LOGINSatu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabuni piring pertama, suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat.
“Heri! Heri, gawat! Sini kamu!” seru Sintya dengan nada panik yang sangat tinggi.
Heri menoleh, tangannya masih penuh busa. “Kenapa lagi, Nyonya? Ada yang bocor lagi?”
“Mas Reno, suamiku! Dia mau video call sekarang juga. Tapi lihat ini!” Sintya menunjuk leher jenjangnya di depan cermin besar yang ada di lorong dapur.
Heri mendekat, matanya memicing. Di kulit putih mulus itu, ada bercak kemerahan yang cukup kontras. Mungkin karena gigitan nyamuk saat mereka berpelukan di lantai dalam gelap semalam, atau mungkin alergi debu. Tapi masalahnya, letak dan bentuknya benar-benar mirip bekas ciuman.
“Waduh, Nyonya. Itu kelihatan kayak... merah-merah gitu,” ujar Heri canggung.
“Ya aku tahu! Kalau Mas Reno lihat, habis aku dituduh macam-macam! Sini, tangan aku gemetaran nggak bisa pakai alat makeup.” Sintya menyodorkan sebuah botol kecil berisi cairan cokelat muda dan spons kecil. “Tutupin sekarang. Cepet!”
Heri mengelap tangannya sampai kering ke celana seragamnya. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga hanya tersisa beberapa senti di antara mereka. Jantung Heri berdegup kencang saat ia harus memegang dagu Sintya agar wajah wanita itu sedikit mendongak. Kulit dagu Sintya terasa sangat halus di ujung jari Heri yang kasar.
“Pelan-pelan ya, Nyonya. Saya nggak pernah pakai begini,” bisik Heri.
“Udah, jangan banyak tanya. Totol-totol aja di bagian yang merah itu,” perintah Sintya, meski suaranya terdengar sedikit bergetar.
Heri mulai mengoleskan foundation itu dengan sangat hati-hati. Wajah mereka begitu dekat hingga Heri bisa merasakan embusan napas Sintya yang hangat mengenai lehernya.
Setiap kali jemari Heri menyentuh kulit leher Sintya, ia merasa ada sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Aroma parfum mahal Sintya yang bercampur dengan aroma feminin yang intim membuat konsentrasi Heri buyar.
“Nyonya... kalau boleh jujur, Nyonya itu cantik banget. Mau ada merah-merah begini atau nggak, tetep aja paling bening yang pernah saya lihat,” puji Heri tanpa sadar, suaranya rendah dan dalam.
Sintya terdiam seketika. Matanya yang tadi sibuk melirik layar ponsel kini terpaku pada manik mata Heri. Pipinya perlahan merona, bersemu merah jambu yang alami. Keangkuhan yang biasanya ia tunjukkan seolah mencair di bawah tatapan tulus satpam di depannya.
“Kamu... kamu pinter banget ya kalau urusan ngerayu,” gumam Sintya, suaranya nyaris hilang.
“Saya nggak ngerayu, Nyonya. Saya cuma bilang apa yang saya lihat,” jawab Heri sambil terus menepuk-nepuk spons itu dengan lembut.
Suasana di lorong itu mendadak menjadi sangat sunyi dan intim. Napas mereka kini beradu secara teratur. Heri bisa melihat detail kecil pada wajah Sintya; bulu matanya yang lentik dan bibirnya yang sedikit terbuka.
Keinginan untuk maju dan mencicipi bibir itu terasa sangat kuat di benak Heri. Sintya pun tampak tidak menjauh, ia justru sedikit condong ke arah Heri, seolah tertarik oleh gravitasi yang tak terlihat.
Ponsel di atas meja bergetar hebat, tanda panggilan video masuk. Sintya tersentak, namun ia tidak segera meraih ponselnya. Ia masih menatap Heri dengan tatapan yang sangat dalam, penuh rasa penasaran yang liar.
“Heri...” panggil Sintya pelan.
“Iya, Nyonya?”
“Kamu sudah lama menduda, kan? Kenapa... kenapa kamu belum cari wanita lain buat gantiin istri kamu?” tanya Sintya tiba-tiba, pertanyaannya menusuk langsung ke sisi pribadi Heri.
Heri sedikit terkejut, tangannya berhenti di leher Sintya. “Susah, Nyonya. Fokus saya cuma kerja buat anak. Lagi pula, nggak gampang cari yang pas.”
Sintya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat provokatif di mata Heri. “Memangnya kamu bisa? Maksud aku... kamu kan laki-laki sehat, badan kamu juga tegap begitu. Memangnya kamu bisa menahan nafsu kamu selama bertahun-tahun sendirian?”
Pertanyaan itu membuat 'burung' Heri yang tadinya baru saja mulai tenang, kembali menegang keras di balik celananya. Heri menelan ludah, merasa tenggorokannya mendadak sangat kering. Ia menatap Sintya, mencoba mencari tahu apakah ini jebakan atau undangan.
“Nyonya jangan nanya begitu kalau nggak mau tahu jawabannya,” jawab Heri dengan nada menantang.
Sintya justru semakin berani. Ia mengulurkan tangannya dan membelai dada Heri yang terbungkus seragam. “Kalau aku mau tahu, gimana?”
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam menembus bukit, sorot lampu mobil akhirnya menyoroti bangunan hotel berbintang yang berdiri megah di kawasan destinasi wisata desa.Heri mematikan mesin, memutari mobil dengan langkah taktisnya yang mantap, lalu membukakan pintu untuk Sintya.Lengan kekarnya langsung merangkul pinggang ramping wanitanya, mengikat Sintya rapat di sisinya seolah memproklamirkan dominasi penuh sebelum mereka melangkah melewati pintu kaca otomatis area lobby.Atmosfer lobby yang dingin dan tenang mendadak berubah mencekam saat Heri menghentikan langkah tepat di depan meja receptionist.Seorang wanita ber-seragam penginapan dengan riasan tipis mendongak.Namun, begitu pandangan wanita itu bertubuh dengan sosok Heri, raut wajahnya seketika berubah keruh. Tatapan matanya tajam, memancarkan sengatan kebencian dan keangkuhan yang sangat pekat.Heri mematung. Otot-otot di sepanjang rahang tegapnya mengetat drastis.Sepasang mata elangnya membeku, membalas tatapan
"Selamat malam, Pak Adit," sapa Sintya langsung pada intinya begitu panggilan diangkat."Saya mau minta tolong diuruskan pendaftaran sekolah SMP paling bagus dan paling elite di daerah Jakarta Selatan, yang posisinya paling dekat sama apartemen saya."Dari seberang telepon, suara Pak Adit terdengar siap sigap. "Baik, Ibu Sintya. Untuk data calon siswanya bagaimana?""Atas nama Nathan Hermawan," sahut Sintya sembari mengulas senyum tipis, membayangkan wajah ceria anak tunggal Heri."Semua berkas kelulusan SD-nya bakal saya kirimkan lewat dokumen digital setelah ini. Saya dan Heri masih di kampung halaman Heri, kira-kira satu minggu lagi kami baru pulang ke Jakarta.""Siap, Ibu Sintya. Dengan senang hati saya akan bantu urus pendaftaran Dek Nathan ke sekolah terbaik di sana. Besok pagi, setelah semua formulir dan koordinasi dengan pihak yayasan selesai, saya bakal segera mengabari Ibu kembali," janji Pak Adit penuh profesionalitas."Terima kasih banyak, Pak Adit." Sintya mengangguk pela
Aroma gurih ikan bakar dan sambal terasi buatan Ibu Dewi memenuhi ruang makan sederhana malam itu. Cahaya lampu gantung bermangkut kuning memantul di atas meja kayu tebal, menciptakan suasana hangat keluarga yang sudah sangat lama tidak dirasakan oleh Heri.Di ujung meja, Pak Arya—ayah kandung Heri yang baru saja pulang memburuh dari pabrik pengolahan kayu, sedang duduk sembari mengusap peluh di lehernya.Otot-otot lengannya yang legam membuktikan betapa kerasnya kehidupan yang ia tempuh selama ini.Heri meletakkan sendoknya perlahan di atas piring.Pria bertubuh tegap itu membetulkan posisi duduknya, lalu menatap lurus ke arah kedua orang tuanya dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat serius dan taktis."Ibu, Bapak," panggil Heri, suaranya bariton rendah, menghentikan denting sendok di atas meja."Seperti yang sudah Heri bilang di telepon kemarin, kedatangan Heri kali ini mau bawa Nathan ikut ke kota. Nathan sudah lulus SD, dan Heri mau dia lanjut sekolah di Jakarta."Pak Arya
Aroma kayu tua dan bau khas rempah masakan desa menyambut begitu Heri mengangkut tas-tas besar milik Sintya melewati ambang pintu.Pria bertubuh tegap itu memosisikan barang-barang di sudut ruang tengah, namun matanya sama sekali tidak terlepas dari pergerakan Sintya.Ada kewaspadaan taktis yang bercampur dengan riak bangga di dalam dadanya saat menyaksikan wanita kota sesempurna Sintya melangkah masuk ke dalam rumah masa kecilnya yang teramat sederhana.Sintya tidak membuang waktu untuk sekadar berdiam diri. Wanita anggun itu langsung melepas blazer mewahnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan mengekor di belakang Ibu Dewi menuju dapur."Mbak Sintya, aduh... nggak usah ikut-ikutan di dapur. Duduk saja di depan sama Heri, perjalanan jauh pasti capek," cegah Ibu Dewi sembari mencoba merebut piring-piring bersih dari tangan Sintya."Nggak apa-apa, Ibu. Aku mau bantu beres-beres," sahut Sintya lembut, tersenyum tulus tanpa ada raut keandalan sosialita yang biasa ia perlihatkan di Jakar
Lambaian pepohonan hijau nan rimbun membingkai kaca mobil suv yang dikendarai Heri dengan kecepatan sedang.Satu minggu telah berlalu sejak kesepakatan transaksi gedung restoran itu rampung, dan kini, roda kendaraan mereka akhirnya menepi di sebuah jalanan setapak yang membelah pedesaan asri di daerah pedalaman.Heri mematikan mesin mobil, meluruskan dadanya yang tegap sembari mengembuskan napas lega.Sorot mata elangnya yang biasa dipenuhi kewaspadaan taktis kini melunak, menyerap panorama tanah kelahirannya yang sudah sangat lama tidak ia pijak.Di sampingnya, Sintya menghela napas panjang yang terdengar teramat lelah. Muka cantiknya bertekuk lesu, namun ada binar kelegaan yang memancar saat ia menyandarkan tubuhnya di jok kulit."Akhirnya... sampai juga di kampung kamu, Heri," menggerutu Sintya sembari memijat pelipis kepalanya.Ia melempar pandangan ke luar jendela, menatap hamparan bukit dan petakan sawah yang membentang tanpa batas."Perjalanannya benar-benar panjang banget! Mau
Sintya menerima buket mawar putih itu dengan binar mata yang seketika berubah cerah.Senyum manis mekar di bibir merahnya, meruntuhkan seluruh raut kekesalan yang sejak tadi menghiasi wajah cantiknya.Tanpa membuang kesempatan, Sintya sengaja melingkarkan lengannya di pinggang tegap Heri, menyandarkan kepalanya bermanja ria di bahu kokoh pria itu tepat di hadapan Citra.Heri membiarkan tubuhnya menjadi tumpuan Sintya. Dari sudut pandangnya, Heri bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana raut wajah Citra seketika mengeras.Senyuman menggoda yang sebelumnya terukir di bibir pemilik gedung itu meluruh tanpa sisa, berganti dengan kilat kekecewaan dan rasa malu yang berusaha ditutupi.Di sudut lain ruangan, Maman berdiri dengan mulut menganga lebar. Pria gempal itu menatap Heri seolah sedang melihat keajaiban dunia.Dalam hatinya, Maman terus membatin tidak percaya.Pria sekaku, sedatar, dan sekeras batu seperti Heri, yang selama ini hanya tahu cara memiting lawan dan menjaga keamanan, bi
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri
Heri menekan Baskoro dengan suara baritonnya yang mengintimidasi, mengunci pandangan pria paruh baya itu agar tidak bisa mengelak lagi.Sembari menumpu kedua tangan kekarnya di atas meja marmer, Heri menyorongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak psikologis hingga Baskoro terpaksa bersand
Sintya sekuat tenaga menggigit bibir bawahnya hingga memutih, menahan hantaman nikmat yang mendadak menyerang pusat sarafnya. Kedua tangan wanita itu meremas sprei hotel dengan kuku-kukunya yang terawat hingga kain katun premium itu berkerut parah.Di bawah selimut tebal, Heri tidak member
Heri tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ia terus melangkah mendekat hingga posisinya kini berdiri tepat di samping sofa, menatap lurus ke bawah ke arah tubuh Sintya.Pada detik itulah, kedua mata Heri langsung menggelap sempurna. Seluruh fokus di isi kepalanya mendadak buyar, digantikan o







