Mag-log in“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.
Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hitam panas dan sepiring sandwich isi daging. Wajah majikannya itu masih datar, dagunya terangkat tinggi seolah sedang memberikan sedekah pada pengemis.
Heri tersenyum tipis, menerima piring itu hingga jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan jari Sintya yang halus. “Makasih, Nyonya. Kebetulan saya memang belum sarapan.”
“Ya sudah, habiskan di pos. Jangan berantakan di sini,” usir Sintya.
Baru saja Heri berbalik, suara bel pintu berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk tanpa permudah. Namanya Karin, sahabat sosialita Sintya yang terkenal paling berani di geng mereka. Karin mengenakan mini dress merah ketat yang potongan dadanya sangat rendah, membuat asetnya yang montok seolah hendak melompat keluar.
Prang!
Heri hampir saja menjatuhkan cangkir kopinya kalau tidak segera menyeimbangkan tangan. Matanya sempat terpaku pada belahan dada Karin yang putih bersih. Adrenalin Heri mendidih seketika; di dalam satu ruangan sekarang ada dua wanita cantik dengan tubuh yang sangat menggoda.
“Eh, ada Heri kesayangan,” seru Karin dengan suara manja. Ia langsung menghampiri Heri, mengabaikan Sintya yang berdiri kaku di belakang meja bar. “Makin ganteng aja sih kamu, Her. Badannya makin jadi ya sekarang?”
Heri tersenyum manis, mencoba tetap sopan meski jantungnya berdegup kencang. “Nyonya Karin juga... makin cantik aja saya lihat-lihat.”
Karin tertawa renyah, lalu tanpa ragu menepuk lengan Heri yang berotot dan membelainya perlahan. “Duh, keras banget lengannya. Rajin olahraga ya, Mas?”
Sentuhan tangan Karin yang dingin namun lembut di kulit lengannya membuat kejantanan Heri yang sedari tadi sudah tegang menjadi semakin tak terkendali. Heri merasa seperti berada di tengah kepungan godaan yang mematikan. Ia melirik ke arah Sintya, dan jantungnya hampir copot melihat tatapan majikannya yang tajam seperti ingin menusuk punggung Karin.
“Nyonya, saya... saya permisi keluar dulu ya. Mau lanjut jaga,” pamit Heri buru-buru, merasa suasananya mulai panas.
“Eh, mau ke mana? Sini ikut sarapan sama kita,” cegat Karin sambil memegang erat pergelangan tangan Heri, mencegahnya pergi. “Sintya, nggak apa-apa kan kalau satpam kamu yang hot ini nemenin kita makan?”
Sintya mendengus kencang, lalu melipat tangan di bawah dadanya, pose yang justru membuat payudaranya semakin membusung menantang. “Selera kamu rendah banget sih, Rin? Satpam begini aja kamu embat juga. Kayak nggak ada laki-laki lain yang lebih berkelas aja.”
Karin sama sekali tidak tersinggung. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya ke lengan Heri hingga payudaranya yang besar itu terasa menekan siku Heri dengan nyata. “Aduh, Sin. Kelas itu urusan nanti. Kapan lagi coba dapet hot duda kayak Heri ini? Paket lengkap tahu. Udah ganteng, badannya bagus, pinter benerin 'pipa' lagi.”
Heri hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal, benar-benar salah tingkah. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia merasa seperti domba di tengah dua singa betina yang sedang berebut mangsa, meski ia tahu Sintya hanya merasa gengsinya terusik.
“Nyonya Karin bisa saja bercandanya,” ujar Heri pelan.
“Aku nggak bercanda lho, Her. Kalau Sintya nggak mau sama kamu, pindah aja kerja di rumahku. Gimana?” goda Karin sambil mengedipkan sebelah matanya.
Heri memberanikan diri melirik Sintya. Wanita itu tetap diam, namun matanya yang gelap menatap Heri dengan sorot yang sulit diartikan, antara marah dan rasa tidak suka yang amat dalam. Suasana dapur itu mendadak terasa lebih sempit dari biasanya.
“Nggak bisa,” potong Sintya tiba-tiba, suaranya dingin dan tegas. “Heri masih ada kontrak sama aku. Dan dia masih banyak kerjaan yang belum beres di rumah ini.”
Karin tertawa kecil melihat reaksi sahabatnya. “Tuh kan, Heri. Kayaknya ada yang nggak rela nih kalau kamu pergi,” goda Karin lagi.
Heri menelan ludah, ia merasa tekanan di dalam dadanya semakin berat. Di satu sisi, godaan Karin sangat membakar nafsu lelakinya, tapi tatapan tajam Sintya justru membuatnya merasa terikat secara emosional. Ia tidak tahu harus senang atau takut berada di posisi ini.
“Saya... saya ambil kopi saya dulu ya, Nyonya,” gumam Heri, mencoba melepaskan tangannya dari Karin.
Sintya tetap berdiri mematung, namun tatapan matanya tidak lepas dari Heri. Dalam hati, Heri bertanya-tanya, apakah Sintya marah karena ia dianggap rendah, atau Sintya marah karena ia mulai terlihat menarik di mata orang lain? Yang jelas, pagi itu, Heri tahu hidupnya sebagai satpam di rumah ini tidak akan pernah tenang lagi.
Tanpa membuang waktu lagi, Heri menyambar pinggiran tank top putih yang dikenakan Sintya. Dengan satu sentakan kuat yang penuh dominasi, ia menarik pakaian tipis itu melewati kepala sang majikan dan melemparkannya asal ke atas meja makan.Sintya kini setengah polos, menyisakan pemandangan dada yang membusung indah di depan mata Heri.Heri tidak menunggu aba-aba. Ia langsung menunduk dan melahap gundukan kenyal itu dengan rakus.“Aaakh! Heri!” Sintya menjerit kencang, tubuhnya melengkung saat lidah kasar Heri menyapu putingnya yang sudah mengeras. “Pelan, Her... mmmh, tapi jangan berhenti. Aku udah lama banget nggak ngerasain ini... Mas Reno nggak pernah mau sepert ini.”Heri tidak peduli dengan keluhan soal suaminya. Fokusnya hanya pada rasa manis dan hangat kulit Sintya. Ia menyusu dengan sangat agresif, menciptakan suara isapan yang memenuhi keheningan ruang tengah. Adrenalin Heri memuncak; rasa puas karena bisa memiliki apa yang selama ini hanya bisa ia intip membuatnya semakin ber
Heri menarik napas panjang, dan menatap lekat sepasang mata Sintya yang masih tampak gelisah. “Jujur aja, Nyonya. Pas saya lihat Nyonya tadi malam... 'burung' saya bergejolak. Saya laki-laki normal,” aku Heri dengan suara rendah yang jujur.“Tapi saya tahu diri. Saya cuma satpam, dan saya hargai Nyonya sebagai majikan saya. Makanya saya tahan sebisa mungkin.”Jawaban blak-blakan itu seketika membungkam Sintya. Wanita itu terpaku, seolah tidak menyangka Heri akan seberani itu mengakui gairahnya namun tetap menunjukkan rasa hormat. Heri berdehem, memecah kecanggungan. “Bintik merahnya sudah nggak kelihatan, Nyonya. Sudah aman.”Sintya hanya mengangguk kaku. Ia segera menyambar ponselnya yang terus bergetar. “Ya, Mas? Oh, baru mau telepon balik,” ujar Sintya. Wajahnya berubah drastis, memasang senyum ramah yang terlihat sangat palsu di mata Heri.Heri melangkah mundur, berniat keluar dari ruang tengah untuk memberi privasi. Namun, baru beberapa langkah, telinganya menangkap suara Reno da
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabuni piring pertama, suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat.“Heri! Heri, gawat! Sini kamu!” seru Sintya dengan nada panik yang sangat tinggi.Heri menoleh, tangannya masih penuh busa. “Kenapa lagi, Nyonya? Ada yang bocor lagi?”“Mas Reno, suamiku! Dia mau video call sekarang juga. Tapi lihat ini!” Sintya menunjuk leher jenjangnya di depan cermin besar yang ada di lorong dapur.Heri mendekat, matanya memicing. Di kulit putih mulus itu, ada bercak kemerahan yang cukup kontras. Mungkin karena gigitan nyamuk saat mereka berpelukan di lantai dalam gelap semalam, atau mungkin alergi debu. Tapi masalahnya, letak dan bentuknya benar-benar mirip bekas ciuman.“Waduh, Nyonya. Itu kelihatan kayak.
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hitam panas dan sepiring sandwich isi daging. Wajah majikannya itu masih datar, dagunya terangkat tinggi seolah sedang memberikan sedekah pada pengemis.Heri tersenyum tipis, menerima piring itu hingga jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan jari Sintya yang halus. “Makasih, Nyonya. Kebetulan saya memang belum sarapan.”“Ya sudah, habiskan di pos. Jangan berantakan di sini,” usir Sintya.Baru saja Heri berbalik, suara bel pintu berbunyi nyaring. Tak lama kemudian, seorang wanita masuk tanpa permudah. Namanya Karin, sahabat sosialita Sintya yang terkenal paling berani di geng mereka. Karin mengenakan mini dress merah ketat yang potongan dadanya sangat rendah, membuat asetnya yang montok seolah
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbuka.“Heri, kamu...”Sintya berdiri di ambang pintu. Langkahnya terhenti, matanya tertuju pada tubuh atletis satpamnya itu. Heri bisa melihat jakun Sintya naik turun, matanya terpaku pada sisa tetesan air yang mengalir di sela otot dada Heri. Pria itu berdehem keras, merasa kikuk sekaligus ada rasa bangga yang aneh.“Nyonya? Nyari saya? Maaf, saya lagi ganti baju,” tegur Heri sambil meraih kaos oblongnya.Sintya tersentak, wajahnya memerah sesaat sebelum kembali ke mode angkuh. “Enggak usah kepedean. Itu... pipa wastafel dapur mampet gara-gara air hujan kemarin kayaknya. Cepat ke dalam, benerin sekarang!”“Siap, Nyonya. Saya pakai baju dulu,” jawab Heri singkat.Sepuluh menit kemudian, Heri s
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan Sintya dan ancaman pemecatan yang menggantung di lehernya.Tiba-tiba, sebuah suara tangisan lirih terdengar dari arah kamar. Heri tegak duduk, menajamkan pendengaran.“Mas... Mas Reno... angkat, Mas... Tolong aku...”Heri menyalakan senter ponselnya. Ia melihat Sintya merangkak keluar dari pintu kamar. Wanita itu tidak lagi tampak seperti majikan yang angkuh. Ia gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal, dan air mata membasahi pipinya yang mulus. Ponsel di tangannya terus menunjukkan panggilan yang tidak terjawab.“Nyonya? Nyonya kenapa?” Heri buru-buru mendekat, namun tetap menjaga jarak.“Gelap, Heri... Sempit... Aku nggak bisa napas!” Sintya menjerit saat petir kembali menggelegar. Ia mele







