Share

BAB 7

Author: Nona Mentari
last update publish date: 2026-05-07 23:01:04

Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabuni piring pertama, suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat.

“Heri! Heri, gawat! Sini kamu!” seru Sintya dengan nada panik yang sangat tinggi.

Heri menoleh, tangannya masih penuh busa. “Kenapa lagi, Nyonya? Ada yang bocor lagi?”

“Mas Reno, suamiku! Dia mau video call sekarang juga. Tapi lihat ini!” Sintya menunjuk leher jenjangnya di depan cermin besar yang ada di lorong dapur.

Heri mendekat, matanya memicing. Di kulit putih mulus itu, ada bercak kemerahan yang cukup kontras. Mungkin karena gigitan nyamuk saat mereka berpelukan di lantai dalam gelap semalam, atau mungkin alergi debu. Tapi masalahnya, letak dan bentuknya benar-benar mirip bekas ciuman.

“Waduh, Nyonya. Itu kelihatan kayak... merah-merah gitu,” ujar Heri canggung.

“Ya aku tahu! Kalau Mas Reno lihat, habis aku dituduh macam-macam! Sini, tangan aku gemetaran nggak bisa pakai alat makeup.” Sintya menyodorkan sebuah botol kecil berisi cairan cokelat muda dan spons kecil. “Tutupin sekarang. Cepet!”

Heri mengelap tangannya sampai kering ke celana seragamnya. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga hanya tersisa beberapa senti di antara mereka. Jantung Heri berdegup kencang saat ia harus memegang dagu Sintya agar wajah wanita itu sedikit mendongak. Kulit dagu Sintya terasa sangat halus di ujung jari Heri yang kasar.

“Pelan-pelan ya, Nyonya. Saya nggak pernah pakai begini,” bisik Heri.

“Udah, jangan banyak tanya. Totol-totol aja di bagian yang merah itu,” perintah Sintya, meski suaranya terdengar sedikit bergetar.

Heri mulai mengoleskan foundation itu dengan sangat hati-hati. Wajah mereka begitu dekat hingga Heri bisa merasakan embusan napas Sintya yang hangat mengenai lehernya.

Setiap kali jemari Heri menyentuh kulit leher Sintya, ia merasa ada sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Aroma parfum mahal Sintya yang bercampur dengan aroma feminin yang intim membuat konsentrasi Heri buyar.

“Nyonya... kalau boleh jujur, Nyonya itu cantik banget. Mau ada merah-merah begini atau nggak, tetep aja paling bening yang pernah saya lihat,” puji Heri tanpa sadar, suaranya rendah dan dalam.

Sintya terdiam seketika. Matanya yang tadi sibuk melirik layar ponsel kini terpaku pada manik mata Heri. Pipinya perlahan merona, bersemu merah jambu yang alami. Keangkuhan yang biasanya ia tunjukkan seolah mencair di bawah tatapan tulus satpam di depannya.

“Kamu... kamu pinter banget ya kalau urusan ngerayu,” gumam Sintya, suaranya nyaris hilang.

“Saya nggak ngerayu, Nyonya. Saya cuma bilang apa yang saya lihat,” jawab Heri sambil terus menepuk-nepuk spons itu dengan lembut.

Suasana di lorong itu mendadak menjadi sangat sunyi dan intim. Napas mereka kini beradu secara teratur. Heri bisa melihat detail kecil pada wajah Sintya; bulu matanya yang lentik dan bibirnya yang sedikit terbuka.

Keinginan untuk maju dan mencicipi bibir itu terasa sangat kuat di benak Heri. Sintya pun tampak tidak menjauh, ia justru sedikit condong ke arah Heri, seolah tertarik oleh gravitasi yang tak terlihat.

Ponsel di atas meja bergetar hebat, tanda panggilan video masuk. Sintya tersentak, namun ia tidak segera meraih ponselnya. Ia masih menatap Heri dengan tatapan yang sangat dalam, penuh rasa penasaran yang liar.

“Heri...” panggil Sintya pelan.

“Iya, Nyonya?”

“Kamu sudah lama menduda, kan? Kenapa... kenapa kamu belum cari wanita lain buat gantiin istri kamu?” tanya Sintya tiba-tiba, pertanyaannya menusuk langsung ke sisi pribadi Heri.

Heri sedikit terkejut, tangannya berhenti di leher Sintya. “Susah, Nyonya. Fokus saya cuma kerja buat anak. Lagi pula, nggak gampang cari yang pas.”

Sintya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat provokatif di mata Heri. “Memangnya kamu bisa? Maksud aku... kamu kan laki-laki sehat, badan kamu juga tegap begitu. Memangnya kamu bisa menahan nafsu kamu selama bertahun-tahun sendirian?”

Pertanyaan itu membuat 'burung' Heri yang tadinya baru saja mulai tenang, kembali menegang keras di balik celananya. Heri menelan ludah, merasa tenggorokannya mendadak sangat kering. Ia menatap Sintya, mencoba mencari tahu apakah ini jebakan atau undangan.

“Nyonya jangan nanya begitu kalau nggak mau tahu jawabannya,” jawab Heri dengan nada menantang.

Sintya justru semakin berani. Ia mengulurkan tangannya dan membelai dada Heri yang terbungkus seragam. “Kalau aku mau tahu, gimana?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Wijianto Wito
cerita nya sangat menarik
goodnovel comment avatar
Sutoyo Bala Bassi
lanjut bagus novelnya
goodnovel comment avatar
Fatchur Rohman
enak dibacanya.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 506

    Nathan tidak memberi mereka waktu untuk bernapas.Dengan satu tarikan kasar, ia menarik Karin ke atas pangkuannya hingga wanita itu terpaksa menungganginya.Milik Nathan yang sudah basah dan tegang menusuk masuk ke dalam milik Karin dalam satu hentakan dalam, membuat tubuh aktris itu melengkung tajam.“Ahhh—! Nathan, terlalu dalam!” erang Karin, jari-jarinya mencengkeram bahu pria itu hingga kuku-kukunya memutih.Nathan hanya mendengus, kedua tangannya mencengkeram pinggang Karin dengan brutal lalu mengangkat dan menjatuhkan tubuh wanita itu berulang-ulang.Setiap hentakan membuat bunyi basah yang nyaring memenuhi ruangan.“Gerak sendiri. Lebih cepat.”Karin menurut, pinggangnya mulai naik-turun dengan tempo yang semakin gila. Miliknya sudah becek, lendirnya mengalir turun membasahi paha Nathan.Victoria langsung naik ke sofa, menungging sedikit di samping Nathan sambil menyodorkan payudaranya yang montok tepat ke mulut pria itu.“Hisap, hisap payudaraku,” desah Victoria serak, jari-j

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 505

    Malam itu, penthouse Nathan Utama di lantai tertinggi gedung residensi mewah tampak tenang di luar, namun di dalam ruang utama yang luas, suasana sudah dipenuhi ketegangan erotis yang pekat.Nathan duduk di sofa kulit gelap yang luas, hanya mengenakan kemeja putih yang setengah terbuka dan celana formal yang masih rapi. Di hadapannya, tiga wanita berdiri dalam barisan yang sempurna: Victoria, Sisca, dan Karin.Victoria, wanita dewasa dengan aura elegan yang sudah lama berada di lingkaran Nathan, berdiri paling kiri. Tubuhnya langsing namun penuh, rambutnya diikat rapi.Di tengah, Sisca berdiri tegap dengan wajah profesional yang kini sudah kehilangan segala formalitas kantor. Di sisi kanan, Karin berdiri dengan bahu sedikit menurun, wajahnya masih menyimpan sisa-sisa ketegangan siang tadi, namun matanya sudah tunduk.Nathan menyilangkan kaki, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang menuntut kepatuhan mutlak.“Lepas semuanya,” perintahnya datar, suaranya rendah dan tanpa ruang

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 504

    Untuk memastikan Karin tidak memiliki celah sedikit pun untuk merencanakan perlawanan balik atau membocorkan status terikatnya ke publik, Nathan Utama mengambil alih kendali penuh atas seluruh ekosistem kerja sang aktris.Melalui daya tekan finansial yang kuat dan ancaman penyebaran dokumen bukti pemerasan awal, Nathan memaksa pihak agensi manajemen tempat Karin bernaung untuk menandatangani adendum kontrak pengawasan khusus.Pagi itu, di dalam ruang kerja VIP lantai direksi, Nathan memanggil Sisca dan Karin secara bersamaan. Suasana ruangan terasa sangat kaku dan menekan.Sisca berdiri tegap di sisi meja kerja mengenakan gaun formal berpotongan rapi, sementara Karin berdiri di sisi sebaliknya dengan raut wajah tertekan dan tidak berdaya.Nathan melempar dua bendel dokumen hitam ke atas meja mahoni besar di hadapan mereka."Sisca," panggil Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan tegas."Mulai hari ini, kamu resmi bertindak sebagai verifikator tunggal atas seluruh agend

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 503

    Di minggu-minggu berikutnya, Nathan Utama memanfaatkan kehadiran Karin untuk mempertegas pameran kekuasaan dan pengaruh bisnisnya di hadapan para pengusaha senior, investor asing, dan pejabat tinggi.Dalam berbagai acara perjamuan bisnis eksklusif, malam amal, dan gala privat yang tertutup dari pers umum, Karin terpaksa tampil mendampingi Nathan sebagai wanita gaetannya.Malam itu, di dalam ballroom hotel bintang lima yang dipenuhi lampu kristal raksasa, para tokoh elit berkumpul menikmati alunan musik orkestra klasik.Nathan melangkah mantap memasuki ruangan dengan setelan jas hitam kustom yang melekat sempurna di tubuh atletisnya.Di sisi kanannya, Karin berdiri mendampingi dengan balutan gaun malam sutra berwarna perak berpotongan anggun yang memeluk tubuh jenjangnya.Namun, di balik senyum manis dan postur tubuhnya yang tampak sempurna di hadapan para tamu, Karin menyimpan kepatuhan mutlak yang dipaksakan oleh kontrak privat."Ingat batasan kamu malam ini, Karin," bisik Nathan ren

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 502

    Setelah kesepakatan terikat tersebut terkunci tanpa celah di atas meja kerja, Nathan Utama tidak menunda waktu sedetik pun untuk melancarkan penundukan fisik dan psikologis secara langsung di dalam kamar suite eksklusif lantai teratas tersebut.Tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik yang kasar, Nathan mendikte setiap pergerakan Karin dengan dominasi yang amat tajam, dingin, dan memikat, meremukkan sisa-sisa harga diri sang aktris yang biasa dipuja-puja oleh jutaan penggemar di luar sana.Nathan berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mendekati Karin yang masih terduduk kaku di atas sofa dengan air mata yang mengering di pipinya."Berdiri, Karin," perintah Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan menusuk.Karin mendongak pelan, menatap manik mata pekat Nathan dengan sisa-sisa keangkuhan yang perlahan larut dalam rasa takut. Dengan gerakan ragu, ia bangkit berdiri dari sofa, merapikan ujung gaun malam merahnya yang kusut."Apa... apa yang harus saya lakukan sekarang, Na

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 501

    Ketakutan yang membeku di dalam kamar suite lantai atas mencapai titik paling krisis ketika Karin menyadari tidak ada satu pun pengacara, agensi hiburan, atau jaringan media yang sanggup melindunginya dari jerat rekaman CCTV milik Nathan Utama.Karin berdiri membeku panik di atas karpet tebal, kedua tangannya yang memegang ujung gaun malam mewahnya bergetar hebat saat Nathan melangkah mendekatinya dengan ketenangan yang mengintimidasi."Kamu masih berharap ada seseorang yang akan mendobrak pintu suite ini dan menyelamatkan kamu, Karin?" tanya Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan menusuk.Karin menelan ludah dengan susah payah, air matanya menetes bebas merusak riasan mahal di wajahnya. "N-Nathan, kumohon... jangan lakukan ini pada saya. Jangan hancurkan hidup saya..."Nathan sama sekali tidak memberi ruang untuk ratapan, tangisan, atau permohonan maaf yang tidak berguna dari sang aktris.Pria itu berhenti tepat satu langkah di hadapan Karin, menatap rendah wanita di

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 2

    Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status