Share

4. Mimpi Basah

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-06-09 10:49:29

Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.

'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'

"Saya cuma punya Ibu yang sakit di desa, Nyonya. Saya harus kirim uang tiap bulan buat sekolah adik juga. Tolong kasihanilah saya, Nyonya..." ucap Bayu memelas, mencoba memanfaatkan wajah polosnya yang tampan untuk menarik simpati.

"Bay," potong Nyonya Selin pelan tapi penuh penekanan.

Bayu mendongak dengan mata yang dibuat agak berkaca-kaca, menampilkan akting penuh ketakutan, walau dalam hatinya dia sedang mengintip betapa indahnya lekuk leher jenang sang nyonya dari posisi bawah.

Nyonya Selin bangkit dari posisi tengkurapnya secara perlahan. Gerakan itu membuat lingerie merahnya sedikit bergeser naik, memperlihatkan lebih banyak lagi paha mulusnya yang berkilau diterpa lampu kamar. Dia melangkah turun dari ranjang mewah itu, berjalan pelan mendekati Bayu yang masih berlutut, persis seperti seekor macan tutul betina yang sedang mengintai mangsa empuknya.

"Kamu tahu, Bay...."

Jari lentik Nyonya Selin yang dingin dan wangi tiba-tiba menyentuh dagu Bayu, mengangkat wajah pemuda itu agar menatap dalam-dalam ke bola matanya yang sayu tapi penuh gairah tersembunyi.

"Kamu tadi udah berani lancang sama nyonya kamu sendiri."

"Maaf, Nyonya. Saya...."

"Sssst."

Jari telunjuk Nyonya Selin yang lembut mendarat tepat di bibir Bayu, membungkam kalimat pembelaannya.

'Aduh, jarinya aja sewangi ini, gimana rasanya kalau bibir itu yang nempel? Si Bram bener-bener nggak tahu diuntung sampe menyia-nyiakan bidadari kayak gini!' batin Bayu, hatinya tetap seratus persen berpihak dan memuja keseksian Nyonya Selin dibanding dua ART di belakang tadi.

"Kalau cuma minta maaf, semua orang juga bisa, Bayu."

 Nyonya Selin tersenyum misterius, senyuman penuh kemenangan yang terlihat sangat sensual. Dia kemudian membungkuk, mendekatkan bibir merahnya tepat ke lubang telinga Bayu.

Napas hangat beraroma stroberi mengembus segar, sementara beberapa helai rambut hitam panjangnya yang halus jatuh menggelitik pipi Bayu yang terasa panas terbakar nafsu. Bulu kuduk Bayu seketika merinding hebat, dan Si Gatot di bawah sana rasanya semakin berdenyut kencang, menuntut haknya.

"Tapi..." bisik Nyonya Selin dengan nada rendah yang bergetar penuh godaan. "Kamu nggak usah takut dipecat. Asal..."

Nyonya Selin menarik kepalanya mundur sedikit, memberikan jarak yang cukup agar Bayu bisa melihat senyum provokatif di wajah cantiknya sebelum melanjutkan kalimat yang begitu mengejutkan.

"Asal kamu mau bayar kompensasi ke aku.”

Kompensasi?

Kata-kata itu terdengar sangat ambigu di telinga Bayu, dia langsung menebak kalau wanita cantik ini pasti meminta uang sebagai ganti kelancangan Si Gatot tadi. Sial, Bayu sama sekali tak punya uang!

"Nyo-nyonya, saya nggak punya uang," bisik Bayu pasrah, "Gaji pertama saya udah habis, udah saya kirim semua ke ibu di kampung."

Nyonya Selin malah tertawa pelan. Suara tawanya yang renya membuat bulu kuduk Bayu merinding disko sekaligus semakin khawatir dengan kompensasi apa yang diminta sang nyonya.

"Bayu, Bayu...." Wanita itu menggelengkan kepala, membuat rambut hitam panjangnya yang terurai indah ikut bergoyang seksi.

"Kamu pikir aku butuh uangmu, Bay?"

Bayu mengangkat wajahnya, bingung dengan pertanyaan nyonya Selin, apalagi saat bertatapan dengan mata Nyonya Selin yang dalam, liar, dan penuh kode keras.

"Aku bahkan bisa ngasih kamu uang, Bay. Berapa pun yang kamu mau, jauh lebih banyak dari gaji yang dikasih suamiku setiap bulan," bisik Nyonya Selin sambil mengedipkan mata, wanita cantik itu bahkan sengaja menekuk tubuhnya hingga wajah mereka sejajar.

 Bayu yang masih berlutut di lantai langsung disuguhi pemandangan belahan dada premium yang meluber dari balik lingerienya, membuat batin Bayu berteriak tak terkendali.

'Buset, deket banget! Nyonya, jangan bikin aku makin tersiksa dengan godaan ini!'

 Sebelum Bayu sempat merespons, wanita cantik itu berbisik lagi.

"Tapi ... tentu aja ada syaratnya, Bay."

Nyonya Selin menyentuh pipi Bayu dengan lembut. Telapak tangannya terasa begitu halus, wangi, dan dingin, kontras sekali dengan kulit Bayu yang kasar.

"Apa syaratnya, Nyonya?" tanya Bayu dengan suara yang pelan, memancing insting berburu sang nyonya. Nyonya Selin tersenyum puas melihat reaksi "polos" Bayu, lalu berbisik tepat di lubang telinganya.

"Kamu harus lebih sering mijit aku kayak tadi."

Bayu mengerjapkan mata, pura-pura kaget padahal hatinya penuh dengan pikiran yang tidak tidak.

'Hah? Pijat kayak tadi? Pijat plus-plus nih maksudnya?'

"P-pijat, Nyonya?" ulangnya, memasang wajah melongo yang lugu.

"Iya, Bayu. Kamu tadi bilang cukup sering memijat orang tuamu, kan? Aku suka pijatan tangan kekarmu tadi, Bay. Suamiku jarang di rumah, dan punggungku ini nggak tahu kenapa sering pegal. Kamu pijat aku setiap malam, dan aku akan bayar ekstra. Cukup adil, kan?"

Bayu terdiam, syarat yang diucapkan Nyonya Selin ini seperti lampu hijau untuk menyentuh lebih banyak, terlihat jelas dari kilatan gairah yang haus di balik matanya.

Namun, untuk memastikan, Bayu pun berkata,"Tapi, Nyonya, kamar saya di paviliun belakang... kalau setiap malam ke kamar Nyonya, saya takut Pak Bram...."

"Kamu takut sama suamiku, Bay?" Nyonya Selin tertawa sinis memotong kalimat Bayu. "Dia itu cuma pulang seminggu sekali, Bay. Kalau pulang pun jam dua malam dan langsung tidur. Kalaupun mengajak... ah, cuma sebentar, belum juga aku puas, udah ngorok dia."

Kata 'sebentar' itu diucapkan dengan nada meremehkan yang kental. Nyonya Selin mendesah frustrasi, seolah memberi tahu dengan jelas kepada Bayu bahwa kebutuhan batinnya selama ini tidak pernah terpenuhi.

"Barangnya kecil, mainnya cepet, aku benar-benar nggak habis pikir apa kurangnya aku sampe dia nggak pernah puas sama aku," desahnya lagi, kali ini tampak benar-benar tersiksa sehingga memancing rasa iba dan simpati dalam diri Bayu.

"B-baik, Nyonya," jawab Bayu akhirnya dengan anggukan ragu, membuat senyum kemenangan Nyonya Selin mengembang lebar.

"Serius kamu mau, Bay? Bagus." Nyonya Selin bangkit berdiri, berjalan kembali ke ranjang dengan gemulai. Dengan gerakan lamban yang sengaja memamerkan lekuk pantatnya yang bulat, ia mengambil jubah tidurnya. "Besok malam ke sini lagi, ya, Bay. Jangan lupa."

"I-iya, Nyonya," jawab Bayu, matanya sekilas melirik nakal ke arah paha mulus yang bergoyang sebelum Nyonya Selin memakai jubahnya.

"Sekarang, keluar. Aku mau ganti baju."

Tanpa menjawab, Bayu bangkit dengan cepat, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Nyonya Selin kembali menghentikannya. "Bay."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    444.

    Pintu hidrolik tebal bergeser membuka perlahan ke samping, menghembuskan udara dingin bercampur aroma mesiu pekat dan ribuan lembar uang kertas baru. Waktu di layar detonator pilar beton kini menunjukkan angka krusial: 00:02:15. Di tengah ruangan brankas berkubah beton itu, Danang sedang kalap menjejalkan gepokan mata uang asing ke dalam koper aluminium besar. Tepat di sampingnya, Paman Hartono berdiri santai mengisap cerutu Kuba seraya mengawasi lilitan kabel peledak plastik C4 berkekuatan tinggi yang terpasang rapi di empat pilar penyangga utama. "Paman yakin bom militer ini cukup untuk menghanguskan jasad Arini dan montir sialan itu tanpa menyisakan bukti forensik?" tanya Danang dengan tawa parau yang bergetar serakah bercampur panik. "Dua ratus kilogram C4 akan melumat mansion ini menjadi kawah sedalam lima meter, Danang," sahut Hartono santai seraya menghembuskan asap kelabu ke udara. "Polisi dan publik hanya akan mencatat peristiwa ini sebagai ledakan kebocoran pipa ga

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    443.

    Kedua tangan lentik Arini merayap naik ke dada bidang Rendra yang hanya berbalut kaos hitam lembap oleh peluh. Jemari lentiknya mencengkeram kain kaos itu, merasakan otot-otot dada yang liat dan denyut nadi pria perkasa yang bertalu kencang seirama dengan detaknya sendiri. Rasa takut akan kematian seketika lenyap, tergantikan oleh dahaga asmara yang membuncah tak tertahankan di ulu hatinya. Rendra menggeram rendah di tenggorokannya. Napas panasnya menyapu kulit pipi Arini saat ia menundukkan wajahnya, memangkas sisa udara di antara bibir mereka. "Kamu membuat saya lupa kalau kita sedang dikepung maut, Arini," bisik Rendra sebelum melabuhkan bibir tegasnya ke atas bibir ranum sang nyonya. Ciuman itu mendarat begitu dalam, sarat akan rasa kepemilikan yang liar namun dilandasi kelembutan seorang pelindung sejati. Arini melenguh panjang di dalam mulut Rendra, membuka bibirnya dan membiarkan lidah sang montir menerobos masuk menyapu rongga mulutnya dengan kehangatan maskulin yang m

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    442.

    Kabut asap putih dari tabung gas air mata menyembur liar, menyengat hidung dan membuat mata pedih membakar dalam hitungan detik. Kepanikan seketika meremukkan wibawa para petinggi keluarga Adiningrat. Paman Hartono terbatuk-batuk parah seraya diseret panik oleh pengawalnya menuju lorong belakang, sementara pekikan tertahan Nyonya Mirna tenggelam di balik suara pecahan kaca jendela yang dihantam laras senjata. Rendra tidak membuang waktu sedetik pun. Sebelum kepulan gas pekat menelan kesadaran mereka, lengan kekar sang montir menyambar pinggang Arini, mendekap tubuh ramping wanita itu ke dalam rengkuhan dadanya dan menariknya menerobos lorong gelap menuju ruang kerja mendiang ayahnya. Klek. Grendel pintu jati tebal dikunci rapat dari dalam. Ruangan itu kedap dan temaram, hanya menyisakan bias pucat cahaya rembulan yang menyelinap dari ventilasi tinggi di atas rak buku. Di sudut sempit antara dinding pualam dan lemari arsip kayu, Rendra menyandarkan punggungnya, menarik tubuh Arini

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    441.

    Kilatan logam kelabu dari moncong peredam suara itu memantulkan cahaya lampu gantung, membidik lurus ke rongga dada Rendra tanpa getaran sedikit pun. Napas Arini tercekat di tenggorokan saat insting purbanya meledak, menolak melihat pria yang baru saja menyelamatkannya tewas bersimbah darah di lantainya sendiri. Tanpa memikirkan keselamatannya, Arini melompat maju menempatkan tubuh rampingnya tepat di antara laras senjata dan dada bidang Rendra. "Tembak aku dulu kalau kamu berani, Paman!" pekik Arini dengan suara melengking tajam yang mengguncang seisi ruangan. Kedua lengan sang nyonya terentang lebar melindungi Rendra, sementara sepasang matanya menyala menantang sang mantan pejabat tinggi. Hartono tidak bergeming, bibir tipisnya hanya menyunggingkan seringai meremehkan melihat keberanian keponakannya. "Singkirkan perempuan bodoh ini," titah Hartono dingin kepada pengawal berbadan tegap di sampingnya. Sebelum tangan sang pengawal sempat menyentuh bahu Arini, sebuah gerakan sec

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    440.

    Sorot lampu tembak menyapu dinding kaca lantai atas, membiaskan bayangan jeruji jendela di wajah Arini yang memucat pasi. Deru mesin berkapasitas besar itu terdengar menderu berat sebelum akhirnya padam satu per satu di pekarangan depan mansion. Suara pintu mobil tertutup serempak dengan dentuman solid dan berat, pertanda kendaraan lapis baja yang biasa ditumpangi para pembesar birokrasi ibu kota. Rendra bergerak cepat menuju ambang jendela, menyibak tirai sedikit untuk membaca situasi di bawah. Tiga sedan hitam mewah berpelat dinas kementerian terparkir melintang mengepung undakan marmer beranda depan. Pria-pria bertubuh tegap dengan setelan safari hitam dan perangkat komunikasi di telinga bergerak taktis mengamankan setiap sudut perimeter halaman. Dari pintu belakang kendaraan paling tengah, seorang pria berambut kelabu bersetelan jas diplomatik turun dengan langkah berwibawa, disusul seorang wanita paruh baya berparas kaku yang melilitkan selendang sutra gelap di lehernya. "

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    439.

    Panggilan suara itu berasal dari nomor darurat rumah tahanan kejaksaan kota. Arini meraih ponselnya dengan tangan basah oleh air mata, lalu menyalakan pengeras suara dengan napas memburu. Suara Danang terdengar parau dan terputus-putus dari balik sambungan telepon yang bising oleh riuh penjara. "Arini... tolong cabut laporanmu sekarang juga!" raung Danang dengan nada panik yang luar biasa kacau. "Kalau kamu tidak mencabut berkas perkara tabrak lari itu malam ini, aku akan bongkar ke polisi kalau wanita di sampingku malam itu adalah ibumu sendiri!" Sambaran ancaman Danang dari pengeras suara ponsel seketika meremukkan sisa ketenangan di dalam kamar tidur utama. Udara malam mendadak terasa membeku, menyisakan suara napas Arini yang tercekat parah di pangkal tenggorokan. Ponsel pintar itu terlepas dari jemari lentik Arini, jatuh terhempas ke atas karpet tebal dengan layar yang masih berkedip samar. Suara tawa histeris Danang sempat terdengar merayap parau dari celah penger

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    3. Pijat Aku

    Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    2. Godaan Nyonya

    “Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    1. Puasin Aku

    "Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    6. Pak Bram Selingkuh?

    Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status