Share

BAB 5

Author: Nona Mentari
last update publish date: 2026-05-07 22:46:22

Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbuka.

“Heri, kamu...”

Sintya berdiri di ambang pintu. Langkahnya terhenti, matanya tertuju pada tubuh atletis satpamnya itu. Heri bisa melihat jakun Sintya naik turun, matanya terpaku pada sisa tetesan air yang mengalir di sela otot dada Heri. Pria itu berdehem keras, merasa kikuk sekaligus ada rasa bangga yang aneh.

“Nyonya? Nyari saya? Maaf, saya lagi ganti baju,” tegur Heri sambil meraih kaos oblongnya.

Sintya tersentak, wajahnya memerah sesaat sebelum kembali ke mode angkuh. “Enggak usah kepedean. Itu... pipa wastafel dapur mampet gara-gara air hujan kemarin kayaknya. Cepat ke dalam, benerin sekarang!”

“Siap, Nyonya. Saya pakai baju dulu,” jawab Heri singkat.

Sepuluh menit kemudian, Heri sudah berada di bawah bak cuci piring dapur yang mewah. Ia harus berbaring telentang, masuk ke dalam kabinet bawah yang sempit untuk menjangkau pipa yang bocor. Di luar dugaannya, Sintya tetap berada di sana, berpura-pura sibuk memotong buah di atas kitchen island.

Wanita itu hanya mengenakan tank top putih tipis tanpa bra. Setiap kali Sintya bergerak memotong buah, Heri yang berada di posisi lebih rendah bisa melihat dengan jelas guncangan alami dari balik kain tipis itu. Bahkan, puting Sintya terlihat menonjol transparan karena AC dapur yang disetel sangat dingin.

“Aduh, kok susah banget sih ini,” gerutu Heri dengan pelan. Keringat mulai membasahi dahinya, bukan karena panas, tapi karena tekanan batin melihat pemandangan di depannya.

Sintya melangkah mendekat, berdiri tepat di samping kepala Heri yang menyembul dari bawah wastafel. Kaki mulusnya yang jenjang hanya berjarak beberapa sentimeter dari hidung Heri. Aroma sabun stroberi dari kaki Sintya menusuk indra penciuman Heri.

“Lama banget sih, Her. Bisa nggak kerjanya?” tanya Sintya sambil sengaja menunduk dan membuat belahan dadanya terekspos sempurna tepat di depan mata Heri.

Heri menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang memegang kunci inggris gemetar. “Sabar, Nyonya. Ini bautnya karatan, harus pelan-pelan.”

“Bilang aja kamu sengaja lama-lamain biar bisa ngeliatin kaki aku, kan?” ejek Sintya dengan nada meremehkan, tapi ada kilatan menggoda di matanya.

Heri memalingkan wajah, fokus pada pipa plastik di depannya, meski pikirannya sudah terbang ke mana-mana. “Enggak, Nyonya. Saya beneran lagi kerja. Tolong jangan berdiri terlalu deket, saya susah geraknya.”

Sintya justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat renyah sekaligus menyebalkan di telinga Heri. “Masa gitu aja susah? Tadi malem aja kamu berani banget meluk aku kenceng banget. Sekarang deket kaki aku aja gemeteran.”

“Itu beda ceritanya, Nyonya. Semalam itu darurat,” sahut Heri defensif.

Sintya berjongkok di samping Heri, membuat kain tank top-nya semakin merosot ke bawah. Heri benar-benar hampir gila. Posisinya sekarang membuat ia bisa melihat segalanya. Jantungnya berdegup kencang, dan kejantanannya di balik celana kerja mulai terasa sesak dan menegang hebat. Ia merasa seperti pecundang yang sedang dipermainkan.

“Fokus ke pipa, Heri. Jangan lihat yang lain. Nanti kalau salah pasang, airnya muncrat ke mana-mana,” ucap Sintya tepat di telinga Heri.

Heri memejamkan mata sejenak, untuk mengatur napasnya yang mulai memburu. “Nyonya, kalau Nyonya terus-terusan begini, saya nggak bakal selesai-selesai. Tolong hargai saya yang lagi kerja.”

“Lho, siapa yang nggak ngehargain? Aku kan cuma nemenin biar kamu nggak kesepian. Kasihan kan, duda di rumah gede sendirian begini,” balas Sintya sambil bangkit berdiri lagi, sengaja menggesekkan betisnya ke bahu Heri yang berkeringat.

Heri menggertakkan gigi. Rasanya ia ingin sekali keluar dari bawah wastafel itu, menarik pinggang Sintya, dan menunjukkan siapa yang sebenarnya memegang kendali. Namun, wajah anaknya di kampung kembali muncul di benaknya. Ia tidak boleh gegabah. Ia butuh pekerjaan ini.

“Selesai, Nyonya. Coba cek airnya,” kata Heri sambil buru-buru merangkak keluar dari bawah kabinet.

Sintya menyalakan kran, matanya masih melirik nakal ke arah celana Heri yang terlihat sangat menonjol. “Hm, oke. Bagus. Ternyata kamu pinter juga benerin yang mampet-mampet.”

Heri segera membereskan peralatannya, tidak berani menatap mata Sintya terlalu lama. “Saya permisi balik ke pos, Nyonya.”

“Heri,” panggil Sintya saat Heri sudah di ambang pintu dapur.

Heri menoleh. Sintya sedang menyandarkan tubuhnya ke meja dapur, melipat tangan di bawah dadanya yang membuat gundukan itu semakin membusung menantang.

“Nanti malem jangan tidur terlalu nyenyak. Takutnya hujan lagi, dan aku... masih takut petir,” ujar Sintya dengan senyum misterius.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 337

    Pukul tiga pagi, di tengah keheningan yang lelap itu, deru mesin sepeda motor matik tanpa peredam suara mendadak memecah malam dari kejauhan.Dua orang tak dikenal mengendarai satu unit motor tanpa pelat nomor melaju kencang dari balik tikungan. Pengemudi motor sengaja mematikan lampu utama untuk menyamarkan identitas.Begitu mendekati gerbang utama cabang empat, pria di boncengan belakang bangkit sedikit dari joknya. Tangan kanan dan kirinya secara bersamaan melemparkan tiga kaleng cat minyak berukuran sedang ke arah fasad depan bangunan.Prang! Pyar!Benturan keras kaca pecah dan hantaman blek seng beradu menghantam dinding kaca tebal serta plang nama restoran berlogo megah Heri Utama.Cairan cat minyak kental berwarna merah darah seketika muncrat hebat, membasahi kaca pembatas, mengotori lantai granit pelataran, dan meleber jelek di atas ukiran kayu plang depan.Tanpa menghentikan laju kendaraan, pengemudi motor langsung memutar gas dalam-dalam, melesat kabur menghilang di balik ke

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 336

    Pukul setengah dua belas malam, Karin melangkah anggun menyusuri lorong beton basah menuju sedan putihnya.Tangan kanannya menjinjing tas kulit kerja, sementara jemari kirinya menggenggam erat kunci mobil.Suara dentang tumit sepatu hak tingginya memantul teratur di dinding beton, memecahkan kesunyian malam yang pekat.Namun, sebelum Karin sempat menekan tombol pembuka kunci pintu mobil, sesosok pria berjas hitam yang berdiri di balik pilar beton mendadak melangkah keluar, memotong jalur jalannya."Selamat malam, Bu Karin," sapa pria itu dengan nada suara yang terlalu dibuat-buat sopan, namun memancarkan intrik yang licik.Karin menghentikan langkahnya seketika. Tubuhnya refleks bersiaga, memiringkan posisi berdiri dengan tatapan mata yang langsung berubah tajam dan dingin."Siapa kamu? Mau apa malam-malam begini di area parkir privat?"Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang memuat nada merendahkan. Tanpa membuang waktu, ia merogoh saku dalam jas mewahnya dan menarik keluar sebuah

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 335

    Pukul sebelas malam, Maman menghentikan laju kendaraannya di balik deretan kontainer berkarat.Mesin kendaraan matikan pelan, menyisakan denting dingin dari logam knalpot yang mendingin di tengah keheningan malam.Maman merogoh saku jaket taktisnya, memastikan sarung tangan kulit hitam bertekstur kasar sudah terpasang rapi menyelimuti jemari kokohnya.Matanya yang tajam menembus kegelapan, menatap sebuah bangunan gudang tua berdinding seng bergelombang.Dari balik celah pintu kayu yang renggang, pendar lampu kuning yang remang-remang membias keluar, diiringi sayup-sayup gelak tawa kasar dan denting botol kaca yang saling bertabrakan.Tempat itu adalah markas informal tempat anak buah Broto dan jaringan preman bayaran Konsorsium Sanjaya biasa berkumpul untuk membagi uang kompromi dan menyusun aksi teror lapangan.Maman mendorong pintu mobil, melangkah keluar dengan tenang. Sepatu bot taktisnya menapak tanpa suara di atas permukaan tanah basah.Pria itu tidak membawa senjata api atau to

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 334

    Pukul delapan pagi, Heri berdiri tegap di sudut ruangan, membetulkan posisi kancing jas abu-abu gelapnya di hadapan cermin.Langkah taktisnya dimulai pagi ini tanpa sedikit pun memberikan peringatan awal kepada pihak Dinas Pertanahan Daerah maupun Konsorsium Sanjaya.Di samping panggung mini, sebuah maket megah berskala presisi berdiri kokoh di bawah sorotan lampu sorot.Maket tersebut menampilkan rancangan pengembangan area Drive-Thru modern, VIP Lounge berlantai dua, serta area ruang hijau pesisir bernilai investasi puluhan miliar rupiah yang menyatu sempurna di atas lahan 800 meter persegi milik Pak Ridwan.Sintya melangkah mendekati suaminya, merapikan sedikit kerah kemeja Heri dengan jemarinya yang halus.Anggun dalam balutan gaun formal berwarna gelap, Sintya menampilkan ketenangan seorang wanita berkelas yang siap berdiri di garis depan pertarungan hukum."Semua wartawan dari media berita utama sudah siap di posisi, Mas," bisik Sintya lembut, menatap netra tegas Heri dengan pen

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 333

    Pukul delapan malam, di dalam ruang kerja manajemen keuangan, Karin masih bertahan di meja besarnya. Meja kayu mahoni itu penuh oleh tumpukan berkas cetak, lembar audit internal, serta kertas laporan arus kas yang tertata rapi.Dua layar monitor resolusi tinggi di hadapannya menyala terang, membiaskan cahaya kebiruan pada paras ayu nan tegas wanita itu.Jemari Karin yang lentik menari lincah di atas papan ketik, menelusuri ratusan baris data transaksi keuangan digital yang sengaja disamarkan.Ketenangan ruangan itu perlahan terpecah oleh gema langkah kaki tegap yang terdengar mendekat dari arah koridor utama.Bunyi pantulan sepatu kulit eksklusif itu begitu khas dan sangat dihafal oleh Karin.Heri melangkah masuk dengan santai. Jas resmi yang digunakannya saat rapat maraton siang tadi kini sudah dilepas, menyisakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga separuh lengan bawah, menampakkan jam tangan mewah dan lengan kokoh sang CEO.Di tangan kanannya, Heri membawa seca

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 332

    Pukul lima subuh, udara dingin pesisir masih merayap tebal menyelimuti area sekitar restoran cabang empat.Di tengah ketenangan, Maman melangkah tenang melakukan patroli rutin sendirian.Matanya yang tajam dan terlatih terus mengamati setiap sudut perimeter luar.Bagi Maman, jeda antara malam dan terbitnya matahari adalah waktu paling krusial untuk memastikan benteng pertahanan Heri Utama tidak memiliki celah sedikit pun.Saat langkah kaki tegapnya tiba di batas lahan kosong seluas 800 meter persegi milik Pak Ridwan, lahan yang rencananya akan disulap menjadi area Drive-Thru dan VIP Lounge, pandangan Maman seketika terkunci pada pergerakan mencurigakan.Dua unit mobil bak terbuka berhenti tanpa menyalakan lampu utama di bahu jalan yang remang. Dari bak belakang, enam pria berbadan tegap melompat turun secara senyap.Masing-masing membawa gulungan tali, beberapa batang kayu berujung runcing yang dililit cat kuning-hitam, serta gulungan kain spanduk tebal.Tanpa membuang waktu, mereka m

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status