แชร์

6. Pak Bram Selingkuh?

ผู้เขียน: Dre LA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-09 10:51:11

Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas."

"B-baik, Nyonya."

"Dan kamu, Bayu...."

Tatapan Nyonya Selin kini beralih padanya, begitu dingin dan tanpa emosi, membuat Bayu gemas

 sendiri. "Bersihkan taman dan garasi."

"Baik, Nyonya," jawab Bayu pura-pura kaku, padahal dalam hati membatin, "Pinter banget aktingnya si Nyonya, padahal semalam gimana, desah-desah manja sampai bikin aku mimpi basah."

Saat Bayu sibuk dengan bayangannya tentang kejadian tadi malam dengan nyonya Selin, tiba-tiba terdengar suara Lastri nyeletuk sinis, "Huh. Nyonya Selin dingin banget, ya. Pantes aja Pak Bram jarang pulang dan kabarnya nggak pernah puas sama dia."

Mendengar itu, Bayu tak tahan untuk mengumpat dalam hati, "Halah, tahu apa kamu soal kepuasan Nyonya! Nyonya itu ibarat gunung berapi, luarnya aja tertutup salju, tapi dalemnya... beuh, laharnya panas membara! Si Bram aja yang loyo dan nggak becus."

Meski begitu, dia hanya menyimpan semua umpatan itu dalam hati dan menatap sinis ke arah Lastri, yang tampak begitu kesal dengan sikap dingin nyonya Selin.

***

Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika Bayu menyelesaikan pekerjaan terakhirnya di garasi. Saat sedang membuang tumpukan sampah kertas ke bak penampungan utama di gerbang belakang, sesuatu tiba-tiba menarik perhatiannya.

"Hm, apa ini? Foto?" gumamnya penasaran sambil mengambil lembaran kertas foto tersebut. Begitu matanya melihat isi foto itu, mata Bayu langsung melotot terkejut setengah mati.

Di sana, tampan jelas Pak Bram tengah dipeluk mesra oleh seorang wanita berpakaian sangat minim di sebuah kamar hotel. Pak Bram tampak hanya mengenakan handuk, sementara si wanita mengenakan lingerie hitam berenda yang sangat provokatif.

"Bukannya ini... si Lisa, sekretaris genit itu?" bisik Bayu, mendekatkan foto itu ke bawah lampu taman untuk melihat lebih jelas.

Selama seminggu bekerja dengan pak Bram, Bayu memang beberapa kali bertemu Lisa, gelagatnya yang genit dan gatal membuat Bayu sedikit ilfeel padanya.

"Udah gila apa si pak Bram ini, dibandingin sama nyonya, Lisa nggak ada apa-apanya, udah tepos, jelek lagi. Kok bisa sih pak Bram kepincut sama dia? Padahal kurang sempurna apa nyonya?"

Bayu hanya bisa menahan geram dan segera melipat foto itu dan menyimpannya ke dalam saku celana. Namun tepat saat ia hendak berbalik, sebuah tepukan lembut mendarat di pundaknya.

"Bay, lagi ngapain malam-malam di sini?"

Suara merdu nan seksi itu membuat tubuh Bayu seketika terlonjak, dia pun refleks menoleh dan mendapati Nyonya Selin sudah berdiri sangat dekat di belakangnya.

"E-eh, Nyonya Selin. Ada apa kok tiba-tiba di sini, Nyonya?" jawab Bayu, tak sanggup menutupi rasa gugupnya.

Kegugupan Bayu itu tidak luput dari pandangan tajam sang majikan. Mata indah Nyonya Selin langsung menyipit, tertuju pada tangannya yang baru saja ditarik dari saku celana.

"Apa yang kamu sembunyikan di sakumu, Bay? Kok kayak gugup banget?" tanya Nyonya Selin, melangkah maju dengan ekspresi curiga.

Bayu semakin panik saat nyonya Selin semakin mendekat, sehingga buru-buru menjawab, "Eh, ini... ini bukan apa-apa kok, Nyonya. Cuma... cuma sampah kertas."

"Cuma sampah tapi kok kamu masukkan ke saku celanamu, Bay?" Nyonya Selin semakin mendesak dengan mata berkilat penuh curiga. "Sini, kasih lihat ke aku, Aku nggak percaya itu cuma sampah," desaknya sambil mengulurkan tangan.

"J-jangan, Nyonya!" Bayu refleks melangkah mundur, menutupi sakunya sambil menggeleng kuat-kuat.

Nyonya Selin menghentikan langkahnya dan menatap Bayu dengan kedua tangan terlipat di dada, "Bay, jangan mancing kemarahan aku. Jawab dengan jujur, apa yang kamu masukkan sakumu?"

"Beneran bukan apa-apa, Nyonya! Ini... ini cuma foto pacar saya di kampung!" Bayu terpaksa berbohong agar nyonya Selin tak memaksanya lagi, tapi ekspresi nyonya Selin justru di luar dugaan saat Bayu menyebut tentang pacarnya di kampung.

"Pacar kamu, Bay?" Nyonya Selin yang tadinya tersenyum berubah cemberut, menatap ke arah saku Bayu seperti menahan kemarahan yang membuat Bayu bingung.

"Kenapa tiba-tiba marah? Nyonya cemburu? Ah, tidak mungkin!"

Nyonya Selin melangkah dengan lebih cepat, membuat Bayu yang sedang panik terus mundur hingga akhirnya punggung tegapnya membentur bodi mobil. 

Meski jelas Bayu sedang tersudut, Nyonya Selin terus mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka, nyonya Selin bahkan mengulurkan tangannya tepat di atas dada bidang Bayu, lalu mengelusnya perlahan. 

Lebih gila lagi, bagian buah melon Nyonya Selin yang padat, besar, dan membusung sempurna itu kini menempel ketat, menggesek dada Bayu seperti sengaja tengah menggoda.

"Argh, gila! Kenapa nyonya seperti ini?!" Bayu menjerit histeris dalam hati, jiwanya serasa terbang ke langit ketujuh. Aroma parfum stroberi bercampur melati yang mahal langsung menguasai indra penciumannya, membuat Si Gatot di balik celana kainnya langsung terbangun seketika dan menegang maksimal.

"Bay..." panggil Nyonya Selin dengan nada suara yang rendah, serak, dan penuh gairah yang tertahan. Wajah cantiknya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari dagu Bayu dan tangannya masih mengelus dada Bayu yang naik turun.

"I-iya, Nyonya?" Bayu menelan ludah, menatap bibir basah di depannya dengan pandangan lapar.

"Katakan sama aku dengan jujur ya, Bay..." Nyonya Selin sedikit menjinjitkan kakinya, membisikkan kalimatnya tepat di depan bibir Bayu yang sudah gemetar menahan syahwat. "Cantik mana... pacarmu yang di kampung itu, atau aku?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Renol Falasol
bagus sekali cerita ini..
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    450.

    Hawa panas di atas kap mesin mobil seketika berpindah saat lengan kekar Rendra mengangkat tubuh Arini ke dalam gendongannya. Kaki jenjang Arini melingkar erat di pinggang kokoh sang montir, membiarkan dirinya dibawa melangkah menuju lorong sempit di sudut belakang bengkel. Pintu kayu bercat putih kusam di ujung lorong didorong terbuka, memperlihatkan sebuah kamar mandi sederhana berlantai semen halus dengan dinding keramik putih berlumur embun sejuk pagi. Rendra menutup pintu itu dengan tumit kakinya, lalu memutar grendel kunci hingga berbunyi klik di tengah kesunyian ruangan. Gemercik air dari pipa pancuran sederhana mulai berdesis pelan, memecah hening saat kran diputar ke arah bawah. Rendra menurunkan pijakan kaki Arini perlahan ke lantai semen yang basah, namun kedua tangannya tetap mengunci pinggang ramping wanita itu menempel lekat pada tubuhnya. Uap air dingin yang menyembur halus dari pancuran berhamburan ke udara, membasahi ujung kemeja flanel kotak-kotak yang mem

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    449.

    Pintu lipat besi bengkel hanya dibuka separuh oleh Rendra untuk menyambut dua perwira penyidik yang berdiri siaga di pelataran. Penyerahan salinan berkas penahanan resmi berlangsung singkat dan tegas. Tanda tangan disematkan di atas lembar berita acara, memastikan Danang dan Hartono telah resmi mendekam di sel isolasi tanpa hak penangguhan, sementara seluruh rekening keluarga Adiningrat yang terkait pencucian uang telah dibekukan negara. Setelah menyampaikan rasa hormat dan berjanji mengawal kasus hingga meja hijau, kedua petugas itu berpamitan dan membiarkan mobil dinas mereka melaju membelah pagi. Rendra kembali menurunkan daun pintu besi hingga membentur lantai semen dengan dentuman berat, lalu memutar gerendel kunci ke posisi terkunci rapat. Bengkel itu kembali sunyi senyap, terisolasi sempurna dari hiruk-pikuk kota. Arini masih berdiri di dekat tiang penyangga, bersandar pada kap depan mobil sedan tua. Kemeja flanel kotak-kotak milik Rendra yang kebesaran jatuh longgar di tub

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    448.

    Dekapan di atas kasur busa tipis itu perlahan meluruhkan sisa ketegangan yang membakar dada mereka. Napas Rendra yang semula memburu berat kini berangsur teratur, menyapu pucuk kepala Arini yang bersandar pasrah di ceruk lehernya. Pria bertubuh kekar itu menarik selimut kain sederhana hingga menutupi bahu porselen Arini, mengurung wanita itu dalam kehangatan tubuhnya yang kokoh tanpa membiarkan hawa dingin dini hari menyusup masuk. Arini memejamkan mata rapat-rapat, menikmati ketenangan langka yang tak pernah ia rasakan selama lima tahun terbelenggu dalam istana megahnya. Jemari lentiknya masih meraba perlahan garis bekas luka di punggung liat sang montir, merasakan setiap detak jantung Rendra yang berdenyut tenang bagai genderang perlindungan. "Mas Rendra..." bisik Arini lirih, suaranya parau memecah sunyi. Rendra menunduk sedikit, mengecup lembut kening Arini seraya menyisipkan helai rambut yang menutupi pelipisnya ke belakang telinga. "Tidurlah, Arini. Semuanya sudah selesai."

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    447.

    Rendra menarik tuas pintu geser besi bengkel ke bawah perlahan hingga dasarnya berdentang rapat menghantam lantai semen. Gembok baja besar dipasang dari arah dalam dengan bunyi klik yang solid, mengunci rapat seluruh dunia luar yang penuh intrik dan kebisingan di balik dinding seng tebal. Bengkel tua itu kini hening, hanya diterangi seberkas lampu bohlam kuning temaram yang menggantung di dekat meja perkakas. Arini berdiri mematung di tengah ruangan beraroma oli mesin dan pelarut karat, memeluk kedua lengannya sendiri seraya menatap sekeliling dengan binar mata yang berkilat lembut. Langkah kaki Rendra melangkah mendekat tanpa alas kaki, bayangan tubuh kekarnya yang menjulang menenggelamkan sosok ramping sang nyonya. "Ini tempat tinggal saya, Arini... jauh dari kata layak untuk nyonya besar seperti kamu," bisik Rendra seraya menatap gaun sutra Arini yang tampak begitu mewah di antara tumpukan roda gigi dan dongkrak hidrolik. Arini mengangkat pandangannya, menatap sepasang mata e

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    446.

    Deru mesin mobil bak ganda milik Rendra membelah dinginnya jalanan aspal menuju ruko bengkel di ujung gerbang komplek. Di dalam kabin yang sempit dan beraroma khas besi tua, keheningan di antara keduanya justru terasa sarat oleh letupan rasa yang belum usai. Arini duduk merapat di kursi penumpang, sesekali melirik jemari kekar Rendra yang mencengkeram lingkar kemudi. Tatapan mata elang pria itu tampak lurus menatap jalan, namun rahang tegasnya yang mengeras memperlihatkan pergolakan batin yang nyata setelah mendengar tantangan sang nyonya di beranda tadi. Namun, ketegangan manis itu seketika buyar begitu mobil berbelok memasuki pelataran bengkel. Lampu tembak mobil bak menyorot tepat ke arah sedan sport merah milik Clarissa yang terparkir melintang di depan pintu lipat besi. Wanita blasteran itu rupanya tidak benar-benar pulang. Clarissa berdiri bersandar di kap mobil mewahnya seraya melipat tangan di dada, mengenakan jaket kulit hitam yang membalut lekuk tubuh rampingnya dengan sa

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    445.

    Satu jam berselang, hiruk-pikuk sirene dan lampu rotator biru perlahan mereda di pelataran depan komplek Cemara Hijau. Garis polisi membentang di sekeliling gerbang mansion. Udara dini hari yang sejuk perlahan mengusir sisa bau gas air mata dari teras beranda marmer. Sejumlah petugas forensik masih sibuk mencatat barang bukti, sementara beberapa tetangga komplek elit berdiri di kejauhan dengan tatapan ingin tahu yang tertahan. Di undakan tangga teras samping yang sepi, Rendra duduk bersandar pada pilar seraya menyalakan sebatang rokok. Kaos hitamnya berdebu dan sobek di bagian lengan kiri, memperlihatkan luka gores memanjang yang mengeringkan bercak darah tipis akibat pecahan kaca tabung gas. Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat. Arini muncul membawa sebuah kotak pertolongan pertama kecil dan sebaskom air hangat. "Duduk diam dan jangan bergerak," titah Arini dengan nada suara yang berusaha terdengar galak, meski matanya masih tampak sembab. Rendra mendongak, tersenyum

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    5. Malam Panas

    "I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    4. Mimpi Basah

    Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    3. Pijat Aku

    Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    2. Godaan Nyonya

    “Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status