分享

BAB 6

作者: Nona Mentari
last update publish date: 2026-05-07 22:56:33

“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.

Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hitam panas dan sepiring sandwich isi daging. Wajah majikannya itu masih datar, dagunya terangkat tinggi seolah sedang memberikan sedekah pada pengemis.

Heri tersenyum tipis, menerima piring itu hingga jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan jari Sintya yang halus. “Makasih, Nyonya. Kebetulan saya memang belum sarapan.”

“Ya sudah, habiskan di pos. Jangan berantakan di sini,” usir Sintya.

Baru saja Heri berbalik, suara bel pintu berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk tanpa permudah. Namanya Karin, sahabat sosialita Sintya yang terkenal paling berani di geng mereka. Karin mengenakan mini dress merah ketat yang potongan dadanya sangat rendah, membuat asetnya yang montok seolah hendak melompat keluar.

Prang!

Heri hampir saja menjatuhkan cangkir kopinya kalau tidak segera menyeimbangkan tangan. Matanya sempat terpaku pada belahan dada Karin yang putih bersih. Adrenalin Heri mendidih seketika; di dalam satu ruangan sekarang ada dua wanita cantik dengan tubuh yang sangat menggoda.

“Eh, ada Heri kesayangan,” seru Karin dengan suara manja. Ia langsung menghampiri Heri, mengabaikan Sintya yang berdiri kaku di belakang meja bar. “Makin ganteng aja sih kamu, Her. Badannya makin jadi ya sekarang?”

Heri tersenyum manis, mencoba tetap sopan meski jantungnya berdegup kencang. “Nyonya Karin juga... makin cantik aja saya lihat-lihat.”

Karin tertawa renyah, lalu tanpa ragu menepuk lengan Heri yang berotot dan membelainya perlahan. “Duh, keras banget lengannya. Rajin olahraga ya, Mas?”

Sentuhan tangan Karin yang dingin namun lembut di kulit lengannya membuat kejantanan Heri yang sedari tadi sudah tegang menjadi semakin tak terkendali. Heri merasa seperti berada di tengah kepungan godaan yang mematikan. Ia melirik ke arah Sintya, dan jantungnya hampir copot melihat tatapan majikannya yang tajam seperti ingin menusuk punggung Karin.

“Nyonya, saya... saya permisi keluar dulu ya. Mau lanjut jaga,” pamit Heri buru-buru, merasa suasananya mulai panas.

“Eh, mau ke mana? Sini ikut sarapan sama kita,” cegat Karin sambil memegang erat pergelangan tangan Heri, mencegahnya pergi. “Sintya, nggak apa-apa kan kalau satpam kamu yang hot ini nemenin kita makan?”

Sintya mendengus kencang, lalu melipat tangan di bawah dadanya, pose yang justru membuat payudaranya semakin membusung menantang. “Selera kamu rendah banget sih, Rin? Satpam begini aja kamu embat juga. Kayak nggak ada laki-laki lain yang lebih berkelas aja.”

Karin sama sekali tidak tersinggung. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya ke lengan Heri hingga payudaranya yang besar itu terasa menekan siku Heri dengan nyata. “Aduh, Sin. Kelas itu urusan nanti. Kapan lagi coba dapet hot duda kayak Heri ini? Paket lengkap tahu. Udah ganteng, badannya bagus, pinter benerin 'pipa' lagi.”

Heri hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal, benar-benar salah tingkah. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia merasa seperti domba di tengah dua singa betina yang sedang berebut mangsa, meski ia tahu Sintya hanya merasa gengsinya terusik.

“Nyonya Karin bisa saja bercandanya,” ujar Heri pelan.

“Aku nggak bercanda lho, Her. Kalau Sintya nggak mau sama kamu, pindah aja kerja di rumahku. Gimana?” goda Karin sambil mengedipkan sebelah matanya.

Heri memberanikan diri melirik Sintya. Wanita itu tetap diam, namun matanya yang gelap menatap Heri dengan sorot yang sulit diartikan, antara marah dan rasa tidak suka yang amat dalam. Suasana dapur itu mendadak terasa lebih sempit dari biasanya.

“Nggak bisa,” potong Sintya tiba-tiba, suaranya dingin dan tegas. “Heri masih ada kontrak sama aku. Dan dia masih banyak kerjaan yang belum beres di rumah ini.”

Karin tertawa kecil melihat reaksi sahabatnya. “Tuh kan, Heri. Kayaknya ada yang nggak rela nih kalau kamu pergi,” goda Karin lagi.

Heri menelan ludah, ia merasa tekanan di dalam dadanya semakin berat. Di satu sisi, godaan Karin sangat membakar nafsu lelakinya, tapi tatapan tajam Sintya justru membuatnya merasa terikat secara emosional. Ia tidak tahu harus senang atau takut berada di posisi ini.

“Saya... saya ambil kopi saya dulu ya, Nyonya,” gumam Heri, mencoba melepaskan tangannya dari Karin.

Sintya tetap berdiri mematung, namun tatapan matanya tidak lepas dari Heri. Dalam hati, Heri bertanya-tanya, apakah Sintya marah karena ia dianggap rendah, atau Sintya marah karena ia mulai terlihat menarik di mata orang lain? Yang jelas, pagi itu, Heri tahu hidupnya sebagai satpam di rumah ini tidak akan pernah tenang lagi.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 190

    Suasana bising dari aula restoran yang ramai perlahan meredup ketika Heri memutar gagang pintu kayu jati tebal, membawanya dan Sintya masuk ke dalam ruang kerja pribadinya.Pintu tertutup rapat dengan bunyi klik yang halus, mengisolasi mereka di dalam ruangan beraroma kayu cendana dan kulit sintetis yang elegan.Heri melepas kancing jas hitamnya, membiarkan dadanya yang bidang sedikit lebih leluasa bernapas setelah melayani lusinan tamu.Namun, fokus sepasang mata elangnya sama sekali tak beralih dari sosok Sintya.Wanitanya itu berjalan anggun mengelilingi meja kerja, meraih sebuah buku catatan keuangan edisi terbatas, lalu berbalik menatap Heri dengan binar profesionalisme yang begitu memikat."Restoran ini potensinya besar banget, Heri," ujar Sintya, suaranya berubah menjadi nada pebisnis yang tegas namun tetap lembut."Tapi kalau kamu mau bisnis ini bertahan puluhan tahun dan berkembang jadi franchise besar, kamu harus paham betul cara mengelolanya dengan baik dan benar."Sintya m

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 189

    Lampu-lampu gantung kristal di langit-langit restoran bernuansa industrial-luxurious itu membiaskan pendar keemasan yang megah.Aroma olahan daging panggang berkelas dan harum anggur merah memenuhi udara.Hari ini adalah hari peresmian restoran baru milik Heri, sebuah pencapaian besar yang menandai transformasi penuh sang mantan pengawal menjadi pengusaha mapan di ibu kota.Heri berdiri tegap di tengah aula utama, terbalut setelan jas hitam berpotongan presisi yang membungkus sempurna postur tubuhnya yang tinggi, kekar, dan penuh wibawa.Sepasang mata elangnya mengawasi setiap sudut ruangan dengan ketelitian taktis. Namun, ketenangan maskulinnya mendadak diuji saat rombongan tamu spesial mulai berdatangan.Selain rekan-rekan bisnis dan kawan-kawan lamanya yang setia, deretan wanita dengan gaun pesta glamor—para sahabat sosialita Sintya, termasuk Karin turut hadir memenuhi ruangan.Karin, yang mengenakan gaun merah berpotongan rendah, melangkah menghampiri Heri dengan senyuman centil d

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 188

    Dinding intim Sintya yang masih berdenyut pasca-klimaks pertama menyambut hangat ujung kejantanan Heri yang sudah berurat tebal dan membara.Namun, tepat ketika Heri hendak menghantamkan panggulnya ke depan untuk penyatuan mutlak, Sintya mendadak menahan kedua bahu kekar Heri dengan dorongan bertenaga.Binar mata Sintya redup, namun memancarkan kilat dominasi yang mendadak meledak.Dengan gerakan lincah dan tak terduga, Sintya membalikkan posisi mereka di atas ranjang.Tubuh mulusnya yang bertelanjang bulat kini berada di atas Heri, menindih perut six-pack sang mantan pengawal yang mengeras kaku."Malam ini... biar aku yang pegang kendali, Heri," bisik Sintya parau dengan senyuman miring yang teramat seksi dan menantang.Heri menaikkan sebelah alis tegapnya. Sepasang mata elangnya meredup, terkejut sekaligus tertantang melihat keberanian wanitanya yang memegang kendali.Pria bertubuh kekar itu membiarkan kedua tangannya terhampar di atas sprei, mengalah untuk sementara pada skenario l

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 187

    Genggaman jemari Heri pada sprei linen putih itu mengencang hingga buku-buku jarinya memutih, urat-urat lengan bagian dalamnya menonjol tebal seperti akar pohon yang hendak pecah.Sensasi rongga mulut Sintya yang hangat, basah, dan menyedot ujung kejantanannya secara ritmis bagaikan sirkuit listrik bertegangan jutaan volt yang langsung menghantam saraf tulang belakang sang mantan pengawal."Ssshh... FUCK, Sintya! Cukup... tahan dulu!" geram Heri yang teramat parau, berat, dan pecah oleh gairah yang membakar.Heri tidak bisa membiarkan wanitanya mengendalikan permainan secepat ini. Naluri dominan dan jiwa teritorialnya menuntut kontrol mutlak.Sebelum Sintya sempat menyedot lebih dalam, Heri menyambar kedua bahu mulus wanita itu dengan cengkeraman tangannya yang besar dan bertenaga.Dengan satu sentakan taktis yang perkasa, Heri menarik tubuh Sintya berdiri dari tepi ranjang, lalu menghempaskannya telentang di atas kasur king-size yang empuk.BRUK!Matras tebal itu berguncang hebat.Be

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 186

    Malam kembali memeluk Jakarta dengan keheningan yang dingin di balik jendela kaca kamar utama apartemen megah itu.Setelah menyuruh Nathan tidur di kamarnya yang nyaman, Heri berdiri mematung di sisi ranjang king-size.Pria bertubuh tegap itu baru saja selesai membersihkan diri, hanya mengenakan celana kain santai berwarna hitam yang menggantung rendah di pinggulnya.Otot-otot dada bidang dan perut six-pack-nya yang bertelanjang memantulkan pendar remang dari lampu tidur bernuansa keemasan.Suara gemericik air dari dalam kamar mandi utama perlahan terhenti.Heri memutar tubuhnya perlahan, menyilangkan kedua lengan kekarnya di atas dada.Ritme napas baritonnya mulai tak beraturan saat pendengarannya menangkap bunyi klik lembut pintu kamar mandi yang terbuka.Sesosok tubuh anggun melangkah keluar menembus uap hangat.Sintya berdiri di sana, membiarkan rambut panjangnya yang sedikit basah terurai bebas menutupi satu bahunya.Namun, bukan tatanan rambut itu yang menghentikan pasokan udara

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 185

    Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika mobil mereka kembali terparkir di area mall megah yang sama.Sintya, yang begitu paham bagaimana memanjakan anak-anak, sengaja membawa mereka ke arena permainan Timezone terbesar di lantai atas. Ia tahu betul Nathan belum puas menjelajahi keseruan ibu kota.Begitu melangkah melewati gerbang utama yang dipenuhi kelap-kelip lampu neon dan dentuman musik arena permainan yang meriah, mata Nathan langsung membola lebar.Sintya menyodorkan sebuah kartu permainan bernuansa emas yang sudah terisi saldo tanpa batas."Nih, kartunya tinggal kamu tap aja di mesin mana pun yang kamu mau," bisik Sintya lembut sembari menyerahkan kartu itu ke jemari Nathan.Nathan memegang kartu tersebut dengan tangan gemetar saking bahagianya. Wajah polosnya berbinar-binar penuh ketakjuban."Astaga, Mama. Dulu Nathan cuma bisa lihat tempat kayak begini di TV doang. Eh, sekarang bisa main langsung di sini!"Sintya mengusap pucuk kepala Nathan dengan binar kasih sayang

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 69

    Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 66

    Heri menekan Baskoro dengan suara baritonnya yang mengintimidasi, mengunci pandangan pria paruh baya itu agar tidak bisa mengelak lagi.Sembari menumpu kedua tangan kekarnya di atas meja marmer, Heri menyorongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak psikologis hingga Baskoro terpaksa bersand

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 50

    Sintya sekuat tenaga menggigit bibir bawahnya hingga memutih, menahan hantaman nikmat yang mendadak menyerang pusat sarafnya. Kedua tangan wanita itu meremas sprei hotel dengan kuku-kukunya yang terawat hingga kain katun premium itu berkerut parah.Di bawah selimut tebal, Heri tidak member

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status