketika itu juga, Kyla tersadar dari tindakan konyolnya. Napasnya tercekat saat menyadari seluruh isi kelas kini menatapnya seolah-olah ia baru saja kehilangan kewarasan.Kyla segera menurunkan tangannya dengan canggung, mencoba merapikan kembali helai rambutnya yang berantakan di bahu dengan jemari yang gemetar. Wajahnya yang pucat kini memerah
"Habiskan sarapanmu. Pak Joko sudah menunggumu di depan lobi," ucap Arka dingin sembari melirik arloji mahal di pergelangan tangan kirinya. "Dia akan mengantarmu tepat ke depan gerbang fakultas, dan menjemputmu tepat pukul dua belas siang. Jika kau terlambat satu menit saja, aku sendiri yang akan menjemputmu ke kampusmu."Tanpa menunggu bantahan dari Kyla, Arka melangkah lebar meninggalkan ruang makan, membawa serta kehangatan yang sempat tercipta di antara mereka dan menyisakan kesunyian yang hampa bagi Kyla.Kyla mengembuskan napas panjang yang terkahan, mendudukkan diri di kursi dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia membenci kekuasaan mutlak yang dipegang Arka atas hidupnya. Namun di sudut hatinya yang terdalam, ia tidak bisa membohongi getaran aneh yang selalu meletup di dadanya setiap kali pria matang itu memperlakukannya dengan keposesifan yang begitu ekstrem. Ia merasa diinginkan, merasa dicari, dan anehnya... merasa terlindungi dari dunia luar yang dingin.Dua jam kemu
"Kita perlu bicara, Kyla."Kyla menghentikan langkahnya, namun ia enggan berbalik. "Aku lelah, Om. Aku mau tidur.""Aku tidak sedang meminta persetujuanmu," ucap Arka dingin. Langkah kakinya terdengar mendekat, begitu berat dan penuh intimidasi hingga membuat punggung Kyla menegang.Kyla terpaksa berbalik, merapatkan gaun sutranya yang masih sedikit berantakan. Ia mendongak, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menatap mata pria yang kini berdiri tepat di hadapannya."Pikirkan baik-baik apa yang terjadi malam ini, Kyla," ucap Arka, suaranya sangat rendah namun memiliki gaung penekanan yang mutlak. "Semalam adalah murni kesalahan karena kebodohanmu yang memancing amarahku di kelab malam itu.""Kesalahan?" Kyla terkekeh sinis, menyembunyikan rasa sakit hati yang tiba-tiba menusuk dadanya mendengar kata dingin itu keluar dari bibir Arka. "Jika itu kesalahan, kenapa Om menyentuhku seolah Om sangat menginginkanku? Kenapa Om menciumku seperti itu?"Wajah Arka tidak menunjukkan emos
"Dengar baik-baik, Kyla," bisik Arka, napas hangatnya yang berbau mint menerpa bibir Kyla yang gemetar. Mata pria itu menggelap penuh obsesi yang selama ini ia kunci rapat di balik topeng kewibawaannya. "Aku tidak peduli jika aku hanya wali yang ditunjuk papamu. Tapi selama kamu berada di bawah atapku, tidak akan ada satu pria pun yang boleh menatapmu seperti yang mereka lakukan malam ini. Tubuhmu, hidupmu, bahkan setiap embusan napasmu... adalah milikku.""Aku bukan milikmu! Kamu tidak punya hak atas diriku, Om!" teriak Kyla frustrasi, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Arka pada rahangnya. Bibirnya terus bergerak, melontarkan kata-kata pemberontakan yang memicu kemarahan pria itu ke titik didih. "Lepaskan aku! Aku membenci aturanmu! Aku membenci caramu menatapku seolah aku—"Suara Kyla tersumbat seketika saat Arka membungkuk cepat dan menundukkan kepalanya, meredam seluruh bantahan Kyla dengan sebuah ciuman yang kasar dan menuntut.Itu adalah tindakan impulsif yang murni bertujua
"Kyla, kamu yakin tidak mau minum sedikit saja? Malam ini kita harus bersenang-senang!"Suara Riana setengah berteriak, berusaha mengalahkan dentum bas yang menggetarkan lantai dansa Onyx Club. Kyla hanya menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis di bibirnya yang dipulas lipstik merah ceri. Ia merapatkan tubuh pada sandaran sofa beludru merah di sudut area VIP, mencoba mengabaikan aroma alkohol, asap rokok, dan parfum menyengat yang bercampur di udara pengap kelab malam premium tersebut.Kyla melirik arloji kecil di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul 23.45. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan sinis yang samar. Ia sengaja membiarkan gawai di dalam tas kecilnya terus menyala, membiarkan aplikasi pelacak lokasi yang dipasang paksa oleh walinya mengirimkan sinyal koordinat tempat ini tanpa henti.Malam ini, Kyla sengaja mengenakan gaun sutra hitam berpotongan dada rendah yang mengekspos bahu bulat dan punggung mulusnya. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya yang b







