Home / Romansa / Janji Mas Ali / 5. Permintaan Ibu

Share

5. Permintaan Ibu

Author: Rinda
last update publish date: 2026-05-23 19:52:06

"Ibu..." suara Ali melemah, penuh rasa bersalah.

Ali berjalan mendekati Ratih, namun Ratih hanya mundur satu langkah. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipi yang mulai dipenuhi garis-garis usia. Tatapan perempuan itu berpindah perlahan dari Ali… lalu kepada Subrata yang masih berdiri dengan wajah keras penuh amarah.

Ali memberanikan diri melangkah mendekati ibunya.

“Ibu, dengar dulu”

Namun Ratih justru membalikkan badan.

Perempuan paruh baya itu berjalan cepat menuju kamar tanpa mengatakan apa pun. Bahunya bergetar pelan menahan tangis yang sejak tadi ia tahan di depan suami dan anaknya.

“Ibu, tunggu!” Ali segera mengejar dari belakang. “Maafin Ali, Bu…”

Tetapi Ratih seolah tak mendengar. Ia masuk ke kamar dengan langkah tergesa, lalu menutup pintu kamar cukup keras.

Brak!

Ali berhenti di depan pintu dengan napas memburu. Dadanya terasa sesak melihat keadaan ibunya. Seumur hidup, Ratih memang sudah terlalu sering disakiti oleh Subrata. Jabatan, uang, dan kuasa membuat lelaki itu terbiasa merasa bisa melakukan apa saja, termasuk bermain perempuan di belakang istrinya sendiri.

Selama ini Ratih selalu memilih diam dan menelan luka sendirian. Perempuan itu terbiasa mengalah pada kerasnya sikap Subrata demi menjaga nama baik keluarga mereka di mata warga desa.

Ali tahu semua itu. Ia tahu ibunya mungkin sudah kebal mendengar kabar perselingkuhan ayahnya dengan perempuan yang berbeda-beda. Namun tidak untuk kali ini. Kali ini, bukan hanya Subrata yang melukai hati Ratih. Tetapi juga dirinya. Itulah yang paling membuat dada Ali terasa dihimpit rasa bersalah.

Tidak. Ali tidak mau ibunya memandang dirinya sama seperti Subrata. Ia bukan lelaki yang mempermainkan perempuan demi nafsu atau kekuasaan. Perasaannya pada Lastri jauh lebih rumit daripada itu.

Tangan Ali gemetar saat perlahan memutar gagang pintu kamar ibunya.

Klek… Pintu itu ternyata tidak dikunci. Ali membukanya perlahan. Ruangan kamar terasa redup dengan cahaya pagi yang masuk samar dari balik tirai. Di sudut ranjang, Ratih duduk sambil memeluk tubuhnya sendiri.

Bahunya berguncang pelan. Tangisnya pecah tanpa suara. Pemandangan itu membuat hati Ali terasa seperti diremas.

“Ibu…” suaranya serak.

Ali melangkah mendekat perlahan, seolah takut membuat ibunya semakin hancur. Ratih mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Tatapannya penuh luka yang belum pernah Ali lihat sebelumnya.

“Kenapa…” bisiknya lirih dengan suara bergetar. “Kenapa harus perempuan itu, Nak?”

Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun. Ali menunduk. Dadanya dipenuhi rasa bersalah yang perlahan menghimpit napasnya sendiri.

“Ibu nggak mau…” suara Ratih kembali pecah, “…kamu jadi seperti ayahmu.”

Air matanya kembali jatuh di pipi perempuan paruh baya itu.

“Ibu sudah terlalu lama hidup dengan lelaki yang dibutakan jabatan, kekuasaan, dan nafsunya sendiri.” Ratih menggeleng pelan sambil menahan tangis. “Jangan sampai anak Ibu satu-satunya berubah jadi laki-laki yang sama.”

Ali memejamkan mata sesaat. Ucapan ibunya menghantam tepat ke dalam hatinya. Jauh di dalam hatinya, ia juga takut jika semua yang ia lakukan pada Lastri hanyalah bentuk lain dari keserakahan lelaki yang merasa bisa memiliki perempuan sesuka hati.

Namun perasaannya pada Lastri terasa terlalu nyata untuk disebut sekadar nafsu.

Ibu…” Ali berjongkok perlahan di depan Ratih. Suaranya melemah, dipenuhi rasa bersalah yang menyesakkan dadanya. “Aku nggak pernah berniat nyakitin siapa pun… Aku benar-benar mencintai Lastri, Bu.”

Ratih menatap putranya dengan mata sembab.

Ada kecewa yang masih jelas tersisa di wajah perempuan itu. Namun di balik semua luka dan kemarahannya, rasa sayangnya sebagai seorang ibu tetap lebih besar daripada apa pun.

Perlahan Ratih mengusap pipi Ali yang masih meninggalkan bekas tamparan merah dari Subrata.

“Nak…” suaranya lirih dan lelah. “Banyak perempuan lain yang lebih baik dari Lastri. Kenapa harus dia?”

Pertanyaan itu membuat Ali terdiam. Ia sendiri tak tahu sejak kapan perasaannya pada Lastri tumbuh begitu dalam.

Mungkin sejak  ia sering mampir di warung Lastri sekedar untuk ngopi dan menghilangkan penat selepas kuliah. Ali melihat perempuan itu tersenyum tegar meski hidupnya penuh kesulitan. Ali melihat Lastri tetap bertahan sendirian saat semua orang memandang rendah dirinya sebagai janda miskin.

Ali tidak tahu pasti sejak kapan perasaannya pada Lastri muncul. Yang jelas, setiap kali memikirkan Lastri, hati Ali selalu merasa ingin melindunginya. Kini perasaan itu sudah terlalu dalam untuk diabaikan begitu saja.

“Aku juga nggak pernah berharap jadi seperti ini, Bu,” bisik Ali pelan. “Tapi aku nggak bisa bohong sama hati Ali sendiri.”

Ratih memejamkan mata sesaat. Air matanya kembali jatuh pelan. Sebagai seorang ibu, ia bisa melihat bahwa putranya memang sungguh-sungguh mencintai perempuan itu. Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa semakin rumit.

Ali meraih tangan ibunya perlahan.

“Ali salah…” suaranya serak. “Ali tahu Ibu kecewa. Tapi apa yang harus Ali lakukan supaya Ibu bisa maafin Ali?”

Ratih terdiam cukup lama sebelum akhirnya menarik napas berat. Tatapannya terlihat rapuh saat kembali menatap wajah putra semata wayangnya itu.

“Turuti permintaan ayahmu, Nak!” ucapnya lirih.

Ali mengernyit.

“Pergilah ke Jakarta dan ikuti tes kedinasan sesuai perintah ayahmu. Jangan kembali ke kampung sebelum kamu sukses!”

Deg! Kalimat itu membuat dada Ali langsung terasa berat.

Ratih menggenggam tangan putranya lebih erat.

“Ibu cuma ingin kamu punya masa depan yang baik,” bisiknya. “Dunia di luar sana luas, Nak! Carilah pengalaman sebanyak mungkin di kota besar."

Ia menunduk dalam diam. Di satu sisi, ia ingin membahagiakan ibunya. Ia tak sanggup melihat ibunya terus menangis seperti ini. Namun di sisi lain, ia membayangkan bahwa meninggalkan Lastri justru terasa seperti merobek sebagian dari dirinya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janji Mas Ali   12. Juragan Karta

    "Angga, habis ini kamu ada rencana ke mana?" tanya Nadine saat jam belajar usai. Langkahnya dipercepat demi bisa menyusul langkah Angga."Nggak ada. Paling balik ke kos, terus tidur," jawab Ali santai.Nadine langsung menghentikan langkahnya. Matanya membulat tak percaya. "Hah? Serius?"Ali menoleh heran. "Kenapa?""Ya ampun, Angga! Kamu lagi di Jakarta, lho. Kota sebesar ini, tapi habis kelas malah milih tidur di kos?"Ali terkekeh pelan. "Terus aku harus ngapain? Buatku nggak ada yang terlalu menarik."Ia kembali melangkah menuju gerbang gedung. Nadine buru-buru menyusul. Langkah Ali yang panjang membuat perempuan itu harus berjalan lebih cepat agar tidak tertinggal."Minimal kita nongkrong, lah. Di dekat sini ada kafe baru yang lagi ramai. Tempatnya enak buat santai."Ali menggeleng. "Kafe? Aku belum pernah ke kafe."Nadine menatapnya dengan ekspresi tak percaya."Jangan bercanda. Masa belum pernah?""Beneran.""Terus kamu kalau mau ngopi di mana?""Di warung kopi."Jawaban itu mem

  • Janji Mas Ali   11. Nadine

    Udara pagi yang dingin menusuk kulit membuat Lastri terbangun bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahut-sahutan memecah sunyi, menandai dimulainya hari baru. Sebagai perempuan yang terbiasa bekerja keras, Lastri memang selalu bangun sebelum matahari menampakkan sinarnya.Ting...Bunyi notifikasi dari ponselnya memecah lamunannya. Dengan sedikit heran, Lastri segera meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.Senyum tipis langsung merekah di bibirnya.Pesan itu berasal dari Ali.[Lastri, aku sedang dalam perjalanan menuju stasiun. Jaga dirimu baik-baik, ya. Aku mencintaimu.]Dada Lastri seketika menghangat. Berkali-kali ia membaca pesan singkat itu, seolah tak ingin melewatkan satu kata pun yang ditulis oleh lelaki pujaan hatinya.Jemarinya kemudian bergerak membalas.[Aku akan selalu menjaga diri untukmu, Mas Ali. Semoga perjalananmu lancar dan kamu selalu baik-baik di kota.]Setelah menekan tombol kirim, Lastri kembali menatap layar

  • Janji Mas Ali   10. Akankah Ali menepati janjinya?

    Lastri tertegun. Matanya membelalak saat melihat sosok yang berdiri di balik pintu."Mas Ali...?"Dadanya seolah berhenti berdetak sesaat. Lelaki yang sejak tadi ia tunggu akhirnya benar-benar datang."Lastri... maafkan aku. Aku datang terlambat," ucap Ali dengan napas yang masih memburu. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.Lastri menatapnya lekat. Sudut matanya mulai memanas, menahan air mata yang nyaris tumpah."Mas Ali... aku pikir... Mas tidak akan datang lagi," bisiknya lirih. Ada kelegaan dalam suaranya, tetapi juga sisa keputusasaan yang belum sepenuhnya hilang.Ali menggeleng pelan."Bapak mengawasi aku dengan sangat ketat. Bahkan beliau menyuruh beberapa pegawai berjaga di depan kamarku supaya aku tidak bisa keluar."Lastri mengerutkan kening."Lalu... bagaimana Mas bisa sampai ke sini?"Ali tersenyum tipis, meski napasnya masih belum benar-benar teratur."Aku melompat dari jendela kamarku."Mata Lastri membulat."Mas... melompat dari jendela?"Ali mengangguk mantap."Iya. Aku t

  • Janji Mas Ali   9. Kedatangan Ratih

    "Bu Ratih...?" bisik Lastri lirih. Matanya membulat, wajahnya seketika pucat. Ia sama sekali tak menyangka orang yang datang bukanlah Ali, lelaki yang sejak tadi ia tunggu. Justru Ratih, perempuan yang paling ingin ia hindari.Ratih berdiri tegak di hadapannya. Tatapannya dingin dan tajam, menyapu tubuh Lastri dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai sesuatu yang menjijikkan. Sorot mata itu membuat jantung Lastri berdegup semakin kencang dan tubuhnya gemetar. "Sepertinya... kamu sedang menunggu seseorang?" ujar Ratih pelan. Nada bicaranya terdengar tenang, tetapi setiap katanya dipenuhi sindiran yang menusuk. Lastri memilih diam. Bibirnya terasa kelu, sementara kepalanya semakin tertunduk. Ia tahu betul alasan Ratih begitu membencinya. Bagaimanapun juga, suami dan anak lelaki Ratih sama-sama menaruh hati kepadanya. Perempuan mana yang bisa menerima kenyataan sekejam itu? "Suamiku... atau putraku?" tanya Ratih lagi. Tatapannya semakin tajam, seolah ingin menembus perta

  • Janji Mas Ali   8. Menunggu kedatangan Ali

    "Dari mana?" Suara dingin Subrata menghentikan langkah Ali yang baru saja mengendap-endap memasuki rumah. Pria itu berdiri di ruang tengah dengan sorot mata tajam, seolah sudah menunggu kepulangannya sejak tadi. Ali mengembuskan napas pelan. Rasa lelah bercampur kesal membuatnya tak lagi ingin berbasa-basi. "Apa peduli Bapak?" balasnya datar. "Aku sudah menuruti perintah Bapak untuk pergi ke Jakarta. Apa itu masih belum cukup?" Nada suaranya terdengar tenang, tetapi menyimpan perlawanan yang selama ini ia pendam. Ali berdiri di hadapan ayahnya tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa gentar. Rahang Subrata mengeras. "Kamu habis menemui janda itu lagi?" geramnya. Ali menatap ayahnya lurus. "Kenapa? Karena Bapak sendiri juga menginginkannya?" Ucapan itu menghantam Subrata seperti tamparan keras. "Lancang sekali ucapanmu, Ali!" bentaknya. "Bapak hanya ingin yang terbaik untukmu! Bapak ingin kamu mendapatkan perempuan yang terhormat dan setara, bukan janda kampung seperti Lastri!" Dad

  • Janji Mas Ali   7. Janji Ali

    "Satu bulan?" suara Lastri nyaris hanya berupa bisikan. Wajahnya mendongak, menatap Ali, seolah berharap pemuda itu berkata bahwa semua ini hanyalah gurauan.Ali mengangguk pelan. Ada sorot tak berdaya di matanya. "Bisa jadi lebih lama... kalau aku lolos tes."Kalimat itu membuat dada Lastri terasa sesak. Satu bulan saja sudah terdengar begitu panjang, apalagi jika ternyata harus lebih lama lagi."Lalu... bagaimana denganku, Mas?" tanyanya lirih. Ada ketakutan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.Ali meraih kedua tangan Lastri, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan keyakinan yang bahkan ia sendiri sedang berusaha kumpulkan."Kamu... mau kan menjaga diri demi aku?" ucapnya penuh harap. "Aku janji, begitu urusan tes kedinasan selesai, aku akan segera kembali. Kalau aku berhasil lolos, aku akan menjemputmu. Kita akan tinggal bersama di Jakarta."Lastri menundukkan kepala. Kata-kata itu terdengar begitu indah, seperti mimpi yang selama ini tak pernah berani ia bayangkan. Namun, di b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status