LOGINKegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.
“Nyonya... tenang, Nyonya,” bisik Heri.
“Tenang gimana?! Cepat nyalain lampunya! Aku takut banget sama gelap, Heri! Kamu jangan diam aja kayak patung!” teriak Sintya dengan suara parau tapi tetap penuh perintah.
Heri merasa otaknya macet. Dada Sintya yang kenyal dan besar itu menempel sempurna di dadanya yang bidang.
Aroma sabun mandi dan keringat Sintya menyerang indra penciumannya, membuat burungnya yang sudah keras sejak tadi semakin berdenyut tak karuan. Ia merasa sesak, bukan karena pelukan itu, tapi karena gairah yang mencoba ia tekan habis-habisan.
“N-nyonya, lepaskan dulu... saya mau keluar cari tahu kenapa lampunya mati,” kata Heri pelan, berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar mesum.
Sintya tiba-tiba tersadar. Ia langsung mendorong dada Heri dengan kasar hingga pria itu terhuyung ke belakang. “Kurang ajar kamu ya! Kamu sengaja kan biar aku peluk? Dasar satpam mesum, cari-cari kesempatan dalam kesempitan!”
Heri hanya bisa menganga di dalam kegelapan. Ia merogoh saku celananya dan menyalakan senter dari ponselnya. Cahaya putih itu menyinari wajah Sintya yang pucat namun tetap terlihat galak.
“Sumpah Nyonya, saya nggak ada maksud begitu. Saya keluar dulu ya, mau cek meteran atau kabel di depan,” ujar Heri buru-buru sebelum dimaki lebih jauh.
Heri berlari kecil menuju teras depan. Hujan turun sangat deras, seperti tumpah dari langit. Di ujung jalan kompleks, ia melihat kepulan asap hitam meski diguyur hujan, berasal dari tiang listrik utama. Ada percikan api yang menyambar-nyambar sisa sambaran petir tadi. Heri yakin, gardunya meledak.
Ia kembali masuk ke dalam rumah dengan baju yang sedikit basah kuyup. “Nyonya, tiang listrik di depan kena sambar petir. Kayaknya gardunya meledak, makanya satu blok ini mati total.”
Sintya yang berdiri di ambang pintu kamar sambil memeluk tubuhnya sendiri mendengus kencang. “Gak mungkin! Kamu pasti bohong kan? Ini pasti gara-gara kamu! Gara-gara kamu ngintip aku tadi, makanya sialnya sampai ke rumah ini!”
Heri mengusap wajahnya yang basah, merasa tuduhan itu sangat tidak masuk akal. “Nyonya, mana ada hubungan antara saya ngintip sama petir nyambar tiang? Saya beneran minta maaf soal tadi, saya janji nggak bakal ulangi lagi.”
Duar!!!
Sekali lagi petir menggelegar, lebih keras dari sebelumnya. Sintya menjerit kencang dan hampir terjatuh kalau saja ia tidak berpegangan pada kusen pintu. Heri hanya diam, menyorotkan senter ponselnya ke arah lantai agar tidak langsung mengenai wajah majikannya.
“Nyonya, mending Nyonya tidur aja. Besok pagi juga orang PLN pasti dateng benerin,” saran Heri.
“Tidur?! Kamu gila ya? Aku bilang aku takut gelap! Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada lampu!” sahut Sintya ketus. Gengsinya masih setinggi langit meski tubuhnya masih gemetar.
Heri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus berbuat apa lagi. “Tapi Nyonya, ini udah jam sepuluh malam. Hujan gede begini, nggak ada siapa-siapa lagi di rumah ini. Cuma ada kita berdua.”
Heri melihat Sintya yang tampak sangat rapuh di balik kimononya. Ia memutuskan untuk bernegosiasi demi nasib pekerjaannya.
“Gini aja, Nyonya. Saya tawarin satu hal. Saya bakal jagain Nyonya di sini. Saya tidur di sofa ruang tengah itu,” Heri menunjuk sofa besar di ruang tamu dengan senternya.
“Nyonya bisa tidur di kamar tanpa tutup pintu biar nggak ngerasa gelap banget karena ada senter saya. Tapi tolong, jangan laporin saya ke kantor. Jangan pecat saya. Saya bener-bener butuh kerjaan ini buat sekolah anak saya.”
Sintya diam sejenak, wajahnya tampak menimbang-nimbang di balik remang cahaya. Ia mendengus kesal untuk menutupi rasa takutnya yang besar.
“Terserah kamu!” ketus Sintya, lalu berbalik dan berjalan masuk ke kamarnya, dan membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar seperti yang disarankan Heri.
Heri berdiri mematung di ruang tengah. Ia melihat bayangan Sintya yang kembali naik ke tempat tidur melalui cahaya pantulan senter ponselnya. Tidak ada jawaban pasti “iya” atau “tidak” soal pembatalan laporan ke kantornya.
“Ini jadinya gimana? Aku tidur di sofa sini atau balik ke pos?” gumam Heri pada dirinya sendiri.
Pukul delapan pagi, Heri berdiri tegap di sudut ruangan, membetulkan posisi kancing jas abu-abu gelapnya di hadapan cermin.Langkah taktisnya dimulai pagi ini tanpa sedikit pun memberikan peringatan awal kepada pihak Dinas Pertanahan Daerah maupun Konsorsium Sanjaya.Di samping panggung mini, sebuah maket megah berskala presisi berdiri kokoh di bawah sorotan lampu sorot.Maket tersebut menampilkan rancangan pengembangan area Drive-Thru modern, VIP Lounge berlantai dua, serta area ruang hijau pesisir bernilai investasi puluhan miliar rupiah yang menyatu sempurna di atas lahan 800 meter persegi milik Pak Ridwan.Sintya melangkah mendekati suaminya, merapikan sedikit kerah kemeja Heri dengan jemarinya yang halus.Anggun dalam balutan gaun formal berwarna gelap, Sintya menampilkan ketenangan seorang wanita berkelas yang siap berdiri di garis depan pertarungan hukum."Semua wartawan dari media berita utama sudah siap di posisi, Mas," bisik Sintya lembut, menatap netra tegas Heri dengan pen
Pukul delapan malam, di dalam ruang kerja manajemen keuangan, Karin masih bertahan di meja besarnya. Meja kayu mahoni itu penuh oleh tumpukan berkas cetak, lembar audit internal, serta kertas laporan arus kas yang tertata rapi.Dua layar monitor resolusi tinggi di hadapannya menyala terang, membiaskan cahaya kebiruan pada paras ayu nan tegas wanita itu.Jemari Karin yang lentik menari lincah di atas papan ketik, menelusuri ratusan baris data transaksi keuangan digital yang sengaja disamarkan.Ketenangan ruangan itu perlahan terpecah oleh gema langkah kaki tegap yang terdengar mendekat dari arah koridor utama.Bunyi pantulan sepatu kulit eksklusif itu begitu khas dan sangat dihafal oleh Karin.Heri melangkah masuk dengan santai. Jas resmi yang digunakannya saat rapat maraton siang tadi kini sudah dilepas, menyisakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga separuh lengan bawah, menampakkan jam tangan mewah dan lengan kokoh sang CEO.Di tangan kanannya, Heri membawa seca
Pukul lima subuh, udara dingin pesisir masih merayap tebal menyelimuti area sekitar restoran cabang empat.Di tengah ketenangan, Maman melangkah tenang melakukan patroli rutin sendirian.Matanya yang tajam dan terlatih terus mengamati setiap sudut perimeter luar.Bagi Maman, jeda antara malam dan terbitnya matahari adalah waktu paling krusial untuk memastikan benteng pertahanan Heri Utama tidak memiliki celah sedikit pun.Saat langkah kaki tegapnya tiba di batas lahan kosong seluas 800 meter persegi milik Pak Ridwan, lahan yang rencananya akan disulap menjadi area Drive-Thru dan VIP Lounge, pandangan Maman seketika terkunci pada pergerakan mencurigakan.Dua unit mobil bak terbuka berhenti tanpa menyalakan lampu utama di bahu jalan yang remang. Dari bak belakang, enam pria berbadan tegap melompat turun secara senyap.Masing-masing membawa gulungan tali, beberapa batang kayu berujung runcing yang dililit cat kuning-hitam, serta gulungan kain spanduk tebal.Tanpa membuang waktu, mereka m
Raut tenang yang semula dipasang Pak Broto runtuh sepenuhnya. Makelar tanah elit itu menyambar map kulit cokelatnya di atas meja dengan jemari yang sedikit gemetaran, berusaha keras menjaga martabatnya yang tersisa.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Broto berbalik cepat dan melangkah keluar dari ruang kerja Heri, dibuntuti oleh dua pengawalnya yang bergegas pergi dengan raut wajah keciutan usai terkena tatapan maut Maman.Pintu ganda berukir jepara itu kembali tertutup rapat. Keheningan yang dingin dan berwibawa seketika menyelimuti ruangan.Heri tidak membuang waktu. Dengan satu ketukan singkat di meja kerjanya, ia memanggil tim intinya untuk segera merapat.Dalam hitungan menit, Sintya melangkah anggun memasuki ruangan sembari membawa folder berkas legalitas, disusul Karin yang memegang tablet analisis finansial.Maman menutup pintu utama dan menguncinya dari dalam, lalu berdiri bersedekap dada di sisi ruangan bagaikan benteng yang tak tergoyahkan."Broto baru saja memperlihatkan
Pagi harinya, ruang kerja utama di kantor pusat Heri diliputi atmosfer yang amat dingin dan tertata.Pintu ganda berukir jepara di ujung ruangan terdorong terbuka secara perlahan.Sesosok pria paruh baya melangkah masuk dengan gaya berjalan yang sangat tenang dan percaya diri.Pria itu adalah Pak Broto, sang makelar tanah elit yang memegang peranan penting di kawasan pesisir.Penampilannya terlihat teramat rapi dan terpandang dalam balutan kemeja batik sutra bernuansa tembaga mahal, kacamata berbingkai emas, serta jam tangan berkelas yang melingkar di pergelangan tangannya.Di balik pintu yang setengah terbuka, dua pria berbadan tegap dengan setelan safari gelap tampak berjaga penuh kewaspadaan, bertindak sebagai pengawal pribadi Broto.Namun, melangkah masuk ke dalam ruangan Heri seperti melangkah ke dalam sarang predator yang sangat matang.Pendar dominasi jantan dan wibawa dingin yang memancar dari Heri seketika meresap ke seluruh sudut ruangan, menekan keangkuhan terselubung yang
Ruang kerja utama di lantai dua restoran cabang empat, Heri sedang duduk tegap di kursi kepemimpinannya saat Karin datang memasuki ruangannya.Karin kini berdiri tegap di depan layar proyektor interaktif. Penampilannya yang sangat professional, dengan balutan kemeja sutra dan celana kain berpotongan tinggi, memancarkan aura kepercayaan diri seorang Manajer Keuangan Pusat.Jemari lentiknya menekan tombol remote, memunculkan peta tata letak bangunan cabang empat beserta area sekitarnya dalam resolusi tinggi."Hasil finansial minggu pertama benar-benar berada di atas kurva proyeksi terbaik kita, Pak Heri," buka Karin dengan suara jernih, mantap, dan terstruktur rapi."Tingkat okupansi meja VIP mencapai seratus persen setiap jam makan malam, namun hal itu memicu penumpukan antrean kendaraan yang cukup panjang di bahu jalan utama."Heri mengangguk tipis, pandangannya terkunci rapat pada peta digital di layar."Penumpukan di jalan utama bisa merusak citra eksklusif restoran kita. Apa solusi
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n







