بيت / Male Adult / Jatah Malam Untuk Nyonya / 31. Labrak Lastri, Nyonya!

مشاركة

31. Labrak Lastri, Nyonya!

مؤلف: Dre LA
last update تاريخ النشر: 2026-06-17 22:17:44

"Itu... Itu tindakan yang terlalu berani, aku belum siap," jawab Nyonya Selin seraya mengalihkan pandangannya dengan napas yang masih sedikit tersengal.

Meski tubuhnya masih merasakan sisa-sisa sengatan gairah dan dadanya bergemuruh hebat karena dominasi pemuda itu, akal sehatnya perlahan kembali mengambil alih.

Sejujurnya, Nyonya Selin begitu menikmati permainan Bayu yang membuatnya merasa begitu diinginkan dan dipuja sebagai seorang wanita seutuhnya. Namun, untuk terang-terangan bermesraan
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    67. Kamu membosankan, Lastri!

    Alih-alih gentar, Lastri justru mendesah pelan saat cengkeraman Bram di lengannya mengerat. Ia memangkas jarak, dengan sengaja merapatkan belahan dadanya ke bidang tubuh pria itu. Ia tahu persis senjata utamanya. Jari-jemari lentik Lastri merayap naik, mengusap kancing kemeja Bram, hingga berakhir di rahang mengeras pria itu dengan sentuhan memabukkan. "Mas lebih percaya sama dia daripada aku?" bisik Lastri, mengembuskan racun manisnya untuk meruntuhkan ego sang pria. "Sama perempuan dingin yang barusan merendahkan Mas di depan sopir kampungan itu?" Melihat pertahanan Bram mulai goyah, Lastri berjinjit. Dia menatap Bram dengan mata nyalang penuh kabut gairah buatan. "Kalau Mas masih ragu..." Lastri menggigit bibir bawahnya pelan, "...kita bisa buat rekaman kita sendiri malam ini. Biar Mas lihat sendiri, siapa yang paling memuja Mas." Bram terdiam. Harga dirinya memang sedang babak belur setelah dijatuhkan di depan Bayu. Menyadari jeda itu, Lastri mengembuskan napas hangat tepat

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    66. Skakmat Untuk Si Licik Lastri!

    Mata Lastri membelalak seketika saat mendengar ancaman itu, pupilnya mengecil. Wajahnya yang tadi penuh kemenangan kini berubah seputih kapas. Darahnya seolah berhenti mengalir. Ancaman Bayu di lantai bawah tadi kembali terngiang di telinganya. Ia sadar, Bayu pasti sudah menceritakan semuanya pada nyonya Selin!"Berengsek, Bayu!" Lastri membatin dengan geram. Dia teringat rekaman yang bisa menghancurkan segalanya kalau sampai pak Bram tahu. "Mas Anton... Mas Bram mulai curiga... gimana kalau dia tahu..." Bibir Lastri bergetar hebat. Kakinya tiba-tiba terasa tak bertulang. Ia menelan ludah dengan susah payah, nyaris tak bisa bernapas. Ia mundur selangkah, bersembunyi di balik lengan Bram dengan wajah menunduk dalam-dalam. "A-aku... aku nggak tahu maksud Nyonya..." cicit Lastri dengan suara nyaris menangis, kali ini bukan akting, tapi murni ketakutan yang luar biasa. Bram yang tidak mengerti arah pembicaraan istrinya, mengerutkan kening dengan bingung. Dia melihat Lastri yang

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    65. Lastri vs Nyonya Selin

    Cling... cklek. Bunyi logam bergesekan itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Selin. Kunci cadangan di tangan Bram berhasil masuk sempurna dan diputar dengan kasar "Aduh, bagaimana ini?? Inikah akhir pernikahanku??!" Nyonya Selin memejamkan mata, menanti kiamat rumah tangganya yang akan terjadi dalam hitungan detik. Namun, saat dia membuka mata, hembusan angin malam yang dingin tiba-tiba menerpa wajahnya. Tirai raksasa yang menutupi pintu kaca balkon berkibar pelan. Bayu sudah tidak ada di depannya. Pria itu bergerak layaknya hantu. Tanpa suara, tanpa kepanikan sedikit pun. Dalam waktu kurang dari dua detik, Bayu sudah meluncur ke luar balkon, menutup pintu kaca itu rapat-rapat dengan sangat mulus, dan menyatu sempurna dengan kegelapan malam. Tepat sebelum tubuhnya tertelan bayangan pilar luar, Bayu sempat menatap Selin menembus kaca, menyeringai tipis, dan menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Bermainlah dengan cantik, Nyonya." Tatapan pria itu seolah menyunti

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    64. Dipergoki Bram!

    "Milikmu... ahh! Aku milikmu, Bayu! Lakukan, kumohon, buat aku klimaks, Bay!" jerit nyonya Selin tertahan, menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah saat Bayu kembali melanjutkan aksinya dengan tempo yang jauh lebih gila dan menuntut dari sebelumnya. Ranjang king size itu berderit ritmis seiring dengan pergerakan mereka yang semakin liar. Bayu menatap lekat-lekat wajah nyonya Selin yang memerah, dipenuhi peluh tipis yang justru membuat wanita itu terlihat ribuan kali lebih sensual dan menggoda. Ada sebuah kepuasan psikologis yang gelap di benak Bayu. Ini adalah ranjang Bram. Di atas kasur yang sama di mana konglomerat arogan itu tidur setiap malam, istrinya sendiri justru sedang mendesah nikmat dan menyerahkan segalanya di bawah kungkungan pria yang hanya dia hargai sebagai seorang sopir. Adrenalin dari balas dendam dan dominasi ini membuat darah Bayu mendidih hebat. "Suamimu... dia nggak pernah bisa membuatmu hancur berantakan seperti ini, kan, Nyonya?" bisik Bayu dengan

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    63. Hampir Klimaks, Tapi ....

    Bayu merangsek maju, menekan sebelah lututnya di atas kasur king size, tepat di sisi paha Nyonya Selin, membuat wanita itu refleks membuka ruang lebih lebar seolah tubuhnya sudah menunduk patuh bahkan sebelum Bayu memberikan perintah. Tangan besar dan sedikit kasar milik Bayu membelai paha mulus Nyonya Selin yang tak lagi tertutup apa-apa. Sentuhannya merayap naik perlahan, lambat dan menyiksa, membakar setiap milimeter kulit yang dilewatinya."Ah... Bayu..." desah Nyonya Selin pelan, kepalanya terlempar ke belakang. "Jangan... jangan pelan-pelan begini..."Bayu terkekeh rendah di dekat telinganya. "Kenapa? Kamu sudah nggak sabar, Nyonya?"Nyonya Selin memejamkan mata, kepalanya mendongak ke belakang hingga leher jenjangnya terekspos sempurna saat bibir panas Bayu mulai turun dari rahang, mengecupi tulang selangkanya, lalu turun lebih jauh menuju belahan dadanya."Hmm... ya... di situ..." rintih Nyonya Selin, jari-jarinya meremas sprei di bawahnya. "Bayu... jangan berhenti...""Buka

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    62. Puaskan Aku, Selin.

    Nyonya Selin menatap Bayu dengan penuh selidik, pria di depannya ini hanyalah seorang sopir, setidaknya, itulah identitas yang ia pakai selama ini. Tapi, bagaimana bisa dia memiliki informasi seberbahaya dan sedetail itu? Bagaimana bisa dia bergerak lebih cepat, lebih licik, dan lebih mematikan dari Bram yang notabene seorang konglomerat berkuasa? Aura Bayu saat ini bukanlah aura seorang pekerja kasar, dia berdiri dengan tegap, memancarkan dominasi mutlak yang membuat lutut Selin terasa lemas. "Siapa kamu sebenarnya, Bayu?" bisik nyonya Selin tanpa sadar, suaranya bergetar. Bayu hanya terkekeh pelan, dia melangkah maju perlahan, memangkas sisa jarak di antara mereka hingga ujung sepatunya menyentuh kaki Selin. Pria itu sedikit menunduk, mengurung tubuh indah Selin dengan tatapan predatornya yang gelap dan lapar. "Aku? Aku pria yang baru saja menyelamatkan nyawamu, masa depanmu, dan hartamu, Selin," bisik Bayu. Wajahnya mendekat, membiarkan hembusan napasnya yang hangat menerpa

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    6. Pak Bram Selingkuh?

    Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    5. Malam Panas

    "I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    4. Mimpi Basah

    Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu

  • Jatah Malam Untuk Nyonya    3. Pijat Aku

    Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status