Home / Urban / Jatah Malam Untuk Mertua / Asisten Baru Yang Cantik

Share

Asisten Baru Yang Cantik

Author: WAZA PENA
last update Last Updated: 2025-12-21 22:00:06

Ia berhenti sejenak di ruang keluarga, menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Tangan Leo masih sedikit gemetar. Cangkir kopi yang tadi belum habis kini sudah dingin, seperti pikirannya yang kacau.

"Dia benar-benar membuatku sulit mengendalikan nafsu," gumamnya pelan.

Leo mengusap wajahnya kasar. Ia tahu, apa yang barusan terjadi bukan sesuatu yang seharusnya. Sindi adalah sepupu Dinda. Dan Dinda, istrinya yang sedang tertidur lelap di kamar, mengandung anak mereka.

Namun justru itu yang membuat Leo semakin tersiksa.

Sindi bukan hanya menggoda lewat kata-kata. Sikapnya, caranya memandang, kedekatan yang seolah disengaja, semuanya menekan batas kesabarannya sedikit demi sedikit. Dan barusan, batas itu nyaris runtuh.

Bayangan wajah Sindi saat terkejut masih melekat jelas. Mata yang membelalak, napas yang tertahan, tubuh yang kaku di bawahnya. Bukan teriakan. Bukan dorongan. Hanya diam, diam yang justru lebih berbahaya.

'Untungnya mbak Dinda gak lihat…"

Kalimat itu kembali
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Darah Perawan 21++

    "Hah? Mas Leo yakin?" Sindi terperangah.Leo mengangguk, rahangnya mengeras. "Aku tahu apa yang aku katakan."Keheningan kembali menyelimuti kamar itu, kali ini lebih berat. Sindi menatap Leo, seolah mencari sisa keraguan di wajah pria itu. Namun yang ia lihat justru luka, kemarahan, dan keinginan yang bercampur jadi satu."Sekarang aku akan kirim pesan ke Dinda," lanjut Leo, suaranya lebih tenang, seakan ia sedang menyusun rencana biasa. "Kamu tetap awasi dia. Kalau ada apa-apa, kabari aku."Sindi menggigit bibirnya. "Mas memintaku banyak hal…""Aku tahu," potong Leo. "Dan aku tidak akan memaksa kalau kamu tidak mau."Kata-kata itu seharusnya menjadi pintu keluar. Namun entah mengapa, Sindi tidak segera berdiri atau menolak. Ia justru menghela napas pelan, lalu berkata, "Aku tidak ingin Mas Leo makin terluka."Leo tersenyum pahit. "Aku sudah terluka."Perkataan itu membuat Sindi terdiam. Ia menatap Leo dengan perasaan campur aduk, anatar empati, keraguan, dan sesuatu yang selama ini

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Di Kamar Hotel Bersama Sindi

    Namun ucapan itu terasa hampa. Justru pesan dari Sindi membuat dugaannya semakin liar. Kenapa Sindi harus menunggu dan memilih bicara langsung? Kenapa harus soal Dinda?Seketika itu, pintu ruangannya diketuk pelan."Permisi....""Masuk," ucap Leo, mencoba terdengar normal.Ayu muncul di balik pintu. "Pak, ini laporan yang tadi Bapak minta," ucapnya sambil melangkah masuk.Leo menerima map itu, tapi perhatiannya jelas terpecah. Ayu memperhatikan raut wajah Leo yang terlihat lebih tegang dari biasanya."Bapak kelihatan gelisah," ucap Ayu hati-hati.Leo tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Iya… ada sedikit urusan pribadi."Ayu mengangguk pelan. "Kalau ada kabar dari aku soal Rendi, nanti aku langsung kasih tahu Pak Leo."Leo menatap Ayu sesaat, lalu mengangguk. "Makasih, Ayu."Setelah Ayu keluar, Leo kembali sendirian. Ia melirik jam di layar laptop. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum ia harus berangkat ke kampus Sindi. Namun rasanya waktu berjalan jauh lebih lamba

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Mengungkap Rahasia

    Pagi itu suasana rumah terasa biasa saja, namun bagi Leo semuanya terasa berbeda. Setelah sarapan bersama, ia segera berdiri dan merapikan kemejanya. Sementara Dinda yang sedang duduk di meja makan menatap suaminya dengan senyum lembut seperti biasa, seolah tidak ada apa pun yang mengganjal di antara mereka. Sindi juga ada di sana, duduk agak menyamping sambil memainkan ponselnya, sesekali melirik ke arah Leo."Aku berangkat dulu ya," ucap Leo berusaha terdengar normal."Iya, Mas. Hati-hati di jalan," jawab Dinda lembut.Sindi ikut menimpali singkat, "Hati-hati, Mas. Semangat juga yah."Leo hanya mengangguk, lalu melangkah keluar rumah. Begitu pintu tertutup, napasnya terasa lebih berat. Ia menghela napas panjang, seakan beban di dadanya tidak ikut keluar bersamanya. Di dalam mobil, pikirannya hanya tertuju pada satu hal, penjelasan Ayu tentang Rendi. Semalaman ia nyaris tidak bisa tidur nyenyak, dan pagi ini rasa tidak sabar itu semakin menjadi-jadi. Ia ingin tahu, ingin memastikan

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Kecurigaan Yang Semakin Nyata

    Ponsel Leo kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, tapi panggilan. Dari Ayu.Leo segera mengangkatnya, menekan volume suara agar tetap pelan."Iya, Ayu," ucap Leo."Aku sudah keluar dari kantor Rendi, Pak. Sekarang lagi di mobil online," suara Ayu terdengar sedikit tegang, tapi berusaha terdengar tenang.Leo merasa dadanya sedikit mengendur."Bagus. Kamu langsung pulang saja.""Iya, Pak. Jujur saja… saya tadi sempat takut," ucap Ayu pelan.Kalimat itu membuat Leo mengepalkan tangannya tanpa sadar."Lain kali kalau ada apa-apa, langsung kabari saya. Jangan dipendam.""Baik, Pak."Panggilan berakhir. Leo menurunkan ponselnya perlahan. Ia masih duduk di tempat yang sama, namun pikirannya semakin kacau. Rendi kini jelas berada di posisi yang berbahaya di benaknya, bukan hanya karena kemungkinan hubungannya dengan Dinda, tetapi juga karena tindakannya terhadap Ayu."Orang seperti itu…" Leo menggeleng pelan. "Tidak bisa dipercaya."Sekali lagi, Leo terdiam.Ia sadar, ia harus lebih berhati-

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Perasaan Tak Biasa

    Panggilan itu diakhiri. Leo menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa penuh, bukan hanya oleh kecemburuan yang tak ingin ia akui, tapi juga oleh rasa was-was yang semakin menekan. Ia berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya berjalan ke sofa dan duduk.Dinda keluar dari dapur dengan dua gelas minum. Sejak tadi matanya memperhatikan Leo, cara ia berdiri, cara ia bicara di telepon, hingga ekspresi wajahnya yang sulit disembunyikan."Mas kelihatan gelisah," ucap Dinda lembut sambil menyerahkan gelas. "Apa ada masalah di kantor?"Leo menerima gelas itu, meneguk sedikit. "Nggak apa-apa, Sayang. Urusan kerjaan saja. Lagi banyak yang harus diurus."Dinda duduk di sampingnya, tubuhnya sedikit condong mendekat. "Kalau capek, istirahat dulu. Jangan dipikirin sendirian, Mas."Leo tersenyum tipis, senyum yang terasa dipaksakan bahkan bagi dirinya sendiri. "Iya. Aku cuma lagi kebanyakan mikir sekarang."Dinda menepuk punggung tangan Leo dengan lembut. "Apa pun itu, aku di sini, Mas. Jangan

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Hasrat Terpendam Pada Sepupu

    Ayu menarik napas panjang. "Pak… aku ngerti bapak marah. Tapi… jangan langsung konfrontasi. Kasihan istri anda."Leo mengangkat tangan, menghentikan. "Aku tahu. Makanya aku ke kantor, bukan ribut di rumah."Ia menatap Ayu dengan mata lelah namun penuh tekad. "Aku nggak mau nuduh tanpa bukti. Tapi aku juga nggak mau dibodohi."Ayu mengangguk. "Anda bener, Pak. Kita harus hati-hati. Aku bakal cari tahu tentang Rendi secepat mungkin."Leo menunduk lagi. "Aku cuma mau kejelasan. Itu saja."Ayu menatapnya dengan empati. "Aku di pihak anda, Pak. Dan aku siap bantu."Leo mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya pagi itu, napasnya terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia tahu kini ia tidak sendirian menghadapi semua ini.Di balik wajah tenangnya, Leo sudah mengambil keputusan dalam hati. Apa pun hasilnya nanti, ia akan menghadapinya. Dengan bukti, dengan kepala dingin. Namun satu hal pasti, hari ini, hidupnya sudah memasuki titik yang tidak akan pernah sama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status