Masuk"A--pa? Berbeda apanya!" Azalea gugup, jangan sampai Zayn tahu ia badmood seharian ini karena terus kepikiran Zayn berciuman dengan Naura. "Kamu terlalu banyak berpikir, Zayn--"Saat Azalea bicara, Zayn kembali mendekat dan reflek Azalea mendorongnya. "Zayn, jangan mendekat! Bibirmu bekas Naura!" ucap Azalea keceplosan. Sontak saja Zayn mengernyit heran. Ia mungkin bukan hendak mencium Azalea, namun ucapan gadis itu jelas membuatnya merasa aneh. "Maksudmu apa, Lea? Kamu bilang bibirku bekas?" Zayn langsung menarik tengkuk gadis itu agar condong ke arahnya, lalu sebelah tangannya kembali mencengkeram dagu gadis itu. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Azalea tidak berani menjawab, ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Bicara, Lea!" Ibu jari Zayn menekan sudut bibir gadis itu hingga membuatnya terbuka dan memaksanya bicara. "A-ku, aku ... melihatmu berciuman dengan Naura siang tadi. Karena itu, aku tidak ingin membuatnya sering salah paham dengan kedekatan kita. Aku akan b
"Zayn?" Azalea buru-buru menegakkan tubuhnya. Ia berdiri gugup. "Aku tidak ceroboh, tapi suara itu memang mengagetkanku!" elak Azalea dengan sedikit ketus. Sementara seseorang yang memanggil itu tidak menampakan dirinya, hanya teman iseng. Zayn tersenyum miring, ia melihat ke arah jam di tangannya. "Latihan hari ini selesai, terimakasih untuk kerjasamanya!" kata Livia pada semua timnya termasuk Azalea yang menoleh dan mengangguk. Azalea buru-buru ingin berkemas ke ruang ganti, setelah pamit pada Zayn yang masih berdiri di sana.Keluar dari ruang ganti, ia berniat untuk langsung pulang, namun ada Zayn yang menunggu. "Zayn, tadi aku sudah mengirim pesan. Aku harus langsung pulang. Kalau mau memberiku tugas, besok saja," mohon Azalea. "Aku antar pulang." Azalea menggeleng cepat. "Tidak perlu, Zayn. Tidak ada kegiatan apa pun yang akan kulakukan. Aku tidak mau merepotkanmu," tolak Azalea cepat. Seperti biasa, Zayn tidak mendengarkannya. Zayn langsung berjalan ke tempat parkir. Di
Ezra tidak mengerti, di saat ia mulai memaklumi Azalea, Haikal justru bersikap sebaliknya. Tidak ada tugas yang bisa dikerjaan, Ezra iseng mengirim pesan pada sahabatnya yang lain--Varan dan Varel. Si kembar itu biasanya akan sangat heboh jika diajak bicara soal Naura. [Hei, apa kamu tahu? Naura si peri kecil yang manis dan imut idaman kita dulu? Kurasa ia sudah banyak berubah.] Pesan itu berisi sama, namun terkirim ke nomor masing-masing secara pribadi. Ezra tidak ada niat menjelekan Naura, ia hanya ingin mengungkapkan kekecewaannya. Pasalnya, dulu Naura menjadi teman perempuan mereka yang paling mereka kagumi. Tak lama Varel membalas. [Apa yang berubah darinya? Apa semakin centik? Hahahaha] Dari ketikannya, Varel membalas dengan candaan. Tentu saja berbanding terbalik dengan apa yang hendak Ezra kasih tahu. [Bukan itu sih, kalau cantik memang iya. Hanya saja sikapnya tidak secantik dulu. Sekarang ia lebih mirip penyihir!]Varel [??? ] Ezra menghela napas, balasan Varel hany
Adinata melengos, ia sama sekali tidak menghiraukan gurauan cucunya. "Ayolah, Kek. Jangan sampai cucumu ini terlibat kasus pencurian karena menginginkan itu!" Adinata semakin geregetan, ia lalu mengusir Zayn untuk pulang saja. "Lebih baik pulang dan istirahat di rumah! Jangan terus di sini dan memancing emosi Kakek!"Zayn menarik napasnya dalam lalu mengembuskannya dengan berat, sengaja agar kakeknya mendengar helaan yang menyedihkan itu. "Baiklah." Zayn menurut. "Tapi aku tunggu Kakek kasih lukisan itu sebagai hadiah ulang tahunku!" Zayn bicara setengah berteriak dan berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Ia tidak menunggu respon dari kakeknya yang tahu jelas pasti bakal sensi. Adinata menghela napas, asisten pribadi di sebelahnya tampak tersenyum dan menggelengkan kepala melihat interaksi dua manusia berbeda usia itu. ***Pihak kepolisian sudah mengamankan tukang ojek yang menyiram air panas pada Azalea. Mereka juga sudah menginterogasi dan menyelidiki secara detail. Namun
Segera Azalea menarik tangannya, pipinya terasa memanas, bahkan sekarang sudah memerah seperti kepiting rebus. Zayn tersenyum geli melihat gadis itu salah tingkah. "Aku mau ke kasir dulu!" Azalea memilih kabur dari hadapan Zayn. Ia buru-buru membayar belanjaannya. Tidak sampai di situ, Zayn juga menemani Azalea ke toko kain dan perlengkapan alat jahit. Gadis itu sangat perhatian pada ibunya, ia belikan kebutuhan ibunya selagi punya uang lebih. "Apa ibumu bisa membuat baju lelaki juga?" tanya Zayn santai, ia berdiri dengan bersandar di dekat rak. Sedangkan Azalea sedang melihat gulungan kain. "Bisa, tapi tentu tidak untukmu," jawab Azalea cepat. Sebelah alis Zayn terangkat, seolah mempertanyakan perkataan Azalea. "Baju yang kamu pakai kan harganya puluhan juta! Tentu tidak cocok menjahit baju di tukang amatiran seperti ibuku." Zayn tersenyum miring, ia lihat Azalea yang bicara sambil menyindirnya. Azalea pasti ingat momen pertama mereka bertemu. Gara-gara seragam berharga ma
Ardi mengangguk. "Katakan.... " Ia lalu menyuruh sekretarisnya untuk keluar agar obrolan dengan putranya lebih privasi. Haikal mendekat, lalu membungkuk ke depan dengan tangannya menumpu ke meja. Tatapannya tajam pada ayahnya. "Aku tidak akan bicara pada siapa pun soal ini, tapi aku minta bantuan Ayah--"Ardi tampak fokus, ia seolah sedang melakukan negosiasi yang serius dengan putranya. "Apa itu?" Haikal merasa datang di waktu yang tepat, meski benci melihat ayahnya berselingkuh di depan mata, namun situasi seperti inilah yang membuat Haikal diuntungkan. "Aku terlibat dengan kasus seorang siswi, aku ingin Ayah menutupnya. Aku tidak ingin sampai ketahuan oleh pihak kepolisian--"Kening Ardi berkerut, pengakuan putranya membuat Ardi sedikit heran. "Tunggu--" Ardi berpikir keras, ucapan putranya sontak membuatnya teringat dengan berita viral dari sekolah putranya. "Apa maksudmu kasus penyiraman gadis pelukis itu ... kamu yang melakukan?" Haikal tidak langsung menjawab, namun diam
Azalea langsung mengusap pipinya, ia berusaha bangkit. "Dokter, apa Dokter bisa tolong ibuku?" Gadis itu langsung memohon, bahkan memegang lengan sang dokter dengan gemetar. Terlihat jelas binar penuh harap di sorot matanya. "Nak, tenanglah. Ibumu sedang diperiksa oleh dokter lain," ujar dokter
Azalea segera mengatupkan bibirnya. Ia tahu ekspresi dingin itu--peringatan kalau cowok menyebalkan itu tidak ingin mendengar omong kosong. Azalea kembali membonceng, tapi kali ini tidak mau merangkulkan tangan seperti sebelumnya. Ia lebih memilih memegangi tas Zayn di belakang. Gadis itu berpega
"Ibu--" Azalea kembali bicara, menatap Renata dengan sungguh-sungguh. "Aku normal. Meski tidak sempurna. Zayn pasti hanya bercanda, ia memang suka iseng padaku.""Ah?" Mata Renata membulat, ada rasa tak enak hati karena sudah salah. "Ya ampun, syukurlah kalau begitu. Ternyata Nak Zayn suka iseng. P
Tanpa meminta izin, Zayn langsung mengambil kuas di tangan Azalea, lalu menggunakannya untuk mencorat-coret hasil lukisan Azalea. "Zayn, kamu--" Azalea berdiri, ia hendak merebut kuas di tangan Zayn, namun pemuda itu lebih dulu mematahkannya. Krak! Suara patahan itu mungkin lirih, namun di telin







