Beranda / Male Adult / Jatah Malam Untuk Nyonya / Sebenarnya Masih Sayang.

Share

Sebenarnya Masih Sayang.

Penulis: Dre LA
last update Tanggal publikasi: 2026-08-21 02:01:16

Hembusan napas yang berat dan terengah-engah menjadi satu-satunya suara yang tersisa di dalam kamar kos berukuran empat kali empat meter itu.

Tubuh Maya merosot lemas. Punggungnya merosot dari dinding yang sedingin es, hingga akhirnya ia terduduk di atas ubin dengan kepala bersandar pada lututnya. Sekujur tubuhnya memerah, dipenuhi jejak kemerahan dari cengkeraman tangan dan gigitan Bayu. Perempuan itu gemetar, bukan lagi karena dinginnya malam, melainkan karena sisa-sisa gelombang kenikmatan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   Di Bawah Kendali Nyonya

    Namun Selin tidak membiarkan Maya menyentuh Bayu. Tangan Selin menjambak rambut Maya, memaksa perempuan desa itu menunduk ke arahnya. "Kamu bilang kamu rela jadi pemuas, kan?" desis Selin, matanya menatap tajam bibir Maya yang bengkak. "Gunakan mulutmu, jalang. Layani aku." Mata Maya terbelalak. Namun, teror akan dibuang kembali ke jalanan mengalahkan segalanya. Sambil terisak, Maya menundukkan wajahnya, menyentuhkan bibirnya ke tubuh Selin, memberikan pelayanan yang dipaksakan dan penuh keputusasaan pada payudara sang bos. Selin mendesah puas, tangannya menekan kepala Maya agar semakin patuh. Ia lalu menatap Bayu yang masih berdiri mematung dengan napas menderu liar di tepi ranjang. "Tunggu apa lagi, Bayu?" tantang Selin, matanya berkabut oleh nafsu yang membara. Ia membuka kedua kakinya lebar-lebar. "Masuk. Tunjukkan ke pelacur ini di mana tempat aslimu berada." Erangan buas lolos dari tenggorokan Bayu. Ia menjatuhkan dirinya ke atas kasur, langsung mengurung tubuh Selin

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   Tidak Tahan!

    Mendengar perintah itu, air mata Maya menetes lagi, tapi ia justru mempercepat gerakannya, melengkungkan punggungnya dan memohon tanpa suara lewat tatapannya pada Bayu. Bayu mengutuk dalam hati. Siksaan psikologis ini membunuhnya perlahan, tapi reaksi fisiknya tak bisa dibohongi. Dominasi Selin yang mengendalikan adegan ini, dipadukan dengan kepasrahan absolut Maya di bawah kakinya, menciptakan adrenalin yang membakar otaknya hingga ke titik didih. "Sialan..." erang Bayu beringas. Ia tidak tahan lagi. Bayu menarik tubuh Maya hingga berdiri paksa, memutar tubuh perempuan itu, lalu menekan wajah Maya ke dinding kamar kos yang dingin. *BRAK!* "Mas—ahh!" Maya menjerit tertahan saat Bayu menyatukan tubuh mereka dari belakang dengan satu hentakan yang luar biasa kasar dan tak kenal ampun. "Kamu yang minta ini, pelacur!" makian Bayu keluar begitu saja, berusaha menutupi rasa sakit di hatinya dengan kekasaran fisik yang ekstrem. "Kamu yang minta jadi tempat sampah!" "Iya, Mas!

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   Jangan Usir Saya!

    Uang kertas seratus ribuan itu berhamburan di atas lantai ubin yang kotor, jatuh tepat di depan lutut Maya. Selin menatap rendah perempuan desa di depannya dengan jijik. "Ambil uang itu dan pergi. Kalau sampai aku dengar kamu hubungi asistenku lagi, aku pastikan hidupmu hancur." Namun, di luar dugaan Selin—dan juga Bayu—Maya tidak memungut uang itu. Perempuan yang sudah hancur lebur harga dirinya itu justru menepis lembaran uang di depannya hingga berserakan semakin jauh. Napas Maya tersengal. Air matanya mengalir deras, tapi matanya memancarkan obsesi gila yang membuat bulu kuduk Bayu meremang. Bukannya berdiri dan lari seperti anjing yang ketakutan, Maya justru merangkak maju, memeluk betis Selin yang terbalut celana kain mahal. "Aku nggak butuh uang, Nyonya..." tangis Maya memilukan, wajahnya mendongak menatap Selin dengan keputusasaan mutlak. "Tolong... biarin aku di sini. Aku tahu aku cuma sampah. Aku tahu Mas Bayu cuma milik Nyonya. Aku nggak bakal berani rebut dia..."

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   Ini Gila, Tapi Aku Suka

    "Dari tadi siang, Bay... aku nggak makan, aku cuma nungguin kamu dari jam dua belas... aku duduk di lantai kamar ini tanpa berani bergerak, takut kalau-kalau kamu pulang dan aku nggak dengar suara motormu..." rintih Maya, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit sekaligus nikmat yang menjalar di seluruh tubuhnya saat Bayu mulai bertindak buas. Air mata tipis mengalir di pelipisnya, tetapi ia tidak meminta Bayu berhenti. Justru ia mendorong pinggulnya ke depan, mencari lebih banyak sentuhan kasar itu. "Bagus. Berarti kamu emang bener-bener nggak ada kerjaan lain selain nungguin giliranku. Nggak ada pacar? Nggak ada teman? Cuma aku satu-satunya yang bisa ngisi kekosongan di otakmu, ya?" geram Bayu sambil menyeringai sinis. Ia mengangkat tubuh Maya dengan kedua tangannya yang kokoh, menyandarkan gadis itu di atas meja kayu tua yang rapuh. Kayu itu berderit protes menahan beban dua tubuh yang saling bertempur. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Bayu menyatukan tubuh mereka dengan satu

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   Kamu Segalanya.

    Tanpa ragu, perempuan itu menubrukkan tubuhnya, mendorong Bayu hingga pemuda itu telentang di atas kasur. Maya langsung mengangkangi perut Bayu. Ia meraup bibir laki-laki itu, memberikan ciuman yang sangat kasar, rakus, dan menuntut. Ia menggigit bibir bawah Bayu hingga berdarah, memaksakan rasa sakit yang ia dambakan. Adrenalin dan gairah Bayu meledak seketika. Sisa-sisa kelembutannya menguap tanpa sisa. Kalau perempuan ini meminta neraka, maka Bayu akan memberikannya neraka yang paling panas. Dengan satu putaran brutal, Bayu membalik posisi. Ia membanting punggung Maya ke atas kasur dengan tenaga penuh, lalu menekan kedua pergelangan tangan perempuan itu ke atas kepalanya. "Kamu mau aku kasar, hah?!" bentak Bayu beringas, urat di lehernya menonjol liar. Matanya menyala oleh dominasi predator yang baru saja dibangunkan paksa. "Iya, Bay! Siksa aku! Anggap aku nggak lebih dari pelampiasanmu!" racau Maya setengah sadar, melengkungkan punggungnya, sengaja menggesekkan tubuhnya

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   Sebenarnya Masih Sayang.

    Hembusan napas yang berat dan terengah-engah menjadi satu-satunya suara yang tersisa di dalam kamar kos berukuran empat kali empat meter itu. Tubuh Maya merosot lemas. Punggungnya merosot dari dinding yang sedingin es, hingga akhirnya ia terduduk di atas ubin dengan kepala bersandar pada lututnya. Sekujur tubuhnya memerah, dipenuhi jejak kemerahan dari cengkeraman tangan dan gigitan Bayu. Perempuan itu gemetar, bukan lagi karena dinginnya malam, melainkan karena sisa-sisa gelombang kenikmatan yang baru saja menghancurkan seluruh saraf sadarnya. Di depannya, Bayu berdiri membelakangi Maya. Pemuda itu mengancingkan kembali celananya dalam diam. Bahunya yang tegap naik turun, mengatur napas. "Jangan tidur di ubin," perintah Bayu dengan nada yang sengaja dibuat sedatar dan sedingin mungkin. "Pindah ke kasur. Aku nggak mau repot ngurusin kamu kalau besok pagi kamu mati kedinginan." Tanpa menoleh sedikit pun, Bayu melangkah menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan. Bunyi pintu diba

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   4. Mimpi Basah

    Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   3. Pijat Aku

    Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   2. Godaan Nyonya

    “Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k

  • Jatah Malam Untuk Nyonya   1. Puasin Aku

    "Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status