LOGIN"Ada garis yang kita tarik sendiri, tapi diam-diam berharap seseorang cukup berani untuk menghapusnya."
Ada sebuah malam jauh sebelum hari ini, ketika “simple” belum terdengar menyakitkan. Naya masih SMA waktu itu. Acara pentas seni di sekolah Ardan—ramai, berisik, penuh manusia. Ia sebenarnya tidak mau datang, tapi Ardan memaksa. Lalu pergi entah ke belakang panggung, meninggalkannya di kerumunan. Lampu-lampu panggung berkedip. Musik keras. Orang-orang tertawa. Naya berdiri di dekat tembok, memegang gelas plastik berisi soda yang sudah hampir cair semua esnya. Detak jantungnya terlalu cepat, dan bukan karena ia menikmati musik. “Kenapa mukanya kayak mau Ujian besok?” Suara itu datang dari samping. Elric berdiri di sana, tangan di saku, menyender santai ke tembok. Kaos hitam, jaket denim. Dewasa muda yang terlihat biasa saja di tengah konser kecil, tapi rasanya bagi Naya… tempat paling sunyi yang ia temukan malam itu. “Aku… nggak terlalu suka keramaian,” akunya pelan. “Kalau kamu nggak suka, kenapa ikut?” “Kak Ardan maksa,” ia mengangkat bahu. Elric tertawa pendek. “Klasik.” Mereka berdiri berdampingan tanpa banyak bicara. Di depan, teman-teman Ardan berteriak, memanggil nama band yang tampil. Lampu warna-warni menari-nari di wajah orang. “Naya,” Elric berkata setelah beberapa menit. “Kalau terlalu ramai, kamu bilang, ya.” “Bilang ke siapa?” “Ke aku.” Matanya tetap menghadap panggung. “Aku di sini.” Itu saja. Bukan janji muluk-muluk. Bukan kalimat manis ala drama. Tapi cukup untuk membuat Naya bertahan sepanjang malam tanpa merasa sesak. Dan sejak malam itu, “di sini”-nya Elric menjadi definisi rumah lain di kepala Naya. *** “Bu Naya?” Ia kembali ke café, mendapati pandangan Rafi masih tertuju ke arahnya. “Maaf, saya nanya pertanyaan yang terlalu serius, ya?” “Enggak, kok.” Naya menggeleng pelan. “Pertanyaannya wajar.” Tehnya sudah berkurang setengah. Ia meneguk sedikit, mencoba mengembalikan fokus. “Kalau aku jadi kamu, aku sih pilih tetap di sini,” lanjut Rafi, masih mencoba santai. “Di Indonesia, maksudku. Biar kami bisa minta diajarin terus.” “Jangan bikin validation specialist-nya lari, dong, Raf.” Dina ikut bercanda. “Baru juga datang sehari.” “Aku nggak lari,” potong Naya lembut. “Cuma… kadang orang perlu pergi untuk tahu dia mau tinggal di mana.” Perkataan itu keluar begitu saja, dan menggantung di udara. Keira meliriknya cepat. Elric terdiam sepersekian detik. “Dan kamu sudah tahu mau tinggal di mana?” Pertanyaan itu terlontar sebelum Elric sempat menahannya. Nada suaranya terdengar ringan—terlalu ringan. Tapi mata Naya menangkap sesuatu yang lain: gugup yang disamarkan, takut akan jawaban yang mungkin tidak ingin ia dengar. “Untuk sekarang…” Naya menaruh mug-nya pelan. “Aku cuma tahu aku punya kontrak kerja di sini. Itu dulu.” Jawaban aman. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. “Fair enough,” komentar Keira, mencoba mencairkan suasana. “Yang penting, jangan ninggalin aku dulu. Aku butuh tangan kanan yang waras.” “Tangan kanan?” Rafi memprotes. “Lah, kita apa?” “Tim yang kukasihi,” balas Keira. “Tapi tetap butuh satu orang yang bisa kubawa curhat sambil lihat batch record. Dan itu Naya.” Tawa kecil pecah di meja. Sejenak, suasana kembali ringan. Tapi Elric tidak ikut tertawa. Ia hanya memperhatikan, sesekali menyesap kopinya, sesekali menggeser piring snack lebih dekat ke arah Naya tanpa sadar ketika salah satu pelayan lewat terlalu dekat dan hampir menyenggol mug-nya. Gerakan kecil. Refleks protektif yang sudah terlalu lama terlatih. Di kepalanya, suara aneh muncul: Sejak kapan kamu peduli sejauh ini pada rencana tinggal-pindah seseorang yang… bukan siapa-siapa? Naya tertawa kecil pada sesuatu yang Dina katakan. Rambutnya jatuh sedikit menutupi mata, dan tanpa pikir panjang Elric ingin mengulurkannya ke belakang telinga. Tangan itu berhenti di tengah jalan, hanya menggenggam sendok. Konyol. *** Waktu berlalu cepat di café. Satu per satu anggota tim pamit—ada yang harus kembali ke kantor, ada yang mengejar commuter line. Keira bangkit lebih dulu. “Aku ke kasir dulu, ya. Biar sekalian aku yang bayar. Nanti kalian reimburse ke finance, jangan ke aku. Aku bukan ATM berjalan.” Rafi pamit ke toilet. Dina menerima telepon dan keluar sebentar ke teras. Aldi, staff produksi yang banyak ,emyimak tapi tidak banyak ikut nimbrung sudah lebih dulu mengejar kereta. Tiba-tiba, meja panjang itu hanya menyisakan dua orang. Naya merapikan sendok dan tisu di depannya, terlalu sadar akan hening yang datang setelah tawa berhenti. Elric bingung harus berdiri atau tetap duduk. Laki-laki itu justru mendorong punggungnya sedikit ke sandaran kursi, seolah memutuskan sesuatu. “Naya,” panggilnya pelan. “Hmm?” Naya menatapnya, berusaha tidak menunjukkan kegugupan. “Aku…” Elric berhenti sejenak, mencari kata. “Ada banyak hal yang… aku nggak ngerti.” “Contohnya?” Suaranya datar, tapi tangannya saling menggenggam di pangkuan. “Kenapa kamu pergi tanpa pamit,” ujar Elric jujur. “Kenapa kamu memutus semua kontak. Kenapa sekarang kamu—” Ia tidak meneruskan. Menyadari kalimat ketiganya hampir menyentuh sesuatu yang terlalu dalam. Naya menahan napas. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah hal yang selalu ia siapkan jawaban untuk dirinya sendiri, tapi tidak pernah untuk orang lain. “Kak Elric,” ia memanggil dengan nada yang jarang ia pakai—lebih lembut, tapi juga lebih lelah. “Jangan tanya hal-hal yang kamu sendiri nggak siap dengar jawabannya.” Setelah kata itu terucap, Naya sadar betul bahwa ia hanya mencoba menego waktu, karena ia sendiri tak yakin jawaban apa yang paling tepat yang bisa ia berikan agar hati mereka bisa sama-sama menerima. Ia berpikir Elric akan tertawa, atau mengalihkan, atau melempar candaan. Tapi laki-laki itu justru menatapnya lama. “Aku siap,” katanya. Pelan. Serius. “Mungkin telat tujuh tahun, tapi aku siap.” Jantung Naya berdebar sekali, dua kali, terlalu keras. Dan tepat saat itu, suara Keira terdengar dari kasir. “Kak El, Naya! Kartu kreditku ditolak nih, tolong salah satu ke sini!” Momen itu pecah. Naya menghela napas, menatap ke arah kasir. “Aku duluan.” Ia bangkit sebelum Elric sempat berkata apa-apa lagi. Dan ia tahu, kalau setiap kali mereka hampir menyentuh inti persoalan, selalu ada sesuatu yang datang di tengah—baik itu panggilan kasir, telepon pekerjaan, atau ketakutan mereka sendiri.-BERSAMBUNG-Setelah berkutat dengan permasalahan sabotase jalur pipa yang berujung pada ledakan di area produksi parfum, pagi ini Pabrik terasa berbeda.Suara tawa dan obrolan kembali terdengar di cafe bawah dekat resepsionis tempat para pekerja biasa menghabiskan waktu pagi dengan secangkir kopi sebelum memulai hari. Dengung suara AC yang disambut dengan suara ketikan keyboard dan suara klik mouse terdengar begitu normal dan menenangkan.Hari ini Naya datang sedikit lebih pagi. Bukan karena pekerjaan menumpuk, melainkan karena ia ingin menikmati beberapa menit pertama hari tanpa alarm darurat, tanpa bisikan ancaman, tanpa rasa waswas menoleh ke belakang.Ia ingin menikmati Althera dengan suasana baru.Naya berdiri di dekat jendela ruang utility, memandangi halaman pabrik yang basah oleh sisa hujan semalam. Untuk pertama kalinya setelah lama… ia bisa bernapas dengan lega.“Pagi.”Suara itu datang dari belakang. Tenang. Familiar.Elric.Naya menoleh. Kemeja abu-abu muda, lengan digulung, kopi di
Pagi itu, hujan turun rintik-rintik,membuat suasana Semakin suram. Saat ini, Ruang kontrol sudah dipenuhi dengan cahaya dari layar. Grafik tampak stabil. Tekanan normal. Dan Tidak ada alarm yang berbunyi. Namun, ketegangan tetap terasa di udara. Tetha berdiri di depan monitor utama, jemarinya bergerak cepat. “Jam CCTV sudah kita kunci dan disinkronkan ulang,” katanya. “Kalau ada yang mencoba manipulasi lagi, sistem akan menandainya otomatis.” Zoe berdiri di sisi lain, membuka folder laporan. “Email anonim ke Naya sudah kita trace. IP-nya dipantulkan lewat dua proxy, tapi…” Ia berhenti sejenak. “…ada satu kesalahan kecil.” Semua menoleh. “Proxy terakhir pakai jaringan internal lama. Jalur yang masih aktif hanya ada satu di gedung utilitas lama.” Nandini mengangguk pelan. “Gedung workshop.” Reza langsung berdiri. “Aku kirim ke security.” “Jangan dulu,” potong Nandini tenang. “Kalau kita datang dengan orang-orang berseragam, mereka akan diam. Kita butuh… pengakuan.”
Keputusan diambil tanpa ketukan palu.Nandini menutup laptopnya dengan satu gerakan tenang.Bukan karena diskusi selesai, tapi karena arah pencarian mereka sudah jelas.“Besok pagi,” katanya, “kita lakukan parallel inquiry. Bukan interogasi resmi. Masih pengumpulan fakta.”Metha mengangguk. “Aku ambil Bayu. Secara teknis dia di bawah scope engineering lama.”“Tetha,” lanjut Nandini, “kamu dengan IT. Aku mau full mirror access. Tidak ada lagi jam yang bisa ‘tersesat’.”Tetha tersenyum tipis. “Akhirnya. Aku sudah menunggu izin itu.”Zoe menatap Naya. “Kamu?”Naya mengangkat wajah. Ada jeda sebelum menjawab.“Aku ikut Yogi.”Ruangan hening lagi.Yogi adalah orang lama Yang tidak pernah benar-benar menerima perubahan. Yang terlalu sering berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi “kalian tidak tahu apa-apa”.“Pastikan kamu tidak sendirian,” kata Nandini datar.“Pasti,” jawab Naya.Reza melirik jam. “Aku awasin lewat cctv. Supaya kita tahu kalau ada orang yang keluar tanpa izin.”Nandini ber
Nandini berdiri di depan screen besar yang menampilkan peta instalasi gas pabrik. Garis-garis biru yang seharusnya stabil kini berwarna merah di beberapa titik. Di bawahnya, grafik tekanan tidak turun sempurna—fluktuasi tidak biasa.“Ada seseorang yang menyentuh sesuatu di sini,” katanya sambil menunjuk panel historical bypass log.Di meja, Zoe, Metha, Tetha, serta beberapa spesialis HSE memperhatikan setiap kata..“Pertama,” lanjut Nandini, “log penggunaan bypass manual tidak terekam pada hari ledakan.”“Artinya?” tanya Metha.“Artinya…” Tetha menambahkan cepat, “Seseorang mematikan auto logging. Itu bukan tombol yang bisa tertekan tidak sengaja. Harus tahu caranya.”Zoe membuka data overlay CCTV.“Dan lihat ini,” katanya sambil menampilkan dua feed video dari dua kamera berbeda. Satu menunjukkan Yudo naik tangga. Satu lagi menunjukkan Surya di koridor dekat ruang utility.“Ini beda waktu tapi jam DVR tidak sinkron,” jelasnya. “Selisih lebih dari 3 menit.”“Jadi jam di sistem senga
Sore itu, di ruang investigasi, mereka berkumpul lagi. Wajah-wajah lelah, map makin menumpuk.“Jadi,” Zoe merangkum, “dari keterangan teknisi korban, kita dapat tiga hal: satu, budaya manipulasi data dan tambal sulam sudah lama ada; dua, nama yang sama muncul berkali-kali sebagai pihak yang mendorong kelonggaran; tiga, ada sikap sinis terhadap manajemen baru yang tidak berhenti di level omongan.”“Ditambah rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang dengan akses card Pak Surya, perawakan mirip teknisi senior, masuk ke ruang panel,” tambah Tetha.“Dan kelompok informal orang lama yang masih menyisakan beberapa anggota di sini,” sambung Metha.“Dengan kata lain,” Nandini menyandarkan tubuh di kursi, “sistem rusak, budaya buruk, transisi setengah matang, dan orang-orang yang tidak senang dengan perubahan. Gas line hanya salah satu tempat di mana semua itu bertemu.”“Pertanyaannya,” Elric mengusap wajah, “apakah ledakan ini murni hasil kelalaian menahun… atau seseorang memang sengaja mengambil
Informasi yang Naya terima cukup memberatkan hatinya, tapi di sisi lain ia juga merasa beruntung karena lead investigator yang memimpin investigasi internal ini adalah Nandini, bukan orang lain.Nandini melihat wajah Naya sejenak sebelum melanjutkan.“Kedua,” lanjut Nandini, “aku mau kamu hati-hati dengan rasa bersalahmu sendiri.” Naya mengangkat alis. “Maksudnya?” “Orang yang pakai hati dan otaknya di saat yang bersamaan, biasanya gampang merasa bersalah,” kata Nandini. “Apalagi kalau posisi mereka di tengah-tengah kekacauan seperti ini. Kamu tipe orang yang begitu. Dan itu bagus, sejauh tidak membuatmu menutupi kesalahan orang lain.” “Tidak menutupi?” Naya mengulang. “Kamu tahu ada yang salah di sistem lama. Kamu mungkin pernah lihat indikasi kelalaian orang,” ujar Nandini. “Kalau di kemudian hari, fakta-fakta mulai menyusun pola yang menunjukkan ada pihak yang sengaja melemahkan sistem… aku butuh kamu berani bilang ‘iya, dulu aku pernan lihat ini, tapi aku diam saja. ’.” “







