登入Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbuka.
“Heri, kamu...”
Sintya berdiri di ambang pintu. Langkahnya terhenti, matanya tertuju pada tubuh atletis satpamnya itu. Heri bisa melihat jakun Sintya naik turun, matanya terpaku pada sisa tetesan air yang mengalir di sela otot dada Heri. Pria itu berdehem keras, merasa kikuk sekaligus ada rasa bangga yang aneh.
“Nyonya? Nyari saya? Maaf, saya lagi ganti baju,” tegur Heri sambil meraih kaos oblongnya.
Sintya tersentak, wajahnya memerah sesaat sebelum kembali ke mode angkuh. “Enggak usah kepedean. Itu... pipa wastafel dapur mampet gara-gara air hujan kemarin kayaknya. Cepat ke dalam, benerin sekarang!”
“Siap, Nyonya. Saya pakai baju dulu,” jawab Heri singkat.
Sepuluh menit kemudian, Heri sudah berada di bawah bak cuci piring dapur yang mewah. Ia harus berbaring telentang, masuk ke dalam kabinet bawah yang sempit untuk menjangkau pipa yang bocor. Di luar dugaannya, Sintya tetap berada di sana, berpura-pura sibuk memotong buah di atas kitchen island.
Wanita itu hanya mengenakan tank top putih tipis tanpa bra. Setiap kali Sintya bergerak memotong buah, Heri yang berada di posisi lebih rendah bisa melihat dengan jelas guncangan alami dari balik kain tipis itu. Bahkan, puting Sintya terlihat menonjol transparan karena AC dapur yang disetel sangat dingin.
“Aduh, kok susah banget sih ini,” gerutu Heri dengan pelan. Keringat mulai membasahi dahinya, bukan karena panas, tapi karena tekanan batin melihat pemandangan di depannya.
Sintya melangkah mendekat, berdiri tepat di samping kepala Heri yang menyembul dari bawah wastafel. Kaki mulusnya yang jenjang hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidung Heri. Aroma sabun stroberi dari kaki Sintya menusuk indra penciuman Heri.
“Lama banget sih, Her. Bisa nggak kerjanya?” tanya Sintya sambil sengaja menunduk dan membuat belahan dadanya terekspos sempurna tepat di depan mata Heri.
Heri menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang memegang kunci inggris gemetar. “Sabar, Nyonya. Ini bautnya karatan, harus pelan-pelan.”
“Bilang aja kamu sengaja lama-lamain biar bisa ngeliatin kaki aku, kan?” ejek Sintya dengan nada meremehkan, tapi ada kilatan menggoda di matanya.
Heri memalingkan wajah, fokus pada pipa plastik di depannya, meski pikirannya sudah terbang ke mana-mana. “Enggak, Nyonya. Saya beneran lagi kerja. Tolong jangan berdiri terlalu deket, saya susah geraknya.”
Sintya justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat renyah sekaligus menyebalkan di telinga Heri. “Masa gitu aja susah? Tadi malem aja kamu berani banget meluk aku kenceng banget. Sekarang deket kaki aku aja gemeteran.”
“Itu beda ceritanya, Nyonya. Semalam itu darurat,” sahut Heri defensif.
Sintya berjongkok di samping Heri, membuat kain tank top-nya semakin merosot ke bawah. Heri benar-benar hampir gila. Posisinya sekarang membuat ia bisa melihat segalanya. Jantungnya berdegup kencang, dan kejantanannya di balik celana kerja mulai terasa sesak dan menegang hebat. Ia merasa seperti pecundang yang sedang dipermainkan.
“Fokus ke pipa, Heri. Jangan lihat yang lain. Nanti kalau salah pasang, airnya muncrat ke mana-mana,” ucap Sintya tepat di telinga Heri.
Heri memejamkan mata sejenak, untuk mengatur napasnya yang mulai memburu. “Nyonya, kalau Nyonya terus-terusan begini, saya nggak bakal selesai-selesai. Tolong hargai saya yang lagi kerja.”
“Lho, siapa yang nggak ngehargain? Aku kan cuma nemenin biar kamu nggak kesepian. Kasihan kan, duda di rumah gede sendirian begini,” balas Sintya sambil bangkit berdiri lagi, sengaja menggesekkan betisnya ke bahu Heri yang berkeringat.
Heri menggertakkan gigi. Rasanya ia ingin sekali keluar dari bawah wastafel itu, menarik pinggang Sintya, dan menunjukkan siapa yang sebenarnya memegang kendali. Namun, wajah anaknya di kampung kembali muncul di benaknya. Ia tidak boleh gegabah. Ia butuh pekerjaan ini.
“Selesai, Nyonya. Coba cek airnya,” kata Heri sambil buru-buru merangkak keluar dari bawah kabinet.
Sintya menyalakan kran, matanya masih melirik nakal ke arah celana Heri yang terlihat sangat menonjol. “Hm, oke. Bagus. Ternyata kamu pinter juga benerin yang mampet-mampet.”
Heri segera membereskan peralatannya, tidak berani menatap mata Sintya terlalu lama. “Saya permisi balik ke pos, Nyonya.”
“Heri,” panggil Sintya saat Heri sudah di ambang pintu dapur.
Heri menoleh. Sintya sedang menyandarkan tubuhnya ke meja dapur, melipat tangan di bawah dadanya yang membuat gundukan itu semakin membusung menantang.
“Nanti malem jangan tidur terlalu nyenyak. Takutnya hujan lagi, dan aku... masih takut petir,” ujar Sintya dengan senyum misterius.
Nathan tidak memberi mereka waktu untuk bernapas.Dengan satu tarikan kasar, ia menarik Karin ke atas pangkuannya hingga wanita itu terpaksa menungganginya.Milik Nathan yang sudah basah dan tegang menusuk masuk ke dalam milik Karin dalam satu hentakan dalam, membuat tubuh aktris itu melengkung tajam.“Ahhh—! Nathan, terlalu dalam!” erang Karin, jari-jarinya mencengkeram bahu pria itu hingga kuku-kukunya memutih.Nathan hanya mendengus, kedua tangannya mencengkeram pinggang Karin dengan brutal lalu mengangkat dan menjatuhkan tubuh wanita itu berulang-ulang.Setiap hentakan membuat bunyi basah yang nyaring memenuhi ruangan.“Gerak sendiri. Lebih cepat.”Karin menurut, pinggangnya mulai naik-turun dengan tempo yang semakin gila. Miliknya sudah becek, lendirnya mengalir turun membasahi paha Nathan.Victoria langsung naik ke sofa, menungging sedikit di samping Nathan sambil menyodorkan payudaranya yang montok tepat ke mulut pria itu.“Hisap, hisap payudaraku,” desah Victoria serak, jari-j
Malam itu, penthouse Nathan Utama di lantai tertinggi gedung residensi mewah tampak tenang di luar, namun di dalam ruang utama yang luas, suasana sudah dipenuhi ketegangan erotis yang pekat.Nathan duduk di sofa kulit gelap yang luas, hanya mengenakan kemeja putih yang setengah terbuka dan celana formal yang masih rapi. Di hadapannya, tiga wanita berdiri dalam barisan yang sempurna: Victoria, Sisca, dan Karin.Victoria, wanita dewasa dengan aura elegan yang sudah lama berada di lingkaran Nathan, berdiri paling kiri. Tubuhnya langsing namun penuh, rambutnya diikat rapi.Di tengah, Sisca berdiri tegap dengan wajah profesional yang kini sudah kehilangan segala formalitas kantor. Di sisi kanan, Karin berdiri dengan bahu sedikit menurun, wajahnya masih menyimpan sisa-sisa ketegangan siang tadi, namun matanya sudah tunduk.Nathan menyilangkan kaki, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang menuntut kepatuhan mutlak.“Lepas semuanya,” perintahnya datar, suaranya rendah dan tanpa ruang
Untuk memastikan Karin tidak memiliki celah sedikit pun untuk merencanakan perlawanan balik atau membocorkan status terikatnya ke publik, Nathan Utama mengambil alih kendali penuh atas seluruh ekosistem kerja sang aktris.Melalui daya tekan finansial yang kuat dan ancaman penyebaran dokumen bukti pemerasan awal, Nathan memaksa pihak agensi manajemen tempat Karin bernaung untuk menandatangani adendum kontrak pengawasan khusus.Pagi itu, di dalam ruang kerja VIP lantai direksi, Nathan memanggil Sisca dan Karin secara bersamaan. Suasana ruangan terasa sangat kaku dan menekan.Sisca berdiri tegap di sisi meja kerja mengenakan gaun formal berpotongan rapi, sementara Karin berdiri di sisi sebaliknya dengan raut wajah tertekan dan tidak berdaya.Nathan melempar dua bendel dokumen hitam ke atas meja mahoni besar di hadapan mereka."Sisca," panggil Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan tegas."Mulai hari ini, kamu resmi bertindak sebagai verifikator tunggal atas seluruh agend
Di minggu-minggu berikutnya, Nathan Utama memanfaatkan kehadiran Karin untuk mempertegas pameran kekuasaan dan pengaruh bisnisnya di hadapan para pengusaha senior, investor asing, dan pejabat tinggi.Dalam berbagai acara perjamuan bisnis eksklusif, malam amal, dan gala privat yang tertutup dari pers umum, Karin terpaksa tampil mendampingi Nathan sebagai wanita gaetannya.Malam itu, di dalam ballroom hotel bintang lima yang dipenuhi lampu kristal raksasa, para tokoh elit berkumpul menikmati alunan musik orkestra klasik.Nathan melangkah mantap memasuki ruangan dengan setelan jas hitam kustom yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.Di sisi kanannya, Karin berdiri mendampingi dengan balutan gaun malam sutra berwarna perak berpotongan anggun yang memeluk tubuh jenjangnya.Namun, di balik senyum manis dan postur tubuhnya yang tampak sempurna di hadapan para tamu, Karin menyimpan kepatuhan mutlak yang dipaksakan oleh kontrak privat."Ingat batasan kamu malam ini, Karin," bisik Nathan ren
Setelah kesepakatan terikat tersebut terkunci tanpa celah di atas meja kerja, Nathan Utama tidak menunda waktu sedetik pun untuk melancarkan penundukan fisik dan psikologis secara langsung di dalam kamar suite eksklusif lantai teratas tersebut.Tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik yang kasar, Nathan mendikte setiap pergerakan Karin dengan dominasi yang amat tajam, dingin, dan memikat, meremukkan sisa-sisa harga diri sang aktris yang biasa dipuja-puja oleh jutaan penggemar di luar sana.Nathan berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mendekati Karin yang masih terduduk kaku di atas sofa dengan air mata yang mengering di pipinya."Berdiri, Karin," perintah Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan menusuk.Karin mendongak pelan, menatap manik mata pekat Nathan dengan sisa-sisa keangkuhan yang perlahan larut dalam rasa takut. Dengan gerakan ragu, ia bangkit berdiri dari sofa, merapikan ujung gaun malam merahnya yang kusut."Apa... apa yang harus saya lakukan sekarang, Na
Ketakutan yang membeku di dalam kamar suite lantai atas mencapai titik paling krisis ketika Karin menyadari tidak ada satu pun pengacara, agensi hiburan, atau jaringan media yang sanggup melindunginya dari jerat rekaman CCTV milik Nathan Utama.Karin berdiri membeku panik di atas karpet tebal, kedua tangannya yang memegang ujung gaun malam mewahnya bergetar hebat saat Nathan melangkah mendekatinya dengan ketenangan yang mengintimidasi."Kamu masih berharap ada seseorang yang akan mendobrak pintu suite ini dan menyelamatkan kamu, Karin?" tanya Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan menusuk.Karin menelan ludah dengan susah payah, air matanya menetes bebas merusak riasan mahal di wajahnya. "N-Nathan, kumohon... jangan lakukan ini pada saya. Jangan hancurkan hidup saya..."Nathan sama sekali tidak memberi ruang untuk ratapan, tangisan, atau permohonan maaf yang tidak berguna dari sang aktris.Pria itu berhenti tepat satu langkah di hadapan Karin, menatap rendah wanita di
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.