LOGINTeman-teman yang lain terus meledek, Ezra yang biasanya humoris jelas saja membuat teman-temannya lebih suka mengajaknya bercanda. Keributan itu menarik perhatian Naura yang berjalan ke arah kelas. Ia melihat Ezra yang sedang diledek. "Udah ngaku ajah, kamu suka Lea kan? Hayo ngaku!" Mereka masih saja memojokkan Ezra dengan tawa menyebalkan. "Ada apa sih ribut-ribut? Keknya seru banget?" Naura nimbrung. Di saat itu, Ezra buru-buru membekap mulut temannya. "Tidak ada, Naura! Kami hanya sedang bercanda, jangan hiraukan ucapannya!" Kening Naura berkerut, ia mungkin masih penasaran namun malas untuk berada di sana lebih lama. Naura masuk ke kelas, dan ia langsung mengambil tasnya. Naura hendak pindah tempat duduk. "Naura--" Azalea melihatnya, tentu ia merasa tidak enak hati, sebegitu bencinya Naura sekarang sampai bersikap dingin bahkan tidak sudi sebangku lagi dengannya? "Lea, aku hanya ingin pindah. Kurasa aku butuh tempat lain untuk menenangkan diri," kata Naura dengan suara
"Jika di masa depan kamu berhasil meraih mimpi itu, kamu boleh menagih apa pun padaku."Tawaran Zayn sangat menggiurkan, Azalea menahan senyum. "Kalau aku gagal?" Azalea merubah posisi duduknya, ia miring untuk bisa fokus menghadap Zayn. Ia menunggu jawaban pemuda itu dengan tidak sabaran. "Kalau kamu gagal? Kamu harus membayar denda, karena sudah buang waktuku untuk mendengar mimpi kosong itu!" "Eh, apa?" Azalea bersungut, ia tidak menyangka jika tawaran Zayn seakan tidak memberinya pilihan untuk gagal. Zayn terkekeh pelan melihat ekspresi Azalea yang cemberut, itu lucu. Kemudian ia bangkit dan bergegas mengajak pulang. Zayn berjalan lebih dulu. "Zayn tunggu! Langkahmu cepet banget sih, kakimu panjang! Aku jadi kesusahan mengejarmu!" celoteh Azalea setengah mengomel, tapi bukan karena kesal melainkan Azalea sebenarnya menikmati itu--menikmati kebersamaan dengan Zayn, juga menikmati bisa bicara banyak selagi pemuda itu tidak menunjukan wajah dinginnya. ***Ruang ekslusif itu ter
Azalea tampak grogi karena sekarang latihan di studio koreografi langsung membuatnya bisa melihat setiap gerakan yang ia lakukan lewat pantulan cermin, ternyata Azalea masih kaku seperti robot. "Lea, jangan menghalangiku!" Naura juga ada di sana, sejak tadi mencari-cari perhatian dari Zayn yang berdiri di dekat pintu. Naura mendorong Azalea setiap kali menghalangi penampilannya. Tingkah Naura justru dirasa mengganggu oleh Livia, sudah sering Naura mendapat peringatan, namun gadis itu seolah abai dan bersikap semaunya. Lama-lama Livia merasa geram, Naura ngeyel padahal dalam tim harus ada kerja sama yang baik tapi ia justru selalu ingin unggul. Livia merasa Naura tidak cocok masuk timnya, ia ingin mendiskualifikasinya. Sayanganya Naura bersikeras ingin masuk ke tim Livia, bahkan selalu mengancam dengan adanya dukungan Zayn untuknya. "Zayn, sepertinya aku tidak bisa mempertahankan pacarmu! Ia sangat sulit diatur dan tidak bisa diajari. Lebih baik pindahkan ia ke tim lain!" mohon
Ekspresi berbinar Azalea membuat Zayn menahan geli. Ia mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum miring. "Lea, kamu menunggu tugas dariku? Antusias sekali." Azalea langsung terbangun. "Tentu saja! Aku pikir tidak ada tugas lain. Apa Kakekmu sudah pulang? Beliau marah?" Terlihat jelas penasaran di wajah Azalea. Zayn hanya menggeleng lalu mengajaknya untuk mengikuti. Azalea membuntut Zayn seperti biasa, ketika keduanya berjalan bersama, Naura menghadang. "Kalian mau ke mana?" tanyanya dengan wajah yang muram. Ia menatap Zayn lekat. "Apa ucapan Kakek kurang jelas? Zayn, bukankah Kakek melarangmu dekat dengan Lea? Kenapa kalian masih--""Dia babuku!" jawab Zayn dingin, seolah sangat terganggu dengan keberadaan Naura. "Tapi tetap saja, Zayn! Aku tidak mau kalian dekat begini dengan alasan apa pun!" ucap Naura egois. Ia seperti anak kecil yang seolah sedang memperjuangkan sesuatu yang ia klaim sebagai miliknya. "Naura--" Zayn tersenyum sinis, ia lalu membungkuk dan berbisik. "Jangan
Melihat keributan itu, beberapa memilih tidak peduli namun Ezra tidak bisa. Ia mungkin tidak suka Azalea, tetapi melihat wanita dikasari ia pun tidak bisa tinggal diam. "Semua bisa dibicarakan baik-baik! Tidak perlu main tangan!" Ezra melerai. "Lagian, kamu memang anak haram! Kenapa marah jika ada yang berkata begitu?!" Ezra bicara dengan entang, ia tidak peduli jika Alvano ikut kesal padanya. Toh, apa yang ia katakan memang fakta. "Jaga mulutmu--!" Alvano menunjuk Ezra, ia tidak terima. Keduanya yang memang berselisih sejak awal justru makin mengobarkan api permusuhan. Ajang balas dendam pun akhirnya pecah. Alvano dan Ezra berduel dengan tenaga penuh. Bugh! Alvano lebih dulu melayangkan pukulan. Tidak terima, Ezra ikut membalas. Adu tinju pun semakin memanas hingga suasana kelas riuh dan berantakan. "Berhenti! Kenapa kalian malah jadi ribut!" teriak salah satu anak, tapi tidak dihiraukan. Azalea pun kebingungan, masalah yang awalnya antara Alvano dan Azalea, sekarang justru m
Zayn mengerti apa maskud kakeknya, ia bahkan tetap tenang tanpa rasa panik sedikit pun. Zayn tersenyum miring. "Kakek, aku selalu mendoakanmu panjang umur. Jadi tidak perlu terburu-buru, bukankah aku masih harus lulus sekolah, kuliah sampai sarjana, lalu lanjut magister?" katanya santai, dengan nada suara yang rendah dan membujuk. "Tapi kalau memang Kakek merestuiku untuk menikah muda, misal sekolah sambil punya istri dan anak, aku tidak keberatan. Tapi bukan dengan keturunan dari ketiga teman kakek yang itu!" imbuhnya lebih berani dengan senyum menantang. Zayn sengaja mengatakan itu, karena ia tahu jelas kakeknya yang punya ambisi menikahkan keturunannya dengan anak cucu dari ketiga sahabatnya dulu. Mendengar ucapan Zayn, jelas saja wajah Adinata memerah, ia merasa tersindir apalagi di sana juga ada Naura yang jelas cucu dari Suryanegara. "Zayn," sebut Adinata dengan suara penuh penekanan. "Kamu--""Kakek!" Zayn yang melihat perubahan ekspresi kakeknya langsung pura-pura panik.
"Mencuri? Maksudnya?" Naura yang membalas lebih dulu.Di sampingnya, Azalea berdiri bingung. Tidak menyangka ia baru masuk dan langsung mendapat tuduhan. "Naura, ada yang kehilangan uang dan barang-barang di kelas ini. Lebih baik kamu cek juga, mungkin punyamu juga ada yang hilang." "Ah, masa sih
Haikal berbalik, ia tidak lagi mengamati keluar jendela. Lebih memilih bersiap masuk kelas karena sebentar lagi bel berbunyi. "Astaga, kenapa belakangan aku merasa Zayn punya rasa dengan Lea?" gumam Ezra dengan wajah bodohnya. Ia mengikuti Haikal sambil mengoceh sendiri dan menepuk kepalanya. "Ap
"Kontrak kerja?" Kening Zayn berkerut. Azalea meringis malu-malu. "Hanya perjanjian secara tertulis agar kita sama-sama tidak rugi. Nanti kamu jelaskan detail bayarannya, dan aku juga jelaskan detail pekerjaan yang akan aku garap." Gadis itu sudah berubah lebih cerewet dan pintar bernegosiasi. K
Zayn mengangguk dan sesekali mendesis lagi seolah sedang menahan sakit. Kening Ezra berkerut, matanya menyipit mengamati wajah Zayn yang aneh. Sejak tadi Zayn baik-baik saja, tapi setelah berada di dekat Azalea justru memasang wajah pesakitan.Ia berpikir, Azalea benar-benar pembawa sial, bahkan h







