Share

BAB 3

Author: Nona Mentari
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-07 22:27:08

Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.

“Nyonya... tenang, Nyonya,” bisik Heri.

“Tenang gimana?! Cepat nyalain lampunya! Aku takut banget sama gelap, Heri! Kamu jangan diam aja kayak patung!” teriak Sintya dengan suara parau tapi tetap penuh perintah.

Heri merasa otaknya macet. Dada Sintya yang kenyal dan besar itu menempel sempurna di dadanya yang bidang.

Aroma sabun mandi dan keringat Sintya menyerang indra penciumannya, membuat burungnya yang sudah keras sejak tadi semakin berdenyut tak karuan. Ia merasa sesak, bukan karena pelukan itu, tapi karena gairah yang mencoba ia tekan habis-habisan.

“N-nyonya, lepaskan dulu... saya mau keluar cari tahu kenapa lampunya mati,” kata Heri pelan, berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar mesum.

Sintya tiba-tiba tersadar. Ia langsung mendorong dada Heri dengan kasar hingga pria itu terhuyung ke belakang. “Kurang ajar kamu ya! Kamu sengaja kan biar aku peluk? Dasar satpam mesum, cari-cari kesempatan dalam kesempitan!”

Heri hanya bisa menganga di dalam kegelapan. Ia merogoh saku celananya dan menyalakan senter dari ponselnya. Cahaya putih itu menyinari wajah Sintya yang pucat namun tetap terlihat galak.

“Sumpah Nyonya, saya nggak ada maksud begitu. Saya keluar dulu ya, mau cek meteran atau kabel di depan,” ujar Heri buru-buru sebelum dimaki lebih jauh.

Heri berlari kecil menuju teras depan. Hujan turun sangat deras, seperti tumpah dari langit. Di ujung jalan kompleks, ia melihat kepulan asap hitam meski diguyur hujan, berasal dari tiang listrik utama. Ada percikan api yang menyambar-nyambar sisa sambaran petir tadi. Heri yakin, gardunya meledak.

Ia kembali masuk ke dalam rumah dengan baju yang sedikit basah kuyup. “Nyonya, tiang listrik di depan kena sambar petir. Kayaknya gardunya meledak, makanya satu blok ini mati total.”

Sintya yang berdiri di ambang pintu kamar sambil memeluk tubuhnya sendiri mendengus kencang. “Gak mungkin! Kamu pasti bohong kan? Ini pasti gara-gara kamu! Gara-gara kamu ngintip aku tadi, makanya sialnya sampai ke rumah ini!”

Heri mengusap wajahnya yang basah, merasa tuduhan itu sangat tidak masuk akal. “Nyonya, mana ada hubungan antara saya ngintip sama petir nyambar tiang? Saya beneran minta maaf soal tadi, saya janji nggak bakal ulangi lagi.”

Duar!!!

Sekali lagi petir menggelegar, lebih keras dari sebelumnya. Sintya menjerit kencang dan hampir terjatuh kalau saja ia tidak berpegangan pada kusen pintu. Heri hanya diam, menyorotkan senter ponselnya ke arah lantai agar tidak langsung mengenai wajah majikannya.

“Nyonya, mending Nyonya tidur aja. Besok pagi juga orang PLN pasti dateng benerin,” saran Heri.

“Tidur?! Kamu gila ya? Aku bilang aku takut gelap! Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada lampu!” sahut Sintya ketus. Gengsinya masih setinggi langit meski tubuhnya masih gemetar.

Heri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus berbuat apa lagi. “Tapi Nyonya, ini udah jam sepuluh malam. Hujan gede begini, nggak ada siapa-siapa lagi di rumah ini. Cuma ada kita berdua.”

Heri melihat Sintya yang tampak sangat rapuh di balik kimononya. Ia memutuskan untuk bernegosiasi demi nasib pekerjaannya.

“Gini aja, Nyonya. Saya tawarin satu hal. Saya bakal jagain Nyonya di sini. Saya tidur di sofa ruang tengah itu,” Heri menunjuk sofa besar di ruang tamu dengan senternya.

“Nyonya bisa tidur di kamar tanpa tutup pintu biar nggak ngerasa gelap banget karena ada senter saya. Tapi tolong, jangan laporin saya ke kantor. Jangan pecat saya. Saya bener-bener butuh kerjaan ini buat sekolah anak saya.”

Sintya diam sejenak, wajahnya tampak menimbang-nimbang di balik remang cahaya. Ia mendengus kesal untuk menutupi rasa takutnya yang besar.

“Terserah kamu!” ketus Sintya, lalu berbalik dan berjalan masuk ke kamarnya, dan membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar seperti yang disarankan Heri.

Heri berdiri mematung di ruang tengah. Ia melihat bayangan Sintya yang kembali naik ke tempat tidur melalui cahaya pantulan senter ponselnya. Tidak ada jawaban pasti “iya” atau “tidak” soal pembatalan laporan ke kantornya.

“Ini jadinya gimana? Aku tidur di sofa sini atau balik ke pos?” gumam Heri pada dirinya sendiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 9

    Tanpa membuang waktu lagi, Heri menyambar pinggiran tank top putih yang dikenakan Sintya. Dengan satu sentakan kuat yang penuh dominasi, ia menarik pakaian tipis itu melewati kepala sang majikan dan melemparkannya asal ke atas meja makan.Sintya kini setengah polos, menyisakan pemandangan dada yang membusung indah di depan mata Heri.Heri tidak menunggu aba-aba. Ia langsung menunduk dan melahap gundukan kenyal itu dengan rakus.“Aaakh! Heri!” Sintya menjerit kencang, tubuhnya melengkung saat lidah kasar Heri menyapu putingnya yang sudah mengeras. “Pelan, Her... mmmh, tapi jangan berhenti. Aku udah lama banget nggak ngerasain ini... Mas Reno nggak pernah mau sepert ini.”Heri tidak peduli dengan keluhan soal suaminya. Fokusnya hanya pada rasa manis dan hangat kulit Sintya. Ia menyusu dengan sangat agresif, menciptakan suara isapan yang memenuhi keheningan ruang tengah. Adrenalin Heri memuncak; rasa puas karena bisa memiliki apa yang selama ini hanya bisa ia intip membuatnya semakin ber

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 8

    Heri menarik napas panjang, dan menatap lekat sepasang mata Sintya yang masih tampak gelisah. “Jujur aja, Nyonya. Pas saya lihat Nyonya tadi malam... 'burung' saya bergejolak. Saya laki-laki normal,” aku Heri dengan suara rendah yang jujur.“Tapi saya tahu diri. Saya cuma satpam, dan saya hargai Nyonya sebagai majikan saya. Makanya saya tahan sebisa mungkin.”Jawaban blak-blakan itu seketika membungkam Sintya. Wanita itu terpaku, seolah tidak menyangka Heri akan seberani itu mengakui gairahnya namun tetap menunjukkan rasa hormat. Heri berdehem, memecah kecanggungan. “Bintik merahnya sudah nggak kelihatan, Nyonya. Sudah aman.”Sintya hanya mengangguk kaku. Ia segera menyambar ponselnya yang terus bergetar. “Ya, Mas? Oh, baru mau telepon balik,” ujar Sintya. Wajahnya berubah drastis, memasang senyum ramah yang terlihat sangat palsu di mata Heri.Heri melangkah mundur, berniat keluar dari ruang tengah untuk memberi privasi. Namun, baru beberapa langkah, telinganya menangkap suara Reno da

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabuni piring pertama, suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat.“Heri! Heri, gawat! Sini kamu!” seru Sintya dengan nada panik yang sangat tinggi.Heri menoleh, tangannya masih penuh busa. “Kenapa lagi, Nyonya? Ada yang bocor lagi?”“Mas Reno, suamiku! Dia mau video call sekarang juga. Tapi lihat ini!” Sintya menunjuk leher jenjangnya di depan cermin besar yang ada di lorong dapur.Heri mendekat, matanya memicing. Di kulit putih mulus itu, ada bercak kemerahan yang cukup kontras. Mungkin karena gigitan nyamuk saat mereka berpelukan di lantai dalam gelap semalam, atau mungkin alergi debu. Tapi masalahnya, letak dan bentuknya benar-benar mirip bekas ciuman.“Waduh, Nyonya. Itu kelihatan kayak.

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hitam panas dan sepiring sandwich isi daging. Wajah majikannya itu masih datar, dagunya terangkat tinggi seolah sedang memberikan sedekah pada pengemis.Heri tersenyum tipis, menerima piring itu hingga jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan jari Sintya yang halus. “Makasih, Nyonya. Kebetulan saya memang belum sarapan.”“Ya sudah, habiskan di pos. Jangan berantakan di sini,” usir Sintya.Baru saja Heri berbalik, suara bel pintu berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk tanpa permudah. Namanya Karin, sahabat sosialita Sintya yang terkenal paling berani di geng mereka. Karin mengenakan mini dress merah ketat yang potongan dadanya sangat rendah, membuat asetnya yang montok seolah

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbuka.“Heri, kamu...”Sintya berdiri di ambang pintu. Langkahnya terhenti, matanya tertuju pada tubuh atletis satpamnya itu. Heri bisa melihat jakun Sintya naik turun, matanya terpaku pada sisa tetesan air yang mengalir di sela otot dada Heri. Pria itu berdehem keras, merasa kikuk sekaligus ada rasa bangga yang aneh.“Nyonya? Nyari saya? Maaf, saya lagi ganti baju,” tegur Heri sambil meraih kaos oblongnya.Sintya tersentak, wajahnya memerah sesaat sebelum kembali ke mode angkuh. “Enggak usah kepedean. Itu... pipa wastafel dapur mampet gara-gara air hujan kemarin kayaknya. Cepat ke dalam, benerin sekarang!”“Siap, Nyonya. Saya pakai baju dulu,” jawab Heri singkat.Sepuluh menit kemudian, Heri s

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan Sintya dan ancaman pemecatan yang menggantung di lehernya.Tiba-tiba, sebuah suara tangisan lirih terdengar dari arah kamar. Heri tegak duduk, menajamkan pendengaran.“Mas... Mas Reno... angkat, Mas... Tolong aku...”Heri menyalakan senter ponselnya. Ia melihat Sintya merangkak keluar dari pintu kamar. Wanita itu tidak lagi tampak seperti majikan yang angkuh. Ia gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal, dan air mata membasahi pipinya yang mulus. Ponsel di tangannya terus menunjukkan panggilan yang tidak terjawab.“Nyonya? Nyonya kenapa?” Heri buru-buru mendekat, namun tetap menjaga jarak.“Gelap, Heri... Sempit... Aku nggak bisa napas!” Sintya menjerit saat petir kembali menggelegar. Ia mele

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status