LOGINBayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.
'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'
"Saya cuma punya Ibu yang sakit di desa, Nyonya. Saya harus kirim uang tiap bulan buat sekolah adik juga. Tolong kasihanilah saya, Nyonya..." ucap Bayu memelas, mencoba memanfaatkan wajah polosnya yang tampan untuk menarik simpati.
"Bay," potong Nyonya Selin pelan tapi penuh penekanan.
Bayu mendongak dengan mata yang dibuat agak berkaca-kaca, menampilkan akting penuh ketakutan, walau dalam hatinya dia sedang mengintip betapa indahnya lekuk leher jenang sang nyonya dari posisi bawah.
Nyonya Selin bangkit dari posisi tengkurapnya secara perlahan. Gerakan itu membuat lingerie merahnya sedikit bergeser naik, memperlihatkan lebih banyak lagi paha mulusnya yang berkilau diterpa lampu kamar. Dia melangkah turun dari ranjang mewah itu, berjalan pelan mendekati Bayu yang masih berlutut, persis seperti seekor macan tutul betina yang sedang mengintai mangsa empuknya.
"Kamu tahu, Bay...."
Jari lentik Nyonya Selin yang dingin dan wangi tiba-tiba menyentuh dagu Bayu, mengangkat wajah pemuda itu agar menatap dalam-dalam ke bola matanya yang sayu tapi penuh gairah tersembunyi.
"Kamu tadi udah berani lancang sama nyonya kamu sendiri."
"Maaf, Nyonya. Saya...."
"Sssst."
Jari telunjuk Nyonya Selin yang lembut mendarat tepat di bibir Bayu, membungkam kalimat pembelaannya.
'Aduh, jarinya aja sewangi ini, gimana rasanya kalau bibir itu yang nempel? Si Bram bener-bener nggak tahu diuntung sampe menyia-nyiakan bidadari kayak gini!' batin Bayu, hatinya tetap seratus persen berpihak dan memuja keseksian Nyonya Selin dibanding dua ART di belakang tadi.
"Kalau cuma minta maaf, semua orang juga bisa, Bayu."
Nyonya Selin tersenyum misterius, senyuman penuh kemenangan yang terlihat sangat sensual. Dia kemudian membungkuk, mendekatkan bibir merahnya tepat ke lubang telinga Bayu.
Napas hangat beraroma stroberi mengembus segar, sementara beberapa helai rambut hitam panjangnya yang halus jatuh menggelitik pipi Bayu yang terasa panas terbakar nafsu. Bulu kuduk Bayu seketika merinding hebat, dan Si Gatot di bawah sana rasanya semakin berdenyut kencang, menuntut haknya.
"Tapi..." bisik Nyonya Selin dengan nada rendah yang bergetar penuh godaan. "Kamu nggak usah takut dipecat. Asal..."
Nyonya Selin menarik kepalanya mundur sedikit, memberikan jarak yang cukup agar Bayu bisa melihat senyum provokatif di wajah cantiknya sebelum melanjutkan kalimat yang begitu mengejutkan.
"Asal kamu mau bayar kompensasi ke aku.”
Kompensasi?
Kata-kata itu terdengar sangat ambigu di telinga Bayu, dia langsung menebak kalau wanita cantik ini pasti meminta uang sebagai ganti kelancangan Si Gatot tadi. Sial, Bayu sama sekali tak punya uang!
"Nyo-nyonya, saya nggak punya uang," bisik Bayu pasrah, "Gaji pertama saya udah habis, udah saya kirim semua ke ibu di kampung."
Nyonya Selin malah tertawa pelan. Suara tawanya yang renya membuat bulu kuduk Bayu merinding disko sekaligus semakin khawatir dengan kompensasi apa yang diminta sang nyonya.
"Bayu, Bayu...." Wanita itu menggelengkan kepala, membuat rambut hitam panjangnya yang terurai indah ikut bergoyang seksi.
"Kamu pikir aku butuh uangmu, Bay?"
Bayu mengangkat wajahnya, bingung dengan pertanyaan nyonya Selin, apalagi saat bertatapan dengan mata Nyonya Selin yang dalam, liar, dan penuh kode keras.
"Aku bahkan bisa ngasih kamu uang, Bay. Berapa pun yang kamu mau, jauh lebih banyak dari gaji yang dikasih suamiku setiap bulan," bisik Nyonya Selin sambil mengedipkan mata, wanita cantik itu bahkan sengaja menekuk tubuhnya hingga wajah mereka sejajar.
Bayu yang masih berlutut di lantai langsung disuguhi pemandangan belahan dada premium yang meluber dari balik lingerienya, membuat batin Bayu berteriak tak terkendali.
'Buset, deket banget! Nyonya, jangan bikin aku makin tersiksa dengan godaan ini!'
Sebelum Bayu sempat merespons, wanita cantik itu berbisik lagi.
"Tapi ... tentu aja ada syaratnya, Bay."
Nyonya Selin menyentuh pipi Bayu dengan lembut. Telapak tangannya terasa begitu halus, wangi, dan dingin, kontras sekali dengan kulit Bayu yang kasar.
"Apa syaratnya, Nyonya?" tanya Bayu dengan suara yang pelan, memancing insting berburu sang nyonya. Nyonya Selin tersenyum puas melihat reaksi "polos" Bayu, lalu berbisik tepat di lubang telinganya.
"Kamu harus lebih sering mijit aku kayak tadi."
Bayu mengerjapkan mata, pura-pura kaget padahal hatinya penuh dengan pikiran yang tidak tidak.
'Hah? Pijat kayak tadi? Pijat plus-plus nih maksudnya?'
"P-pijat, Nyonya?" ulangnya, memasang wajah melongo yang lugu.
"Iya, Bayu. Kamu tadi bilang cukup sering memijat orang tuamu, kan? Aku suka pijatan tangan kekarmu tadi, Bay. Suamiku jarang di rumah, dan punggungku ini nggak tahu kenapa sering pegal. Kamu pijat aku setiap malam, dan aku akan bayar ekstra. Cukup adil, kan?"
Bayu terdiam, syarat yang diucapkan Nyonya Selin ini seperti lampu hijau untuk menyentuh lebih banyak, terlihat jelas dari kilatan gairah yang haus di balik matanya.
Namun, untuk memastikan, Bayu pun berkata,"Tapi, Nyonya, kamar saya di paviliun belakang... kalau setiap malam ke kamar Nyonya, saya takut Pak Bram...."
"Kamu takut sama suamiku, Bay?" Nyonya Selin tertawa sinis memotong kalimat Bayu. "Dia itu cuma pulang seminggu sekali, Bay. Kalau pulang pun jam dua malam dan langsung tidur. Kalaupun mengajak... ah, cuma sebentar, belum juga aku puas, udah ngorok dia."
Kata 'sebentar' itu diucapkan dengan nada meremehkan yang kental. Nyonya Selin mendesah frustrasi, seolah memberi tahu dengan jelas kepada Bayu bahwa kebutuhan batinnya selama ini tidak pernah terpenuhi.
"Barangnya kecil, mainnya cepet, aku benar-benar nggak habis pikir apa kurangnya aku sampe dia nggak pernah puas sama aku," desahnya lagi, kali ini tampak benar-benar tersiksa sehingga memancing rasa iba dan simpati dalam diri Bayu.
"B-baik, Nyonya," jawab Bayu akhirnya dengan anggukan ragu, membuat senyum kemenangan Nyonya Selin mengembang lebar.
"Serius kamu mau, Bay? Bagus." Nyonya Selin bangkit berdiri, berjalan kembali ke ranjang dengan gemulai. Dengan gerakan lamban yang sengaja memamerkan lekuk pantatnya yang bulat, ia mengambil jubah tidurnya. "Besok malam ke sini lagi, ya, Bay. Jangan lupa."
"I-iya, Nyonya," jawab Bayu, matanya sekilas melirik nakal ke arah paha mulus yang bergoyang sebelum Nyonya Selin memakai jubahnya.
"Sekarang, keluar. Aku mau ganti baju."
Tanpa menjawab, Bayu bangkit dengan cepat, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Nyonya Selin kembali menghentikannya. "Bay."
"Aku pengen kamu selingkuhin aku, Mas Bayu!" ulang Nyonya Selin dengan nada suara yang teramat santai layaknya meminta dibelikan permen kapas di pasar malam. Keringat dingin seketika mengucur deras membasahi pelipis dan tengkuk Bayu. 'Gusti Pangeran, cobaan macam apa lagi ini setelah sekian lama berjuang melawan preman dan keluarga besar?' jerit batin Bayu dengan isi kepala yang mendadak berputar pusing tujuh keliling. Bayu menelan ludah dengan susah payah seraya memegang kedua pundak halus istrinya. "Kamu jangan bercanda yang aneh-aneh begini, Selin... apa kepalamu pusing atau pengaruh mual muntah kemarin bikin kamu melindur?" "Aku seratus persen sadar, Mas!" bantah Nyonya Selin seraya menepis tangan Bayu dengan raut wajah yang mendadak cemberut manja. Setitik air mata hormon kehamilan mendadak menggenang di pelupuk mata sang nyonya. "Bawaan bayi di dalam perutku ini penasaran sekali ingin merasakan drama diselingkuhi pria setia seperti kamu, Mas!" tutur Nyonya Selin dengan b
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut menembus kisi-kisi tirai kamar tidur utama, menghangatkan lantai marmer yang dingin. Di dalam kamar mandi, Nyonya Selin berdiri mematung di depan wastafel seraya menatap benda pipih putih di telapak tangannya dengan tatapan tak percaya. Dua garis merah muda yang tegas dan tebal terpampang nyata di atas jendela indikator alat uji kehamilan tersebut. Tubuh wanita berkelas itu mendadak bergetar hebat, sementara butiran air mata hangat mulai menggenang di pelupuk mata cokelat keemasannya. Ketukan pelan di pintu kamar mandi terdengar menyapa lembut diiringi suara langkah tenang sang suami. "Selin? Kamu di dalam?" panggil Bayu seraya memutar handel pintu kayu yang tidak terkunci. Bayu melangkah masuk mengenakan kemeja santai, menatap raut wajah istrinya yang tampak membeku dengan napas tertahan. "Ada apa, Sayang? Perutmu mual lagi?" tanya Bayu cemas seraya lekas merengkuh kedua pundak halus sang istri. Nyonya Selin perlahan mengangkat tangannya
Lampu tidur di sudut kamar temaram, membiaskan cahaya keemasan di atas meja rias marmer yang dingin. Di hadapan cermin besar, Nyonya Selin duduk terpaku seraya menatap sebatang alat uji kehamilan yang tergeletak bisu dengan satu garis merah tegas. Keheningan malam kian menusuk ulu hati wanita itu saat jemari lentiknya bergetar menyingkirkan benda plastik tersebut ke sudut meja. Meskipun dokter spesialis kandungan tempo hari telah memastikan rahimnya sehat dan gejala mualnya murni akibat stres berat, harapan di dasar hatinya belum pernah benar-benar padam. Dua telapak tangan Nyonya Selin perlahan turun, meraba perut ratanya yang terbalut gaun tidur sutra beraroma stroberi lembut. Rongga dadanya mendadak terasa sesak dihantam bayang-bayang masa lalu yang begitu menyiksa batin. "Kenapa... kenapa masih belum ada tanda-tanda kehidupan di sini?" bisik Nyonya Selin dengan bibir ranum yang bergetar menahan tangis. Kata-kata keji dari Bram bertahun-tahun silam mendadak bergaung kembali
Tari lekas bangkit memeluk pinggang kakaknya dan Selin secara bersamaan seraya tersenyum riang. “Selamat ya, Mas Bayu, Mbak Selin! Tari senang sekali sekarang punya kakak perempuan yang luar biasa baik hati!” seru gadis kecil itu riang gembira. Suasana haru dan penuh kehangatan keluarga itu disambut tepuk tangan meriah dari seluruh tamu undangan yang menyaksikan. Pesta resepsi malam hari berlanjut dengan kemegahan jamuan makan malam tanpa ada satu pun gangguan dari para perusuh masa lalu. Bram, Dinda, dan Paman Tirta kini telah resmi mendekam di balik jeruji sel tahanan mapolda menanti jadwal persidangan kasus korupsi dan perampokan mereka. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam saat pesta perayaan mewah tersebut akhirnya usai dengan sempurna. Bayu dan Selin melangkah masuk ke dalam kamar presidential suite di lantai teratas hotel berbintang itu. Pintu kayu jati ganda berukir otomatis terkunci rapat begitu daun pintu menutup, menyisakan kesunyian yang intim di antara mere
Balai pernikahan megah di hotel bintang lima kawasan Jakarta Pusat tampak berkilau disiram cahaya lampu gantung kristal yang megah. Aroma wangi rangkaian melati segar dan mawar putih merebak semerbak, menyatu dengan alunan lembut tembang Jawa klasik yang dibawakan orkestra modern. Bayu berdiri tegak di depan meja penghulu, mengenakan beskap pengantin modern berwarna hitam beludru yang berhias sulaman benang emas murni. Potongan baju adat berkelas itu mencetak sempurna ketegapan pundak dan dada bidang sang pemuda desa, memancarkan wibawa pria terhormat yang memikat perhatian para tamu undangan. Bisik-bisik kagum dari para pejabat direksi Wijaya Group dan rekanan bisnis terdengar di sepanjang lorong aula. Pintu ganda berukir emas di ujung aula perlahan terbuka lebar. Nyonya Selin melangkah anggun menyusuri karpet merah panjang, digandeng oleh seorang sesepuh keluarga Wijaya yang netral dan tulus menyayanginya. Balutan kebaya pengantin brokat sutra putih gading bertabur k
Dua petugas kejaksaan bergerak cepat memasang borgol baja ke kedua pergelangan tangan Paman Tirta di depan meja rapat. Pria paruh baya itu tertunduk lunglai tanpa daya saat digiring melangkah menuju pintu keluar ruang pertemuan direksi. Melihat ayahnya diseret aparat, sorot mata Dinda mendadak berubah liar dipenuhi kegilaan yang memuncak. “Aku tidak sudi membusuk di penjara sendirian, Selin!” jerit Dinda seraya merogoh belati lipat kecil dari balik jaket bulunya. Gadis bergaun merah itu melompat kalap menerjang ke arah Nyonya Selin dengan mata pisau mengarah lurus ke leher sang kakak tiri. Bayu tidak membuang waktu sedetik pun. Kewaspadaan tinggi seorang sopir pribadi yang terbiasa membaca situasi jalanan membuat gerakan Bayu melesat mendahului sabetan senjata tersebut. Telapak tangan kanan Bayu mencengkeram pergelangan tangan Dinda di udara, lalu memutarnya ke bawah dengan kuncian presisi tanpa cela. KLEK! Belati lipat itu terlepas berdenting ke lantai karpet, disusul jerit
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S







