Share

BAB 42

Author: Nona Mentari
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-06 11:16:19

Heri terkekeh pelan melihat guratan cemas yang bercampur jengkel di wajah Sintya. Ia tahu betul bagaimana cara menjinakkan wanita sosialita yang sedang terbakar cemburu seperti ini.

Dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda, Heri meraih jemari Sintya yang mencengkeram dadanya, lalu mengecup ujung-ujung jari itu dengan lembut sebelum menarik tubuh Sintya agar semakin merapat ke pelukannya.

Heri mendekatkan bibirnya ke telinga Sintya, lalu berbisik dengan nada rendah yang meyakinkan.

"Kamu ngga
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 89

    Setelah mobil operasional Komandan Baskoro melesat pergi meninggalkan pos jaga dengan raungan mesin yang kasar, Heri mengembuskan napas panjang.Otot-otot bahunya yang tegap perlahan mengendur, namun sisa adrenalin dari konfrontasi menegangkan tadi masih terasa berdesir hebat di dalam aliran darahnya.Ditambah lagi dengan rahasia besar mengenai identitas mantan pacar Reno yang dibawa oleh Sintya sebelumnya, kepala Heri terasa begitu penuh.Ia membutuhkan pelepasan ketegangan. Sesuatu yang instan untuk menyalurkan energi gelap yang tertahan di dadanya.Tanpa membuang waktu, Heri merogoh ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat dengan kode yang hanya dipahami oleh mereka berdua, lalu mengirimkannya kepada Sintya.Sasarannya adalah sebuah rumah kosong di ujung blok yang saat ini sedang dalam proses renovasi total, tempat terjauh dari jangkauan patroli satpam lain dan kamera pengawas kompleks.Sepuluh menit kemudian, Heri sudah berada di dalam bangunan setengah jadi tersebut. Bau semen ba

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 88

    Menghadapi tekanan fisik dan mental yang begitu masif dari atasannya, Heri tidak berkedip sedikit pun. Sorot matanya tetap sekeras batu karang, menolak untuk tunduk pada gertakan pria di hadapannya.Di bawah intimidasi bertubi-tubi dari Komandan Baskoro, ia tahu bahwa satu kedutan kecil di wajahnya akan menjadi tiket menuju kehancuran total rencana besarnya bersama Sintya.Dengan sikap tenang, tegap, dan cerdas, Heri langsung menyangkal tuduhan tersebut tanpa ada nada gemetar sedikit pun dalam suaranya."Nggak usah asal tuduh begitu, Ndan. Info dari siapa itu? Jelas-jelas salah lihat," ujar Heri, nadanya santai namun sarat akan penegasan yang mutlak.Baskoro mendengus kasar, wajah garangnya semakin mendekat, mencoba mengikis pertahanan mental sang bawahan. "Salah lihat kamu bilang? Ada saksi yang liat bayangan postur tubuh kayak kamu di taman belakang jam dua pagi! Kamu mau ngeles apa lagi, Heri?!"Heri menarik napas pendek dengan teratur, lalu menegakkan punggungnya, sengaja memperli

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 87

    “Ya sudah kalau gitu—”Kalimatnya terpotong sata hendak mengorek informasi lebih dalam mengenai masa lalu Reno saat isyarat radio HT di pinggangnya berderit dua kali, sebuah kode darurat dari rekan jaganya di gerbang depan kompleks yang menandakan kedatangan mobil operasional pusat.Heri terpaksa menyuruh Sintya pulang lewat jalur belakang dengan ketegasan yang tak bisa dibantah, sementara dirinya bergegas kembali ke pos jaga utama demi menunaikan tugas resminya.Ketegangan beralih ke ranah profesional ketika Komandan Baskoro, kepala yayasan pengamanan yang juga atasan langsung Heri, datang melakukan inspeksi mendadak ke pos jaga.Pria paruh baya bertubuh tegap dengan potongan rambut cepak dan seragam dinas taktis itu turun dari mobil kabin ganda hitamnya dengan langkah yang menghentak bumi. Wajahnya yang garang, dihiasi bekas luka tipis di pelipis kanan, langsung memancarkan aura permusuhan begitu matanya menangkap sosok Heri."Masuk, Heri," perintah Baskoro, suaranya berat dan serak

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 86

    Heri langsung bergerak dengan efisiensi seorang predator yang mendeteksi ancaman terhadap mangsanya. Sebelum Sintya sempat melontarkan kata-kata tajam yang bisa memicu kecurigaan Tessa atau lebih buruk lagi, merusak reputasi sosialita mereka di depan kamera pengawas clubhouse, Heri melangkah maju."Nyonya Sintya," potong Heri dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar seperti seorang petugas yang patuh, namun matanya menatap Sintya dengan kilatan perintah yang absolut. "Kebetulan Anda di sini. Ada dokumen laporan keamanan lingkungan blok Anda yang perlu Anda tandatangani segera di kantor belakang."Tessa berdeham, menatap bolak-balik antara Sintya yang wajahnya memerah menahan berang dan Heri yang berdiri tegap tanpa cela. "Oh, kalau begitu aku duluan ya, Sintya. Jaga rumahmu baik-baik," sindir Tessa tipis sebelum melangkah pergi dengan tawa kecil yang tertinggal di udara.Begitu punggung Tessa menghilang di belokan koridor, Heri tidak membuang waktu. Ia mencengkeram len

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 85

    Heri menatap layar laptop Maman selama beberapa detik yang panjang. Otak taktisnya merekam nama "Gita" yang tertera jelas di samping nama Reno dalam manifes penerbangan eksekutif tersebut. Sebuah konspirasi di dalam konspirasi. Alih-alih panik, sebuah senyuman dingin justru perlahan terukir di sudut bibir Heri."Jadi, permainan suap-menyuap pagi tadi di depan pos jaga bukan cuma karena dia gatal," gumam Heri, suaranya sangat rendah, hampir menyerupai geraman serigala. "Gita sengaja memantauku untuk memastikan situasiku, atau dia memang lagi bermain di dua kaki.""Her, kamu nggak papa?" Maman menelan ludah, ngeri melihat ketenangan Heri yang tidak wajar. "Ini Nyonya Gita yang tadi kamu ceritakan menggodamu di pos, kan? Berarti Reno dan Gita... mereka main di belakang Sintya. Dan sekarang kamu di tengah-tengah.""Tetap jalankan rencana, Man. Jangan ubah satu hal pun," perintah Heri sembari berdiri dari kursinya. Ia merapikan jaketnya dengan satu sentakan kuat. "Kirim orang-orangmu ke Ba

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 84

    Heri melangkah keluar dari area klaster elit dengan langkah tegap, meninggalkan pos jaga setelah menyerahkan giliran kepada rekan sifnya. Ia mengambil cuti setengah hari, sebuah kelonggaran yang sengaja ia atur jauh-jauh hari dengan dalih urusan keluarga yang mendesak. Namun, tujuan sebenarnya jauh lebih krusial bagi masa depannya.Satu jam kemudian, Heri sudah berada di sebuah kedai kopi redup di pinggiran kota. Tempat itu pengap, berbau asap rokok tebal, dan dipenuhi suara bising kendaraan dari jalan raya di luarnya. Sangat kontras dengan keheningan mewah kompleks perumahan Reno. Di sudut paling gelap, seorang pria berkaos oblong dengan jaket kulit kusam melambaikan tangan. Itu Maman.Heri menarik kursi kayu di hadapan Maman, mengabaikan cangkir kopi hitam yang sudah mendingin di atas meja. Tanpa bertele-tele, Heri merogoh bagian dalam jaketnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang padat.Brak.Heri menjatuhkan amplop itu tepat di depan dada Maman. "Ini sebagian modal ua

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 81

    Heri melangkah keluar dari kamar kecil dengan tenang, mengunci pintu tripleks di belakangnya sebelum Reno sempat melongok ke dalam pos.Sambil membenarkan seragamnya yang sedikit kusut, memastikan kancing kerah dan sabuk kulit kopelnya terpasang rapi, Heri menyapa Reno dengan sikap formal yang ding

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 71

    Heri melangkah kembali ke pos jaganya dengan napas yang mulai teratur, meskipun sisa-sisa aroma parfum vanila Sintya masih melekat kuat di seragam dinasnya.Gempuran liar tadi benar-benar menguras energinya, namun sekaligus menuntaskan seluruh rasa frustrasi yang sempat menumpuk di kepalanya.Pria

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 70

    Heri langsung menundukkan kepalanya, menyusup di antara selangkangan Sintya yang sudah membasah kuyup dan berdenyut hebat. Tanpa ampun, Heri mulai menjilat, menyesap, dan mengisap vagina milik Sintya dengan ritme kasar yang menuntut pasrah.Sintya menjerit histeris di atas sofa mewah itu, jemarinya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 69

    Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status