Share

32. Rencana Licik!

Penulis: Dre LA
last update Tanggal publikasi: 2026-06-17 22:24:23

Nyonya Selin menatap Bayu sejenak, menghela napas panjang dan berkata pelan, "Tapi, Bay. Mungkin... mungkin memang aku yang salah karena nggak bisa memuaskan mas Bram."

Wanita cantik itu menunduk dengan ekspresi penuh luka, berniat membiarkan saja tindakan suaminya dengan Lastri seperti sebelumnya, tapi Bayu tidak mundur, dia justru mempererat genggaman tangannya pada jemari dingin Nyonya Selin. Sorot matanya yang tajam kini memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.

"Saya nggak pernah sembara
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    57. Bram, Jali, atau Anton?

    Diejek seperti itu sama Bayu, Lastri melotot lebar sampai wajahnya tampak sangat menakutkan, "BAYU, KAMU...!"Sebelum Lastri selesai bicara, Bayu bahkan menarik tangan mbak Sumi, "Udah, Mbak Sumi. Kita turun. Biar Nyonya Besar palsu ini cabut biji semangka sendiri," potong Bayu. "Kalo dia kepeleset di kamar mandi, ya udah resiko." "Bayu! Awas kamu, ya! Aku adukan ke Mas Bram biar kamu masuk penjara! Ngatain ibu dari pewaris Atmaja!" Bayu berhenti, menengok pelan ke arah Lastri dengan sehelai alis terangkat. Senyumnya berubah menjadi seringai, "Silakan aja, Las," tantang Bayu. "Sekalian adukan juga ke Pak Bram... bayi di perutmu itu beneran anak dia, atau anak bang Jali preman pasar yang yang sering kamu selundupin ke kamar pembantu tiap Jumat malem?" Muka Lastri langsung memucat seperti hantu saat Bayu menyebut tentang bang Jali. Darahnya seperti disedot habis dan mulutnya komat-kamit kayak ikan lele kehabisan oksigen, matanya mendelik ngeri. "S-sembarangan kamu, Bayu!

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    56. Lastri Menggila

    Sementara itu, Lastri semakin bersikap semena mena semenjak dia dipindahkan pak Bram ke kamar utama, terutama kepada mbak Sumi, sesama pembantu yang usianya lebih tua dari Lastri. "Mbak Sumi! Berapa kali sih aku bilang? Air jeruknya tuh kurang manis!" teriak Lastri sambil duduk manis di ranjang king size yang dipenuhi seprai sutra. Gaya kayak permaisuri aja, padahal baru hamil 3 bulan. Tangannya yang penuh cincin emas, sebagian imitasi menunjuk-nunjuk gelas kaca. Klontang! Gelas mendarat mulus di atas karpet, untung aja tebal, jadi tidak pecah. Mbak Sumi, yang sedari pagi sudah diomel terus menerus oleh Lastri, langsung ngos-ngosan ngambil sapu. "Ma-Maaf, Neng Lastri... eh, Nyonya Lastri," ucap Mbak Sumi gemetar, saking paniknya jadinya nyaris ngena pecahan. "Tadi kata Nyonya Selin, stok gula batu lagi kosong. Jadi aku pake gula pasir biasa..." "Nyonya Selin? Nyonya Selin melulu! Perempuan mandul itu udah hampir digusur dari rumah ini, tau!" Lastri meninggikan nada, lalu p

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    55. Kepergok?!

    Nyonya bSelin tidak bisa menjawab, itu karena mulutnya hanya bisa mengeluarkan desahan dan rintihan yang semakin tidak terkendali, dia merasakan sesuatu membangun di perutnya, panas, intens, seperti gelombang yang siap pecah. "Bayu, aku... aku...!" Nyonya Selin merintih, tangannya mencengkeram pinggiran meja sampai kuku-kukunya palsunya patah. "Ayo, Nyonya," desis Bayu, tangannya turun untuk mengusap kacang milik nyonya Selin dengan gerakan cepat dan teratur. "Aku ingin merasakanmu. Aku ingin melihat Nyonya Besar kehilangan kendali seperti ini, lepaskan, Nyonya...." "Ahhhh, Bayu!!" Nyonya Selin menjerit, jeritan panjang dan primal yang tidak pernah ia bayangkan bisa keluar dari mulutnya. Tubuhnya kejang, dinding-dinding basahnya mengerut di sekitar Bayu, meremasnya dengan kuat, menariknya semakin dalam. Bayu mendengus, dua dorongan terakhir yang dalam dan keras, lalu ia menahan napas, tubuhnya kaku, dan nyonya Selin merasakan semburan hangat membanjiri bagian terdalamnya. Kedua

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    54. Keperkasaan Sang Sopir

    Bayu tidak perlu diminta dua kali, dia menancapkan seluruh batangnya sekaligus, menembus lubang nyonya Selin hingga pangkal, membuat wanita itu menjerit dan menekukkan punggungnya seperti busur. Meja kerja bergeser beberapa sentimeter di lantai marmer dengan bunyi mengerik. "Seperti itu?" desis Bayu, nadanya penuh kemenangan sadis. "Seperti itu yang Nyonya mau?" Nyonya Selin tidak bisa menjawab, kata-katanya telah lenyap, digantikan oleh suara-suara primitif yang keluar dari tenggorokannya setiap kali Bayu menghantam titik paling dalam di tubuhnya. "A-ahhh, Bayu. Bayu, ahhhhh!" Nyonya Selin merasakan kepalanya mulai kosong, pikirannya mencair seperti lilin, yang tersisa hanya sensasi panas, tekanan, gesekan yang membuatnya gila. "Mendesah lagi yang lebih keras, Nyonya? Jangan ditahan." Bayu mengatakan itu sambil menggenggam rambut nyonya Selin, menariknya ke belakang dengan kasar dan memaksa punggung nyonya Selin melengkung semakin ekstrem. Dengan posisi ini, setiap hantaman

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    53. Masukkan, Bayu!

    Nyonya Selin menahan napas, jarak di antara mereka lenyap dalam sekejap, udara di ruang kerja itu ikut tersedot keluar. Wangi maskulin Bayu, keringat tipis bercampur aftershave murahan yang entah mengapa terasa begitu memabukkan, menginvasi setiap sudut indranya. Dia menatap balik mata tajam itu dengan sisa-sisa arogansi yang mulai goyah. "Kamu mulai berani melunjak, Bayu. Jangan lupa siapa majikan di sini." "Oh, saya selalu ingat posisi saya, Nya," bisik Bayu, matanya turun perlahan membelai bibir Selin yang sedikit terbuka dan basah karena ia tanpa sadar menjilatnya. "Saya bawahan yang patuh. Tapi kalau Nyonya butuh seseorang untuk membereskan keluarga ini... Nyonya butuh lebih dari sekadar sopir." Jemari Bayu yang kasar karena setir mobil kini merayap naik dari pinggul Selin, melewati lekuk pinggangnya yang ramping, lalu berhenti di bawah dadanya, dia tidak menyentuh tapi memberikan tekanan hangat yang membuat kulit Nyonya Selin merinding di balik blus sutranya. "Saya bisa

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    52. Tidak Mempan Godaan

    "Bujubuneng, ini nyonya-nyonya keluarga Atmaja pada kurang belaian semua apa gimana sih?" Batin Bayu, menatap Chyntia sambil geleng-geleng kepala. "Selin itu kaku, Bayu. Terlalu elegan, membosankan di ranjang, dan yang pasti... sebentar lagi dia akan miskin karena ditendang dari rumah ini," bisik Cynthia tepat di telinga Bayu, napas hangatnya sengaja dihembuskan di sana. Tangannya kini berani merambat ke bahu dan tengkuk Bayu, memainkan ujung rambut pemuda itu. "Jadi... kerja sama aku saja, yuk?" tawar Cynthia dengan suara menggoda, dia bahkan berani membelai dada Bayu sambil mengedipkan mata. "Asal kamu tahu suamiku jarang pulang dan rumahku lebih sepi. Aku bisa bayar kamu dua kali lipat dari yang Selin kasih... ditambah bonus lembur yang pasti bikin kamu ketagihan. Kamu nggak perlu capek-capek nyetir mobil, cukup 'nyetir' aku saja di kamar." Cynthia mengatakan itu menggigit bibir bawahnya, menatap bibir Bayu dengan intens, bersiap untuk berjinjit dan merebut ciuman dari sopi

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    10. Jangan, Nyonya!

    "Hah. Nggak minat! Kamu hampir bikin aku kehilangan pekerjaan tau nggak!" Bayu membentak, menatap jijik pada Lastri dan segera membuka kunci pintu dengan gerakan kasar, foto skandal itu tidak lagi penting baginya sekarang. "Pergi ke kamarmu atau aku lapor ke Nyonya kalau kamu tadi mau maling di si

  • Jatah Malam Untuk Nyonya     9. Bay, Mau Aku Puasin?

    Bayu dan Lastri seketika membeku, menahan napas dalam-dalam. Cengkeraman tangan Bayu di pergelangan Lastri mengendur, tapi tubuh mereka tetap menempel rapat agar tidak menimbulkan suara gesekan sekecil apa pun. Mendengar suara sang nyonya, adrenalin Bayu malah terpacu liar, jantungnya berdegup ken

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    7. Kenapa Suamiku Nggak Bergairah?

    "Bay, kalo di tanya itu jawab. Cantik mana pacarmu yang di kampung itu... atau aku?" ulang Nyonya Selin dengan suara sensual dan serak serak basah, membuat bulu kuduk Bayu sedikit merinding, tapi tak berani bersuara, hanya jakunnya yang naik turun menahan godaan sang nyonya.Melihat ekspresi gelisa

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    6. Pak Bram Selingkuh?

    Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status