เข้าสู่ระบบ"Heh! Maksud kamu apa, ya?! Datang-datang malah menyiram orang!" teriak wanita bergaun perak sambil berdiri dari sofa dengan berkacak pinggang, membela temannya yang kini sibuk mengeringkan wajah dengan tisu."Diam kamu! Pria ini punya aku! Jangan berani-berani kalian sentuh dia lagi!" balas Sintya dengan suara melengking, jarinya yang berkuku merah marun menunjuk tepat ke wajah wanita itu. Tubuhnya bergoyang limbung, nyaris kehilangan keseimbangan jika saja ia tidak memegangi tepi meja marmer.Keributan singkat itu membuat Heri langsung bertindak cepat. Otak taktisnya memperingatkan bahwa jika hal ini dibiarkan selama dua menit lagi, sekuriti club akan datang dan reputasi Sintya, satu-satunya tiket emas miliknya bisa hancur berantakan di tangan media atau kolega Reno.Heri segera berdiri, tubuh kekarnya langsung memotong jarak antara Sintya dan ketiga wanita malam tersebut, menjadi perisai hidup."Cukup. Jangan diteruskan," potong Heri dengan nada suara yang rendah namun penuh peneka
Heri tertawa rendah mendengar tawaran blak-blakan itu. Suara tawanya yang berat bergaung di sela-sela dentuman bas club yang kian memekakkan telinga. Ia sama sekali tidak merasa canggung atau terintimidasi oleh keliaran wanita-wanita malam tersebut. Sebaliknya, ia merasa berada di atas angin.Sambil mengembuskan napas hangat di perpotongan leher wanita di sampingnya, Heri berbisik dengan nada bercanda yang terdengar begitu kasual."Aku nggak punya uang untuk membayar service mahal kalian malam ini," ucap Heri, membiarkan tangannya tetap bersandar santai di sandaran sofa beludru.Mendengar ucapan Heri, ketiga wanita itu langsung tertawa renyah. Suara tawa mereka yang centil berbaur dengan musik up-beat, menganggap Heri hanya sedang merendah untuk merayu mereka lebih jauh.Bagi mereka, pria yang mengenakan kemeja satin hitam berkilau dengan potongan dada bidang seperti Heri tidak mungkin orang biasa. Cara Heri duduk, tatapan matanya yang tajam, hingga ketenangannya saat dikepung tiga wa
Heri kini dikerumuni oleh para wanita malam yang terpesona oleh penampilannya yang necis dan aura maskulinnya yang kuat. Di bawah temaram lampu neon yang berpendar biru-merah, kemeja satin hitamnya memantulkan cahaya, mempertegas setiap lekuk otot dadanya yang bidang.Aroma maskulin bercampur wewangian premium yang melekat pada tubuh Heri seolah menjadi magnet tak kasat mata bagi ketiga wanita yang kini berebut ruang di sofa VIP-nya.Wanita bergaun perak di sisi kanannya bergelayut manja di lengan kekar Heri, merapatkan dadanya yang rendah ke otot trisep Heri tanpa canggung.Sementara itu, wanita bergaun mini hitam di sisi kiri dengan cekatan mengambil botol wiski mahal milik Sintya, menuangkan cairan emas itu ke dalam gelas Heri yang mulai kosong dengan gerakan anggun yang dibuat-buat."Minum lagi dong, Tampan. Masa pria gagah kayak kamu gelasnya dibiarin kering begini," goda wanita di sisi kiri, menyodorkan gelas tersebut langsung ke bibir Heri.Heri yang dasarnya memiliki insting p
Heri menyadari perubahan atmosfer di sekitar sofa VIP mereka. Pandangan lapar dari wanita-wanita di meja sebelah bukanlah hal baru baginya, namun malam ini, dengan kemeja satin hitam yang melekat pas di tubuh kekarnya, ia tahu daya pikat fisiknya berlipat ganda.Sintya, yang menyadari tatapan-tatapan liar dari para wanita di meja sebelah, langsung merespons dengan ego yang terbakar. Rasa cemburu dan pengaruh alkohol yang mulai menjalar di kepalanya membuat wanita kaya itu bertindak nekat.Sintya yang sudah meneguk dua gelas tequila langsung menyambar pergelangan tangan Heri dengan kuat, menyeret pria itu keluar dari area sofa menuju ke atas dance floor VIP yang berada tepat di tepi pembatas balkon.Di bawah kilatan lampu strobo yang berputar cepat, membelah kegelapan dengan warna neon biru dan ungu, Sintya bergoyang dengan liar.Ia menempelkan tubuh montoknya pada Heri, bergerak mengikuti dentuman bas yang menghentak dada, seolah ingin menunjukka
Satu jam kemudian, malam itu, Heri menanggalkan seluruh atribut satpamnya. Di dalam kamar mandi paviliun yang luas dan berbau harum maskulin, ia menatap pantulan dirinya di cermin besar.Seragam taktis kaku berwarna biru tua yang biasa ia kenakan kini tergeletak begitu saja di atas lantai semen luar, digantikan oleh kemeja hitam satin yang pas di tubuh kekarnya. Bahan satin yang jatuh dengan sempurna itu memperlihatkan siluet dada bidang dan lengan berotot yang tercukur rapi, bergerak dinas mengikuti setiap gestur tubuhnya.Ia memadukannya dengan celana kain mahal berwarna gelap, sebuah mahakarya penjahit lokal berkelas yang dibeli hasil dari uang pemberian Sintya beberapa hari lalu.Heri menyisir rambutnya ke belakang dengan sedikit minyak rambut, menyisakan beberapa helai yang jatuh berantakan di dahi untuk menegaskan kesan maskulin yang acuh tak acuh. Penampilannya malam itu sangat modis, maskulin, dan jauh dari kesan seorang petugas keamanan kasta bawah.
Heri melangkah maju dengan ketenangan seorang predator yang tahu betul cara menjinakkan mangsanya yang sedang mengamuk.Sebelum Sintya sempat melontarkan makian berikutnya, tangan kanan Heri yang besar dan kasar bergerak secepat kilat, mencengkeram pinggang ramping Sintya dan menarik tubuh wanita itu dengan satu sentakan kuat hingga menempel erat pada dada bidang dan tubuh kekarnya yang terbungkus seragam satpam.Sintya tersentak, napasnya yang memburu tertahan seketika di tenggorokannya akibat benturan fisik yang mendadak itu. Ia mencoba mendorong dada Heri, namun kekuatan lengan Heri murni mengunci ruang geraknya, memangkas habis semua jarak di antara mereka.Dengan suara bariton yang mendominasi dan berat, Heri merunduk, menempelkan bibirnya tepat di sisi telinga Sintya yang memerah, lalu berbisik menjinakkan kemarahan wanita kaya itu."Aku ketawa karena kamu kelihatan seksi banget kalau lagi marah kayak gini, Sintya," bisik Heri dengan nada rendah nam
Darah Heri terasa berhenti mengalir mendengarkan ucapan Doni. Tanpa pikir panjang, ia menginjak ponsel di tangannya hingga hancur berkeping-keping di atas tanah basah, lalu meninggalkan Doni yang terkapar mengerang kesakitan.Heri melompat kembali melewati jendela kamar dengan baju seragam yang kot
Darah Heri mendidih sampai ke ubun-ubun. Rasa puas yang hampir mencapai puncak mendadak menguap, digantikan oleh kepanikan yang mencengkeram dada.Tanpa memedulikan Sintya yang masih lemas dan terengah-engah di atas kasur, Heri langsung menarik celananya ke atas. Ia mengancingkan celana dengan tang
Jantung Heri berdegup kencang, namun dengan kecepatan kilat, ia menarik tangannya dari balik rok Sintya dan pura-pura mengencangkan baut pipa gas menggunakan kunci inggris. Gerakannya yang taktis berhasil menyelamatkan mereka dari bencana.“Ini, Bi... klem selangnya agak longgar sedikit, jadi bau g
Heri terpaksa menahan gejolak di dadanya saat Sintya buru-buru merapikan pakaian kerja dan membuka kunci pintu ruang kerja. Kehadiran Bi Sumi, asisten rumah tangga baru itu, benar-benar merusak momen mereka dan membuat pergerakan Heri menjadi sangat terbatas. Sepanjang sisa siang itu, Heri harus me







