Share

BAB 4

Author: Nona Mentari
last update publish date: 2026-05-07 22:35:44

Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan Sintya dan ancaman pemecatan yang menggantung di lehernya.

Tiba-tiba, sebuah suara tangisan lirih terdengar dari arah kamar. Heri tegak duduk, menajamkan pendengaran.

“Mas... Mas Reno... angkat, Mas... Tolong aku...”

Heri menyalakan senter ponselnya. Ia melihat Sintya merangkak keluar dari pintu kamar. Wanita itu tidak lagi tampak seperti majikan yang angkuh. Ia gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal, dan air mata membasahi pipinya yang mulus. Ponsel di tangannya terus menunjukkan panggilan yang tidak terjawab.

“Nyonya? Nyonya kenapa?” Heri buru-buru mendekat, namun tetap menjaga jarak.

“Gelap, Heri... Sempit... Aku nggak bisa napas!” Sintya menjerit saat petir kembali menggelegar. Ia melempar ponselnya ke sembarang arah dan menutup telinganya rapat-rapat.

Heri panik saat melihat Sintya mulai mencakar lehernya sendiri, berusaha mencari udara yang seolah hilang dari paru-parunya. Ini bukan sekadar takut gelap biasa; ini serangan panik yang hebat.

“Nyonya, tenang. Ada saya di sini. Tarik napas, Nyonya,” ujar Heri berusaha menenangkan.

“Peluk aku, Heri! Tolong, peluk aku! Aku takut banget!” teriak Sintya histeris. Ia tidak peduli lagi dengan gengsi atau status sosialnya. Saat itu, ia hanya butuh perlindungan.

Heri ragu sejenak, namun saat melihat Sintya hampir pingsan karena sesak, ia langsung duduk di lantai dan menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Sintya langsung menyergap tubuh Heri, membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu.

“Jangan pergi... Tolong jangan matiin lampunya... Mas Reno jahat, dia nggak pernah ada...” isak Sintya sesenggukan.

Heri tertegun. Tubuh Sintya begitu hangat dan lembut. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan aroma tubuh khas wanita benar-benar menyerang saraf Heri. Dekapan Sintya sangat erat, membuat dada besar wanita itu tertekan kuat pada dada bidang Heri. Heri bisa merasakan detak jantung Sintya yang liar, perlahan-lahan mulai beradu dengan detak jantungnya sendiri yang juga tidak karuan.

“Saya nggak ke mana-mana, Nyonya. Saya di sini,” bisik Heri pelan. Tangannya yang kasar perlahan mengusap punggung Sintya, berusaha memberikan ketenangan.

Namun, secara biologis, Heri tidak bisa berbohong. Posisi mereka yang sangat rapat, dengan paha Sintya yang bersinggungan langsung dengan kakinya, membuat 'burung' Heri kembali berontak. Di balik celana seragamnya, kejantanannya menegang hebat, bahkan terasa berdenyut-denyut.

Heri menggertakkan gigi, berusaha keras mengalihkan pikirannya ke hal lain, ke anaknya di kampung, ke utang-utangnya, tapi tetap saja, sentuhan kulit Sintya yang halus di lehernya membuat pertahanannya nyaris jebol.

“Nyonya sudah lebih tenang?” tanya Heri, suaranya sedikit serak menahan gejolak.

“Jangan lepasin dulu... Sebentar aja,” gumam Sintya pelan. Napasnya mulai teratur, namun ia masih enggan menjauh dari kehangatan tubuh satpamnya itu.

Heri hanya bisa menarik napas panjang berkali-kali. Ia merasa seperti sedang memeluk bom waktu. Di satu sisi, ia merasa kasihan melihat sisi rapuh Sintya, tapi di sisi lain, ia adalah pria normal yang sudah lama tidak menyentuh wanita.

Tangannya yang mengusap punggung Sintya sempat tanpa sengaja turun sedikit ke arah pinggul yang sintal, membuat Heri tersentak dan segera mengembalikannya ke posisi semula.

Waktu seolah berhenti. Selama hampir dua jam, mereka tetap dalam posisi itu di atas lantai ruang tengah yang dingin. Sintya akhirnya tertidur karena kelelahan menangis, kepalanya masih bersandar nyaman di bahu Heri. Heri sendiri tidak berani bergerak sedikit pun, meski kakinya mulai kesemutan parah.

Tepat saat fajar menyingsing, suara Ctek! terdengar. Lampu-lampu kristal di ruang tengah menyala terang seketika. Cahaya itu membuat Sintya terbangun.

Begitu menyadari dirinya sedang dipeluk erat oleh Heri di atas lantai, wajah Sintya langsung berubah drastis. Ia mendorong dada Heri dengan kasar hingga pria itu terjengkang ke belakang.

“Ngapain kamu?! Lepasin!” bentak Sintya sambil berdiri dengan terburu-buru, merapikan kimononya yang sedikit tersingkap.

Heri mengucek matanya yang lelah, mencoba mengimbangi perubahan sikap yang mendadak itu. “Nyonya... tadi Nyonya yang minta tolong. Nyonya kena serangan panik.”

Sintya menatap Heri dengan tatapan dingin dan penuh penghinaan, seolah kejadian semalam adalah sebuah kesalahan fatal yang harus dihapus. “Lupakan soal semalam. Aku cuma lagi capek, dan jangan sekali-kali kamu berpikir bisa lancang sama aku cuma karena kejadian tadi!”

“Tapi Nyonya, soal laporan ke kantor—"

“Cepat keluar dari sini! Bau badan kamu bikin pusing. Sana balik ke pos!” potong Sintya tanpa ampun. Lalu berjalan masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.

Heri berdiri perlahan, meratapi kakinya yang kaku dan 'perasaan' yang masih menggantung. Ia menggelengkan kepala, merasa bodoh karena sempat mengira Sintya akan luluh.

“Gila... Benar-benar wanita bermuka dua,” gumam Heri sambil berjalan gontai keluar rumah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 506

    Nathan tidak memberi mereka waktu untuk bernapas.Dengan satu tarikan kasar, ia menarik Karin ke atas pangkuannya hingga wanita itu terpaksa menungganginya.Milik Nathan yang sudah basah dan tegang menusuk masuk ke dalam milik Karin dalam satu hentakan dalam, membuat tubuh aktris itu melengkung tajam.“Ahhh—! Nathan, terlalu dalam!” erang Karin, jari-jarinya mencengkeram bahu pria itu hingga kuku-kukunya memutih.Nathan hanya mendengus, kedua tangannya mencengkeram pinggang Karin dengan brutal lalu mengangkat dan menjatuhkan tubuh wanita itu berulang-ulang.Setiap hentakan membuat bunyi basah yang nyaring memenuhi ruangan.“Gerak sendiri. Lebih cepat.”Karin menurut, pinggangnya mulai naik-turun dengan tempo yang semakin gila. Miliknya sudah becek, lendirnya mengalir turun membasahi paha Nathan.Victoria langsung naik ke sofa, menungging sedikit di samping Nathan sambil menyodorkan payudaranya yang montok tepat ke mulut pria itu.“Hisap, hisap payudaraku,” desah Victoria serak, jari-j

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 505

    Malam itu, penthouse Nathan Utama di lantai tertinggi gedung residensi mewah tampak tenang di luar, namun di dalam ruang utama yang luas, suasana sudah dipenuhi ketegangan erotis yang pekat.Nathan duduk di sofa kulit gelap yang luas, hanya mengenakan kemeja putih yang setengah terbuka dan celana formal yang masih rapi. Di hadapannya, tiga wanita berdiri dalam barisan yang sempurna: Victoria, Sisca, dan Karin.Victoria, wanita dewasa dengan aura elegan yang sudah lama berada di lingkaran Nathan, berdiri paling kiri. Tubuhnya langsing namun penuh, rambutnya diikat rapi.Di tengah, Sisca berdiri tegap dengan wajah profesional yang kini sudah kehilangan segala formalitas kantor. Di sisi kanan, Karin berdiri dengan bahu sedikit menurun, wajahnya masih menyimpan sisa-sisa ketegangan siang tadi, namun matanya sudah tunduk.Nathan menyilangkan kaki, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang menuntut kepatuhan mutlak.“Lepas semuanya,” perintahnya datar, suaranya rendah dan tanpa ruang

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 504

    Untuk memastikan Karin tidak memiliki celah sedikit pun untuk merencanakan perlawanan balik atau membocorkan status terikatnya ke publik, Nathan Utama mengambil alih kendali penuh atas seluruh ekosistem kerja sang aktris.Melalui daya tekan finansial yang kuat dan ancaman penyebaran dokumen bukti pemerasan awal, Nathan memaksa pihak agensi manajemen tempat Karin bernaung untuk menandatangani adendum kontrak pengawasan khusus.Pagi itu, di dalam ruang kerja VIP lantai direksi, Nathan memanggil Sisca dan Karin secara bersamaan. Suasana ruangan terasa sangat kaku dan menekan.Sisca berdiri tegap di sisi meja kerja mengenakan gaun formal berpotongan rapi, sementara Karin berdiri di sisi sebaliknya dengan raut wajah tertekan dan tidak berdaya.Nathan melempar dua bendel dokumen hitam ke atas meja mahoni besar di hadapan mereka."Sisca," panggil Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan tegas."Mulai hari ini, kamu resmi bertindak sebagai verifikator tunggal atas seluruh agend

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 503

    Di minggu-minggu berikutnya, Nathan Utama memanfaatkan kehadiran Karin untuk mempertegas pameran kekuasaan dan pengaruh bisnisnya di hadapan para pengusaha senior, investor asing, dan pejabat tinggi.Dalam berbagai acara perjamuan bisnis eksklusif, malam amal, dan gala privat yang tertutup dari pers umum, Karin terpaksa tampil mendampingi Nathan sebagai wanita gaetannya.Malam itu, di dalam ballroom hotel bintang lima yang dipenuhi lampu kristal raksasa, para tokoh elit berkumpul menikmati alunan musik orkestra klasik.Nathan melangkah mantap memasuki ruangan dengan setelan jas hitam kustom yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.Di sisi kanannya, Karin berdiri mendampingi dengan balutan gaun malam sutra berwarna perak berpotongan anggun yang memeluk tubuh jenjangnya.Namun, di balik senyum manis dan postur tubuhnya yang tampak sempurna di hadapan para tamu, Karin menyimpan kepatuhan mutlak yang dipaksakan oleh kontrak privat."Ingat batasan kamu malam ini, Karin," bisik Nathan ren

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 502

    Setelah kesepakatan terikat tersebut terkunci tanpa celah di atas meja kerja, Nathan Utama tidak menunda waktu sedetik pun untuk melancarkan penundukan fisik dan psikologis secara langsung di dalam kamar suite eksklusif lantai teratas tersebut.Tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik yang kasar, Nathan mendikte setiap pergerakan Karin dengan dominasi yang amat tajam, dingin, dan memikat, meremukkan sisa-sisa harga diri sang aktris yang biasa dipuja-puja oleh jutaan penggemar di luar sana.Nathan berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mendekati Karin yang masih terduduk kaku di atas sofa dengan air mata yang mengering di pipinya."Berdiri, Karin," perintah Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan menusuk.Karin mendongak pelan, menatap manik mata pekat Nathan dengan sisa-sisa keangkuhan yang perlahan larut dalam rasa takut. Dengan gerakan ragu, ia bangkit berdiri dari sofa, merapikan ujung gaun malam merahnya yang kusut."Apa... apa yang harus saya lakukan sekarang, Na

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 501

    Ketakutan yang membeku di dalam kamar suite lantai atas mencapai titik paling krisis ketika Karin menyadari tidak ada satu pun pengacara, agensi hiburan, atau jaringan media yang sanggup melindunginya dari jerat rekaman CCTV milik Nathan Utama.Karin berdiri membeku panik di atas karpet tebal, kedua tangannya yang memegang ujung gaun malam mewahnya bergetar hebat saat Nathan melangkah mendekatinya dengan ketenangan yang mengintimidasi."Kamu masih berharap ada seseorang yang akan mendobrak pintu suite ini dan menyelamatkan kamu, Karin?" tanya Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan menusuk.Karin menelan ludah dengan susah payah, air matanya menetes bebas merusak riasan mahal di wajahnya. "N-Nathan, kumohon... jangan lakukan ini pada saya. Jangan hancurkan hidup saya..."Nathan sama sekali tidak memberi ruang untuk ratapan, tangisan, atau permohonan maaf yang tidak berguna dari sang aktris.Pria itu berhenti tepat satu langkah di hadapan Karin, menatap rendah wanita di

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 3

    Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 2

    Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status