Beranda / Urban / Jatah Nyonya Dan Nona Muda / Pijatan Untuk Sang Majikan

Share

Pijatan Untuk Sang Majikan

Penulis: NomNom69
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-09 15:57:49

Juned menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangannya selepas dari tukang cukur. Ia segera memacu mobil menuju arena padel dengan perasaan jauh lebih percaya diri.

"Nah, kalau begini baru pantas bawa mobil mewah," gumam Juned sambil merapikan kerah bajunya di depan cermin.

Setibanya di parkiran, Juned melihat pesan W******p dari Ratna yang memintanya untuk langsung masuk ke dalam menuju arena nomor empat.

Ia melangkah tegap melintasi lobi olahraga tersebut hingga matanya menangkap sosok Ratna yang sedang duduk bersama ketiga temannya.

"Arena empat... oh itu Nyonya," batin Juned saat melihat Ratna yang mengenakan pakaian olahraga ketat.

Juned mendekat lalu menganggukkan kepalanya dengan sopan untuk memberi hormat tanpa berani menatap terlalu lama ke arah paha mulus para wanita di sana. Ratna menghentikan obrolannya dan menatap Juned dengan binar mata yang tampak sangat puas melihat perubahan drastis supirnya.

Salah satu teman Ratna, langsung berdiri dan melangkah mengitari tubuh Juned seolah sedang memeriksa barang dagangan yang sangat berkualitas. 

"Oh, ini supir barumu, Na? Ganteng banget," tanya wanita di sebelahnya.

Ratna segera beranjak dari kursinya dan berdiri di samping Juned, seolah sedang menegaskan batas kepemilikan di depan teman-temannya yang mulai genit. 

"Heh, dia baru hari ini kerja, jangan kamu godain ya!" tegas Ratna sambil menyentuh lengan Juned dengan lembut.

Melinda justru semakin berani mendekat hingga Juned bisa mencium aroma keringat dan parfum yang bercampur dari tubuh wanita sosialita itu. 

"Kamu digaji berapa sama Ratna? Saya bayar dua kali lipat kalau kamu mau pindah kerja sama saya," bisik Melinda dengan tatapan menggoda.

Juned tetap mempertahankan ekspresi tenangnya dan memberikan senyuman tipis di depan teman-teman majikannya. Ia menolak tawaran menggiurkan itu dengan kalimat yang halus menunjukkan kesetiaannya pada Ratna.

"Terima kasih atas tawarannya.” jawab Juned dengan sopan.

Ratna langsung menarik lengan Juned untuk segera meninggalkan area tersebut sebelum teman-temannya yang lain ikut melontarkan godaan yang lebih parah. Ia berpamitan singkat pada grup arisannya itu sambil menuntun Juned menuju arah parkiran mobil.

"Sudah ah, kasihan supirku. Yuk Ned, kita pulang sekarang," ucap Ratna sambil menarik nafas panjang.

Juned kembali fokus pada jalanan sambil sesekali mencuri pandang ke arah jok belakang melalui spion tengah. Ia tidak menyadari bahwa gerak-gerik matanya sejak tadi diperhatikan oleh Ratna yang sedang bersandar santai.

 Setelah sampai rumah dan juga menjemput Maudy, Juned memarkirkan mobil di garasi, seraya masuk ke kamarnya.

  Baru saja merebahkan punggungnya di atas kasur saat suara ketukan di pintu kamarnya terdengar cukup keras. Ia segera bangkit dan membukakan pintu, mendapati Ratna berdiri di sana dengan wajah yang tampak sedikit kelelahan.

  "Ned, seingat saya kamu bisa urut ya di kampung? Bisa tolong urutin bahu saya gak? kayanya saya salah urat." ucap Ratna sambil memegang bahunya sendiri.

  Juned sempat terdiam sejenak.

  "Saya bisanya pijat, Nyonya." tanya Juned untuk memastikan pendengarannya.

Ratna seolah tak peduli, ia tak mengindahkan Juned. “Sama aja lah! Coba tolongin saya dulu.”

  Juned tidak punya alasan untuk menolak permintaan tersebut, apalagi Ratna adalah orang yang telah memberinya pekerjaan dan gaji besar. 

  "Baik Nyonya," jawab Juned dengan patuh.

  Juned melangkah masuk ke dalam kamar yang beraroma terapi mawar, namun langkahnya terhenti saat melihat Ratna sudah berbaring dengan kain jarit yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. 

Ia berhenti sebentar karena ia pikir hanya memijat bahunya.

Ia menelan ludah dan menghampirinya seraya berkali-kali sambil menuangkan minyak pijat ke telapak tangannya hingga terasa hangat.

  ​"Nyonya mau dipijit seluruh badannya?" tanya Juned sambil mengoleskan minyak.

  ​"Iya Ned," jawab Ratna pendek.

  ​Ratna hanya bergumam mengiyakan sambil membenamkan wajahnya di bantal yang empuk. Juned pun mulai menekan pundak hingga leher Ratna dengan kekuatan yang pas agar majikannya merasa nyaman.

  "Permisi Nyonya, saya mulai dari pundak ya," ucap Juned dengan suara yang sedikit bergetar.

  Sentuhan tangan Juned yang kuat mulai bekerja pada otot leher dan punggung Ratna, menciptakan suasana sunyi yang hanya diisi suara gesekan kulit. Ratna memejamkan mata, menikmati sensasi pijatan yang jauh lebih nikmat daripada terapis salon langganannya.

  Juned terus bergerak turun ke area betis hingga mulai merambah ke bagian paha yang terasa begitu lembut di bawah telapak tangannya. Meskipun sempat ragu, ia terus melanjutkan gerakannya ke atas setelah melihat Ratna sama sekali tidak memberikan tanda keberatan.

  "Bagian depan juga perlu dipijat, Nyonya?" tanya Juned.

  ​"Boleh.”  jawab Ratna memberikan izin sambil merapikan kain jaritnya agar tetap menutupi area dada.

 Juned sempat terdiam mematung saat melihat kemolekan tubuh Ratna yang kini menghadap ke arahnya. Kain jarit yang tidak terikat kencang itu tampak bergeser, memperlihatkan lekukan tubuh yang sangat menggoda di bawah cahaya lampu kamar.

  "Permisi ya, Nyonya," ujar Juned sambil menuangkan kembali minyak ke telapak tangannya.

  Ratna memejamkan mata saat merasakan jemari Juned mulai menekan lembut area di atas dadanya. Rasa rileks yang tadinya ia cari perlahan berubah menjadi hasrat yang muncul begitu saja akibat sentuhan tangan pria yang sudah lama tidak ia rasakan.

  Juned perlahan menurunkan pijatannya ke arah tangan, lalu lanjut merambat turun ke bagian kaki dan telapak kaki. Saat jemarinya mulai memijat area betis dan naik ke paha, Juned bisa merasakan suhu tubuh Ratna yang semakin memanas.

  Baik Ratna maupun Juned kini terjebak dalam hasrat yang sama. Ratna perlahan mulai membuka kedua pahanya sedikit demi sedikit, memberikan ruang lebih bagi jemari Juned untuk bergerak bebas.

  "Ahhh... iya, Ned, di situ," desah Ratna pelan saat merasakan pijatan Juned mulai merayap naik ke arah pangkal pahanya.

  Juned yang merasa hasratnya sudah di puncak keberanian, mulai menyentuh area yang semakin mendekati pangkal paha Ratna. "Iya, Juned... naik terus ke sebelah situ," ucap Ratna dengan suara yang nyaris berbisik.

  Juned menuruti perintah itu, pijatannya semakin dalam hingga mendekat ke area inti milik Ratna yang tertutup kain jarit tipis. Paha Ratna kini terbuka semakin lebar, membuat Juned bisa melihat bagian inti majikannya itu secara samar-samar.

  Melihat Ratna yang sangat menikmati sentuhannya, Juned memberanikan diri menyentuhkan jarinya tepat di area inti Ratna. Seketika itu juga, Ratna refleks melengkungkan punggungnya dan mengeluarkan desahan yang cukup keras.

  "Hmm, Juned..." desah Ratna sambil mencengkeram sprei ranjangnya dengan kuat.

  Tepat di saat ketegangan itu memuncak, pintu kamar yang tidak terkunci tiba-tiba terbuka dengan suara yang cukup nyaring. Maudy berdiri di ambang pintu dan langsung berseru memanggil ibunya. "Mah!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Kepanikan Di Antara Ketegangan

    Juned berjalan perlahan melewati ruang tengah sambil menenteng kotak kue, ia sempat melirik ke arah tangga tempat Maudy baru saja menghilang. ​"Nyonya, ini pesanan kuenya," ucap Juned sambil meletakkan kotak itu dengan sangat hati-hati di atas meja. ​Ratna mengalihkan pandangannya dari layar laptop, ia menyesap tehnya sedikit lalu menatap wajah Juned yang tampak masih agak tegang. ​"Oh, taruh aja di situ, Ned. Kok lama banget? Maudy mana?" tanya Ratna sambil merapikan letak kacamatanya. ​Juned berdiri dengan posisi tegak, ia berusaha menyembunyikan sisa emosinya setelah kejadian di kedai minuman tadi. ​"Non Maudy langsung ke kamar, Nyonya, tadi mampir dulu beli minuman sama Non Maudy," jawab Juned dengan suara yang diatur sesopan mungkin. "Oh gitu. Yaudah tolong ambilin saya dua piring kecil, garpu, sama pisau rotinya di dapur," perintah Ratna sambil mulai membuka pita kotak kue tersebut. Juned segera melangkah ke dapur dan kembali dengan peralatan yang diminta, lalu mel

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Perlindungan Untuk Nona Muda

    Juned sedang fokus menggosok kap mesin mobil dengan kain, mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian panas di dalam rumah tadi. Namun, suara langkah kaki yang ringan dan riang dari arah pintu samping membuat gerakan tangannya seketika melambat. "Aduh, firasat ku kok nggak enak begini ya," gumam batin Juned sambil melirik dari sudut matanya ke arah Maudy yang berjalan mendekat. Maudy menghampiri dengan senyum lebar, ia berdiri sangat dekat dengan Juned yang sedang sedikit membungkuk mengelap bagian pintu. "Mas Juned kok kelihatannya tegang banget sih? Santai aja kali," ucap Maudy sambil tertawa kecil melihat bahu Juned yang kaku. Tanpa permisi, Maudy merunduk dan mendaratkan telapak tangannya di paha Juned, lalu jemarinya mulai merangkak naik perlahan mendekati area kejantanan pria itu. Juned tersentak hingga hampir menjatuhkan kain lapnya, ia menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada Ratna di sekitar situ. "E-eh, Non... jangan begini, nanti kalau kelihatan Nyonya bisa

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Menuntut Jawaban Di Sela Godaan

    "E-eh, itu Nyonya... begini ceritanya," ucap Juned terbata-bata sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ratna melipat tangan di dada. "Jangan coba-coba bohong ya, Ned. Kamu tau kan saya paling nggak suka dibohongi?" ancam Ratna pelan. Juned menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar suaranya terdengar meyakinkan. "Semalam itu Non Maudy mabuk parah Nyonya, pas di jalan pulang dia tiba-tiba lepas itunya sendiri," jelas Juned dengan wajah memelas. Ratna mengernyitkan dahi, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Mau ngapain dia begitu di dalam mobil?" tanya Ratna lagi dengan nada meninggi. "Katanya mau pipis, dia maksa minta berhenti di pinggir jalan, tapi saya nggak berani, karena bahaya," sahut Juned sambil menundukkan kepala. Ia melanjutkan penjelasannya dengan cepat sebelum Ratna sempat menyela lagi. "Saya tetap jalan terus sampai rumah, eh pas sampai ternyata Non Maudy sudah tidur pulas, jadi saya langsung angkat dia ke kamar." Ratna te

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Sesuatu Yang Tertinggal

    Maudy melepaskan tautan bibir mereka secara paksa, lalu mendorong dada Juned dengan sisa tenaga yang ia miliki. Juned yang tidak siap terhuyung keluar dari pintu mobil yang masih terbuka hingga punggungnya membentur tembok garasi.“Non jangan non!”"Minggir!" bentak Maudy sambil berusaha bangkit. "Non, astaga... Non Maudy sadar!" seru Juned sambil berusaha berdiri tegak. Alih-alih menjawab, Maudy justru duduk di tepi jok belakang dan mulai melepas celana dalamnya dengan gerakan yang sangat berani. "Kamu penasaran kan, Mas? Iya kan? Aku tau kamu pengen banget, kan?" racau Maudy sambil bangkit dan menghampiri Juned. Tangan Maudy bergerak secepat kilat meraih ikat pinggang Juned dan melucuti celana pria itu hingga merosot ke lantai garasi. "Duduk! ku bilang duduk!" perintah Maudy sambil mendorong tubuh kekar Juned hingga duduk dan hampir terbaring di jok belakang yang sempit. Juned terduduk kaku di kursi belakang mobil dengan pintu yang masih terbuka. Ia hanya bisa menatap Maudy

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Tertangkap Basah

    Juned merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar. Bayangan jemarinya yang menyentuh kulit lembut Ratna di bawah kain jarit tadi terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang tak mau berhenti. Belum lagi saat anak majikannya jatuh di dekapannya. Belum lagi bekerja di tempat ini kerjaannya lebih ekstra dari sekadar mengantar.Belum lagi ia menghampiri istrinya sesampai di Jakarta. Semua bercampur jadi satu. ​"Sial, kalau begini terus mana bisa tidur," umpat Juned dengan suara parau yang tertahan. Juned mendesah kasar, tangannya perlahan merogoh ke dalam celana saat bayangan paha mulus Ratna dan dekapan hangat Maudy mulai menyiksa pikirannya. Miliknya sudah menegang keras, menuntut pelepasan yang sedari tadi ia tahan di depan kedua wanita itu. ​"Sial, benar-benar bikin gila," umpat Juned dengan napas yang mulai memburu. Ia memejamkan mata erat, membayangkan jemarinya tidak lagi memijat kaki Ratna, melainkan menjelajahi area sensiti

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Targedi Tak Terduga

    Ratna dan Juned segera merapikan posisi masing-masing agar tidak terlihat mencurigakan di mata Maudy. Ratna merapatkan kedua kakinya dengan cepat sambil menoleh ke arah pintu dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin. Maudy menyipitkan mata, menatap bergantian ke arah ibunya dan Juned yang masih memegang botol minyak pijat. "Kalian lagi ngapain?" tanya Maudy penuh selidik. Ratna menghela napas panjang seolah memang sedang menahan rasa sakit di persendian tubuhnya akibat berolahraga tadi sore. "Oh, ini... habis main padel badan Mama pegal semua, jadi Mama suruh Juned mijitin Mama," jawab Ratna tenang. Maudy mengangguk pelan. Ia menatap Juned sejenak. "Kenapa nggak panggil Mbok Ijah aja?" tanya Maudy lagi. Ratna sedikit memperbaiki letak kain jaritnya agar menutupi paha dengan sempurna di depan anak gadisnya itu. "Tadi Mama sudah telepon Bu Lastri katanya Mbok Ijah lagi ada panggilan pijit juga, jadi nggak bisa datang," jawab Ratna meyakinkan. Setelah memberika

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status