LOGINMau tak mau, Ali akhirnya menuruti permintaan ibunya. Bukan karena ia takut pada Subrata. Tetapi karena ia terlalu menyayangi Ratih hingga tak sanggup lagi melihat perempuan itu menangis karenanya.
Setelah percakapan itu selesai, Ali masuk ke kamarnya dengan langkah berat. Ruangan yang biasanya terasa nyaman mendadak terasa sempit dan menyesakkan. Ia membuka lemari lalu mulai memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas ransel hitam miliknya. Di atas meja belajar, map berisi berkas-berkas pendaftaran tes kedinasan sudah tersusun rapi.
Semua sudah dipersiapkan oleh Subrata. Tempat pelatihan, penginapan di Jakarta, hingga koneksi orang-orang yang akan membantu Ali selama proses tes. Ali hanya tinggal menjalani semuanya, seperti jalan hidup yang sejak awal sudah ditentukan untuknya.
Rencananya, Ali akan satu bulan di Jakarta, namun jika ia lolos tes maka dia akan bekerja di sana. Artinya, ia akan jauh dari desa dan jauh dari Lastri. Pikiran itu membuat tangan Ali terhenti sesaat saat melipat bajunya. Ia terduduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah kasar. Dadanya terasa sesak membayangkan harus pergi tanpa bertemu Lastri terlebih dahulu.
Bagaimana jika perempuan itu mengira dirinya pergi begitu saja? Bagaimana jika selama ia di Jakarta, Subrata kembali mendatangi warung Lastri?
Rahasia hubungan mereka saja sudah cukup rumit. Kini jarak dan waktu terasa seperti ancaman baru yang perlahan mengusik pikirannya.
Ali menatap layar ponselnya lama. Ada keinginan untuk menghubungi Lastri sejak tadi pagi, tetapi ia takut pembicaraan mereka diketahui ayahnya.
Hingga akhirnya, menjelang siang, Ali mengambil keputusan nekat. Jam menunjukkan pukul dua siang ketika suasana rumah mulai sepi. Subrata masih berada di kantor desa, sementara Ratih sedang sibuk menghadiri kegiatan PKK bersama ibu-ibu desa.
Inilah satu-satunya kesempatan. Ali mengambil kunci motor pelan lalu keluar rumah tanpa banyak suara. Mesin motor menyala pelan sebelum akhirnya melaju meninggalkan halaman rumah Pak Lurah.
Angin siang menerpa wajah Ali sepanjang perjalanan menuju warung kopi milik Lastri. Namun semakin dekat ia ke sana, semakin kacau pula perasaannya. Ada rasa rindu dalam dadanya, namun juga takut. Takut jika setelah bertemu Lastri, ia justru tak mampu meninggalkannya.
Sesampainya di warung kopi milik Lastri, suasana terlihat lebih sepi dari biasanya.
Jam istirahat siang rupanya sudah usai. Para pelanggan tetap Lastri yang kebanyakan buruh bangunan yang sedang mengerjakan proyek jembatan desa sudah kembali bekerja. Hanya suara kipas angin tua dan denting sendok dari dapur kecil yang terdengar samar di tengah hawa siang yang panas.
Melihat keadaan itu, sudut bibir Ali langsung terangkat tipis.
“Kesempatan bagus…” gumamnya pelan dengan wajah sumringah. Setidaknya ia bisa berbicara lebih leluasa dengan perempuan yang sejak tadi pagi terus memenuhi pikirannya.
Ali melangkah masuk ke warung. Begitu melihat kedatangan Ali, Lastri yang sedang membereskan gelas di meja langsung terdiam.
“Ah… Mas Ali?” wajah perempuan itu spontan berbinar. “Kamu datang siang begini?”
Senyum hangat merekah di bibirnya. Senyum sederhana yang entah kenapa selalu berhasil membuat dada Ali terasa tenang.
Tatapan mereka saling bertemu beberapa detik lebih lama dari biasanya. Mendadak suasana warung kecil itu terasa berbeda. Masih teringat jelas di benak Lastri bagaimana lelaki itu memeluknya semalam di atas ranjang bambu sederhana miliknya. Kehangatan tubuh Ali, bisikan lembutnya, hingga cara lelaki itu menatapnya penuh rasa sayang terus terbayang sejak pagi. Membuat jantung Lastri kembali berdebar kacau hanya karena melihat Ali berdiri di hadapannya sekarang.
Sementara Ali sendiri tak bisa menyembunyikan tatapan rindunya. Baru beberapa jam berpisah, tetapi rasanya seperti sudah terlalu lama tidak melihat perempuan itu.
“Aku kangen,” ucap Ali pelan sambil melangkah mendekat.
Kalimat sederhana itu membuat pipi Lastri memanas.
“Mas…” Lastri menunduk malu, tetapi senyumnya tak mampu disembunyikan. “Baru juga tadi pagi ketemu.”
“Iya,” jawab Ali lirih. “Tapi tetap aja kangen.”
Lastri menarik tangan Ali pelan, mengajaknya masuk lebih dalam ke warung yang kini sepi pelanggan. Jemarinya terasa hangat dalam genggaman Ali, membuat lelaki itu sejenak lupa pada semua masalah yang sejak pagi membebani pikirannya.
Mereka duduk berdampingan di kursi bambu panjang yang biasa dipakai para pelanggan menikmati kopi. Suasana mendadak canggung sekaligus hangat. Tak ada yang langsung berbicara. Hanya suara kipas tua yang berdecit pelan dan detak jantung masing-masing yang terasa semakin jelas di tengah keheningan siang itu.
Lastri sesekali mencuri pandang ke wajah Ali. Begitu juga Ali yang diam-diam menatap perempuan di sampingnya seolah sedang menghafal setiap detail wajah itu sebelum pergi jauh.
Hingga akhirnya Ali menarik napas panjang.
“Lastri…” suaranya terdengar hati-hati. “Aku mau ngomong serius.”
Lastri langsung menoleh. Senyum kecil di wajahnya perlahan memudar melihat raut Ali yang berbeda dari biasanya.
“Iya, Mas…” jawabnya lembut. “Aku siap dengerin.”
Ali terdiam sesaat sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara.
“Hubungan kita…” rahangnya mengeras pelan. “…sudah diketahui Bapak.”
Deg! Lastri spontan mendongak. Matanya membulat penuh keterkejutan dan kecemasan.
Wajahnya langsung pucat.
“Lalu… bagaimana, Mas?” tanyanya lirih.
Ali menunduk sebentar, seolah sedang mencari cara paling ringan untuk menyampaikan semuanya.
“Bapak marah besar,” ucapnya pelan. “Dia nyuruh aku pergi dari desa ini sementara waktu.”
Lastri menggenggam ujung bajunya erat.
“Pergi?”
Ali mengangguk lemah.
“Bapak sudah nyiapin semuanya buat tes kedinasan di Jakarta.” Tatapannya beralih pada Lastri yang mulai terlihat gelisah. “Aku harus ikut pelatihan di sana hampir satu bulan.”
Sunyi. Kalimat itu seolah membuat udara di warung mendadak terasa berat. Lastri menatap Ali tanpa berkedip, mencoba mencerna kenyataan yang baru saja ia dengar.
Baru semalam mereka saling mengungkapkan perasaan. Baru semalam ia merasa tidak sendirian lagi. Tetapi sekarang, Ali justru harus pergi meninggalkannya.
"Angga, habis ini kamu ada rencana ke mana?" tanya Nadine saat jam belajar usai. Langkahnya dipercepat demi bisa menyusul langkah Angga."Nggak ada. Paling balik ke kos, terus tidur," jawab Ali santai.Nadine langsung menghentikan langkahnya. Matanya membulat tak percaya. "Hah? Serius?"Ali menoleh heran. "Kenapa?""Ya ampun, Angga! Kamu lagi di Jakarta, lho. Kota sebesar ini, tapi habis kelas malah milih tidur di kos?"Ali terkekeh pelan. "Terus aku harus ngapain? Buatku nggak ada yang terlalu menarik."Ia kembali melangkah menuju gerbang gedung. Nadine buru-buru menyusul. Langkah Ali yang panjang membuat perempuan itu harus berjalan lebih cepat agar tidak tertinggal."Minimal kita nongkrong, lah. Di dekat sini ada kafe baru yang lagi ramai. Tempatnya enak buat santai."Ali menggeleng. "Kafe? Aku belum pernah ke kafe."Nadine menatapnya dengan ekspresi tak percaya."Jangan bercanda. Masa belum pernah?""Beneran.""Terus kamu kalau mau ngopi di mana?""Di warung kopi."Jawaban itu mem
Udara pagi yang dingin menusuk kulit membuat Lastri terbangun bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahut-sahutan memecah sunyi, menandai dimulainya hari baru. Sebagai perempuan yang terbiasa bekerja keras, Lastri memang selalu bangun sebelum matahari menampakkan sinarnya.Ting...Bunyi notifikasi dari ponselnya memecah lamunannya. Dengan sedikit heran, Lastri segera meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.Senyum tipis langsung merekah di bibirnya.Pesan itu berasal dari Ali.[Lastri, aku sedang dalam perjalanan menuju stasiun. Jaga dirimu baik-baik, ya. Aku mencintaimu.]Dada Lastri seketika menghangat. Berkali-kali ia membaca pesan singkat itu, seolah tak ingin melewatkan satu kata pun yang ditulis oleh lelaki pujaan hatinya.Jemarinya kemudian bergerak membalas.[Aku akan selalu menjaga diri untukmu, Mas Ali. Semoga perjalananmu lancar dan kamu selalu baik-baik di kota.]Setelah menekan tombol kirim, Lastri kembali menatap layar
Lastri tertegun. Matanya membelalak saat melihat sosok yang berdiri di balik pintu."Mas Ali...?"Dadanya seolah berhenti berdetak sesaat. Lelaki yang sejak tadi ia tunggu akhirnya benar-benar datang."Lastri... maafkan aku. Aku datang terlambat," ucap Ali dengan napas yang masih memburu. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.Lastri menatapnya lekat. Sudut matanya mulai memanas, menahan air mata yang nyaris tumpah."Mas Ali... aku pikir... Mas tidak akan datang lagi," bisiknya lirih. Ada kelegaan dalam suaranya, tetapi juga sisa keputusasaan yang belum sepenuhnya hilang.Ali menggeleng pelan."Bapak mengawasi aku dengan sangat ketat. Bahkan beliau menyuruh beberapa pegawai berjaga di depan kamarku supaya aku tidak bisa keluar."Lastri mengerutkan kening."Lalu... bagaimana Mas bisa sampai ke sini?"Ali tersenyum tipis, meski napasnya masih belum benar-benar teratur."Aku melompat dari jendela kamarku."Mata Lastri membulat."Mas... melompat dari jendela?"Ali mengangguk mantap."Iya. Aku t
"Bu Ratih...?" bisik Lastri lirih. Matanya membulat, wajahnya seketika pucat. Ia sama sekali tak menyangka orang yang datang bukanlah Ali, lelaki yang sejak tadi ia tunggu. Justru Ratih, perempuan yang paling ingin ia hindari.Ratih berdiri tegak di hadapannya. Tatapannya dingin dan tajam, menyapu tubuh Lastri dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai sesuatu yang menjijikkan. Sorot mata itu membuat jantung Lastri berdegup semakin kencang dan tubuhnya gemetar. "Sepertinya... kamu sedang menunggu seseorang?" ujar Ratih pelan. Nada bicaranya terdengar tenang, tetapi setiap katanya dipenuhi sindiran yang menusuk. Lastri memilih diam. Bibirnya terasa kelu, sementara kepalanya semakin tertunduk. Ia tahu betul alasan Ratih begitu membencinya. Bagaimanapun juga, suami dan anak lelaki Ratih sama-sama menaruh hati kepadanya. Perempuan mana yang bisa menerima kenyataan sekejam itu? "Suamiku... atau putraku?" tanya Ratih lagi. Tatapannya semakin tajam, seolah ingin menembus perta
"Dari mana?" Suara dingin Subrata menghentikan langkah Ali yang baru saja mengendap-endap memasuki rumah. Pria itu berdiri di ruang tengah dengan sorot mata tajam, seolah sudah menunggu kepulangannya sejak tadi. Ali mengembuskan napas pelan. Rasa lelah bercampur kesal membuatnya tak lagi ingin berbasa-basi. "Apa peduli Bapak?" balasnya datar. "Aku sudah menuruti perintah Bapak untuk pergi ke Jakarta. Apa itu masih belum cukup?" Nada suaranya terdengar tenang, tetapi menyimpan perlawanan yang selama ini ia pendam. Ali berdiri di hadapan ayahnya tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa gentar. Rahang Subrata mengeras. "Kamu habis menemui janda itu lagi?" geramnya. Ali menatap ayahnya lurus. "Kenapa? Karena Bapak sendiri juga menginginkannya?" Ucapan itu menghantam Subrata seperti tamparan keras. "Lancang sekali ucapanmu, Ali!" bentaknya. "Bapak hanya ingin yang terbaik untukmu! Bapak ingin kamu mendapatkan perempuan yang terhormat dan setara, bukan janda kampung seperti Lastri!" Dad
"Satu bulan?" suara Lastri nyaris hanya berupa bisikan. Wajahnya mendongak, menatap Ali, seolah berharap pemuda itu berkata bahwa semua ini hanyalah gurauan.Ali mengangguk pelan. Ada sorot tak berdaya di matanya. "Bisa jadi lebih lama... kalau aku lolos tes."Kalimat itu membuat dada Lastri terasa sesak. Satu bulan saja sudah terdengar begitu panjang, apalagi jika ternyata harus lebih lama lagi."Lalu... bagaimana denganku, Mas?" tanyanya lirih. Ada ketakutan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.Ali meraih kedua tangan Lastri, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan keyakinan yang bahkan ia sendiri sedang berusaha kumpulkan."Kamu... mau kan menjaga diri demi aku?" ucapnya penuh harap. "Aku janji, begitu urusan tes kedinasan selesai, aku akan segera kembali. Kalau aku berhasil lolos, aku akan menjemputmu. Kita akan tinggal bersama di Jakarta."Lastri menundukkan kepala. Kata-kata itu terdengar begitu indah, seperti mimpi yang selama ini tak pernah berani ia bayangkan. Namun, di b







