LOGINAzalea meremas selimut, tangannya mengepal menahan gemetar saat ia mendengar apa yang sedang Ezra ceritakan. Tidak semua Ezra ceritakan detail, namun garis besar tentang masalah Azalea ia sudah memberitahu. "Jangan sedih Lea, bagaimana pun kami sudah membantu sebisanya. Haikal dimasukkan ke barak militer, dia harus bertahan selama empat bulan di sana." Azalea mengangguk paham, itu sudah cukup baik. Setidaknya, pelaku diberi efek jera. Hanya saja yang tidak Azalea habis pikir, Zayn masih melindungi Naura yang jelas salah! "Kamu tahu, Naura calon pasangannya Zayn. Jadi.... " Ezra agak ragu mengatakannya. "Mungkin Zayn tidak tega harus menghukumnya, tolong mengerti ya... Lea?" Ezra bicara dengan menatap Azalea, memperhatikan perubahan di wajah gadis itu. "Tidak apa, Ez. Aku tahu, Zayn sudah sangat bermurah hati. Ia tidak segan mengadili sahabatnya, tapi untuk Naura, ia memang spesial. Biar aku saja yang menyelesaikan masalahku dengan Naura nanti." Ezra mengangguk, ia lihat Azal
Zayn menarik tangannya, ia bahkan sudah memejamkan mata. "Latihan samsak," jawab Zayn dengan tetap memejam. Azalea masih merasa aneh, namun tidak mendesak lebih jauh. "Lain kali pakai sarung tinju, bagaimana pun tangan itu berharga," kata Azalea khawatir. Ia menatap Zayn yang sudah memejam dengan berbantalkan tangan kanannya. Azalea menghela napas dalam, kemudian ikut tertidur. Ia mungkin bisa sedikit tenang karena ada yang menemaninya sekarang. Tanpa sadar Azalea terus menggenggam tangan Zayn. Dengan itu, ia bisa lebih tenang dan tidur nyenyak. ***Azalea bangun, namun di sisinya tidak ada lagi Zayn. Hanya seorang perawat yang datang mengecek kondisi Azalea. Gadis itu melihat ponselnya, ia pikir mungkin Zayn mengirimkan pesan. Sayangnya tidak ada satu pun, yang ada justru notifikasi pesan dari forum sekolah di media sosial. Mata Azalea terbelalak, ia membaca berita Haikal yang kini ditahan di kantor polisi. Tidak hanya itu, dua pemuda yang melecehkan Azalea dan tukang ojek k
Ezra tidak mau, bagaimana pun ia lebih takut Haikal akan mati ketimbang ia ikut dimarahi Zayn. "Zayn, sadarlah! Haikal bahkan sudah tidak bisa melawan lagi!""Dia keras kepala! Bahkan masih tidak mau mengakui kesalahannya!" Zayn bicara dengan nada lebih keras. Meski tidak sampai hilang kendali, namun emosi pria itu jelas lebih dari biasanya. "Haikal! Mengakulah! Kamu menutupi kesalahan Naura! Kamu juga yang menyuruh orang mencelakai Lea!" Ezra berteriak, ia bicara pada Haikal hanya agar pemuda itu sadar dan segera mengaku salah sebelum Zayn mengambil tindakan lain. "Zayn, kamu memang teman yang brengsek!" Haikal tertawa angkuh. "Kamu selalu berusaha mengendalikan semua orang! Kamu pikir sehebat itu?!" Suasana semakin memanas. Haikal yang tidak tahu diri dan terus memancing emosi, membuat permasalahan ini tidak kunjung menemui titik temu.Zayn dan Haikal saling melempar tatapan tajam, membuat atmosfer di sekeliling mereka terasa kian mencekam.“Kamu boleh menghukumku, tapi jangan
"Lea, sebentar. Sepertinya aku harus menyusul Zayn." Ezra berdiri. Ia membaca pesan singkat yang Zayn kirim."Kamu juga mau menemui Naura--""Jaga dirimu baik-baik, kalo ada apa-apa bisa chat aku atau Zayn!" potong Ezra cepat, ia tidak menunggu pertanyaan Azalea dan langsung berlari keluar. Ezra terlihat tergesa-gesa. Di ruangan itu, terasa semakin sepi. Azalea menghela napas, ia lemas tapi tidak bisa tenang. Ia terus kepikiran soal ibunya. Ia teringat dengan kepala ibunya yang terbentur mobil dan aspal, darah yang merembes sangat banyak. ***Zayn dan Ezra kini berada di sebuah gedung kosong. Tempat itu yang menjadi pilihan oleh orang suruhan Zayn untuk mengumpulkan target-target yang selesai mereka cari. "Bos muda," panggil ketua dari lima orang suruhan itu pada Zyan. Ia tersenyum penuh percaya diri. "Dua pria brengsek, ojol brengsek, dan satu lagi anak sekolah brengsek sudah kami dapatkan!"Zayn berdiri, di sampingnya ada Ezra yang tersenyum puas namun juga ada rasa kecewa keti
"A--pa? Berbeda apanya!" Azalea gugup, jangan sampai Zayn tahu ia badmood seharian ini karena terus kepikiran Zayn berciuman dengan Naura. "Kamu terlalu banyak berpikir, Zayn--"Saat Azalea bicara, Zayn kembali mendekat dan reflek Azalea mendorongnya. "Zayn, jangan mendekat! Bibirmu bekas Naura!" ucap Azalea keceplosan. Sontak saja Zayn mengernyit heran. Ia mungkin bukan hendak mencium Azalea, namun ucapan gadis itu jelas membuatnya merasa aneh. "Maksudmu apa, Lea? Kamu bilang bibirku bekas?" Zayn langsung menarik tengkuk gadis itu agar condong ke arahnya, lalu sebelah tangannya kembali mencengkeram dagu gadis itu. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Azalea tidak berani menjawab, ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Bicara, Lea!" Ibu jari Zayn menekan sudut bibir gadis itu hingga membuatnya terbuka dan memaksanya bicara. "A-ku, aku ... melihatmu berciuman dengan Naura siang tadi. Karena itu, aku tidak ingin membuatnya sering salah paham dengan kedekatan kita. Aku akan b
"Zayn?" Azalea buru-buru menegakkan tubuhnya. Ia berdiri gugup. "Aku tidak ceroboh, tapi suara itu memang mengagetkanku!" elak Azalea dengan sedikit ketus. Sementara seseorang yang memanggil itu tidak menampakan dirinya, hanya teman iseng. Zayn tersenyum miring, ia melihat ke arah jam di tangannya. "Latihan hari ini selesai, terimakasih untuk kerjasamanya!" kata Livia pada semua timnya termasuk Azalea yang menoleh dan mengangguk. Azalea buru-buru ingin berkemas ke ruang ganti, setelah pamit pada Zayn yang masih berdiri di sana.Keluar dari ruang ganti, ia berniat untuk langsung pulang, namun ada Zayn yang menunggu. "Zayn, tadi aku sudah mengirim pesan. Aku harus langsung pulang. Kalau mau memberiku tugas, besok saja," mohon Azalea. "Aku antar pulang." Azalea menggeleng cepat. "Tidak perlu, Zayn. Tidak ada kegiatan apa pun yang akan kulakukan. Aku tidak mau merepotkanmu," tolak Azalea cepat. Seperti biasa, Zayn tidak mendengarkannya. Zayn langsung berjalan ke tempat parkir. Di
"Kontrak kerja?" Kening Zayn berkerut. Azalea meringis malu-malu. "Hanya perjanjian secara tertulis agar kita sama-sama tidak rugi. Nanti kamu jelaskan detail bayarannya, dan aku juga jelaskan detail pekerjaan yang akan aku garap." Gadis itu sudah berubah lebih cerewet dan pintar bernegosiasi. K
Zayn mengangguk dan sesekali mendesis lagi seolah sedang menahan sakit. Kening Ezra berkerut, matanya menyipit mengamati wajah Zayn yang aneh. Sejak tadi Zayn baik-baik saja, tapi setelah berada di dekat Azalea justru memasang wajah pesakitan.Ia berpikir, Azalea benar-benar pembawa sial, bahkan h
Kedatangan Azalea cukup disambut baik, pemuda itu menoleh dan membalas dengan senyuman. "Siapa namamu? Santai saja," kata pemuda bernama Irvan. "Panggil saja aku Aza." Azalea sengaja membuat nama panggilan baru, ia hanya iseng membedakan nama panggilan di tempat kerja dan di keseharian. Irvan m
Ezra menunggu jawaban dari Haikal, cukup lama sampai Haikal akhirnya mau buka suara lagi. "Ada. Anak perempuan dari masa kecil." Jawaban Haikal membuat Ezra terkekeh untuk mencairkan ketegangan. "Dari masa kecil? Berarti kamu sudah sangat lama menyukainya dong!"Ezra mencairkan suasana dengan m







