分享

BAB 212

作者: Nona Mentari
last update publish date: 2026-08-04 06:28:58

Keesokan harinya, Heri berdiri bersandar di pintu SUV hitamnya, sengaja memarkirkan kendaraan agak dekat dari gerbang penjemputan murid SMP.

Tubuh tegapnya terbungkus kemeja kargo kelabu yang mencetak jelas lekuk bahu dan dada bidangnya.

Sepasang mata elangnya bergerilya licik, menemukan sosok Mayang yang sedang berdiri sendirian di bawah naungan pohon kanopi.

Wanita itu mengenakan gaun merah mencolok dengan kacamata hitam bertengger di atas kepalanya, tampak sibuk memainkan ponsel sembari me
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 423

    Pagi hari pelaksanaan Seminar Nasional dibuka dengan suasana riuh di auditorum utama fakultas. Ratusan mahasiswa, tamu undangan, serta jajaran rektorat telah memenuhi kursi penonton.Di barisan terdepan, Adrian duduk berdampingan dengan Alya yang tampak sibuk memeriksa rundown acara di tablet digitalnya. Di balik panggung utama, Nathan berdiri tenang memperhatikan layar pemantau, menanti kedatangan sinyal dari Aris dan Dosen Clarissa."Semua dokumen pendukung laporan dana operasional lapangan sudah masuk ke meja Dekan lima menit yang lalu, Nath," panggil Clarissa yang baru saja melangkah mendekati Nathan dengan langkah terburu-buru. "Grup audit internal juga sudah siap."Nathan melirik jam di pergelangan tangannya. "Bagus. Kita tunggu sampai Adrian naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan utama."Beberapa saat kemudian, pembawa acara membacakan profil singkat Adrian sebagai sponsor tunggal sekaligus pembicara utama.Suara tepuk tangan membahana mengisi seluruh ruangan saat Adri

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 422

    Ruang ballroom hotel berbintang lima tempat digelarnya gala dinner pra-seminar nasional dipenuhi oleh jajaran dekanat, dosen senior, serta para pengurus himpunan.Lampu kristal memancarkan cahaya keemasan yang mewah, mengiringi denting gelas dan dentingan musik klasik lembut di latar belakang.Nathan berdiri tegak di dekat meja bundar utama dengan setelan jas hitam yang terpotong rapi, memegang gelas minuman ringan sambil memperhatikan pintu masuk utama.Di samping Nathan, Dosen Clarissa tampil elegan dengan gaun malam berwarna gelap."Persiapan berkas adendum sudah siap sepenuhnya, Nath. Dekan dan jajarannya sudah ada di meja VIP sebelah sana," bisik Clarissa pelan."Bagus, Bu Clarissa," jawab Nathan dingin tanpa mengalihkan pandangannya. "Kita tunggu saat yang tepat."Tak lama kemudian, Alya melangkah masuk ke dalam ballroom. Ia mengenakan gaun formal yang anggun, berjalan berdampingan dengan Adrian yang tampil percaya diri sebagai pembicara utama sekaligus sponsor tunggal.Kehadira

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 421

    Lampu gantung temaram memantulkan bayangan samar di atas meja kayu panjang di ruang privat lantai dua sebuah kelab eksklusif.Nathan duduk menyandarkan punggungnya pada sofa kulit, menatap lurus ke arah tiga orang pria yang duduk di seberangnya. Di samping Nathan, Clarissa menuangkan wiski ke dalam gelas berkaki pendek lalu menggeserkannya mendekati tangan Nathan."Kamu kelihatan gelisah banget malam ini, Nath," ujar Clarissa dengan nada lembut seraya menatap wajah dingin Nathan. "Semua orang di kampus tadi pagi lihat bagaimana Adrian mempermalukan kamu di selasar."Nathan tidak menyentuh gelas wiskinya. Ia hanya menatap es batu yang meleleh pelan di dalam gelas. "Saya tidak peduli soal omongan orang-orang di kampus, Bu Clarissa.""Tapi kamu peduli soal Alya, kan?" potong Clarissa cepat. Matanya menyipit, mengamati setiap perubahan reaksi di wajah Nathan. "Gadis itu sengaja memanfaatkan Adrian buat menjatuhkan harga diri kamu. Dia tahu persis kamu paling tidak suka diabaikan."Nathan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 420

    Selasar utama Fakultas Ekonomi pagi itu dipadati mahasiswa yang berlalu-lalang di antara jam kuliah. Nathan melangkah menyusuri koridor bersama tiga pengurus himpunan dan Dosen Clarissa yang berjalan di sampingnya.Mereka sedang membahas persiapan teknis panggung utama seminar. Namun, langkah Nathan mendadak terhenti di tengah koridor, tepat di depan area tempat duduk selasar yang terbuka.Di sana, Alya sedang berdiri berhadapan dengan Adrian. Pria itu baru saja keluar dari sedan mewahnya yang terparkir tepat di drop-off selasar.Adrian menyerahkan sebuah buket bunga segar serta secangkir kopi favorit Alya yang berlogo kafe ternama."Ini kopi pesanan kamu, Al," kata Adrian dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh beberapa mahasiswa di sekitar. "Bunga ini cuma pemanis aja biar semangat jalani koordinasi hari ini."Alya menerima bunga dan kopi itu dengan senyum lebar. "Makasih banyak ya, Mas Adrian. Perhatian banget, padahal Mas Adrian sibuk.""Buat kamu selalu ada waktu, Al,

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 419

    Suasana di dalam ruang VIP Dekanat Fakultas Ekonomi terasa dingin dan sarat akan ketegangan yang tertahan.Suara pendingin udara yang berembun pelan menjadi satu-satunya latar belakang ketika Nathan Utama memimpin rapat koordinasi akhir Seminar Nasional.Di ujung meja lonjong berlapir kayu jati itu, duduk Adrian.Alumni berprestasi yang kini menjadi eksekutif muda tersebut hadir bukan sekadar sebagai tamu undangan, melainkan sebagai pembicara utama sekaligus sponsor tunggal yang mendanai hampir seluruh anggaran kegiatan tahun ini.Nathan merapikan tumpukan berkas proker di hadapannya. Ekspresi wajahnya datar, tidak memperlihatkan sedikit pun emosi meski hatinya bergejolak sejak Adrian melangkah masuk ke ruangan tersebut."Semua divisi sudah melaporkan kesiapan masing-masing," kata Nathan membuka pembicaraan dengan suara tegas dan lugas."Progres lapangan sudah mencapai delapan puluh persen. Kita hanya perlu mengunci divisi pendampingan untuk para tamu VIP dan pembicara eksternal."Adr

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 418

    Langkah kaki Alya menyusuri trotoar sepi di luar area kampus terasa sangat berat. Bayangan wajah Nathan yang dingin dan bentakannya yang keras di dalam mobil tadi masih terngiang jelas di kepalanya.Setiap kata kasar yang diucapkan Nathan seolah terus memukul harga dirinya. Rasa sakit hati, kekecewaan, dan amarah bercampur menjadi satu, membuat dadanya terasa sesak.Tanpa tujuan yang pasti, Alya menyusuri jalanan malam hingga ia melihat papan nama sebuah kafe privat di pinggir jalan utama. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah masuk untuk menenangkan diri.Suasana kafe itu cukup tenang dan remang. Alya memilih duduk di sebuah meja pojok yang agak tersembunyi dari pandangan pengunjung lain.Baru saja pesanan kopi panasnya diantarkan ke meja, suara langkah kaki seseorang yang mendekat membuat Alya mendongak."Alya? Kamu sendirian di sini?"Di hadapannya berdiri Adrian, alumni fakultas yang kini sukses menjadi eksekutif muda di perusahaan konsultan terkemuka sekaligus donatur aktif kegiat

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 3

    Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status