Se connecter"Sayang banget barang sebagus ini istrimu anggap sampah, jadi biar Mama saja yang menggunakannya ya," bisik sang ibu mertua. Tommy, seorang pengangguran yang harga dirinya selalu diinjak istri, namun keringat dan tubuh kasarnya justru menjadi pelampiasan keinginan terlarang Ipar dan mertuanya sendiri di bawah atap yang sama.
Voir plus"Besar banget, Tom," gumam Laras dengan mata membulat takjub, jemarinya sengaja mengurut pelan. "Mama tahu kamu nahan ini dari semalam. Sayang banget kalau barang sekeras ini disia-siain sama Rina."Napas Tommy tersengal. Hawa panas dari tubuh Laras di atas pangkuannya benar-benar membakar akal sehatnya. Kedua tangan besarnya kini refleks mencengkeram pinggang polos ibu mertuanya itu.Laras sedikit mengangkat pinggulnya. Ia menuntun ujung kejantanan Tommy, menempelkannya tepat di bibir inti tubuhnya yang sudah basah kuyup."Masukin, Tom," desak Laras, suaranya bergetar menahan gairah. "Bikin Mama gila malam ini.""Maafin saya, Ma..." desah Tommy parau. Insting liarnya mengambil alih. Pria itu menekan pinggang Laras agar turun.Laras memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Dengan napas tertahan, wanita itu pinggulnya mulai bergerak perlahan…Tommy menyibak daster bagian bawah sampai terlihat jelas sumur yang dirimbuni semak belukar itu terawat dan tercukur dengan rapi. Sementara Lara
(Tom, ke kamar mama sebentar. Lampu kamar mama tiba-tiba mati) 'Beneran mati lampunya, atau ini cuma akal-akalan mama kayak semalam?' Tommy meletakan ponselnya di laci. Dia tidak segera bergegas ke kamar mama mertuanya. Dia pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil Rina dan memanasinya. Tak berapa lama, Rina keluar dengan pakaian kantor. Sambil berjalan dia sibuk menelpon seseorang sambil memeriksa berkas di tangannya. Tommy segera keluar dari mobil. Rina masuk mobil tanpa menganggap Tommy. Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah. Setelah memastikan mobil pergi. Dia menoleh ke arah kamar mama mertua. Kordennya masih tertutup. Tapi angin-anginnya gelap. "Beneran mati kayaknya lampunya." Tommy mengambil lampu cadangan dan tangga. Berjalan menuju kamar mamanya. Tok...tok...tok.. "Masuk saja." Tommy membuka pintu perlahan. Kamar mamanya tampak gelap. "Ma." "Iya, Tom." "Kok gelap-gelapan, Ma." Tommy meraba dinding. Menyalakan saklar. Byar! Terlihat mamanya pakai baju tidur
Sis…” panggil Maya, sementara jarinya menyentuh benda tegak dan tebal itu, mengikuti pikiran intrusifnya, “Beneran gede banget ya…”'Aduh! Sial! Kenapa bisa robek segala saat lagi tegang-tegangnya begini.' "A...c-nya sudah beres, Mbak. S-saya mau balik dulu." Tommy buru-buru membereskan peralatan dan melipat tangga. Saat Siska mendekat menggamit lengan besar dan hitam Tommy dengan mengucapkan kata kata manja. "Kenapa buru-buru balik sih, Mas. Masuk dulu yuk ke kos. Emang gak butuh bantuan? 'adiknya' udah keras banget kayaknya tadi kami lihat." Tommy yang hendak melipat tangga tertahan oleh Siska. Entah kenapa dia tidak segera menarik tangannya seolah benda empuk menempel. aroma tubuh, tercium kuat menggugah kelaki-lakian ya. "Iya, Mas. Gak mampir sebentar saja. Gak usah khawatir anak kos lain lagi keluar semua. Orang-orang yang di rumah juga sudah tidur kan."Maya berdiri di hadapannya. Tangan wanita itu memegang bulu bulu menggoda yang tumbuh antara perut menuju pangkal paha. Wa
"Eca, " Suara Tommy tercekat. Pikirannya tidak karuan sampai-sampai dia lupa mengunci pintu kamar mandi. Dan sekarang wajahnya merah menahan malu saat 'aktivitas' diketahui adik iparnya sendiri.Eca terkesiap mundur, kedua tangannya refleks menutup mulut rapat-rapat, menahan jeritan yang nyaris keluar dari mulutnya. Wajah gadis itu seketika memerah padam. Matanya yang membulat sempurna tak bisa lepas dari pusaka Tommy yang mencuat tegap, tebal, dan berukuran tak masuk akal di depan matanya.Pandangan Eca masih terkunci di bagian bawah yang besar menggantung itu. Buru-buru, Tommy menarik celana pendeknya dari lantai, memakainya asal-asalan tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya yang sudah terlanjur kotor tertumpuk.Tommy merentangkan tangannya hendak menutup pintu. Tapi tiba-tiba Eca menahannya. Pintu kembali terbuka lebar."Tutup pintunya Eca, saya mau mandi."Pandangan Eca beralih menatap wajah Tommy yang sangar tapi tampak salah tingkah dan malu."Kurang ajar ya kamu," desis Eca






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.